
"Nyonya Luna, selamat pagi."
Seorang lelaki membuka pintu kamar Luna setelah mengetuknya.
"Mr. Andrew."
"Ya. Bagaimana keadaan Anda?"
Lelaki bernama Andrew itu mendekati ranjang Luna. Ia yang sedari tadi menguarkan senyum ramahnya, bergegas menjabat tangan wanita itu.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana perkembangan kasusku?"
Luna menatap sendu lelaki yang menjadi pengacaranya itu. Ia baru saja selamat dari kekacauan akibat gadis bernama Angeline itu, dan Mr. Andrew langsung menjenguknya.
Dalam hati wanita itu berdoa, semoga lelaki yang datang padanya itu tidak membawa berita buruk untuknya.
"Sebenarnya, ayah Anda melarang saya untuk mendatangi Anda, Nyonya. Beliau mengatakan semua akan dilanjutkan saat kondisi anda benar-benar sudah stabil."
Andrew berterus terang pada Luna. Karena jika wanita itu tidak berkenan, ia akan datang kembali nanti.
"Aku baik-baik saja Mr. Andrew. Katakan yang ingin kau sampaikan."
Cepat atau lambat, Luna juga tetap harus menghadapinya. Maka dari itu ia menyiapkan diri, meski hatinya tidak sedang baik-baik saja.
"Penyelidikan telah selesai. Mereka mendapatkan banyak sekali hal janggal di perusahaan anda, Nyonya. Salah satunya CCTV. Banyak sekali hasil rekaman CCTV yang sengaja dihilangkan. Meski bukti yang ada ditangan kita tetap yang paling utama. Tuan ... Stefan menginginkan ini cepat diungkap, Nyonya. Beliau tidak ingin permasalahan ini berlarut-larut dan menjadi beban untuk anda."
Andrew, pengacara Luna yang juga teman kuliah Stefan sedikit gugup saat membicarakan lelaki itu. Ia takut menyampaikan hal yang seharusnya tidak didengar oleh wanita didepannya itu. Karena Andrew tahu sendiri, jika Stefan sangat mencintai wanita di depannya itu.
"Stefan?" Mata Luna memanas.
Jemarinya dengan sigap bergerak menghapus bulir bening yang mendadak penuh di kelopak matanya. "Bagaimana_?"
Luna tidak sanggup mempertanyakan keadaan lelaki itu. Ia sangat takut mendengar kabarnya. Bahkan dada wanita itu kembang kempis menahan detak jantungnya yang mendadak berlari.
"Anda harus sabar," ucap Andrew menyentuh punggung tangan Luna sejenak. Lelaki itu terenyuh melihat wajah Luna yang sembab.
"Maaf, saya tidak bisa memberikan informasi apapun kepada Nyonya. Kakak anda sudah mengurus segalanya. Sepertinya saat ini sedang proses identifikasi. Semoga ada kabar baik untuk keluarga anda." Andrew mencoba tersenyum meski sangat terlihat jika itu hanya dipaksa.
Ingin sekali ia mengucap belasungkawa, namun ia juga tidak tega. Sepanjang lelaki itu kenal dengan Stefan, Luna lah wanita pertama yang diakui temannya yang terkenal playboy itu sebagai seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Serahkan saja bukti itu, sesuai keinginan Stefan. Aku siap menghadapi gadis itu. Dan terimakasih sudah banyak membantu kami, Tuan." Helaan napas berat Luna terdengar meski lirih.
"Baiklah, Nyonya. Untuk selanjutnya, tunggu kabar dari saya."
Andrew mohon pamit setelah menyelesaikan tugasnya hari ini.
Setelah kepergian Andrew, masuklah seorang perawat kedalam kamar Luna.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Luna mencoba meminjam ponsel milik perawat itu. Dan beruntungnya, sang perawat mengizinkannya.
Ia mencoba menghubungi ponsel Adam. Namun hanya terdengar nada sambung tanpa diangkat sama sekali, membuat Luna kecewa.
Bahkan ia baru saja lepas dari kejadian buruk yang hampir saja merenggut nyawanya. Namun lelaki itu sama sekali tidak menghubunginya ataupun perduli.
Apakah ada yang lebih penting dibanding dirinya dan El untuk Adam?
"Terimakasih."
Luna berusaha tersenyum meski kecewa.
Perawat itu mengangguk dan mohon diri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Ellard menatap keluar jendela di markas sekaligus rumah utamanya. Beberapa kali lelaki paruh baya itu mengesah. m
Menyesalkan keponakannya yang nekat pergi ke pulau Victoria lebih dahulu.
Ia bingung, bagaimana harus menjelaskan pada William jika pewarisnya mungkin saja menjadi korban ledakan itu. Kakaknya itu sudah pasti akan mengamuk dan membunuhnya.
Ceklek.
Seorang lelaki tampan dengan rambut dikuncir masuk ke ruang kerja milik Ellard.
"Pa...." panggil Aglen, namun Ellard masih mematung pada posisinya.
"Apa hasilnya?"
Tanya sang ayah dingin. Bahkan ruangan ini terasa membeku meski saat ini sedang musim panas disana.
"Cocok."
Brak.
Aglen melangkah maju, memangkas jarak antara dirinya dengan sang ayah. Lelaki berkuncir itu mengusap lembut bahu Ellard. Sedangkan ia sendiri yang berdiri di belakang Ellard terlihat menunduk.
"Urus secepatnya, Ag!" titah Ellard yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.
"kakek ... Aku ingin bertemu Mama."
Tiba-tiba Elea masuk ke ruang kerja Ellard dan membuat kedua orang lelaki disana salah tingkah. Dalam hati Aglen merutuki dirinya yang lupa menutup pintu saat masuk tadi.
"Sayang."
Ellard memutar tubuhnya setelah menghapus dengan cepat matanya yang basah dan merah. Bahkan lelaki itu menampakkan senyum seperti biasanya dihadapan Elea.
"Tunggu di kamar, ya. Kakek masih ada perlu sebentar dengan paman Aglen," bujuk Ellard.
Lelaki paruh baya itu berjongkok. Menyeimbangkan tinggi tubuhnya dengan sang cucu.
"Baiklah, tapi Kakek juga harus berjanji akan mengajakku berkunjung ke rumah Paman Stefan. El merindukannya, Kek."
Aglen menggaruk belakang kepalanya yang tentu saja tidak terasa gatal. Ia bingung mencari alasan yang tepat untuk membantu sang ayah menjawab permintaan keponakannya itu.
Sementara Ellard, lelaki paruh baya itu sampai mengerjap berkali-kali karena gugup.
"Emm ... Nanti, ya. Sekarang El ke kamar dulu. Setelah ini, Kakek akan menyusul."
Gadis kecil itu mengangguk, menurut pada ucapan lelaki yang ia panggil kakek itu.
"Urus semuanya sampai kepulangan kita ke Amerika, Ag." ulang Ellard. "Dan satu hal! Sebisa mungkin berita ini tidak tercium media. Begitu juga soal penculikan. Jika dengan masalah pertama gadis itu tidak bisa kita kalahkan, kita gunakan cara kita."
Ellard yang akhirnya mengetahui jika pembuat masalah diperusahaan Luna dengan penculikan ini adalah orang yang sama, semakin geram.
Sungguh, selama ini meski ia berada di negeri orang, rival bisnisnya tidak ada yang berani mengusiknya. Karena ia memang orang yang tidak pernah mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaannya.
Namun gadis itu yang merupakan anak satu-satunya keluarga Peterson malah dengan berani menantangnya. Gadis bau kencur yang selalu penuh masalah dan menyukai popularitas itu agaknya belum tahu siapa Ellard Efrain.
Saat ini, dengan atau tanpa campur tangan Ronald Peterson, Ellard akan tetap membuat perhitungan.
Aglen mengangguk. Lelaki tampan sulung dari Ellard itu tidak banyak berkomentar. Ia pamit hanya dengan berbisik lirih menenangkan sang ayah.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Papa...." pekik Luna ketika melihat sang ayah mengunjunginya. Hatinya lega karena sepeninggal Aglen tidak ada yang menggantikan kakaknya itu.
Luna hendak turun dari ranjangnya menyambut Ellars. Namun urung saat melihat sang ayah menggeleng, dan memberinya kode akan menghampirinya.
"Istirahatlah. Itu yang kaubutuhkan sekarang, Sayang."
Ellard yang akhirnyaberdiri disamping ranjang Luna, mengusap lembut puncak kepala anak perempuannya itu. Sedangkan Luna, ia langsung memeluk sang ayah saat lelaki paruh baya itu sudah berada di dekatnya.
"Papa sendiri?"
"Ya. Nanti malam kita pulang. Dan kau akan segera bertemu El. Dia juga terus menanyakanmu. Papa sampai bingung harus menjawab apa."
"Benarkah? Aku juga sangat merindukannya. Kenapa kita tidak pulang sekarang saja, Pa? Aku bosan berasa disini," pinta Luna mengiba.
"Masa observasimu selesai beberapa jam lagi. Jika kau stabil sampai waktu yang ditentukan d
oleh Dokter, baru kita bisa pulang. Sudah makan?" pertanyaan Ellard terdengar sangat lembut.
Lelaki paruh baya yang bagi Luna adalah keluarga satu-satunya itu memang selalu hangat pada anak perempuannya. Itulah pada akhirnya yang membuat Luna nyaman dan bersyukur sang ayah menemukannya.
Wanita cantik itu menggeleng.
"Mau Papa belikan? Ingin makan apa?"
Luna kembali menggeleng.
"Aku hanya ingin pulang, Pa." Luna berkaca-kaca, sambil menatap nanar sang ayah.
Sepertinya mereka berdua tahu apa yang masing-masing ada di kepala mereka. Namun keduanya tidak bisa mengungkapkan kesedihan yang mereka rasakan.
"Ya, sehabis ini kita pulang." Ellard berucap lirih, dan kembali menarik kepala sang anak didadanya.
Luna menangis sejadi-jadinya. Sejak tadi datang hingga saat ini, sama sekali Ellard tidak membahas tentang stefan.
Firasat Luna terjadi hal buruk pada lelaki itu. Ayahnya mungkin saja sudah mendengar sesuatu, namun tidak ingin mengatakan padanya. Sedangkan Luna, lidahnya seakan kelu hanya untuk sekedar bertanya.
Hingga dalam pelukan sang ayah wanita itu terisak dan menumpahkan kesedihannya. Meski sebisa mungkin ia menggigit bibir bawahnya agar tidak menimbulkan suara, Ellard merasakannya. Ia memeluk erat punggung rapuh yang bergetar itu.
😍💜💜💜💜💜