
Klek!
"Tidak semudah itu, Tuan."
Suara seseorang yang sangat dekat dibelakang Stefan membuatnya kaget. Lebih kaget lagi ternyata yang menyentuh leher lelaki itu adalah ujung sebuah pistol.
"Apa maumu?"
Stefan mencoba bernegosiasi. Meski lelaki itu tidak tahu apa motif sebenarnya para penjahat itu menculik Elea. Karena sudah lebih dari 24 jam, dan tidak ada yang menghubungi Luna ataupun Ellard dimana seharusnya mereka entah mengancam atau meminta uang.
"Letakkan kembali gadis kecil itu disana!" ucap salah satu anak buah musuh itu. Namun Stefan tetap mematung. Ia tidak mungkin melepaskan Elea yang sudah bersamanya.
Ujung pistol yah berada di belakang Stefan, semakin menekan lehernya. Namun tak sedikitpun Stefan gentar. Lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Paman... Paman...." Suara lirih Elea yang menggigil sambil memanggilnya, membuat hati Stefan semakin kalut. Ia sangat khawatir dengan keadaan putri kecilnya itu.
"Dia sedang sakit. Tapi kalian mengacuhkannnya. Biarkan aku membawanya ke dokter."
"Dia tawanan kami, Tuan. Kami lah yang menentukan nasibnya, bukan anda! Cepat letakkan kembali gadis kecil itu ke tempat semula," teriak penjahat itu pada Stefan.
"Aku akan mengobatinya,"
ucap Stefan tenang.
Tanpa menunggu lama, Stefan langsung mendorong perut laki-laki dibelakangnya itu dengan siku. Hingga ia mengaduh kesakitan dan abai pada pistolnya.
Kemudian Stefan menendangnya ke belakang hingga lelaki itu terjengkang. Dan setelahnya berbalik menyerang secara membabi buta. Anak buah musuh itu tidak sempat melawan. Ia hanya menutupi wajahnya sambil berteriak kesakitan.
Tanpa disadari Stefan, laki-laki itu bisa mengendalikan tangannya yang memegang pistol. Dan naas, pistol itu meletus tepat mengenai bahu Stefan.
Dor!
"Ahh...." Stefan memekik karena merasakan sakit yang teramat sangat. Rasanya seperti di tembus sesuatu yang runcing sesaat dan setelahnya timbul rasa nyeri dan ngilu yang dalam.
Peluru itu benar-benar menembus bahunya dan bersarang disana. Lengannya yang terbungkus kaos putih pun basah oleh cairan pekat merah yang amis.
Sepertinya aku memang harus membunuhnya.
Dengan satu kali tendangan keras, Stefan berhasil melumpuhkan anak buah musuh yang mengincarnya itu. Hingga akhirnya lelaki itu tidak bergerak lagi.
"El, kamu harus harus kuat! Kita akan segera pergi sari sini, Sayang," ucap Stefan pada Elea yang setengah sadar.
Lelaki itu masih menahan sakitnya. Sambil mendesis dengan gigi yang merapat.
Stefan meletakkan Elea di tempat dimana ia menemukannya tadi. Kemudian ia mengambil seutas kain yang digunakan untuk alas dan mengikatkan ke bahunya. Agar pembuluh darahnya menyempit dan pendarahan bisa secepatnya berhenti.
Lelaki itu mengambil kembali sebagian lebar kain yang akan ia gunakan untuk mengikat Elea pada tubuhnya.
Sementara itu dibawah,
"Lex, periksa Stefan! Ini sudah lebih dari lima menit. Sepertinya ia butuh bantuan," ucap Ellard yang sesekali menyembulkan wajahnya untuk membidik para penjahat itu.
Dor!
Dor!
Suara baku tembak diantara mereka bergema di dalam rumah besar itu. Masing-masing dari dua kubu tetap bertahan. Kubu Ellard tetap akan bertahan meski nanti Stefan berhasil membawa Elea. Karena ia memang berniat menghabisi mereka semua yang telah berani menantang, dengan menculik satu-satunya cucu dalam keluarga Efrain itu.
Saat ini, posisi Alex lebih dekat ke lantai atas sehingga hanya lelaki itu yang memungkinkan untuk memeriksa keadaan Stefan.
Alex segera berlari menjangkau tangga. Tubuhnya memutar kekanan dan kekiri sambil sesekali melepaskan tembakan ketika ia merasa terancam.
"Tuan Stefan! Apa Anda baik-baik saja?" teriak Alex. Lelaki itu berlari menaiki tangga dan terkejut mendapati Stefan dengan bahu berdarah menggendong Elea.
"Lindungi aku, Lex! Elea membutuhkan pertolongan medis sekarang juga," pinta Stefan dengan terengah.
Stefan merasa sangat lelah dan lemas. Kain yang mengikat bahunya pun basah kini. Namun ketika matanya kembali beradu dengan wajah pucat Elea. Kekuatannya seakan penuh kembali.
"Semua! Lindungi Tuan Stefan. Beliau harus keluar secepatnya!" teriak Alex.
Beberapa anak buah lelaki itu keluar dari persembunyiannya, dan membentuk pagar mengelilingi Stefan.
Bruk!
Stefan jatuh dengan lutut bertumpu pada lantai. Ia sama sekali tidak melepaskan Elea. Dan malah memeluknya lebih erat.
"Stefan!" Ellard yang khawatir sampai keluar dan mendekati.
"Tuan! Biar saya saja yang menggendong Nona," tawar Alex yang sejenak cemas melihat Stefan. Lelaki itu nampak pucat dan lemas. Menahan sakit juga menahan beban tubuh gadis kecil itu.
"Tidak, Lex. Lindungi aku hingga masuk mobil. Aku yang akan membawanya ke rumah sakit."
Stefan bangkit kembali. Dengan susah payah ia menguatkan kakinya untuk berdiri.
"Hati-hati, Stef! ingat apa yang kita bahas tadi," ucap Ellard dengan wajah cemas.
Dor!
"Paman!" pekik Stefan.
"Lex! Lindungi paman," titah Stefan.
"Siap, Tuan. Tinggalkan saja kami. Keselamatan Nona Elea lebih penting,"
Selesai berucap demikian, anak buah Ellard kembali menggiring dan melindungi Stefan hingga lelaki itu masuk ke dalam mobil.
"Biar aku yang mengemudikannya. Kalian cepat kembali bantu mereka. "
Anak buah Ellard berlari dan kembali kedalam setelah mengantar Stefan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Nyonya, ada telpon untuk Anda."
Bibi Ofelia dengan wajah cemas menyampaikannya pada Luna?
"Dari siapa, B?"
"Saya tidak tahu. Tapi sepertinya...."
Luna melangkah mendekat. Mengambil gagang telepon yang masih berada dalam genggaman bibi Ofelia.
Wanita paruh baya itu nampak gemetar. Beberapa kali juga terlihat menelan salivanya.
"Iya?"
"Mama... Mama...."
Suara teriakan, dan isak tangis Elea diseberang terdengar jelas.
"El... Kamu dimana Sayang? Biar Mama jemput. Katakan kamu dimana?" Luna yang sepanjang hari hanya berbaring di tempat tidurnya baru saja turun pagi ini.
"Luna Efrain. Datanglah sendiri ke sebuah rumah yang akan kukirimkan alamatnya padamu. Ingat! Kau hanya datang sendiri. Karena jika tidak, suara tadi akan menjadi suara terakhir yang akan kau dengar.
Klek!
Tut... tut.... "
"Halo... Katakan apa maumu? Jangan ditutup telponnya! Halo?"
Brakk!
Gagang telepon itu terlepas hingga jatuh ke lantai. Luna lemas, persendianya seakan rontok tak bisa lagi menopang berat tubuhnya. Wanita itu merosot terduduk dilantai dan memeluk lututnya.
"Nyonya. Bagaimana keadaan Nona Elea," tanya bibi Ofelia dengan memburu. Pelayan kepercayaan Ellard itu sampai memegang kedua bahu Luna dengan erat.
"Tolong ambilkan ponselku d kamar, Bi."
Bibi Ofelia segera bangkit dan menuju kamar. Ia seperti sudah mempunyai firasat saat menerima telepon dari orang asing tadi.
Tiba-tiba seorang pelayan berlari dari arah pintu depan. Membawa bungkusan paket warna hitam dan menyerahkannya pada luna.
"Ini Nyonya. Kata kurir yang mengantarnya, hanya Nyonya Luna yang boleh membukanya. dan harus dibuka sekarang juga," ucap pelayan itu.
"Jangan dibuka Nyonya. Saya takut itu suatu hal yang berbahaya bagi keselamatan Nyonya," cegah bibi Ofelia yang sontak memutar tubuhnya dan hendak merebut benda terbungkus kardus hitam yang ada di tangan Luna itu.
"Tidak apa-apa, Bi. Biar aku buka sekarang." Luna menghindar, ia segera merobek perekat yang membelit paket misterius yang ditujukan untuknya itu.
"Ponsel?" gumam Luna lirih. Ia hanya menebak isinya karena gambar ponsel lah yang ada disana.
Luna yang tidak sabar, segera merobek kardus ditanganya itu.
Dan benar saja, itu memang sebuah ponsel. Masih baru dan ada sebuah catatan disana.
Gunakan ponsel ini untuk komunikasi kita. Aku yang akan selalu menghubungimu.
Itulah pesan singkat yang tertulis disana. Sudah bisa ditebak jika penelpon dan pengirim paket adalah orang yang sama. Orang yang telah menculik Elea.
Setelah membacanya, Luna meremas tulisan itu. Bisa dipastikan, jika sang penculik hanya ingin berhubungan dengannya, tidak yang lain termasuk ayahnya. Dan itu berarti, ia harus bergerak sendiri demi keselamatan putri kecilnya itu.
"Ponsel milik siapa Nyonya?" tanya bibi Ofelia curiga.
"Ini milikku, Bi. Bibi kembali saja kedapur. Aku akan ke kamarku untuk mandi," titah luna.
"Oh iya, apa Adam sudah berangkat, Bi?" tanya Luna yang menghetikan langkahnya saat akan mencapai tangga lantai satu.
"Sudah Nyonya. Pagi- pagi benar beliau sudah berangkat."
"Dia tidak meninggalkan pesan untukku?" tanya Luna.
"Tidak, Nyonya. Tuan sepertinya terburu-buru. Karena beliau juga meninggalkan sarapannya.
Luna terdiam. Bahkan disaat baru satu hari Elea menghilang, Adam malah pergi bekerja tanpa pesan dan pamit.
❤❤grazie mille. Terima kasih yang masih setia. Lupa U