La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 131



"Oh ... Ayo kita berangkat kalau begitu. Tapi ... Apa boleh kita pergi tanpa om-om berpakaian hitam itu, Ma?" tanya Elea polos.


"Om-om berpakaian hitam?" gumam Luna. "Maksud El seperti om Leo?"


"He em. Apa kita bisa jalan-jalan tanpa mereka seperti saat kita di Kanada?" Wajah Elea nampak sangat berharap jawaban iya dari Luna.


"Sepertinya tidak bisa, El." Luna menangkap raut wajah Elea yang mendadak kecewa. "Karena opa sudah pasti tidak akan mengizinkan. Tapi bagaimana jika kita izin oma saja. El bantu mama memohon pada oma, ya."


Mata gadis kecil itu mendadak berbinar. Elea mengiyakan ajakan sang ibu.


Luna juga merasa bosan terus berada di rumah dan tidak ada kesibukan. Wanita itu ingin melemaskan kakinya. Agar saat ia datang sidang nanti, keadaannya sudah jauh lebih baik.


Luna ingin membuktikan jika apa yang dilakukan Pauline selama ini, tidak menjatuhkan mentalnya. Meski yang sebenarnya ia tetap saja patah, terpuruk dan sedih.


Detik berikutnya, pasangan ibu dan anak itu terlihat beriringan memasuki lift. Mereka hendak menuju lantai bawah untuk menemui Christina.


Rupanya nyonya rumah itu sedang berkutat di dapur. Kesibukan Christina setiap hari adalah mencicipi seluruh masakan chef sebelum dihidangkan di meja makan. Karena wanita paruh baya itu harus memastikan jika makanan itu tidak mengecewakan dari segi rasa dan tampilan.


"Oma ... Bolehkah kami jalan-jalan keluar?" El yang lebih dulu sampai di dapur segera menghampiri Christina.


"Tentu saja Sayang, tunggu om Leo pulang ya," sahut Christina meneruskan aktivitasnya.


"Oma ... Bolehkah El hanya berdua dengan Mama? Boleh ya Oma? Please." Elea mengekor di belakang Christina dan memeluk dari belakang wanita paruh baya yang sangat menyayanginya itu.


"Kaki mama masih sakit, Sayang." Christina berhenti dan meletakkan sendoknya. Ia membimbing Elea ke sebuah kursi dimana ia mengangkat gadis kecil itu ke atas pangkuannya.


"Aku sudah tidak apa-apa, Bi. Lagipula aku bisa mengemudikannya selama mesin mobilnya matic. Bibi memilikinya bukan?" tambah Luna.


"Ada, tapi ... Tunggu Leo saja, ya. Bibi khawatir jika kalian hanya pergi berdua," ungkap Christina. Wanita paruh baya itu mengusap lembut dahi Elea.


"El ingin pergi berdua dengan mama, Oma. Boleh ya? El janji tidak pergi ke tempat yang jauh. Hanya ke supermarket yang paling dekat, boleh ya?" rengek Elea yang memasang wajah sedihnya karena Christina masih enggan memberi izin.


Christina melirik Luna yang hanya tersenyum melihat tingkah sang anak.


"Apa kau yakin bisa mengemudi sendirian?" Dagu Christina mengedik meminta jawaban.


"Bisa, Bi. Lihatlah aku sudah bisa berjalan tanpa tongkat meski pelan." Luna segera berdiri dan menunjukkan dirinya yang berjalan tanpa bantuan tongkat kruknya meski tertatih.


"Kau terlalu memaksa," ucap Christina. "Meski perkembanganmu cukup baik, tapi ini sangat beresiko, Sayang."


Christina serba salah. Ia khawatir namun juga tidak tega pada cucunya itu. glGadis kecil itu merengek terus tanpa memberinya kesempatan berpikir jernih.


"Baiklah ... Hanya sekali ini saja. Tapi kamu harus hati-hati, sayang. Berjanjilah untuk menjaga diri kalian baik-baik. Segera hubungi bibi jika ada apa-apa," ucap Christina yang memberondong nasihat pada keponakan juga cucunya.


Akhirnya Christina mengizinkan keduanya pergi tanpa pengawalan. Elea langsung berteriak kegirangan mendapat izin dari sang oma.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Sayang jangan berlari!" Luna berteriak meski ia berusaha menekan suaranya agar tidak mengganggu pengunjung lainnya.


Elea berlarian kesana kemari di setiap lorong supermarket yang mereka kunjungi. Mungkin ia terlalu senang, karena selama banyak sekali masalah yang menimpa Luna, baik Wiliam ataupun Ellard sangat membatasi ruang gerak mereka.


"El...."


"Mama kesini, coklatnya banyak sekali. Aku mau semuanya," ucap Elea yang kalap hingga mengambil beberapa potong dan memasukkannya kedalam troli belanjanya.


"Itu terlalu banyak, sayang. Untuk El sendiri saja. Jangan terlalu banyak makan manis, ya," pesan Luna pada putri kecilnya.


"Ini tidak banyak, Ma. Cukup untuk kita bertiga," sahut Elea masih sibuk memilih snack yang lain.


"Bertiga? Oma tidak akan mau, sayang." Luna mendekati Elea kemudian mengambil beberapa potong coklat dari troli dan hendak mengembalikan pada raknya.


Elea yang menyadari apa yang dilakukan sang ibu, sontak mencegahnya.


"Mama, jangan dikembalikan. Itu kesukaan paman Stefan." Dan Elea pun merebutnya dari sang ibu.


Luna hanya mematung dengan bibir menganga. Elea selalu mengingat setiap momen bersama Stefan sampai hari ini.


"Sayang ... Tapi paman Stefan kan_"


"No no no! Paman selalu ada disini," tunjuk Elea ke dadanya sendiri.


Elea!


Rasanya, hati Luna seperti dipukul sesuatu yang keras. Apa yang dilakukan Elea tidak jauh dari apa yang dilakukan Stefan pada gadis kecil itu selama bersama dulu.


"Siap Mama!"


Elea segera mendorong trolinya menjauhi Luna. Gadis kecil itu mengikuti naluri anak-anaknya untuk mengejar berbagai snack dan makanan ringan kesukaanya.


Sedangkan Luna, wanita itu berjalan perlahan mengikuti Elea dari belakang. Luna beberapa kali terdengar menghembuskan napas beratnya.


Rupanya Luna tertinggal oleh putri kecilnya itu. Di setiap lorong supermarket yang ia intip ia tidak menemukan Elea.


Hingga di lorong paling akhir, Luna menemukan Elea tengah memanjat troli mengambil sesuatu yang ada di rak paling atas.


"El! Biar Mama bantu, jangan memanjat seperti itu!" pekik Luna yang panik melihatnya. Luna bergegas dengan sedikit mempercepat langkahnya meski hasilnya tetap sama saja seperti seseorang yang berjalan biasa.


"El bisa, Ma. Tenang saja," jawab gadis kecil itu pada sang ibu yang mengkhawatirkannya.


Baru beberapa kali pijakan, Elea terlihat oleng, kemudian terjengkang ke belakang.


"El!" teriak Luna sambil memacu langkahnya. Namun ia terlambat, Elea terlanjur jatuh ke belakang mengenai tubuh seseorang dan ditangkap.


"Elea!"


Luna segera mendekati keberadaan gadis kecilnya itu.


"Hati-hati, ya. Padahal itu tinggi, kamu berani sekali," ucap seorang lelaki yang berhasil menangkap Elea.


"Terima kasih Paman," ucap Elea dengan senyum gemasnya.


"Sayang, jangan naik kesana tanpa pengawasan."


Luna yang panik setengah mati menjadi pucat karena ulah Elea.


"Dia putrimu?" tanya lelaki itu.


"Iya, Tuan. Maaf merepotkan anda," jawab Luna yang baru memperhatikan lelaki yang telah menyelamatkan Elea.


Gluk!


Tubuh lelaki itu penuh tato, membuat Luna bergidik ngeri melihatnya. Tapi hal itu tidak terjadi pada Elea. Karena putri kecilnya itu tetap tenang meski berdekatan.


"Saya Alfonso."


Lelaki itu mengulurkan tangannya, dan mau tidak mau Luna membalasnya.


"Luna."


"Lalu gadis kecil cantik ini siapa namanya?" tanya Alfonso.


"Elea, Paman." Dengan gaya centilnya Elea menjawab. Bahkan ia mengulurkan tangan pada Alfonso. Hingga membuat lelaki yang tubuhnya penuh tato itu nampak semakin gemas dengan Elea.


"Sekali lagi terima kasih. Kami akan melanjutkan belanjanya."


Luna mengangguk sambil pamit. Otaknya berkelana ke mana-mana tentang sesuatu hal buruk, melihat banyaknya gambaran di tubuh Alfonso. Meski lelaki itu terlihat tampan dan bersih tapi sama sekali tidak mengurangi kengerian yang muncul akibat penampilannya yang garang.


"Baiklah, silahkan."


Luna melewati Alfonso, mendorong pelan troli dibantu Elea di sebelahnya. Namun kepala gadis kecil itu masih menatap ke belakang.


"El, lihat depan Nak!" titah Luna tegas namun lirih.


"Paman Alfonso melambaikan tangannya, Ma." Elea terlihat membalas lambaian dan memberikan senyumnya.


"Sudah, jangan dilihat lagi. Berputarlah ke depan, Sayang," titah Luna yang diabaikan oleh putri kecilnya itu.


"Sebentar, Ma."


Akhirnya Luna sengaja berbelok agar Alfonso tidak melihat mereka lagi.


"Mama ... El lapar," rengek Elea kemudian.


"El ... Baiklah ayo kita cari tempat makan."


💜💜💜💜💜