
"Mama, Mama!" teriak Elea yang didatangi seseorang berpakaian hitam dan mengenakan penutup wajah.
"Kunci pintunya, El! Jangan keluar!" teriak Luna terbata. Wanita itu menguatkan diri untuk bangkit meski merasakan sakit yang sangat pada tengkuknya.
Orang itu terus menggedor-gedor pintu mobil yang dikunci dari dalam oleh Elea.
"Brengsek! Pintunya dikunci dari dalam, Bos," umpat salah satu dari mereka.
"Rusak saja! Kita harus cepat sebelum orang sekitar menyadarinya," ucap seseorang yang dipanggil Bos. Ia menyuruh anak buahnya yang lain yang memegang pistol untuk merusak pintu mobil Luna.
"Tapi gadis kecil itu bisa ketakutan, Bos." Seseorang yang memegang senjata nampak ragu bertindak.
Bagaimanapun ia lebih memilih melawan musuh yang sepadan, preman atau seorang bajingan sekalipun. Bukan anak kecil yang baginya lemah, meski mereka terkadang melawan.
"Pintu mobil atau kepalamu!?" ancam seseorang yang dipanggil Bos itu. Lelaki itu langsung menodongkan pistolnya ke pelipis anak buahnya.
Dor!
Pintu mobil Luna berhasil ditembak. Membuat sang empunya berteriak histeris meminta tolong.
"El! Jangan sakiti anakku. Awas kalian!" teriak Luna, yang sempoyongan menuju mobilnya.
"Mama! El takut, Ma. Tolong El, Ma!" teriak Elea yang membuat semua yang ada disana semakin semrawut.
Saat ini, Luna tengah berada diluar. Beberapa menit yang lalu, ada seseorang yang mencoba menabrakkan diri pada mobilnya, padahal ia berkendara cukup pelan.
Khawatir dengan orang asing yang tertabrak itu, Luna keluar untuk memberikan pertolongan. Namun naas, saat ia menghampiri orang itu ada orang lain yang memukulnya dari belakang.
Luna pun tumbang, tengkuknya sakit dan ia merasa pusing. Wanita itu masih sempat melihat jika orang yang tertabrak mobilnya itu rupanya baik-baik saja. Dan malah berlari meninggalkannya menuju mobil milik Luna yang berhenti tidak jauh dari tempat kejadian
Menyadari ada sesuatu yang tidak beres, Luna menguatkan dirinya untuk bangkit. Tentu yang dikhawatirkan bukan dirinya sendiri, tapi keselamatan putrinya yang ia tinggalkan di dalam mobil.
"Jangan ganggu putriku, ssshhhh." Luna bersusah payah ingin menghalau orang-orang itu. Sebelah tangannya menahan nyeri di kepala yang tidak tertahan.
Salah satu diantara orang-orang itu mendorong keras Luna menjauh. Ia sampai terjerembab di rumput-rumput menahan perih dan luka di kaki dan tangannya.
"Mama! Mama!" Elea masih berteriak-teriak dan menahan pintu mobil agar tidak terbuka.
Namun tentu tenaga gadis kecil itu kalah oleh lelaki dewasa yang menariknya dari luar.
"Pergi! Pergi!" Elea menendang lelaki berpakaian hitam-hitam itu serampangan.
"El ... lari, Sayang. Lari!" teriak Luna yang sudah merasa tidak kuat untuk menghampiri Elea.
"Bawa cepat!" ucap salah satu dari mereka yang dipanggil Bos.
Lelaki yang sudah berhasil membuka pintu itu mencekal kaki Elea kemudian menarik gadis kecil itu dan menggendongnya.
Perlawanan Elea cukup keras. Gadis kecil itu berhasil menendang orang yang menggendongnya hingga berhasil melepaskannya. Dengan cepat Elea berlari menuju Luna.
"Bodoh!"
Umpat lelaki yang membawa pistol ditangannya pada anak buahnya. Lelaki itu berjalan cepat menghampiri, kemudian menarik tubuh Elea dari pelukan Luna.
"El! Jangan bawa anakku!" teriak Luna yang memukuli salah satu dari mereka. Dengan susah payah Luna mencoba menjangkau ke tempat mereka berdiri.
Namun terlambat, mereka dengan cepat masuk kedalam mobil. Suara teriakan Elea sayup-sayup masih terdengar hingga akhirnya menghilang terbawa laju mobil yang menjauh.
"El... Elea.... "
Brukk!
Luna terjatuh tidak sadarkan diri. di dekat mobilnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Batalkan semua pengiriman ke Eropa untuk barang kita!"
"Tapi Tuan, ini sudah melewati batas waktu yang mereka tentukan. Mereka pasti akan mengajukan pinalti jika barang kita terlambat tiba disana," ucap seseorang diseberang.
"Katakan kita masih produksi ulang. Segala sangsi mengenai keterlambatan akan kita dispensasi. Aku tidak bisa mengambil resiko lebih lagi. Semuanya gagal dan habis!" teriak Adam yang kemudian mematikan panggilan itu sepihak.
Dada Adam kembang kempis menahan amarah. Semua rencananya untuk mendapatkan pundi-pundi uang yang lebih banyak dipastikan gagal karena kualitas barang yang ia beli untuk menggantikan barang ekspor perusahaannya sangat buruk.
Tahun ini sepertinya tahun terburuk baginya. Ia hancur karena terlalu menganggap enteng apa yang sudah dilaluinya.
Brakkk!!!
Lelaki itu menggebrak mejanya berkali-kali. Selama ini ia harus memikirkan segalanya sendiri. Sang ibu hanya bisa menuntutnya tanpa sekalipun memberinya ruang untuk dirinya sendiri. Sementara sang ayah berbuat sesuka hatinya tanpa perduli pada keluarga lagi.
Ditambah lagi Kylie, adiknya yang sudah seminggu bekerja sebagai asistennya pun tidak membantu sama sekali.
Gadis itu hanya bisa pamer jabatan di media sosial tanpa bisa mengerjakan apapun disana.
Fatal!
Banyak yang mengeluh karena Kylie hanya melempar tanggung jawab pekerjaannya kesana kemari tanpa malu. Tentunya dengan bekal bahwa dia adalah adik Adam, sang direktur sekaligus suami dari pemilik perusahaan tempat mereka bernaung.
"Kei, masuk!" panggilnya.
Tidak berapa lama, masuklah gadis manja yang juga adiknya itu kedalam ruangan Adam.
"Ada apa, Kak?"
"Apa yang sudah kau kerjakan hari ini? Mengapa semua tanggung jawabmu kau serahkan pada orang lain!? Aku bisa memecatmu jika kau begini terus," ancam Adam pada adik satu- satunya itu.
"Aku kan masih dalam proses belajar, Kak. Jadi aku tidak bisa mengerjakannya sendiri. Jika salah pasti akan menghambat pekerjaan kalian, itu sebabnya aku meminta tolong mereka." Kylie dengan pintar beralasan.
"Baiklah kutunggu sampai akhir bulan ini. Jika kau masih saja tidak ada perkembangan, kukembalikan kau ke perusahaan Papa." Adam masih mmberi kesempatan pada gadis manja itu untuk berubah.
Mata Kylie membola. Untuk apa dia kembali kesana, dia tidak mengerti apapun tentang tanggung jawab pekerjaan disana. Masih lebih enak disini, ia bisa menggunakan nama kakaknya untuk berlindung dan menyuruh orang- orang yang tidak lain adalah bawahan kakaknya itu untuk mengerjakan segala yang menjadi tanggung jawabnya.
"Tenang saja, Kak. Aku pasti cepat belajar," ucapnya dengan senyum terpaksa. Kylie menelan salivanya berkali-kali membayangkan bulan depan itu tiba. Jangan sampai ia pergi dari sini dengan tangan kosong jika memang dia harus di pecat oleh kakaknya itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Stefan terpekur sendiri di luar ruang UGD. Jantungnya masih memacu akibat kejadian tidak mengenakkan pagi ini.
Lelaki itu baru membuka matanya, saat GPS yang ada di mobil Luna memberinya kode bahaya. Mobil itu berhenti cukup lama ditengah jalan.
Tanpa berganti pakaian dan hanya mengenakan jaketnya lelaki itu memacu mobilnya menuju titik terakhir mobil Luna berhenti.
Stefan mengacak rambutnya gusar. Ia menemukan tas Elea disana namun tidak dengan keberadaan putri kecilnya itu.
Gadis kecil itu menghilang tanpa jejak sama sekali. Dan satu-satunya saksi hanya tinggal Luna yang bahkan belum diketahui keadaannya hingga kini.
"Keluarga Ibu Luna?"
"Saya, Dok."
Stefan bangkit dari duduknya dan menghampiri lelaki yang mengenakan jas dokter itu.
"Ibu Luna mengalami trauma di belakang kepalanya. Pukulan yang diterimanya cukup keras. Kita langsung pindahkan ke ruang perawatan, agar beliau bisa lebih tenang beristirahat ya, Pak," ucap dokter itu memberitahu.
"Berikan yang terbaik, Dok," jawab Stefan.
Setelah itu, Stefan mencoba menghubungi Adam namun tidak ada jawaban. Terpaksa ia berganti menghubungi sang paman.
Tidak berapa lama, Ellard nampak datang bersama Alex.
"Apa yang terjadi, Stef?"
"Luna, ada yang berniat jahat pada mereka. Sepertinya mereka membawa El, Paman. Aku sudah menyuruh orang ku untuk mencari jejaknya." Stefan yang memendam kekhawatirannya mulai tidak bisa lagi menahannya.
Beberapa orang yang ia suruh mencari Elea dengan menanyakan pada orang sekitar, sudah memberi kabar. Mereka mengatakan ada gadis kecil yang diambil dari mobil Luna oleh orang-orang yang mengenakan pakaian hitam-hitam.
"Siapa yang berani berbuat hal buruk seperti ini!?" Tatapan Ellard tajam. "Jika sesuatu terjadi pada Luna dan cucuku, akan kuhabisi mereka!" geram Ellard. Darahnya mendidih mendapatu kenyataan ini.
"Aku tidak bisa memghubungi Adam, Paman. Mungkin Paman_"
"Tidak perlu! Kita selesaikan masalah ini sendiri."
"Jaga Luna, Stef. Biar paman yang mencari El. Tidak akan kubiarkan mereka-mereka yang mengikutcampurkan anak kecil dalam urusan orang dewasa," ucap Ellard yang seperti sudah menebak siapa pelaku dibalik semua kejadian ini.
Lelaki paruh baya itu segera pergi setelah pamit pada keponakannya itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"El... El... Elea!!" Luna berteriak dalam ketidaksadarannya. Kemudian wanita itu bangkit dari posisinya berbaring dengan terengah.
"Luna...." Stefan yang mendengar teriakan Luna langsung menghampiri.
"Stefan tolong El. Dia dibawa oleh mereka. Tolong El, Stefan." Luna menangis tersedu, kemudian mencekal kedua lengan Stefan dan terus memohon.
"Tenang, Lun. Ceritakan apa yang terjadi. Siapa yang membawa El?"
"Aku tidak tahu. Mereka memukulku dan membawa Elea. Tolong anakku Stefan. Jangan sampai mereka melakukan sesuatu padanya." Tangis Luna menjadi jadi. Belum lagi tatapan memohon yang bagi Stefan sangat memilukan. Luna terus seperti itu, menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga anaknya.
"Tenanglah. Aku akan melakukan apapun untuk mencarinya. Sekarang tenangkan dirimu. Kami sedang mencarinya. Dan tidak akan pernah berhenti sebelum menemukannya."
Stefan membawa Luna dalam pelukannya. Wanita itu tidak melawan. Ia lemas dan terus saja menangis.
Beberapa menit berlalu. Luna masih berada di dada Stefan. Hembusan teratur dari napasnya yang terdengar membuat Stefan sedikit lega. Luna pasti tertidur dalam dekapannya. Wanita itu pasti kelelahan karena peristiwa naas yang menimpanya akhir-akhir ini.
"Istirahatlah. Tetaplah baik- baik saja untuk, El dan aku. Aku tahu kamu kuat. Kamu ibu yang kuat Luna." Stefan membelai lembut surai hitam Luna.
Jantung Stefan semakin tidak baik-baik saja. Pelukan Luna yang semakin erat dan terasa rapuh membuat lelaki itu limbung.
Bahkan ia yang berusaha melerai pelukan itu untuk membaringakan Luna di tempat tidur mendapat penolakan. Luna seperti enggan ditinggalkan.
Antara bahagia karena bisa memeluk Luna dan sedih karena tidak bisa menjaga wanita yang dicintainya beserta putri kecil mereka dengan baik. Perasaan itu membayangi Stefan. Ia sungguh merasa bodoh, lalai dan ceroboh.
Akhirnya setelah mencoba beberapa kali, Luna berhasil ia baringkan. Stefan melepas jaketnya sebagai ganti dirinya. Luna memeluk jaket Stefan kini.
Lelaki itu harus menggantikan Luna di kantornya. Tidak boleh ada yang mengetahui kejadian ini. Sekalipun itu karyawannya. Karena banyak bawahan Luna yang kenyataannya malah menjadi musuh dalam selimut bagi wanita itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Em, hari ini saya menggantikan Bu Luna. Beliau sedang tidak enak badan," ucap Stefan yang sudah berada di depan meja sekretaris Luna.
"Oh, iya Sir. Silahkan." Emma langsung berdiri melihat lelaki tampan yang merupakan sepupu bosnya itu.
Hingga Stefan menghilang dibalik pintu, Emma terus menatapnya tanpa berkedip. Setelahnya, gadis itu berjalan menuju pantry dan kembali membawa secangkir kopi ditangannya.
Emma mengetuk ruangan Luna, kemudian masuk begitu saja.
"Saya buatkan kopi untuk Anda, Sir." Emma meletakkan secangkir kopi yang ia bawa di meja dekat dengan sofa. Kemudian gadis itu mematung menatap Stefan.
"Terima kasih, Em," ucap Stefan tanpa melihat Emma. Lelaki itu sibuk membalik kertas-kertas yang ada di depannya.
Dari ekor matanya, Stefan memperhatikan tidak ada pergerakan sama sekali dari sekretaris Luna itu. Gadis itu masih berada di tempatnya berdiri.
"Kau boleh keluar, akan kupanggil jika aku butuh bantuanmu." Stefan mendongak menatap Emma. Gadis cantik itu salah tingkah.
"Emm... iya, Sir. Saya selalu siap membantu. Maaf, Bu Luna sakit apa ya, Sir? Lalu bagaimana perkembangan masalah yang menimpanya?" Emma yang sudah berjalan beberapa langkah malah berhenti dan kembali memutar tubuhnya. Ia menunggu jawaban Stefan saat ini.
"Luna hanya kelelahan. Dan untuk masalah itu, aku pastikan semua yang terlibat akan mendapatkan ganjarannya. Sedikit ataupun banyak." Stefan hanya melirik saat menjawab pertanyaan Emma. Sebenarnya lelaki itu malas membahasnya. "Kami hanya menunggu saat yang tepat untuk meringkus mereka semua!"
Gluk!
Emma tercekat. Tatapan Stefan seperti mengulitinya.
"Pasti, Sir. Mereka yang jahat pasti akan mendapatkan balasannya," ucap Emma menanggapi. Kemudian tanpa ingin bertanya lagi, Emma langsung membungkuk hormat dan pamit keluar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mama... Mama...."
"Sssttt, diam! Jika kau terus teriak aku akan menyumpal mulutmu dan menutupnya dengan ini." Seorang lelaki menunjuk lakban yang ada ditangannya.
"Paman, lepaskan aku." Elea memohon sambil terisak. Airmata sudah membasahi seluruh wajahnya bercampur dengan keringat akibat perlawanannya sepanjang perjalanan tadi.
"Tidak bisa! Kau harus tetap berada disini sampai ibumu menjemputmu. Sekarang diam, karena paman yang berbadan besar tadi menyuruhku menyumpal mulutmu jika kau terus teriak."
Elea akhirnya diam. Selain lelah, ia juga rindu memeluk Luna. Gadis kecil itu tertidur membayangkan Stefan datang membawa gelato kesukaanya.
Poor Elea.
❤Terima kasih pembaca setia. Terima kasih membersamai saya bertumbuh 🙏