
"Besok kau harus berangkat ke Amerika," titah Ellard pada putra lelakinya yang baru saja tiba dari kantor polisi.
Mereka sudah ada di rumah sore ini. Dan Ellard rupanya sudah menyiapkan perjalanan Aglen tanpa bisa ditolak lagi oleh anak lelakinya itu.
"Aku mau ke Italia dulu, Pa. Ada sedikit urusan," jawab Aglen seraya duduk di seberang ayahnya yang berada di ruang baca.
"Italia? Ada perlu apa kesana?" Ellard melirik ingin tahu. Setahu lelaki paruh baya itu, ia tidak memiliki kongsi apapun dengan pemilik perusahaan di negara itu.
"Aku sudah dewasa, Pa. Apa semuanya harus kuceritakan pada Papa?"
Aglen melirik malas sang ayah yang pura-pura cuek ketika menanyainya.
"Aku bahkan lupa jika kau sudah dewasa. Ku kira kau malah sudah cukup umur untuk membina keluarga. Jadi menurutku itu lebih dari dewasa," sahut Ellard kembali menaikkan kacamatanya dan membaca buku yang ada dalam genggamannya.
Aglen berdecak. Akhir-akhir ini ia terus diserang oleh sang ayah untuk segera mencari pendamping. Namun ia tidak memiliki bayangan sama sekali tentang sosok pendamping yang cocok.
"Ada perusahaan Stefan disana. Aku yang bertanggung jawab menggantikannya selama ini," terang lelaki berkuncir itu pada sang ayah.
"Kau tidak pernah mengatakannya? Apa William yang memintamu?"
Ellard menurunkan bukunya, kemudian melipat kacamata dan meletakkannya di atas buku.
Aglen nampak kaget. "Bukan, aku hanya menghadirkan diriku sebagai keluarga, Pa. Bukankah kita harus saling membantu? Tidak ada yang mengurusi perusahaan Stefan disana, jadi sekarang aku yang meneruskannya," sahut Aglen.
"Sebesar apa perusahaan Stefan di Italia?"
"Em ... Lebih besar dari milik paman Will." Aglen mengusap rambutnya asal. "Jangan salah sangka dulu, Pa. Perusahaan itu menjadi raksasa sebelum aku memegangnya. Jadi itu murni usaha Stefan."
"Mengapa Stefan mengatakan jika perusahaannya hanya kecil dan tidak menguras tenaga serta pikirannya selama ini?" tanya Ellard heran.
"Aku tidak tahu, Pa. Tanyalah pada Stefan sendiri."
"Maksudmu? Kau menyuruh Papa bicara dengan orang mati?"
Aglen tersenyum miring dan tidak menjawab sang ayah. Ia tahu tengah membuat murka lelaki yang ia panggil papa itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Edward Osbert? Bukankah dia petinggi kepolisian di kota ini, Paman?" jawab Luna heran karena sang paman tiba-tiba membahas orang yang hanya dikenalnya lewat media itu.
"Ya, kau benar. Semua yang terjadi denganmu ada hubungannya dengan orang itu."
"Apa, Paman?"
Pikiran Luna menerawang. Ia yakin tidak mengenal orang itu, bagaimana mungkin sang paman mengatakan jika semua kejahatan yang terjadi pada Luna saat ini adalah tanggung jawab orang yang memiliki nama besar di kepolisian itu.
Tunggu.
Luna baru ingat jika Edward adalah ayah dari teman lamanya, Pauline Osbert.
"Apa hal ini karena anak perempuannya_"
"Ya."
William dengan mantap mengiyakan pertanyaan Luna yang bahkan belum wanita itu selesaikan.
"Pauline," gumam Luna lirih.
Wanita itu meremas sandaran tangan dari kursi rodanya dengan erat.
"Ma."
William memberi kode Christina untuk mengajak Elea menjauh dari meja makan. Untung saja makan malam mereka telah selesai.
"Sayang, temani Oma di taman, ya." Dan Elea dengan senang hati menerima ajakan Christina tanpa menyadari apa yang terjadi.
Elea menyambut gandengan tangan Christina yang membawanya pergi.
"Nama itu yang kudapatkan dari anak buahku," ucap William menanggapi gumaman Luna.
"Benarkah, Paman?"
Luna seakan tidak percaya. Meski ia tahu Pauline membencinya dan hubungan mereka tidak pernah baik, tapi merencanakan untuk menghilangkan nyawa orang lain itu sungguh perbuatan yang kejam. Apalagi Pauline dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang mengerti tentang hukum.
"Awalnya, sangat sulit melacaknya, Nak. Tapi kau tahu Paman, bukan. Kami tidak akan membiarkan orang lain mengusik kedamaian keluarga kami. Apalagi Edward ikut campur dalam hal ini. Paman akan menemanimu sampai masalah ini tuntas," ucap William lirih dan tenang.
"Lalu bagaimana tentang laporan kita ke polisi, Paman? Berarti Edward sudah mengetahuinya?"
Luna menatap sang paman. Kebimbangan menelusup didadanya. Akankah masalahnya selesai semudah itu, sedangkan Edward sudah pasti menutupi kejahatan anak perempuannya itu.
"Kita jerat keduanya. Itu lebih mudah daripada harus melawan anak perempuannya dan Edward menjadi tokoh dibelakang layar."
"Tenanglah, serahkan semuanya pada Paman. Kau hanya harus menjaga dirimu dan El tetap aman. Selama kau disini, jika kau ingin keluar kemanapun ajaklah Leo untuk menjaga kalian."
William mencemaskan keselamatan Luna dan juga Elea. Pihak musuh sudah pasti melakukan segala cara untuk mengancam ataupun menghilangkan bukti yang mereka miliki.
"Padahal aku berencana untuk pulang cepat, Paman. Segera mungkin setelah aku bisa mandiri. Aku terlalu lama meninggalkan pekerjaannku."
"Tapi masalahmu disini harus dibereskan lebih dahulu, Nak. Supaya kau tenang menjalani hidupmu disana."
Luna menunduk, hatinya bimbang mendengar penuturan sang paman. Sesungguhnya, tadi ia mendapat kabar dari sang ayah jika Adam akan segera menjalani persidangan. Dan tentu saja ia akan menjadi saksi atas penculikan Elea dan dirinya itu.
Meski Luna ternyata malah kehilangan ingatannya saat ia diculik. Paling tidak ia bisa bersaksi untuk keadilan putri kecilnya.
"Adam akan menjalani persidangan pertamanya, Paman," ucap Luna lirih.
"Apa kau masih mengharapkannya?"
"Bukan itu, Paman. Aku harus menjadi saksi disana. Karena Stefan tidak ada." Luna mengungkap alasannya.
"Baiklah. Paman akan berusaha secepat mungkin menyelesaikannya. Selama itu, kau tetap harus ada disini. Biar Paman yang bicara dengan Papamu," bujuk William.
"Terima kasih, Paman. Sudah membantuku sejauh ini. Aku hanya membuat masalah dimanapun aku berada," sesal Luna yang menyadari banyak sekali masalah yang menimpanya baik itu di Kanada maupun Amerika.
"Masalah itu mendewasakan. Semoga kau akan menjadi wanita yang lebih kuat di lain hari," tepuk William di bahu Luna sembari meninggalkan wanita itu di meja makan.
\=\=\=\=≠\=≠\=≠\=\=\=
"Bisakah kau membantuku mengambil jenazah anakku?"
Sebastian ragu mengungkap keinginannya. Ia sudah tidak memiliki uang lagi. Biaya sebelumnya sudah menghabiskan hampir seluruh uangnya.
Perawat itu menoleh. Ini sudah kali kedua Sebastian menolak makanan dan membiarkannya begitu saja di piringnya hingga dikerubungi lalat.
Namun bedanya, kali ini lelaki tua itu mau berbicara padanya.
"Jadi Tuan memikirkan hal itu hingga tidak mau makan dan minum seharian ini?" tanya perawat itu pelan.
Sebastian mengangguk. Ia memang telah kehilangan nafsu makannya karena kepergian Kylie yang mengenaskan.
"Tuan telah memberikan saya upah untuk mencari berita ini. Namun sepertinya, Tuan lebih membutuhkannya."
Perawat itu mengembalikan uang yang masih berada di dalam amplop coklat yang Sebastian serahkan padanya sebagai upah.
"Itu hakmu, Nak. Aku hanya meminta tolong sedikit untuk biaya pemakaman Kylie yang paling sederhana saja. Uang itu sudah milikmu."
Sebastian menolaknya. Sungguh ia hanya ingin Kylie dimakamkan dengan layak meski saat ini Sebastian sudah tidak memiliki apa-apa.
"Baiklah, aku berjanji. Dan Tuan boleh melihatnya saat pemakaman nanti" janji perawat itu yang membuat Sebastian berbinar dan seketika mengambil piringnya.
Kemudian lelaki tua itu menyantap makananya dengan lahap dan bahagia.
😘😘😘😘😘😘