La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 29



"Siapa yang paling El sayang?" tanya Stefan saat mereka berdua menikmati cake dan di sebuah kedai. Lelaki itu hanya bermaksud membuang kecanggungan dan membuat ikatan mereka berdua erat.


"Emmm...." Gadis kecil itu nampak bingung, ia bermain-main dengan sendoknya. "Mama," ucapnya yakin. "Mama nomor satu yang paling aku sayang, Paman."


Stefan tersenyum mendengarnya. Anak-anak memang selalu mengidolakan ibu mereka.


"Lalu Kakek ... Lalu...?" Elea menggaruk rambutnya. Kemudian tatapannya jatuh pada lelaki yang duduk di depannya.


"Daddy?" sahut Stefan mengarahkan.


Elea menggeleng, wajahnya mendadak murung begitu Stefan menyebut sang ayah.


"Berikutnya?" Stefan yang tidak paham dengan maksud Elea, hanya memancingnya untuk meneruskannya.


"Paman," ucap gadis kecil itu lantang.


"Paman Aglen memang baik. Ia sayang sekali dengan El." Stefan membenarkan ucapan Elea.Ia sendiripun bangga dengan sepupu sekaligus sahabat baiknya itu. Meski Aglen bukan kakak yang baik untuk Luna namun ia paman yang baik untuk Elea.


"Paman Aglen setelah Paman Stefan," ucap Elea lirih. Gadis kecil itu meluruskan.


Gluk!


Rasa dingin menyegarkan tenggorokan lelaki itu. Demi apa hanya ungkapan sayang Elea saja membuat hati Stefan terbang. Bahkan Stefan berada di nomor tiga setelah Luna dan sang paman Ellard. Tentu dua orang itu tidak dapat ditandinginya sampai kapanpun.


"Kenapa Paman, Sayang? Paman...." Stefan merasa tidak percaya diri. Pantaskah ia dipanggil Papa setelah apa yang ia perbuat pada Luna? Pantaskah ia disayangi oleh darah dagingnya itu bahkan melebihi sayang Elea pada Adam?


"El tidak tahu, Paman. El merasa sayang Paman sejak bertemu Paman pertama kali. Apalagi, Paman Tampan juga sebaik Paman Aglen." Pengakuan anak-anak selalu penuh kejujuran.


Bagaimana mungkin Stefan tidak menyayangi Elea, sedangkan gadis kecil itu adalah darah dagingnya. Namun sebenarnya, tanpa embel-embel anak kandungnya pun, Elea memang pantas disayangi. Gadis kecil itu pintar dan mudah bergaul.


"Paman juga sayang sekali dengan El." Stefan mencubit sayang hidung mancung duplikatnya itu. "Cake nya enak. Belikan untuk Mama, ya. Tapi El yang memilih, karena Paman tidak tahu apa kesukaan Mama."


"Tiramisu! Mama sangat menyukainya, Paman," pekik El saking bahagianya. Setiap kali makan, Paman Tampannya itu selalu mengingatkannya untuk membungkus dan dibawa pulang.


"Kakek juga El," ingat Stefan sebelum gadis kecil itu melangkah ke kasir untuk memesan dan sekalian membayarnya.


"Kak?"


Mendadak Stefan mendengar seseorang yang begitu dekat memanggil kakak. Lelaki itu mendongak, kemudian wajahnya nampak kaget karena kini di depannya ada seseorang yang dikenalnya.


"Kakak disini? Bukankah setahuku di Italia?" Pauline, gadis cantik teman Luna yang berprofesi model itu kini tampil cantik dengan rambut panjangnya yang tergerai sebahu.


"Aku sedang ada urusan disini," jawab Stefan datar. Lelaki itu menampakkan ketidaksukaannya dengan sangat jelas pada gadis di depannya itu.


"Atau karena ... Luna?" Tebakan yang tepat. Namun Stefan secepatnya menguasai diri hingga raut wajahnya tidak terbaca.


"Bukan urusanmu! Aku mau dimanapun terserah aku bukan!?"


Tatapan mengejek diberikan Pauline. Sebenarnya, model cantik yang sukses di negaranya itu juga merambah ke negara ini atas alasan yang sama. Luna.


"Hemm ... Apa kau masih penasaran dengan sepupumu itu? Luna menjadi businesswoman sukses dan mendapat predikat terbaik kedua disini. Bahkan aku selalu mengikuti beritanya, tanpa ada satupun yang ketinggalan." Pauline berucap lirih dengan mata menggoda.


"Apa kau sudah selesai?"


"Ayolah, Kak," Pauline menyilangkan kedua tangannya didada. "Aku bisa memberikan apapun padamu. Nama besar, popularitas atau apapun yang kau inginkan. Mengapa kita tidak berkencan saja. Kita sama-sama sendiri bukan?"


"Paman, aku sudah selesai." Elea datang membawa plastik berisi cake pesanannya untuk Luna dan Ellard.


"Ayo kita pulang Sayang." Stefan melewati begitu saja Pauline yang ada disebelahnya.


"Kau sudah punya anak, Kak?"


Lelaki itu menghiraukannya. Stefan tidak menjawab dan langsung pergi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Luna melorot di kursi kebesarannya. Ia bingung sendiri menghadapi masalah ini. Beberapa kali wanita itu nampak memegangi kepalanya. Rasanya sungguh pusing mendalami potongan-potongan peristiwa yang ia dapatkan.


Sementara itu. Dari sekian banyak orang yang dikenalnya, hanya stefan lah satu-satunya yang tidak sengaja mengetahui masalahnya ini. Dan Luna tidak mungkin dan tidak akan sudi meminta bantuan lelaki itu. Ia tidak ingin hidupnya berhubungan lagi dengan Stefan. Dalam hal apapun.


Beberapa saat yang lalu ia sudah memanggil dua orang yang ditengarai berjaga di gedung penyimpanan malam itu. Namun keduanya tidak ada yang mengaku. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak keluar sama sekali dari sana.


Dan bukti CCTV mendukung pengakuan keduanya. Dalam rekaman terlihat jika dua orang itu hanya mondar-mandir di depan gedung. Sementara kedua penjahat itu berkeliling hingga Luna dan Stefan bisa mendengar suara mereka yang bercakap-cakap di gedung sebelahnya.


Sudah sangat jelas, pelakunya adalah orang lain yang juga bawahan Luna. Namun karena banyaknya jumlah mereka, tentu Luna tidak mengenal satu persatu. Ia hanya masih mengingat suara salah satu dari penjahat itu.


"Oh.. Tuhan sudah jam sembilan. El pasti menungguku," gumam Luna yang tersadar bahwa dia telah melewati jam malam. Wanita itu segera bergegas membereskan kertas-kertas dari atas mejanya.


"Ya Tuhan, aku lupa lagi." Luna mondar-mandir di depan mejanya. "Aku janji dengan El pulang cepat. Dia pasti sudah menungguku di luar." Wanita itu menarik tasnya dan segera keluar dari ruangannya.


Elea memang selalu menunggunya di luar jika sang ibu pulang melewati jam kerjanya. Itu kebiasaannya saat menunggu dijemput Luna di rumah sang kakek.Dan ia tidak akan mau masuk sebelum Luna datang.


Luna mempercepat langkahnya. Begitu sampai dibawah ia memanggil salah satu sopir kantor untuk mengantarnya pulang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Terima kasih, Pak," ucap Luna pada sopir kantor yang mengantar nya. Lelaki berkaca mata itu mengangguk hormat kemudian melambaikan tangannya meninggalkan Luna.


Sepi.


Luna segera masuk ke rumah sang ayah. Ternyata lelaki yang ia panggil papa itu sedang menunggunya di ruang tamu membaca buku.


"Pa."


"Malam sekali kau sampai rumah, Sayang. Ini jam berapa? Apa ada masalah di kantor?" Ellard menutup bukunya kemudian melepas kacamata yang kemudian ia letakkan diatas buku tebal itu.


"Tidak. Tidak ada, Pa. El dimana? Aku lupa berjanji padanya untuk pulang cepat." Luna menyesali diri.


"Dia tidur di kamarmu. Tadi dia juga berniat menunggumu diluar, tapi Papa melarangnya. Angin malam kencang sekali." Ellard memgedikkan dagunya. Menunjuk kamar Luna di rumah ini saat ia belum menikah.


"Baiklah, Luna susul El ya, Pa," pamit Luna pada lelaki berambut putih itu.


Luna segera naik ke lantai atas. Menuju kamar dimana ia tinggal dulu.


Klek!


Pintu terbuka dan setelahnya wanita itu meletakkan tas dan segala peralatan yang ia bawa tadi di atas meja.


Tubuhnya terasa lelah, ia ingin segera berbaring, menyusul putri kecilnya yang tidur di dalam kamar itu.


"Ya, ampun...." Luna memekik lirih. Pemandangan di depannya sunguh membuatnya kaget.


Elea tidak tidur sendiri. Disana juga ada Stefan yang tertidur di samping ranjang. Lelaki itu tertidur dalam keadaan duduk dan hanya bersandar di ranjang. Bahkan Stefan hanya melepas jas dan dasinya yang ia letakkan di sofa dekat ranjang.


Dada Luna bergemuruh, hatinya terenyuh melihat mereka berdua. Tangan kecil itu, tangan milik Elea menggenggam erat tangan Stefan yang memeluknya.


Mengejutkan!


Mereka berdua terlihat sangat nyenyak. Elea tidak pernah bisa tidur dengan orang asing selama ini. Termasuk Aglen. Tapi dengan Stefan, apa ikatan darah antara mereka begitu kuatnya?


Luna mendengkus pelan. Tulang- tulangnya terasa lemas malam ini. Dan wanita itu akhirnya memilih istirahat di kamar tamu. Tak tega membangunkan keduanya. Meski hati masih menyimpan benci pada sepupunya itu.


💗jangan lupa like, komen dan vote nya ya. Makasih 😍