La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 77



Sinar matahari terasa redup. Pagi yang dingin seperti saat musim gugur tiba. Luna menarik rapat jaket yang membungkus tubuhnya.


Sebenarnya, ia belum ingin keluar sepagi ini. Tapi apa boleh buat. Beberapa menit yang lalu, Jonas menghubungi jika sang ibu mertua sampai di rumah sakit di Kanada. Dan hanya bersama sang ayah mertua.


Luna ingin segera menemui kedua mertuanya itu. Dan juga mengetahui kondisi ibu Adam yang sebenarnya. Karena siang nanti, Ellard akan datang dari Amerika bersama Elea. Ia pasti lebih sibuk jika gadis kecilnya sudah kembali.


"Biar aku bawa mobil sendiri," pamit Luna pada bibi Jen. Wanita paruh baya itu tergopoh gopoh menghampiri Luna saat mendengarnya.


"Jangan, Nyonya. Biar saya bangunkan Tuan Aglen. Anda tidak boleh pergi sendiri," ucap bibi Jen melarang.


"Jangan, Bi! Kakak masih tidur." Luna melirik jam tangannya. Jarumnya menunjuk diangka 5 pagi. "Aku sendiri saja," pinta Luna pada pelayannya itu.


"Tidak boleh, Nyonya. Tunggu sebentar saya bangunkan Tuan." Bibi jen menghalangi jalan Luna. Kemudian ia berlari pelan menuju kamar Aglen.


Lelaki itu masih asyik dengan mimpinya saat bibi Jen mengetuk cepat pintu kamarnya. Namun bibi Jen tidak patah semangat. Meski Aglen mengomel tidak karuan karena rasa kantuk masih menyerangnya, bibi Jen tetap membangunkan lelaki berkuncir itu.


"Ayo, Tuan. Nyonya Luna buru-buru." Bibi Jen secepat kilat menyiapkan keperluan Aglen. Mulai jaket hingga baju ganti untuk piyamanya.


"Katakan pada Nyonya mu, mengapa sepagi ini menjenguk ke rumah sakit? Padahal agak siang juga bisa." Aglen menggerutu karena ia baru saja bisa tidur menjelang pagi tadi.


Namun begitu, Aglen tetap bersiap karena ia diberi tanggung jawab oleh sang ayah. Apalagi ini menyangkut keluarga Adam.


"Ayo cepat!" ucap Aglen pada Luna. Padahal adiknya itu yang menunggunya selesai bersiap tapi ia yang seolah-olah menunggu. Meski terlihat segar, A glen tertangkap beberapa kali tengah menguap.


Luna hanya tersenyum geli melihat tingkah kakaknya. Namun sebisa mungkin ia menampakkan ekspresi datar di depan lelaki itu.


Tanpa banyak bicara, Aglen memacu mobilnya menuju rumah sakit yang ditunjuk oleh Luna.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Luna " panggil Sebastian begitu mata tua lelaki itu menangkap sosok sang menantu yang terlihat berbicara dengan Jonas.


"Pa, bagaimana kondisi Mama?"


Luna menghampiri sang ayah mertua dan Sebastian langsung memeluk menantunya itu.


"Sabar, Pa."


Luna hampir saja berucap doa baik untuk sang ibu mertua agar cepat sembuh. Namun ia tidak ingin memberikan harapan bohong pada lelaki paruh baya yang tulus itu.


Dokter yang telah menerima Lilyana saat tiba tadi telah bercerita banyak. Mulai dari kemungkinan sembuh yang kecil hingga persentase bangun kembali yang sangat mustahil.


Luna berharap yang ia dengar itu salah. Bagaimanapun Lilyana adalah mertuanya. Dan saat. ini Luna hanya bisa memberikan semangat pada lelaki tua itu.


"Maafkan Mama ya. Kami banyak menyusahkanmu selama ini." Sebastian menghapus air matanya.


Bahkan kehilangan Kylie yang tidak tahu rimbanya saja tidak membuat lelaki tua itu sedih. Namun melihat Luna yang masih baik disaat keluarganya sendiri malah mengambil keuntungan dari wanita itu membuat hatinya pilu.


"Papa bicara apa? Kalian juga keluargaku." Luna merangkul lelaki tua itu dan membimbingnya untuk duduk.


Sementara Aglen, lelaki itu tidak banyak aksi. Ia malah pamit ke kantin dengan alasan mengusir kantuknya.


"Pa...."


Luna masih mengatur hatinya. Wanita itu sempat membuang muka sebelum akhirnya menatap lelaki tua didepannya itu lagi.


Ia bingung bagaimana menanyakan perihal Adam dan Kylie pada ayah mertuanya itu.


"Adam masih ada disana. Dia berurusan sedikit dengan polisi, tapi jangan khawatir hanya masalah kecil."


Sebastian seperti bisa membaca wajah Luna. Ia langsung menjawab meski Luna masih ragu menanyakannya.


"Kylie, Pa?" lanjut Luna.


"Dia entah dimana. Adam dan mamamu sebenarnya ke Rusia untuk mengejarnya. Tapi ia lebih memilih kabur kembali, padahal Adam sudah mengatakan jika mamanya sakit."


"Adam bercerita jika Kylie membawa uang perusahaan. Apa itu benar, Nak?"


Luna mengangguk. Tiada guna menutupinya lagi. Biarkan lelaki yang juga ia panggil papa ini tahu keadaan sebenarnya.


"Kylie sudah terlalu jauh melangkah, Nak." Sebastian menatap dengan pandangan kosong. Kedua tangannya ia letakkan dibelakang kepala.


"Dia juga memalsukan surat pengalaman kerja dari perusahaan Papa demi bisa diterima di perusahaanmu. Padahal ia sama sekali tidak menjejakkan kaki di perusahaan Papa sebelumnya," lanjut Sebastian.


"Jadi itu? Bukankah ada tanda tangan Papa disana?" Luna kaget mendapati kenyataan yang membuatnya merasa sangat bodoh.


"Semua dipalsu. Kecuali penerbitan surat itu. Ia menipu semua orang-orang Papa untuk mendapatkanya." Sebastian berucap lirih. Hatinya pilu mengungkap berbagai kebohongan sang anak yang malah dibantu oleh sang istri.


"Sudah ... Papa tenang saja." Luna mengusap lembut punggung lelaki tua itu. "Berdoa yang terbaik untuk Mama. Dan semoga Kylie cepat ditemukan," ucap Luna yang kemudian pamit pulang.


Wanita itu sempat memeluk Sebastian yang terus berkaca-kaca sepanjang obrolan mereka sebelum pergi.


Dalam perjalanan ke kantin, Luna menghubungi Andrew.


"Tuan, bisakah kau membantuku mencari detektif untuk mencari seseorang?" pintanya pada Andrew.


"Iya, Nyonya. Saya memiliki banyak kenalan yang berprofesi seperti itu. Siapa yang akan Nyonya cari?" tanya Andrew dari seberang.


"Kylie. Kylie Walton. Terakhir terlihat dibandara Rusia hendak kabur," jawab Luna memberi informasi.


"Baiklah. Jika sudah ada titik terang, nanti Nyonya saya hubungi."


Luna menutup ponselnya, kemudian melanjutkan perjalanannya menuju kantin


"Ayo pulang, Kak!" ajak Luna begitu mata Aglen menatapnya. Wanita itu berhenti tidak jauh dari tempat Aglen duduk.


"Belum juga habis kopinya sudah pulang lagi!" Aglen menggerutu, namun begitu ia tetap bangkit mengikuti Luna.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=


"Mama...." teriak Elea begitu ia sampai dirumah. Gadis kecilnya itu menghambur dan memeluk sang ibu, kemudian menciuminya karena rindu.


"Amerika bagus bukan, Sayang?" tanya Luna setelah melerai pelukannya. Wanita itu membimbing putri kecilnya untuk duduk di sofa.


"Iya, tapi El lebih suka disini, " ungkap gadis kecil itu. "Semuanya lebih asyik disini. Tapi ... Rasanya berbeda tanpa adanya paman Stefan," Mata Elea berkaca. Ia merasa kehilangan sosok yang akhir-akhir ini sangat dekat dengannya itu.


"Doakan paman Stefan ya Sayang." Luna membelai lembut kepala sang anak. "Kita semua pasti akan merindukannya," ucap Luna lirih. Ia menyatukan dahinya dengan Elea.


"Rumah Oma Christina besar sekali ya, Ma. Lebih besar dari rumah kakek di Amerika," celoteh gadis kecil itu.


"Tentu saja. Elea senang bermain-main disana?"


"El, Mama baru saja sampai. El juga baru sampai. Istirahatlah dulu, nanti cerita lagi sama Mama. Masuk ke kamar dulu ya," titah Ellard pada cucunya itu.


Ellard turun dari atas. Lelaki yang mengenakan pakaian santai itu menghampiri keduanya.


"Selamat, ya Sayang. Akhirnya nama baikmu kembali." Ellard memeluk Luna erat.


"Terima kasih, Pa. Bagaimana keadaan Amerika? Mungkin beberapa hari lagi aku akan kesana."


Ellard melerai pelukannya. "Masih sama. Kecuali bibimu tentunya. Christina benar-benar terpukul kehilangan Stefan."


Suara Ellard meredup. Perasaan sedih tergambar jelas diwajahnya.


Hati Luna seperti dicambuk. Semua ini karenanya. Karena Stefan berkorban untuknya...


💜💜💜