La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 142



"Siapa yang bilang aku sudah tua?"


Tiba-tiba suara Aglen terdengar sangat dekat. Lelaki itu pasti mendengar celotehan bibinya atau mungkin suara tertawa Luna yang begitu keras.


"Iya kan, Bi," bisik Luna.


"Kau memang sudah tua, Ag. Lihatlah Luna saja sudah memiliki Elea. Apa kau tidak ingin memiliki malaikat kecil secantik itu?" tanya Christina.


"Aku belum tua, hanya sudah matang," sahut Aglen membela diri.


"Tidak ada bedanya," ucap Christina yang menanggapi jawaban Aglen dengan sedikit mengejek.


"Mana Evelyn?" tanya Luna yang melihat sang kakak melenggang sendirian.


"Masih di kamarnya. Sebentar lagi juga turun," jawab Aglen.


"Kakak mengajaknya liburan? Apa sudah izin papa?"


"Kenapa harus izin papa? Sekarang bukankah aku atasannya? Anggap saja dinas luar," sahut Aglen sambil menarik kursinya.


"Bukankah bu Luna yang meminta saya kesini?" Tiba-tiba terdengar suara gadis itu yang tengah berdiri di belakang Aglen.


"Aku tidak mppp_" Dengan segera Aglen berdiri dan membekap mulut Luna agar tidak berbicara lebih jauh.


"Iya, Luna yang memintamu. duduklah," titah Aglen.


Jika lelaki itu tadi tidak cepat, Luna pasti akan membongkar kedoknya yang menggunakan adiknya itu sebagai kambing hitam.


Christina bingung melihat apa yang dilakukan keponakannya. Rupanya Aglen sedang menjalankan misi tertentu.


"Akan kulepas kalau kau tidak banyak bicara," bisik Aglen dibelakang Luna. Lalu lelaki itu melepas tangannya perlahan.


"Rupanya aku yang dijadikan tumbal. Kukira kakak berani mengakuinya," gumam Luna kesal. Namun pembicaraan itu sangat lirih hingga hanya didengar oleh kedua kakak adik itu.


"Sstttttt"


Mata Aglen mendelik melihat komentar adiknya karena takut Evelyn mendengarnya.


"Saya ... Apa benar bu Luna yang menyuruh saya kesini? Saya jadi.... " Mendadak wajah Evelyn berubah. Gadis itu merasa malu.


"Iya Eve, duduklah. Kita makan malam dahulu. Akan ada yang ingin ku bicarakan denganmu," ucap Luna pada akhirnya.


Padahal Luna sudah sangat kenyang akibat makan malam dengan Bhara tadi. Namun wanita itu tetal mengambil beberapa potong buah keatas piringnya.


Aglen bernapas lega ketika sang adik bisa diajak kompromi tentang Evelyn.


"Bagaimana kabar disana?" Luna membuka obrolan santai agar Evelyn tidak terlalu tegang.


"Semua baik, Bu. Tapi sangat lain saat bu Luna tidak ada," jawab Evelyn yang hanya menatap piring Luna yang berisi buah-buahan. Sama sekali tidak ada makanan berat disana.


"Berarti kakakku cukup handal menggantikanku walaupun bukan bidangnya." Luna melirik Aglen yang kesal.


"iya, Bu. Bahkan beberapa hari terakhir Pak Aglen bisa menarik beberapa costumer baru." Evelyn nampak mengagumi Aglen. Terbukti gadis itu selalu tersenyum saat menyampaikan tentang kepiawaian putra pertama Ellard itu.


"Aduh!"


Teriakan Aglen mendesis dan melirik sang adik yang menatapnya sinis. Rupanya kaki Luna sengaja menginjak kaki sang kakak saat Evelyn mengungkapkan tentang lelaki itu.


"Ada apa, Ag?" Christina sampai menghentikan suapan ke dalam mulutnya.


"Tidak, Bi. Ada kepiting menyenggol kakiku". Aglen terlihat menggaruk punggung kakinya.


"Kepiting? Kau bercanda?" sahut Christina yang bingung dengan ucapan keponakannya.


"Tidak, Bi.Sepertinya itu semut besar karena gigitannya sangat sakit seperti digigit kepiting," ralat Aglen yang mendapat tatapan kesal dari Luna.


"Ada-ada saja," gumam Christina. Wanita itu kembali meneruskan makan malamnya.


"Iya, Eve. Apa kau mau bekerja disini bersamaku?" tawar Luna pada mantan sekretarisnya itu.


"Dengan senang hati, Bu. Saya sangat senang bekerja dengan bu Luna," jawab Evelyn spontan.


Apa yang diucapkan Aglen membuat Luna tertawa dalam hati. Katakan saja kakaknya itu melarang Evelyn karena tidak ingin jauh dari gadis itu. Kenapa juga menggunakan alasan biaya hidup yang akan meledak jika tinggal di negara ini.


"Jangan percaya, Eve. Aku tidak lama bekerja di perusahaan pamanku. Papaku sudah memutuskan bahwa disana aku hanya belajar. Jika aku sudah mumpuni aku akan kembali mendapatkan jabatan lamaku. Sebagai CEO di perusahaan kak Aglen disini." Luna sengaja mendekatkan dirinya pada Aglen untuk mempertegas ucapannya.


"Keputusan macam apa itu Luna? Papa tidak mengatakannya padaku?" Aglen gusar. Lelaki itu beberapa kali mengusap dagunya, merasa gelisah jika apa yang dikatakan adiknya itu benar.


"Tanyakan saja pada Bibi. Kakak menggantikanku di Kanada dan aku menggantikan kakak disini," sahut Luna santai.


Sebenarnya itu bukan keputusan Ellard, tapi Luna yang memintanya. Wanita itu meminta kesempatan pada sang ayah untuk kembali memimpin perusahaan keluarga yang sebelumnya dipimpin Aglen. Sehingga mereka seperti hanya bertukar tempat.


"Iya. Sebelum papamu kembali ke Kanada kemarin kita sudah membicarakannnya. Lagipula tidak ada yang susah bukan? Buktinya Evelyn mengatakan jika kau handal di sana. Itu berarti Luna juga bisa belajar disini," tambah sang bibi menegaskan.


"Tidak bisa begitu Luna!"


Protes Aglen tidak ada artinya bagi wanita itu.


"Dan aku akan meminta Evelyn pada papa untuk membantuku disini."


"Tidak bisa begitu!" Lagi, protes Aglen semakin keras.


"Dia sekretarisku, kau cari saja sekretaris yang lain disini," ketus Aglen.


"alAku yang menjadi atasannya sebelum kakak, jadi aku yang berhak mengajak Evelyn. Disana Kakak juga bisa mencari sekretaris yang lain bukan sebagai pengganti," sahut Luna tidak mau kalah.


Sementara itu Evelyn hanya tersenyum melihat pertikaian dua kakak adik yang memperebutkan dirinya itu. Dalam hati gadis itu berbangga, karena itu berarti atasannya menyukai pekerjaannya.


Sedangkan Christina hanya terlihat menggeleng beberapa kali mendengar kedua keponakannya itu berdebat.


"Kenapa tidak kita tanyakan saja pada Evelyn, ia ingin menjadi sekretaris siapa?" usul Luna pada akhirnya.


"Tidak bisa. Ia tetap sekretarisku." Aglen tegas menolak usulan Luna.


"Jika diizinkan, saya bersedia kembali bekerja dengan bu Luna," ucap Evelyn bersemangat.


"No! Tidak akan ku izinkan! Kau tetap sekretarisku sampai kapanpun. Besok pagi kita kembali ke Kanada!" ucap Aglen geram.


"Tapi anda mengatakan bu Luna yang meminta saya kemari, Sir. Itu berarti saya memang diizinkan bekerja di negara ini," protes Evelyn yang ingat atas alasan apa Aglen mengajak Evelyn ke Amerika.


"Sekali tidak, tetap tidak!" bentak Aglen yang membuat semuanya terdiam.


"Masuk ke kamarmu Eve! Aku akan membahasnya kembali dengan papa untuk hal ini."


Untung saja Evelyn sudah menyelesaikan makannya. Hingga gadis itu hanya menurut dan menjadi yang pertama kali meninggalkan meja makan.


Aglen nampak mengikuti dan memastikan Evelyn telah masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamar itu. Kemudian lelaki itu kembali turun ke bawah dengan langkah sangat pelan.


"Luna! Kau mau bermain dengan ku?" tuduh Aglen pada sang adik.


"Bermain apa? Kakak yang terlalu lama mengungkap perasaan. Aku akan tetap menjadikan dia sekretarisku jika kakak masih saja banyak pertimbangan."


"Bibi ke belakang saja. Jika sudah ada keputusan jangan lupa beritahu bibi," ucap Christina sambil melangkah ke dapur.


Christina tahu apa yang kedua keponakannya itu bahas. Namun ia enggan ikut campur. Ia hanya akan turun tangan jika keduanya tidak mendapatkan titik temu.


"Isshhhh ... Luna! Aku belum mengenalnya terlalu jauh," ucap Aglen kembali beralasan.


"Kakak akan kehilangan dia jika terlalu lama. Dia gadis yang cantik pasti banyak lelaki yang menyukainya."


"Sudah Luna! Jangan menyalakan api dalam diriku. Aku butuh waktu untuk mengaku padanya." Aglen terdengar bertele-tele mencari alasan. Lelaki berkuncir itu terdengar tidak percaya diri.


"Baiklah aku akan menjodohkannya dengan_"


"Baiklah, aku menyukainya! "


Deg!


😍😍😍😍