La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 43



"Tentu saja, Ag. Aku mencintainya," ucap Stefan tanpa sadar. Pikirannya melayang antara kenyataan dan alam bawah sadarnya.


"Apa? Kau benar-benar gila Stefan. Kau mencintai Luna!?" Aglen kembali mengulang ucapan Stefan untuk meyakinkan apa yang ditangkap pendengarannya.


"Hah? Em ... mak-sudku Elea, aku menyayanginya. Luna kan ibunya. Jika terjadi sesuatu dengan Luna, Elea pasti akan sedih." Kelopak mata Stefan terbuka lebar karena kaget. Rasa kantuknya mendadak buyar karena pengakuannya tadi. Apalagi Aglen yang nampak kaget setengah mati.


"Kau hampir membuat jantungku berhenti!" bentak Aglen.


Punggung slStefan yang bergetar pun melorot. Lelaki itu lega karena sepertinya Aglen percaya dengan ucapan yang sudah diralatnya. Jangankan Aglen, Stefan saja tidak kalah kaget saat menyadari bibirnya tanpa sadar mengaku bahwa ia mencintai Luna.


"Lalu bagaimana kasus Luna?"


"Tidak apa-apa. Masih bisa kuatasi. Sebentar lagi otak pencari masalah dengan keluarga kita pasti akan keluar. Dia tidak akan tahan terus bersembunyi."


"Ucapanmu meyakinkan sekali."


"Memang begitu, Ag. Wanita berbeda dengan kita. Lelaki lebih menyukai bekerja di balik layar. Tapi mereka, pasti sudah tidak tahan untuk menertawakan Luna. Dan mereka akan puas jika mengatakannya secara langsung. Ini baru dugaanku, sepertinya ini berhubungan denganku."


Stefan memikirkan ucapan Luna yang padanya dan menuduhnya hal yang sama.


"Maksudmu?"


"Angeline Peterson, adalah pemilik kalung berlian yang hilang itu. Harganya memang jutaan dolar, tapi bodoh saja membiarkannya hilang tanpa sepengetahuannya. Ini semua sudah direncanakan," terang Stefan.


"Nona kaya keluarga Peterson? Bukankah dia yang dijodohkan oleh paman William denganmu?" tanya Aglen. Lelaki itu pikir mereka hanya memiliki nama yang sama. Rupanya mereka adalah orang yang sama.


"Darimana kau tahu?" Stefan kaget. Perjodohan itu bahkan hanya keluarganya saja yang tahu. Ia pasti akan menjadi bahan olokan sepupunya itu.


"Bibi Christina datang padaku. Dia merindukanmu, Stef. Apa yang terjadi?" Aglen sebenarnya sudah tahu karena Christina, ibu Stefan sekaligus bibi lelaki berkuncir itu telah menceritakan segalanya. Perselisihan antara ayah dan anak dalam keluarganya itu.


"Tidak ada apa-apa. Aku memang sedang sibuk saja hingga belum menghubunginya."


"Kau tidak pandai berbohong, Stef. Apalagi di depanku. Kau menolak gadis itu bukan?" Aglen berdiri dan mengambil air di dalam lemari es. "Bahkan kau tidak menyediakan minuman untuk tamu."


Aglen kesal, namun ia berusaha mencairkan suasana yang mendadak hening antara keduanya gara-gara pertanyaan yang Aglen lontarkan.


Stefan menarik sudut bibirnya sebelah. "Kau kan bukan tamu, untuk apa aku menawari. Kau bisa mengambilnya sendiri."


"Katakan padaku apa yang terjadi?" Aglen menyodorkan gelas berisi cairan bening pada sepupunya itu.


"Sudah kubilang tidak ada." bohong Stefan. "Apa aku tidak boleh sedikit saja tidak bercerita padamu. Atau kita bertukar saja, kau anak William dan aku anak Paman Ellard. Sepertinya paman Ellard memiliki pandangan lebih luas tentang hidup dibandingkan Papaku," keluh Stefan.


"Itu hanya menurutmu. Mereka saudara, Stef. Cara berpikir mereka sama. Hanya saja Papa memang tidak menekan ku selama aku masih dijalurku," ucap Aglen tidak membela siapapun.


"Kau mempunyai kekasih?" lanjut Aglen bertanya.


"Berhenti bersikap seperti ibuku, Ag!" Stefan meninju lengan Aglen hingga lelaki berkuncir itu terdorong ke samping dan mengaduh.


Namun Aglen malah tergelak. Entah kenapa tanpa sadar ia ingin tahu siapa kekasih sepupunya itu.


"Apa satu dari gadis-gadismu itu ada yang menarik perhatianmu hingga sangat ingin kau jadikan istri? Katakan padaku." Aglen berbicara sangat lirih seakan ada orang lain selain mereka. Anak sulung Ellard itu menunjukan wajah ingin tahunya.


"Berhenti membahasnya! Aku hanya akan menjawab pertanyaanmu tentang Luna," ucap Stefan kesal.


"Baiklah. Kalau begitu, apa yang kau tahu tentang Adam?"


"Mengapa malah membahas Adam? Aku tidak ingin tahu tentang iparmu itu. Luna, Ag. Kita sedang membahas tentang luna," tegas Stefan.


Lelaki itu mendadak kesal mendengarnya. Ingatannya memutar ulang memori beberapa jam yang lalu. Dimana Luna yang beberapa hari ini dekat dengannya meski mereka selalu adu mulut, malah ganti bergelayut pada suaminya sejak lelaki itu tiba di kantor polisi tadi pagi.


"Apa menurutmu, Adam suami yang pantas untuk adikku?" tanya Aglen.


"Apa maksudmu? Mereka sudah menikah dan berumah tangga lebih dari lima tahun. Dan sekarang kau bertanya padaku apa lelaki itu pantas untuk Luna?"


Aglen menambah kekesalannya saja.


"Apa kau bisa dipercaya?" Aglen menoleh, menatap dalam manik mata Stefan.


Tatapannya serius.


"Kau mau berbicara apa? Jangan berbelit-belit!" Ucapan Stefan meninggi.


"Aku menemukan lelaki itu melakukan kecurangan pada perusahaan Luna. Aku belum benar-benar benar menyelidikinya, tapi entah mengapa aku sangat yakin jika lelaki itu hanya memanfaatkan adikku," terang Aglen.


"Apa Paman tahu? Paman tidak mungkin salah pilih Ag."


Stefan memang mencintai sepupunya itu. Tapi bukan berarti ia bahagia mendengar kabar yang tidak mengenakkan ini. Jika sampai Adam benar-benar hanya memanfaatkan Luna, Stefan pasti akan membuat perhitungan dengan lelaki itu.


Aglen mengangguk. Kemudian ia menceritakan segala apa yang ia curigai dengan sang ayah pada Stefan. Dan malah meminta sepupunya itu untuk ikut menjaga Luna.


Tentu saja hal itu telah dilakukan Stefan sekalipun tanpa diminta oleh para lelaki dalam keluarganya itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bagaimana? Sudah?" Lilyana berucap tanpa suara. Ia bermain kode dengan Kylie, saat ini mereka berdua tengah berada di dalam ruangan Sebastian.


Kylie menjawab sang ibu dengan membentuk kedua jarinya menjadi huruf O. Kemudian gadis itu segera keluar.


Kylie membuat sandiwara dengan berpura-pura menemui sang ayah tadi. Tidak lama kemudian, gadis itu keluar menemui sekretaris ayahnya.


"Tolong buatkan surat pengalaman kerja untukku, Papaku sudah setuju. Aku tunggu disini," titahnya.


"Tapi Nona...."


Sekretaris itu tentu ragu karena bukan Sebastian sendiri yang memintanya. Sepak terjang keluarga Walton terutama sang istri, Lilyana sudah diketahui oleh para bawahan Sebastian. Karena mereka juga diminta waspada oleh lelaki paruh baya itu.


"Papaku yang menyuruh. Cepatlah! Atau kau mau dipecat?" ancam Kylie.


Wanita yang merupakan sekretaris Sebastian itu tidak berani bertanya lagi. "Masuk divisi apa, Nona?"


"Keuangan," jawab Kylie ringan. Dengan memiliki surat ini, Kylie berharap kepercayaan Luna bertambah padanya.


Setelah selesai mengerjakannya, sang sekretaris ingin masuk untuk meminta tanda tangan Sebastian.


"Biar aku saja. Papa meminta aku yang harus membawa kertas itu padanya." Kylie memaksa memintanya.


"Iya Nona."


Kylie senang sekali, akhirnya ia berhasil mendapatkan surat pengalaman kerja dari perusahaan ayahnya tanpa harus bersusah payah harus magang disana.


Gadis itu segera memasuki ruangan sang ayah dimana sang ibu menunggu disana.


"Beres?"


"Berhasil, Ma!" pekik Kylie. Gadis itu kegirangan dan berulang kali mencium selembar kertas yang sangat berharga untuknya itu.


Kedua orang ibu dan anak itu berpelukan merayakan keberhasilannya memperdaya ayah sekaligus suami mereka.


"Jangan lupakan Mama kalau kau sudah bekerja nanti," pesan Lilyana. Tentu yang dimaksud lebih dari itu. Uang dan fasilitas yang lebih dan lebih lagi yang diinginkannya.


"Beres Ma! Mama juga harus membantuku meyakinkan kak Luna nanti."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bagaimana pekerjaanmu Dam?" tanya Ellard memecah keheningan diantara mereka.


Seharusnya mereka berbahagia karena penangguhan penahanan atas diri Luna. Namun adanya sosok kecil disana yaitu Elea membuat ketiga orang dewasa itu malah menyantap makan siangnya dengan serius. Tanpa obrolan apalagi candaan.


"Ahh ... ba-ik, Pa. Semua terkendali." Adam langsung menunduk berpura konsentrasi dengan makanannya.


"Aku dengar sedang ada masalah untuk eksport kita negara- negara Eropa. Apa benar?" Ellard sampai menoleh, lelaki itu menatap sang menantu yang sudah tidak bisa berkutik lagi untuk menghindar.


"Emm... Hanya sedikit masalah, Pa. Syukurlah aku bisa mengatasinya." Adam membelai puncak kepala Elea. Lelaki itu mencari ketenangan dengan menghindari tatapan sang ayah mertua.


"Kau yakin tidak berpengaruh pada hal lainnya? Eropa adalah pasar terbesar kita selama ini. Jika sedikit saja kita membuat kesalahan, akan berakibat fatal untuk semuanya." sindiran Ellard harus namun tegas dan mengenai sasaran.


"Katakan saja jika kau memerlukan bantuan, Sayang. Aku dan Papa akan siap membantu. Menembus pasar mereka tidak semudah Amerika dan Asia. Kau tahu kan?" ucap Luna menambahi.


"Tentu saja aku tahu. Aku sudah belajar banyak dari kalian. Saatnya aku mendapat kepercayaan untuk berjalan sendiri, bukan? Aku tidak ingin terus tergantung dengan kalian." Adam meredam gejolak dihatinya. Lelaki itu berucap sangat halus dan sopan.


"Baiklah, jangan kecewakan aku! Kuanggap kau mampu jika kau tidak meminta bantuan pada kami." Ellard mengusap bibirnya dengan saputangan. "El, kakek tunggu di taman, ya."


Lelaki paruh baya itu mengusap puncak kepala Elea yang mengangguk sambil tersenyum padanya. Ellard menghabiskan makan siangnya paling awal, kemudian disusul Elea yang mengikutinya ke taman.


Sepeninggal keduanya, Adam mematung. Baru kali ini lelaki itu merasa benar-benar diremehkan.


Memang selama ini juga seperti itu. Tapi Ellard tidak pernah mengeluarkan kata-kata sindirannya sejelas tadi.


Ellard hanya terus mengatakan bahwa dirinya dan Luna akan selalu siap membantu apapun kesulitan Adam di perusahaan.


"Sayang...."


"Aku tidak apa-apa. Lanjutkan makannya," titah Adam yang bahkan sama sekali tidak menatap istrinya.


"Maafkan aku," cicit Luna yang menyadari Adam tengah tersinggung. "Aku hanya_"


"Tidak masalah."


"Maafkan Papa juga, Sayang." Luna mengusap punggung Adam lembut.


"Sudah ku katakan tidak apa-apa. Teruskan makanmu, Sayang."


Kali ini Adam membalas tatapan Luna. Lelaki itu tersenyum lembut pada wanita disampingnya itu.


Adam selalu tidak bisa marah dengan Luna, tapi tidak dengan yang lainnya.


❤❤❤