
Hari demi hari yang melelahkan itu datang juga. Sidang demi sidang terlewati dengan lancar meski ada banyak drama di dalamnya.
Awalnya Pauline tidak mengakui jika dirinya terlibat penculikan Elea dan juga Luna di Kanada. Ya, dia memang tidak terlibat secara langsung, namun dia adalah otak pelakunya.
Bukti-bukti yang dimiliki pihak Luna kuat. Hingga mengelak seperti apapun hanya akan semakin mempermalukan dirinya dan juga sang ayah.
Kejadian malam hari saat Luna kecelakaan itupun perbuatan Pauline. Bahkan Pauline mengatakan berharap Luna tidak selamat waktu itu.
Ia menyuruh orang mengikuti Luna. Mengintimidasi Luna agar ketakutan. Kemudian menabrak dari belakang mobil Luna agar Luna semakin panik. Dan ia berhasil, hingga Luna kecelakaan dan mengalami patah kaki.
Namun disaat terakhir Pauline hampir mendatangi Luna dan memastikan Luna tidak selamat Ada seseorang yang menghadangnya. Karena takut dikenali, Pauline akhirnya kabur bersama orang suruhannya itu.
Kemudian peristiwa percobaan pembunuhan saat Luna di rumah sakit juga ulah gadis itu. Bahkan ia sendiri turun tangan melakukannya.
Sungguh nekat.
Edward beberapa kali menggeleng sampai ternganga. Lelaki itu tidak menyangka kejahatan putrinya begitu banyak. Dia sudah membayangkan pasal berlapis yang akan menjerat putri satu-satunya itu. Ia tidak pernah mengira jika Pauline bertindak sejauh itu.
Berikutnya pengancaman pada Luna saat hendak menghadiri sidang adalah ulah Edward sang ayah. Edward juga membantu Pauline untuk keluar negeri selama dalam masa tahanan. Dimana seharusnya ia dicekal oleh pihak imigrasi jika sampai keluar dari Amerika. Namun kenyataanya, jabatan sang ayahlah yang mempermudah semuanya.
Selain membantu putrinya yang jelas bersalah, Edward juga terjerat penyalahgunaan wewenang.
Dan yang lebih mengagetkan adalah fakta, jika Pauline terlibat dalam aksi fitnah yang dilakukan Angeline pada Luna di Kanada. Ya, otak utamanya adalah Pauline dan Adam, sedangkan eksekutornya adalah Angeline.
Pauline dan Angeline adalah saudara sepupu, dari hubungan ibu Angeline dan ibu kandung Pauline yang sudah lama meninggal.
Baik Pauline ataupun sang ayah mendapat hukuman yang setimpal kini.
Kasus Luna menang atas kepiawaian kolaborasi Andrew dan Bhara yang dengan lugas dan jelas memberikan bukti dan mengemukakan berbagai kemungkinan. Bukti mereka memang kuat. William dan Ellard tidak main-main dengan orang yang berani mengusik kehidupan mereka.
Kebenaran pasti akan menemukan jalannya untuk menang. Meski jalannya harus berliku dan sakit lebih dahulu.
"Terima kasih, And. Kau hebat sekali," ucap Luna yang berjalan berjajar dengan Andrew.
"Jangan hanya ke aku Luna. Bhara juga hebat, dia yang dengan gigih membalikkan semua sangkalan dari pihak Edward. Hingga mereka tidak berkutik. Temanmu ini hebat rupanya meski ia junior." Andrew menepuk bahu Bhara yang hanya memberikan senyum tipisnya membalas segala yang Andrew ucapkan.
"Iya, Bhara juga hebat. Kalian berdua hebat. Aku tidak tahu nasib kasus ini jika tidak ada kalian," puji Luna akhirnya pada kedua lelaki yang berjalan bersamanya itu.
"Terima kasih untuk semuanya And, dan kau Bhara. Aku tidak menyangka persidangan akan sedikit alot meski kita memiliki bukti yang lengkap. Mereka sungguh licik, apalagi Edward menggunakan anak buahnya untuk memberikan kesaksiannya palsu." Ellard menjabat tangan kedua pengacara itu.
"Iya paman, licik harus dibalas licik. Namun karena kita sudah sangat siap, mereka tidak bisa mengelak lagi," sahut Bhara yang ikut berbangga karena keberhasilan menjebloskan Pauline dan Edward.
"Aku tidak menyangka permainan Edward sekotor itu. Bahkan ia jelas-jelas berani mempermainkan hukum dimana ia bekerja untuk membuat keluarganya kenyang," tambah William.
"Bhara, bagaimana kau tahu Edward terlibat kasus suap tahun lalu? Bukankah saat itu kau masih di Kanada?" tanya Ellard yang masih tidak mengerti darimana Bhara mendapat info lengkap dengan bukti otentik berupa video.
"Emm ... Sebenarnya, Tuan Edward menyuap saudara jauh mama saya, Paman. Rekaman CCTV itu diambil saat berada di kantornya, jadi kami menyimpan rekamannya," jawab Bhara.
"Kebetulan sekali. Tuhan membantu kita lewat siapa saja," William menambahi.
"Ya, sebenarnya banyak kasus yang hilang tanpa jejak ketika berada di tangan Edward. Mungkin kali ini hari apes Edward karena berurusan dengan keluarga Efrain," tambah Bhara.
"Baiklah, kita berpisah disini saja. Aku akan ke kantor bersama Ellard. Nak kau ikut kami atau....?" William bertanya pada Luna.
"Aku pulang saja, Paman," jawab Luna.
"Bolehkah aku mengajak Luna makan siang, Paman?" Bhara menatap Ellard untuk meminta izin.
"Terserah Luna saja," sahut sang ayah.
"Baiklah kita makan-makan, aku traktir kalian," ajak Luna pada kedua pengacaranya.
"Maaf sekali Luna, aku harus kembali ke Kanada sekarang juga. Ada tanggung jawab yang menantiku disana," sela Andrew yang tidak bisa ikut bergabung.
"And ... Kau mengecewakan," Luna mendelik untuk mengungkap rasa kecewanya.
"Maaf, ini tanggung jawab Luna. Aku harus profesional bukan? Lain kali aku akan menghabiskan uangmu jika masih berlaku traktiran itu," goda Andrew yang segera berpamitan dengan mereka.
"Baiklah, jadinya ini hanya makan berdua?"
"Aku akan menemanimu kemanapun," sahut Bhara yang tengah bahagia.
Padahal rencana awal Luna makan bertiga saja sudah membuat lelaki itu tidak berhenti tersenyum tadi. Namun keadaan malah membuat mereka hanya akan pergi berdua saja.
Bhara beruntung bukan?
"Kita hanya makan Bhar, aku tidak ingin kemana-mana setelahnya," elak Luna.
"Ok, kita berangkat," ucap Luna yang melenggang sendirian menuju mobilnya.
Bhara hanya menggeleng sambil tersenyum sendirian.
Suatu saat aku yang akan menggandengmu dan mengantarkan kemanapun kau mau, Luna.
Mereka berpisah di tempat itu, untuk pergi ke tujuan masing-masing.
Gedung penuh kenangan, yang pasti semua orang yang pernah kesana tidak akan mau kembali lagi dan berurusan dengan apapun yang ada disana. Meski dalam mimpi sekalipun.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Luna menatap gedung-gedung tinggi pencakar langit di sepanjang perjalanan, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Yang terdengar oleh Bhara hanya beberapa helaan napas berat. Bhara pun sengaja membiarkan wanita yang ia cintai itu menenangkan dirinya sendiri.
Bhara tahu apa yang Luna rasakan. Wanita itu pasti merasa kecewa. Mereka dulunya pernah bersahabat, meski tidak sedekat persahabatan Luna dengan yang lainnya. Tapi, mengetahui orang yang jahat padamu adalah orang yang kau kenal adalah menyakitkan. Lebih baik tidak kenal, traumanya tidak terlalu dalam.
Kali ini Bhara hanya ingin menjadi pendengar, membuat wanita yang sudah lama dicintainya itu nyaman.
Sejenak, Luna merasa matanya begitu pedih, dan tanpa terasa kelopak yang sudah penuh itu mengerjap. Hingga jatuhlah bulir bening yang kemudian ia seka dengan jari untuk menghilangkan jejaknya. Hanya setetes dan hatinya menjadi lega.
Melewati sidang yang menyita waktu dan menguras tenaga ternyata tidaklah mudah. Apalagi setiap pernyataan yang diungkapkan baik dari pihak Luna ataupun Pauline semua seperti sengaja mengorek kembali luka lama yang sudah teredam.
Dan yang paling membuat kecewa seperti yang sudah diduga oleh Ellard, Pauline sibuk menampilkan alibi. Namun akhirnya ketika semua bukti tidak bisa dibantah, gadis itu sama sekali tidak merasa bersalah. Matanya melirik meremehkan dengan senyum menyeringai. Itulah yang ditangkap oleh Luna.
Kata-kata Pauline begitu dalam menggores hati Luna. Mungkin semua yang hadir disana tidak menyadarinya. Mereka anggap hal itu biasa sebagai luapan tidak terima. Namun tidak untuk Luna.
Semua yang wanita itu lakukan pada Luna adalah karena dendam. Dendam pribadi yang tidak mau Pauline ungkapkan di depan hakim dan mereka semua. Pada intinya, Pauline sangat membenci Luna sejak ia bertemu pertama kali dengan Luna.
Dan satu hal lagi, Pauline tidak pernah meminta maaf sampai putusan hukuman untuknya dijatuhkan. Gadis itu masih mengangkat kepalanya bahwa apa yang ia lakukan tidak sebanding dengan sakit hatinya.
Ketika sidang berakhir, Pauline yang akan kembali dibawa ke tempatnya menjalani hukuman tengah digiring oleh petugas. Mereka melewati Luna yang menunggu sang ayah berbincang dengan Andrew.
Saat itu Luna hanya sendiri, dan sesuatu yang diucapkan Pauline terngiang terus di kepala Luna.
"Aku yang memberimu obat tidur, agar Stefan menidurimu dan menganggapmu ******! Aku bertemu kembali dengannya di Kanada saat aku mulai mencari keberadaanmu dan aku menemukanmu. Saat itu, kukira aku masih mendapat kesempatan, ternyata tetap saja ia menolakku. Dan tahukah kau? Angeline dan Stefan telah dijodohkan. Namun lagi-lagi Stefan menolaknya. Siapa lagi kalau bukan karena kau. Kalian saudara Luna! Kenapa dia mencintaimu? Hah, katakan padaku! Katakan Luna!"
Pauline mendadak maju dan mengangkat kedua tangannya yang diborgol untuk menarik kerah baju Luna.
Luna tidak melawan, selama Pauline tidak berbuat jahat, Luna hanya menanggapinya dengan tenang.
"Nona!" teriak petugas sipir yang kaget akan ulah Pauline yang tiba-tiba. Mereka segera menarik tubuh Pauline dengan kuat hingga akhirnya tangan Pauline lepas dari kerah Luna.
"Anda tidak apa-apa, Nyonya?"
Alex mendekat begitu melihat keributan dan matanya menangkap Luna ada diantara orang-orang itu.
"Ya."
Setelahnya Pauline digiring dengan pengawalan ketat. Tatapan Pauline begitu dendam pada Luna.
Stefan mencintaiku? Tapi kenapa? Apa karena Elea? Apa Stefan tahu Elea adalah darah dagingnya?
Luna tiba-tiba meremas rambutnya. Rasanya seperti dipukul berkali -kali dengan batu yang sangat besar.
"Bha-ra."
Tangan Luna melambai ingin menggapai Bhara. Ia tidak kuat, rasanya kepalanya begitu sakit. Luna terengah dan napasnya hampir habis.
"Luna, kamu kenapa?" teriak Bhara cemas.
Ciiitttttt....
Bhara menginjak pedal rem mendadak dan langsung menepikan mobilnya.
"Luna!"
Luna ambruk dalam pelukan Bhara. Wanita itu tidak sadarkan diri.
Love u 💜💜💜💜💜
Kira-kira Stefan sedang apa ya? 🥱