La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
bab 7



Pagi itu, Luna sudah bangun sedari petang. Atau mungkin sebenarnya ia tidak benar-benar tidur semalam.


Seingatnya, ketika sang ayah memaksanya masuk kamar dan menemaninya beberapa saat lamanya, Luna belum benar-benar tertidur.


Ia hanya memejamkan matanya agar tak menangis dan membuat sang ayah semakin khawatir. Setelahnya ia tak ingat apapun lagi. Dan tiba-tiba ia bangun di pagi hari, saat mendengar suara burung-burung kecil yang terdengar berisik di pohon cemara yang berdekatan dengan jendela kamarnya.


Hatinya lega, namun juga remuk secara bersamaan. Ia sudah menceritakan semua pada lelaki yang berjanji melindunginya itu. Namun rupanya, kesakitan yang ia rasakan sendiri disudut hati terdalamnya masih menyakitinya.


Disingkapnya selimut bulu putih yang menutup tubuhnya itu. Dengan kaki telanjang, Luna menuju jendela dan mengintip burung-burung kecil yang berisik itu. Betapa bahagianya mereka? Terbang bebas tanpa beban. Dan mungkin tidak pernah merasakan perasaan buruk, seperti membenci ataupun dibenci. Luna mendadak iri.


Suara pintu kamar Luna terdengar ada yang mengetuk. Setelah itu, masuklah sosok sang ayah saat gadis itu menoleh.


"Selamat pagi, Sayang. Kukira kau belum bangun." Ellard mengulas senyumnya. "Kau melewatkan sarapan pagimu," ucap Ellard yang dipenuhi kegetiran.


Lelaki itu tentu tidak melewatkan perhatiannya pada mata Luna yang sembab hingga membengkak beberapa hari ini. Dan ia baru mengetahui penyebabnya semalam. Sungguh, rasa bersalah seakan menghimpit hatinya kian dalam.


"Aku belum lapar, Pa," sahut Luna. Gadis itu berjalan menghampiri sang ayah yang duduk di sofa kamarnya. Bukan untuk duduk disebelahnya, tapi Luna malah membaringkan tubuhnya dengan kepala berada di pangkuan sang ayah.


Ellard mengusap lembut surai hitam yang selalu mengingatkannya akan pemilik hatinya, Hannah.


Ya, dari sekian banyak anggota tubuh Luna yang hampir seratus persen membawa gen-nya, rupanya bagian favorit Ellard dari Hannah itu menurun pada sang anak, Luna.


"Apa kau ... tidak ingin dia bertanggung jawab atas perbuatannya? Membiarkannya begitu saja lepas akan membuat lelaki itu merasa diatas angin. Dia akan berpikir kita tidak berani melaporkannya. Maafkan Papa membahasnya sepagi ini."


Ellard tahu ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan lelaki laknat itu. Namun ia benar- benar tidak terima dengan semuanya.


"Tidak, Pa. Aku tidak menginginkan itu."


Bohong!


Sebenci apapun Luna pada Stefan, lelaki itu memang sudah seharusnya mempertanggungjawabkan perbuatannya.


Namun, ada sesuatu hal juga selain rasa benci yang sudah terlalu dalam. Ia memikirkan nama baik keluarga ayahnya. Jika sampai kejadian ini terendus media.


Ada ketakutan tersendiri dalam hati Ellard sebagai seorang ayah. Bahwa selamanya, Luna tidak akan diperlakukan baik oleh orang yang akan menikahinya kelak. Ketika mereka tahu hilangnya kegadisan Luna karena diperkosa dan oleh seseorang yang bahkan dia sendiri tidak bisa mengetahuinya.


Ya, Ellard bukan tidak menyelidikinya. Dia sudah menyuruh orang untuk mencari tahu kejadian malam itu. Namun kamera pengintai dari tempat yang dijadikan acara oleh kampus Luna hanya merekam sampai gadis itu keluar dari ruang pesta. Jadi dia hanya terlihat sendiri sejauh itu.


Juga orang-orang yang ia suruh mengikuti Bhara. Pemuda yang diduga teman dekat Luna selama ini. Namun hasilnya juga mengecewakan, Bhara dinyatakan bersih oleh para suruhannya yang bahkan membawa bukti akurat ketidakterlibatan pemuda itu.


"Aku tidak akan memaafkannya. Dan aku tidak ingin bahkan untuk sekedar melihatnya, apalagi menerima pertanggungjawabannya."


Bulir-bulir bening itu jatuh lagi dari mata bulat yang mengerjap panik dan tidak terima dengan ucapan sang ayah. Luna langsung bangun begitu mendengarnya dengan napas memburu.


Hati ellard terpukul mendengarnya. Kesakitan Luna adalah kesakitannya. Ellard bersumpah akan mencari lelaki yang menerima Luna apa adanya sebagai penjaga untuk anak gadisnya itu.


"Dengarlah. Akan ada yang menjagamu dengan tulus nanti. Kau harus yakin itu, Sayang." Ellard menarik tubuh putrinya itu mendekat, kemudian mendekapnya seakan tak ingin ia lepas lagi.


Dia sudah membuatnya lahir tanpa ada dirinya dulu. Dan dia tidak akan membiarkan Luna sendiri lagi seperti Hannah.


Kedua ayah dan anak itu saling menangis. Meratapi nasib yang bahkan tidak bisa diubah.


Meski sekuat apa Ellard mencoba tegak menjadi tumpuan untuk Luna, dia adalah seorang ayah. Kebanggan terbesarnya adalah kebahagiaan anak-anaknya. Dan kejadian ini bukan hanya merobek harga dirinya, tapi juga hatinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Silahkan Tuan,"


"Kapan kau datang? Aku tidak melihatnya." Ellard terkejut saat wanita yang umurnya tidak jauh diatasnya ini menyediakan teh hijau padanya.


"Jam 4 pagi saya sampai di rumah ini, Tuan," ucap bibi Ofelia yang mengangguk hormat pada sang majikan, mantan majikan lebih tepatnya. Karena sebenarnya bibi Ofelia sudah pensiun. Bahkan Tuan besarnya itu sendiri yang memberhentikannya.


"Aku masih membutuhkanmu rupanya." Menyesap teh hijau yang terasa pahit di depannya ini, Ellard sedikit lirih mengucapkannya.


Dulu ia sangat suka minum teh hijau, teh kesehatan dengan banyak sekali manfaat. Namun sejak kepergian Rosalie, yang disusul pensiunnya bibi Ofelia sudah tidak ada yang mengurusnya lagi. Hingga sesekali ia terbiasa menikmati kopi sebagai sarapan paginya, dan melupakan teh kesehatan itu.


"Saya mengabdikan hidup saya pada keluarga ini, Tuan. Seperti pesan Nyonya Besar sebelum pergi. Memang sudah waktunya saya beristirahat, namun jika Tuan Besar masih membutuhkan tenaga saya, dengan senang hati saya akan berada disini lagi," ucap wanita paruh baya yang selalu menyanggul rambutnya dengan rapi serta kacamata yang tidak pernah lepas dari dirinya itu.


Jangan lupakan cardigan dengan motif bunga yang nampak vintage namun terlihat apik ditubuh bibi Ofelia. Wanita itu penyuka kegiatan merajut untuk mengisi waktu luangnya.


"Tapi kau tidak akan bekerja di rumah ini. Kau akan ikut denganku dan Luna ke Kanada."


Bibi Ofelia mendongak. Ia tentu mendengar jika sang majikan memiliki anak dari wanita lain selain Nyonya Besar. Namun ia belum sempat mengenal gadis itu karena ia sudah diberhentikan dua bulan sebelum Luna datang ke rumah ini.


"Saya siap, Tuan. Mengabdi dimana saja selama masih bersama keluarga Efrain, bagi saya pantang menolak," ucap bibi Ofelia meyakinkan Ellard.


Ya, apa yang dikatakan bibi Ofelia memang benar. Hal itu karena ayah dari Ellard telah berjasa dalam pengobatan ibu dari bibi Ofelia semasa hidup tanpa pamrih.


"Lusa kita berangkat. Berkenalan lah dengan putriku. Dia ada di kamarnya," titah Ellard pada pelayan lamanya itu.


"Baik, Tuan." Bibi Ofelia undur diri. Wanita itu segera ke lantai atas sesuai arahan Ellard menuju kamar yang diberitahu oleh lelaki itu untuk menemui putri keluarga kaya itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


πŸ’œπŸ’œTo be continued