La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 69



"Bu, maaf. Mr. Stefan_"


"Dia kembali ke Italia," sahut Luna cepat.


"Emm ... Bukankah beliau CEO juga di perusahaan Tuan Ellard yang baru?" tanya Emma. Gadis itu tidak bisa membendung rasa keingintahuannya.


Luna yang sebelumnya fokus memberikan tanda tangan pada tumpukan berkas di depannya, kini mengangkat wajahnya.


"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Luna menelisik.


"Mr. Stefan yang menceritakannya," jawab Emma percaya diri.


Luna masih menatap Emma yang lama-lama terlihat gugup. Setahu Luna, anggota keluarga Efrain tidak pernah menceritakan hal pribadi pada orang lain. Dan tentu termasuk di dalamnya Stefan.


Wanita itu mengerjap pelan, mengulas senyum tipisnya.


"Oh ... Bisa kau tanyakan padanya nanti jika dia kembali." Luna kembali menunduk, fokus memeriksa dan membubuhkan tanda tangannya pada berkas penting di depannya itu.


Bahkan hari ini, Emma tidak perduli dengan Luna yang bersikap lain kepadanya.


Gadis itu hanya ingin tahu kabar Stefan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Selamat siang, Nyonya."


Andrew datang beberapa jam kemudian. Pengacara itu masuk diantar oleh Emma.


"Selamat siang. Silahkan Tuan," sambut Luna.


Lelaki itu duduk di depan Luna. Dan Luna siap mendengarkan apa saja agenda yang akan mereka lewati beberapa hari kedepan.


Namun sepertinya, Andrew tidak nyaman dengan keberadaan Emma yang masih ada diantara mereka.


"Em, kembali ke ruanganmu. Akan kupanggil lagi nanti jika aku membutuhkan sesuatu," ucap Luna sambil mengangguk, meminta gadis yang menjadi sekretarisnya itu keluar.


"Ehemm ... Tuan Andrew akan membicarakan masalah perusahaan yang melibatkan Bu Luna. Bukankah selama ini kami boleh mengikuti prosesnya?" ucap Emma membenarkan apa yang ia lakukan disini. Tentu karena ia bagian dari perusahaan ini.


"Kali ini pribadi. Aku tidak hanya bicara tentang Angeline Peterson. Jadi maaf, kau bisa keluar sekarang. Jika kau ingin mengikuti perkembangannya, beberapa hari lagi kasusnya akan segera disidangkan, kau sangat boleh hadir disana." Luna menjelaskan dengan pelan dan penuh penekanan.


"Oh ... begitu ya. Terima kasih, Bu. Saya pasti akan datang." Sekretaris Luna itu nampak senang mendengarnya. Dan ia keluar dari ruangan itu dengan sendirinya.


Sepeninggal Emma, Andrew menceritakan beberapa hal. Termasuk pembahasan apapun antara dirinya dengan Stefan. Rupanya lelaki itu menitipkan kemenangan kasus Luna pada Andrew.


Mengapa dikatakan kemenangan oleh Stefan? Karena lelaki itu tidak mau tahu, apapun alasannya Andrew harus mendampingi Luna sampai kasus ini benar-benar selesai. Karena selama ini, semua yang terjadi berimbas pada nama baik wanita itu, yang menjadi buruk akibat status tersangka yang disandangnya.


"Nyonya benar-benar sudah siap?" tanya Andrew memastikan kesiapan mental klien-nya. Karena ini bisa jadi proses yang panjang untuk dilalui.


"Saya akan berusaha siap, Tuan. Lalu bagaimana dengan kasus penculikan saya?"


"Hal itu akan kita keluarkan jika pihak lawan sangat pelik untuk dijatuhkan dengan masalah yang pertama. Tenanglah Nyonya, semua rekaman dan bukti tentang penculikan Nyonya sudah ada di tangan saya. Stefan sangat siap dengan apa yang dilakukannya. Bahkan saya tidak mengerti ia bisa melakukannya di tengah ia sedang menyelamatkan Nyonya," ucap Andrew.


Ya, Stefan seperti seseorang yang sudah bersiap hendak pergi jauh. Ia sudah mengatur apa saja yang ada dipikirannya bisa membantu kasus Luna.


"Maksud anda? Stefan?"


"Ya, Nyonya. Semua bukti tentang penculikan anda saya dapat dari Stefan. Beberapa gambar, video dan juga rekaman suara. Meski ada yang tidak begitu jelas namun bagi saya itu cukup untuk menjerat Nona Peterson dan menjatuhkan nama baiknya. Anda sangat beruntung di ... Ah, maafkan saya, Nyonya."


Andrew langsung meralat ucapannya. Ia merasa sudah terlalu jauh. Akhirnya, lelaki itu urung mengungkap segala yang ia tahu tentang Luna dari sosok temannya itu.


"Anda tahu?"


Luna tentu menyadari arah pembicaraan pengacaranya. Stefan bahkan tidak menyimpannya sendiri. Andrew pasti orang yang sangat Stefan percayai.


Andrew mengangguk. Lelaki itu hanya diam setelahnya.


Luna mendadak gugup. Mengetahui kenyataan bahwa Stefan tidak malu mengakui pada temannya jika ia mencintai Luna.


"Apa_?"


"Ya, Nyonya. Segalanya saya tahu. Sebenarnya Stefan lebih dari seorang teman untuk saya. Dia adalah penyelamat saya dan keluarga saya dimasa lalu."


Sang pengacara akhirnya mengungkap siapa dia sebenarnya. Namun, Andrew tidak menjelaskan lebih lanjut apa yang Stefan lakukan untuknya.


Helaan napas panjang terdengar dari bibir Luna. Rupanya lelaki itu penuh misteri juga. Ia pikir Stefan hanya seorang sepupu yang buruk, dan lelaki playboy yang suka bersenang-senang saja. Dan ia masih beruntung karena ia kaya, tampan, dan pintar.


Paket lengkap.


"Apa benar dia sebaik itu?"


"Tentu saja, Nyonya. Saya saksinya. Apa yang menjadi pembicaraan khalayak hanyalah sebagian dari yang saya anggap sebuah kenakalan seorang lelaki kaya yang bingung menghabiskan uangnya."


Luna tersenyum mengejek, mana mungkin lelaki playboy dikatakan kenakalan biasa. Stefan pasti banyak melukai hati wanita karena ulahnya.


"Kau seperti ayahnya saja, Tuan." Luna berdecak kesal setelahnya.


"Nyonya, dia sangat mencintai anda. Dan dia tidak akan menyakiti orang yang dia cintai."


Andrew berucap seperti meyakinkan seseorang yang bodoh. Itu yang Luna lihat.


"Kau tahu segalanya tentang apa yang menimpaku kan? Dan kau masih bilang dia mencintaiku?"


Mata Luna berair. Kenyataannya sangat sakit meski hanya menyebut Stefan seperti itu.


"Dia mencintai anda setelah kejadian itu. Dan tahun- tahun sesudahnya hingga ia pergi untuk selamanya." Andrew berucap dengan tenang.


"Sudah! Jangan bahas lelaki itu lagi!"


Luna mengusap air matanya. Menetralkan jantungnya yang bergejolak dan emosinya yang tiba-tiba memuncak.


"Kita bicarakan kasus kita saja, Tuan."


Luna akhirnya berdiri, menatap keluar jendela mencari ketenangan, meski ia harus membelakangi pengacaranya itu.


"Maaf, Nyonya. Baiklah, mungkin mulai besok akan ada panggilan sidang untuk anda. Dan karena ini kasus menyangkut nama baik nona Angeline, dari pihak keluarga Peterson pun meminta sidangnya dibuka untuk publik."


"Aku sangat setuju, Tuan. Begitu lebih baik. Kita tidak usah banyak bertele-tele jika begitu. Bawa bukti besar kita dan langsung kita serahkan saja," pinta Luna dengan tegas.


Hanya akan menghabiskan energi saja jika dilakukan seperti rencana pada awalnya. Luna sudah malas berhubungan dengan orang-orang seperti mereka apalagi pengkhianat itu. Ia ingin segera menendang mereka dari perusahaannya ini.


"Oh iya, serahkan juga bukti penculikanku, Tuan. Itu bisa memperberat hukumannya. Agar nona kaya itu tidak main-main dengan kita lagi!" titah Luna.


Entah mengapa semangatnya mendadak tinggi. Percuma hanya menjerat Angeline dengan satu kasus, Luna sudah terlanjur basah berurusan dengan keluarga terpandang di Kanada itu. Maka ia akan terjun sekalian.


Sang ayah Ellard, sudah memberi gambaran serta bercerita banyak hal tentang keluarga Peterson.


Perlawanan kali ini bagaikan bermain dadu. Hanya mengadu nasib, dan percaya bahwa yang benar akan mendapat keadilan. Sedangkan yang salah akan terpuruk akibat ulahnya sendiri.


Sampai saat ini belum ada tanda-tanda Tuan besar keluarga Peterson turun tangan dalam urusan sang anak.


Ronald Peterson orang yang tegas. Jika ia membela sang anak, sudah pasti sedari awal akan banyak tekanan untuk pihak Luna. Namun hal itu tidak dirasakan Andrew maupun Luna hingga sekarang.


Dari awal saja, pengacara yang digunakan Angeline bukan pengacara ayahnya. Luna hanya berdoa semoga apa yang ada dipikirannya benar, bahwa ia hanya melawan Angeline bukan keluarga Peterson.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Adam meminta tambahan waktu pada polisi. Untuk menemani sang ibu di rumah sakit hingga sang ayah datang. Karena ia masih harus menunggu Sebastian yang baru saja terbang dari Kanada menuju kesana.


Dan akhirnya, polisi mendatangi rumah sakit dan ikut menunggu di tempat itu.


Beberapa jam kemudian, sang ayah nampak datang menghampiri.


"Pa...."


Adam yang sebelumnya jarang berinteraksi dengan sang ayah langsung menghambur begitu lelaki paruh baya itu datang.


Kedua lelaki itu bagaikan tidak bertemu lama. Bahkan Adam menangis begitu pelukan itu dibalas oleh sang ayah.


"Bagaimana keadaan Mama?"


Mata Sebastian sayu. Ia seperti tidak tidur berhari-hari lamanya. Namun senyum teduh yang menenangkan bagi Adam masih terulang di wajah sang ayah.


"Mama koma. Dan Kylie entah ada dimana." Adam menunduk pilu. Entah semua ini salah siapa. Keluarganya berantakan dan hari ini semua seperti akhir untuk mereka.


Hanya helaan napas berat yang terdengar dari bibir Sebastian. Lelaki itu seperti masih berpikir untuk mengucap kata-katanya.


"Mama tidak pernah memikirkan dirinya. Dia selalu perduli dengan pandangan orang lain. Bahkan disaat ia sakit, ia akan mendadak sembuh jika dihubungi teman arisannya."


Sebastian mengungkap kekesalannya. Namun apa boleh buat, semua itu tidak ada gunanya sekarang.


"Papa sudah tahu sakit yang diderita Mama. Setiap kali Papa ingatkan untuk kontrol ke dokter, Mama selalu menolak dan mengatakan jika ia baik-baik saja. Dia lebih suka menghabiskan uang di meja arisan daripada untuk berobat, Nak."


"Aku seperti anak yang tidak berguna, Pa. Bahkan sakit mamaku saja aku tidak tahu sama sekali."


Adam memukul dinding beberapa kali, melampiaskan kekesalannya pada dirinya sendiri. Dan beberapa polisi yang bersamanya langsung mendekat. Namun dihalau oleh Sebastian.


Lelaki paruh baya itu mengusap lembut punggung sang anak. Hingga akhirnya Adam tenang.


"Pergilah, selesaikan urusanmu. Biar Papa yang menemani mama," ucap Sebastian. Ia sudah mengetahui kasus Adam dan para polisi itu.


"Aku akan secepatnya kesini, Pa. titip Mama." Sebastian mengangguk. Dan Adam melangkah pergi setelah memeluk kembali sang ayah.


"Dam!"


Lelaki berambut pirang itu berbalik.


"Luna memcarimu."


Adam teebelalak. Ia melupakan Luna setelah beberapa hari disini karena sibuk mengejar adiknya dan mengurus ibunya yang sakit.


Sebastian mendekati sang anak dan memberikan ponselnya. "Hubungi dia. Kasusnya akan segera disidangkan."


Adam sedikit menjauh dari sang ayah dan para polisi itu. Dia segera menghubungi Luna melalui ponsel ayahnya.


"Iya, Pa," jawab suara di seberang.


"Ini aku, Sayang," ucap Adam bahagia. Paling tidak Luna terdengar baik-baik saja.


"Adam? Kau ada dimana?"


"Panjang ceritanya. Waktuku tidak banyak, Sayang. Aku harus menyelesaikan banyak sekali urusanku. Kau tidak apa-apa kan?"


"Hem...." Suara Luna sangat lirih. Wanita itu terdengar kecewa.


"Syukurlah. Aku akan menghubungimu lagi nanti."


Klik.


Panggilan terputus sepihak. Setelah mengembalikan ponsel sang ayah, Adam segera mengikuti para polisi itu pergi.


Sementara di tempat lain. Luna masih menatap layar ponselnya yang sudah kembali menghitam.


Suaminya telah menghubunginya setelah beberapa hari menghilang. Namun, lelaki itu sama sekali tidak menanyakan perkembangan kasus Luna juga apa yang menimpanya saat kemarin Adam sempat menghubungi dan tidak ada jawaban.


Apa hanya urusan Adam yang penting? Sedangkan dirinya?


💜💜💜 Terima kasih cinta