
"Sial!" umpat Leo. "Ulangi lagi!Ulangi terus sampai aku bisa mendengarnya!" titahnya seraya minggir dari kerumunan orang-orang itu.
"Saya menemukan kursi roda Nyonya. Saya menemukan kursi roda Nyonya. Saya me_"
"Apa!?"
Leo panik ketika dengan jelas bisa mendengar info dari anak buahnya.
"Jam 6, ada kursi roda tanpa Nyonya," ulang Leo yang langsung paham kondisi.
"Right, Sir!"
"Sialan! Aku kecolongan!" geram Leo lirih, dengan perasaan campur aduk. Ia merasa bersalah karena mengiyakan pesan Luna tadi. Rupanya hal itu yang menjadi celah musuh untuk mengecoh.
Lelaki itu merangsek dengan cepat melewati orang-orang dan mencari posisi anak buahnya seperti instruksi yang disampaikan.
Ternyata, tempat yang dimaksud tersembunyi di balik panggung.
"Dimana?"
"Ini, Tuan. Saya menemukannya begitu saja disini," tunjuk anak buah Leo padanya.
Tempat itu seperti sebuah bilik untuk ganti pakaian. Namun melihat dari kondisinya, seperti sebuah tempat yang lama tidak digunakan karena terlihat berdebu meski tidak ada sampah satupun disana.
Aneh! Tidak ada jejak apapun yang tertinggal. Kursi roda itu seperti dibuang begitu saja disana tanpa pemakainya. Berarti tidak mungkin keponakan majikannya itu ada di sekitar sana.
Tempat itu terlalu sepi. Mungkin tidak digunakan karena memang ini hanya acara reuni. Dimana tidak ada bintang tamu dari pihak luar. Murni dari alumni saja yang kesemuanya berada di depan panggung.
"Mungkin Nyonya sudah bisa berjalan, Sir," ucap anak buahnya.
"Tidak mungkin! Aku tahu benar kondisi Nyonya Luna. Lagipula kejadian kecelakaan itu belum lama. Beliau masih dalam masa pemulihan."
Leo terdiam sejenak dan nampak berpikir. "Berpencar kembali! Ulangi pencarian kalian sampai tempat-tempat tersembunyi yang ada di dalam gedung pertemuan ini! Jika dalam lima belas menit kalian tidak menemukan, tiga dari kalian keluar. Dan periksa semua ruangan lain di sekolah ini!"
Leo memberikan perintah langsung melalui earphone nya.
"Siap, Sir!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"El, sedang berbicara dengan siapa?"
Christina menemukan Elea duduk sendirian di taman. Namun ia melihat sekelebat bayangan hitam pergi saat ia datang. Dan ia mendengar suara Elea tengah bercakap dengan suara lirih.
"Katanya, dia pengagum rahasia Mama, Oma. Dia menitipkan bunga ini untuk Mama." Elea menunjukkan buket bunga mawar merah yang cantik. "Katanya juga Mama harus cepat sembuh." Senyum manis Elea membuat Christina takut.
Orang asing?
Dia mendatangi Elea dan kabur saat wanita paruh baya itu datang.
Padahal di rumah ada penjagaan ketat dari pengawal William. Namun sosok itu bisa menembusnya.
"Seperti apa orangnya, Sayang? Kenapa tidak memanggil Oma?"
Christina yang khawatir mencoba mencari tahu lewat gadis kecil itu.
Disaat yang sama. Seorang pengawal berpakaian rapi nampak mendekat pada Christina.
"Periksa semua rekaman CCTV lima belas menit yang lalu! Dan laporkan padaku," titah Christina dengan lirih.
"Baik Nyonya."
"El juga tidak tahu, Oma. Paman itu berpakaian hitam-hitam dan memakai penutup wajah. Dari suaranya, ia sangat ramah."
Christina mendesis dan terlihat bingung sendiri. Untung saja ia segera datang. Jika tidak, entahlah apa yang akan terjadi pada cucunya itu. Mungkin Elea akan diculik seperti dulu.
Ia bersumpah akan menyuruh William menghukum semua pengawalnya yang berjaga diluar.
"El, jangan mengulanginya lagi, ya. Tidak boleh sembarangan berbicara dengan orang asing. Bagaimana kalau orang itu berniat jahat pada El?"
"Tidak mungkin, Oma. Dia baik sekali. Paman itu cukup lama berada disini," celoteh Elea yang semakin membuat Christina sakit kepala. Pikirannya melayang ke mana-mana, menampilkan semua hal buruk yang mungkin akan terjadi.
Kemudian, wanita paruh baya itu segera menghampiri cucunya.
Selepas mengambil paksa buket bunga yang terlihat cantik itu, Christina membimbing Elea untuk pergi dari sana. Namun sepertinya gadis kecil itu menolak.
"Itu kan untuk mama, Oma. El harus menyampaikannya." Elea memaksa berhenti dan menatap tidak rela pada bunga yang tergeletak begitu saja di kursi taman itu.
"Sayang...." Wanita paruh baya itu berusaha menata emosinya. Ia membungkuk dan mengusap puncak kepala Elea. "Bunganya biar diperiksa lebih dulu oleh anak buah Opa, ya. Jadi kalau ada orang yang berniat jahat akan ketahuan," bujuknya halus.
"Tapi Oma. Bunganya jangan dirusak, karena itu cantik sekali."
"Tidak. Hanya diperiksa saja, Sayang. Sekarang Oma temani El ke kamar, ya. Dan Elea harus benar-benar berjanji pada Oma tidak lagi mengulanginya."
"Iya, Oma."
Elea menunduk, raut wajahnya terlihat kecewa dengan keputusan sepihak yang diambil Christina.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ada yang kau temukan?"
Setelah mengantarkan Elea ke kamarnya, Christina terburu-buru masuk ke dalam ruang kendali CCTV dimana semua rekaman tersimpan.
Disana sudah ada para anak buahnya yang tengah memeriksa.
Mereka semua menggeleng. "Tidak ada apapun Nyonya, hanya saja kamera yang menyorot dinding dekat Nona Elea berada dan kamera belakang yang menyorot bangku taman sepertinya berubah arah. Karena tidak menyorot ke tempat yang semestinya."
"Periksa jam berapa kamera itu berubah arah. Kalian benar-benar tidak menemukan kejanggalan yang lain?" tanya Christina geram.
Bagaimana bisa pengawal senior William yang sengaja berjaga di rumah bisa kecolongan.
"Tidak ada Nyonya. Saya sudah berulang kali memeriksanya," jawab seorang lelaki yang duduk tepat di depan Christina.
"Saya menemukannya Nyonya!" teriak seseorang yang tengah memeriksa rekaman CCTV dari kamera yang berubah arah tadi.
"Jam 10.35, kemudian kamera yang satunya jam 10.40."
Hanya dalam waktu lima menit, sosok itu bisa menjangkau 2 kamera vital yang menyorot tempat duduk Elea di taman.
Dilihat dari rekaman, berputarnya kamera itu sangat pelan hingga tanpa disadari oleh para pengawal yang berjaga di ruangan ini.
Dia pasti orang yang sudah profesional, mampu mengenali tempat kamera CCTV yang diletakkan tersembunyi dan diatas jangkauan rata-rata tinggi kebanyakan orang Amerika. Atau mungkin, mereka adalah sindikat sehingga lebih dari satu orang.
Tapi untuk apa?
"Simpan rekaman itu untuk diberikan pada Tuan William. Dan kalian yang lengah, Siap-siap menerima hukuman!" ucap Christina yang masih emosi.
Sebenarnya Christina tidak pernah mengurusi hal-hal seperti ini. Tapi karena yang didekati adalah Elea, ia menjadi was-was akan ketangguhan para pengawal William itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sidang pertama Adam masih seputar membacakan segala tuduhan yang dilayangkan padanya dari pihak Ellard.
Tidak ada satupun orang terdekat yang hadir disana. Lelaki itu menangis dalam hatinya.
Ibu dan adiknya, mereka tidak akan mungkin bisa hadir karena telah tiada. Tinggal sang ayah, yang kini juga memutuskan untuk tidak lagi menemuinya.
Tuduhan demi tuduhan ia terima tanpa bantahan. Ia hanya memiliki pengacara yang disediakan oleh pengadilan. Yang sepertinya tidak bisa membantunya lebih banyak untuk meringankan hukuman.
Ellard hadir disana sendirian. Lelaki paruh baya itu nampak gagah dan misterius karena ia tidak mengeluarkan komentar apapun ketika media memberondongnya dengan banyak pertanyaan. Baik ketika datang ataupun ketika persidangan selesai.
Bahkan pengacara yang bersamanya pun tidak mengucapkan sesuatu hal yang penting. Dia hanya mewakili Ellard mengucapkan maaf pada media karena tidak bisa memberikan pernyataan apapun untuk kasus ini.
Adam menatap iba pada sang ayah mertua. Ellard sosok yang tidak banyak bicara. Bahkan lelaki itulah yang banyak membiayai kehidupan keluarga Adam sejak ia menikahi Luna.
Meski awalnya tidak ada janji apapun yang Ellard berikan pada adam. Namun rupanya lelaki paruh baya itu melakukannya dengan sukarela sebagai ucapan terima kasihnya.
Ellard sangat menyayangi anak perempuannya itu. Hingga ia bahagia saat tahu Adam bersedia menerima Luna apa adanya.
Apakah Adam kurang bersyukur?
Sepertinya begitu dan sekarang semuanya menjadi terlambat.
😘😘😘😘😘