
"Ada apa ini?"
Adam kaget saat tiba-tiba ia di datangi oleh beberapa lelaki mengenakan seragam kepolisian di kantornya.
"Maaf, Sir. Anda harus ikut kami ke kantor untuk menjawab beberapa pertanyaan. Ini mengenai keterlibatan Anda untuk kasus penculikan istri anda dan anak anda sendiri," ucap salah satu dari mereka memberi tahu.
"Penculikan? Apa kalian pikir aku gila, karena menculik anak dan istriku sendiri?" Adam berpura tegar dan seolah tidak tahu apa-apa.
"Aku tidak pernah melakukannya! Penculikan yang mana? Atau ini adalah kasus perusahaan ini?" Adam mencoba berkelit.
Ia memang tidak tahu jika Ellard melaporkannya atas penculikan Elea dan juga Luna.
"Anda pasti salah orang. Tunggu sebentar, saya akan menemui ayah mertua saya."
Adam menolak untuk diborgol. Lelaki berambut pirang itu segera berlari keluar mencari Ellard.
"Pa, Papa,"
Adam segera menuju ruangan Ellard. Ia tidak percaya sang ayah mertua melaporkannya, karena kemarin saja lelaki paruh baya itu memberinya waktu dua minggu untuk menyelesaikannya. Dan ini baru saja berjalan tiga hari.
Adam memaksa masuk tanpa mengetuk pintu. Dan lelaki itu semakin panik ketika tidak mendapatkan ayah mertuanya didalam sana.
"Dimana Papa! ?" teriaknya pada Nina sang sekretaris.
"Tu-tuan Ellard sakit, Sir. Beliau mengambil cuti beberapa hari." Nina sampai tergagap menjawabnya. Ia tidak berani mengatakan jika Aglen yang mengantikan tugas Ellard disana.
"Sial!"
Adam menendang pjntu ruangan Ellard. Kemudian keluar dengan tergesa.
-\=\=\=\=\=\=
Luna mengerjapkan matanya. Rasanya berat dan pusing. Seluruh tubuhnya terasa kebas dan dia tidak tahu berada dimana. Rasanya seperti baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang.
Samar, terlihat ada lelaki tengah duduk di sebuah sofa, yang tidak jauh darinya. Lelaki itu tertidur lelap. Sangat terlihat gurat lelah dalam wajahnya. Luna sempat lama menatapnya. Namun ia tidak mengingatnya.
Siapa dia?
Wanita itu kembali memejam. Mengeluarkan seluruh energinya untuk mengingat segala memori yang ada, mencari tahu siapa lelaki yang tengah menungguinya.
Paman William. Ya, itu dia. Luna bernapas lega karena bisa mengenalinya.
"P-paman," panggil Luna lirih. Saking lirihnya hingga tidak bisa mengusik William sedikitpun.
"Pa-paman!" rasanya Luna sudah teriak. Namun suara yang keluar masih tidak mampu membangunkan pamannya itu.
Luna bingung bagaimana membuat sang paman bangun.
Lalu ia mencoba menggerakkan tubuhnya dengan susah payah hingga akhirnya tangannya bisa bergerak.
Dan Luna segera menekan tombol nurse call, hingga datanglah seorang perawat yang begitu masuk langsung memekik senang.
"Syukurlah Nyonya. Anda bangun lebih cepat dari yang kami bayangkan. Ini keajaiban." Perawat itu hendak pergi memanggil dokter, namun Luna memanggilnya.
"Suster, tolong bangunkan paman saya," pinta Luna.
"Baik, Nyonya." Perawat wanita itu segera menghampiri William dan menggoyang punggung tangannya.
"Sir, Nyonya Luna sudah bangun."
"Hemm...." William berdehem dan perlahan membuka matanya. "Apa yang Anda katakan Suster?" Samar William mendengar apa yang perawat itu sampaikan.
Perawat wanita yang berdiri di depannya itu lalu menggeser tubuhnya. Dan menunjuk pada ranjang tempat Luna berbaring.
"Oh Tuhan, Luna! Syukurlah...." pekik William meraup wajahnya sendiri. Senyum lelaki yang Luna panggil paman itu merekah meski wajahnya terlihat lelah.
William bangkit dari sofa. tempatnya berbaring. Lelaki itu menghampiri keponakannya." Bibimu sangat mengkhawatirkanmu," ucapnya pelan.
"Badanku tidak terasa apa-apa Paman. Rasanya seperti kebas. Apa yang terjadi denganku?"
"Kau tidak mengingat apapun?" William kaget namun ia cepat menguasai diri. "Istirahatlah, mungkin kau masih lelah. Nanti bahas lagi."
Lelaki itu khawatir, tapi tidak ingin membuat sang keponakan semakin bingung.
"Luna, kenapa dilepas?" Tangan William hendak memasang kembali alat bantu pernapasan itu namun Luna menolaknya.
"Aku tidak nyaman menggunakannya, Paman. Lebih lega seperti ini." Wanita itu mengambil napas dalam dan melepaskannya perlahan.
"Selamat pagi, Nyonya. Syukurlah anda bangun bahkan lebih cepat dari perkiraan saya. Paman anda sangat mengkhawatirkan anda."
Dokter menatap monitor yang di layarnya terpampang tanda-tanda vital pasiennya itu. Kemudian lelaki berpakaian biru muda itu mengangguk kecil seraya menyunggingkan senyumnya.
"Mengapa semua badan saya seperti tidak terasa, Dok?"
"Tidak apa-apa. Itu merupakan efek dari anestesi, Nyonya. Nanti akan berangsur hilang seiring waktu. Sudah tidak sesak?"
Dokter menggerakkan tangannya memberi kode dengan menunjuk pada benda yang tergantung di leher Luna.
"Lebih nyaman seperti ini, Dok," jawab Luna yang meyakinkan dokter bahwa napasnya sudah stabil tanpa bantuan oksigen.
"Baiklah. Saya harap anda menggunakannya kembali jika terasa sesak. Nyonya mengalami kecelakaan yang cukup parah. Apakah Nyonya mengingatnya?" Dokter bertanya dengan hati-hati, tangannya bergerak memeriksa luka kecil di dahi Luna.
"Kecelakaan? Sebentar Dokter, Saya merasa seperti mimpi malam itu. Ternyata ini benar-benar terjadi. Lalu bagaimana dengan anak saya, Dok?" Luna memijat kembali pelipisnya. Sepertinya, mengingat menjadi hal paling berat untuknya saat ini.
Namun begitu mengingat putri kecilnya, wanita itu mendadak panik.
Dokter yang tidak tahu menahu tentang kejadian sebenarnya dan siapa saja korbannya hanya melempar tatapan penuh tanya pada William.
"Elea baik-baik saja. Dia terus menanyakanmu, Nak. Cepatlah pulih, bibimu juga menunggumu kembali." Jawaban William tentu melegakan Luna.
"Tidak usah dipaksakan mengingat dulu, Nyonya. Fokus pada kepulihan kesehatan anda. Ingatan itu akan kembali dengan sendirinya. Sir, bisakah kita berbicara sebentar di luar?" Dokter memberi kode William untuk mengikutinya keluar. Dan William mengangguk.
"Semoga lekas pulih, Nyonya."
"Terima kasih, Dok."
William mengikuti dokter itu keluar, setelah pamit dengan keponakannya.
"Nyonya Luna mengalami amnesia traumatis. Jadi amnesia ini disebabkan karena cedera pada kepala akibat kecelakaan yang terjadi. Ini bisa bersifat sementara ataupun permanen. Namun melihat Nyonya Luna saat ini, saya yakin beliau akan sembuh seperti sedia kala. Dan semua itu juga tergantung dari dukungan keluarga yang beliau dapatkan."
William terdiam sejenak. Otaknya melayang pada kejadian sebelumnya. Bagaimanapun apa yang terjadi saat ini sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya. Itu berarti perkembangan kesehatan Luna naik signifikan. Dan itu adalah sesuatu hal yang harus disyukuri.
"Terima kasih, Dokter. Anda sudah sangat membantu kami."
William duduk di ruang tunggu dan menghubungi Aglen. Ia merasa harus melakukannya karena takut adiknya akan kaget menerima kabar jika Luna kecelakaan.
"Apa, Paman?" teriak Aglen dari seberang.
"Maafkan Paman merahasiakannya, Ag. Paman takut ayahmu kaget. Syukurlah Luna sudah sadar dari koma, ia sependapat dengan Paman."
Terdengar napas lega Aglen. "Tapi sampai kapan kita akan merahasiakannya. Papa pasti akan sangat murka jika sampai ia mengetahuinya dari orang lain."
Ketakutan Aglen beralasan, karena ia tahu seberapa besar sang ayah menyayangi anak-anaknya.
"Sampai ia kembali ke Kanada. Adikmu mengatakan, ia sendiri yang akan memberitahu ayahmu," ucap William.
"Tapi benar kan Paman, mereka sudah lebih baik kondisinya?"
"Tenang saja, Ag. Paman sudah cukup dipusingkan dengan bibimu yang selalu panik lebih dulu. Kami berjanji akan menjaganya."
Aglen menutup ponselnya setelah William mengakhiri panggilannya.
"Ssshhhh...." Aglen merintih sambil memegang perutnya. Ini sudah ketiga kalinya ia ke toilet.
"Apa yang gadis itu masukkan ke dalam kopi buatannya! Sudah rasanya aneh, perutku selalu berontak setelah meminumnya," ucap Aglen kesal.
Lelaki itu menekan beberapa kali interkomnya.
"Eve!! Masuk ruanganku!" teriak Aglen memanggil sekretaris adiknya itu.
Namun, hening..
💕💕💕💕💕💕