
Mata Elea berbinar, kedua sudut bibirnya terangkat. Dan tanpa sadar ia berjalan hendak keluar kedai menghampiri sosok itu.
Namun begitu mata mereka bertumbuk, sosok yang Elea kenal itu dengan cepat menarik topinya kemudian pergi begitu saja.
"Paman!"
Elea berlari sekuat tenaga, hingga gadis kecil ini tidak memperhatikan sekitarnya.
Brak.
Elea menabrak ujung meja kotak yang berjajar rapi di sepanjang jalan keluar masuk kedai gelato itu.
Gadis kecil itu sampai terpelanting. Untung saja seorang pelayan berhasil menangkapnya karena jarak jatuhnya yang sangat dekat dengan pelayan itu berdiri.
"El!" pekik Luna sampai menjatuhkan kedua tongkat kruknya. Ia baru saja menyuruh pelayannya pergi keluar untuk mengambilkan tasnya yang tertinggal.
Wanita itu panik dan sontak berjalan meloncat dengan sebelah kakinya yang tidak sakit.
"Apa yang terjadi?" Bhara ikut berlari menghampiri saat mendengar teriakan Luna.
"Elea, Bhar!" tunjuk Luna yang terengah padahal belum mencapai lokasi Elea berada.
Bhara berlari ke arah yang ditunjuk oleh Luna. Lelaki itu menggantikan pelayan yang menyelamatkan Elea untuk menggendongnya.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" Bhara menarik tubuh Elea dalam dekapannya.
Gadis kecil itu terlihat shock karena kaget. Ia terdiam dengan wajah yang pucat.
"El...." Luna mendekat setelah pelayannya kembali dan mengambilkan tongkat yang wanita itu jatuhkan tadi. "Sayang, tidak apa-apa jangan takut, kamu aman," ucap Luna menenangkan.
Bhara memberi kode pada Luna untuk menuju ke meja mereka, sementara Elea masih berada di gendongannya.
"Dengan Mama ya, Sayang?" tanya Luna setelah ia duduk terlebih dahulu dan menyandarkan tongkatnya.
Elea mengangguk. Kemudian Bhara meletakkan gadis kecil itu di pangkuan Luna.
"Aku angkat telepon dulu ya," pamit Bhara. Ponsel Bhara memang terdengar getarannya sejak ia menggendong Elea tadi. Namun lelaki itu memilih memberi rasa nyaman dahulu pada Elea baru menyelesaikan kepentingannya.
"Terima kasih, Bhar," ucap Luna disertai senyum tipis dan anggukan Bhara yang hendak pergi.
"Sayang...." Luna mendekap erat Elea. Gadis kecil itu tidak menangis sama sekali. Namun masih terdiam beberapa saat lamanya.
"Gelatonya mau disuap sama Mama?" Elea menggeleng, membuat Luna semakin resah.
Wanita itu takut Elea trauma dengan kejadian jatuhnya dia tadi.
Luna tidak tahu apa yang putrinya kejar. Setelah keluar dari toilet, ia melihat Elea berlari menuju pintu keluar masuk kedai. Namun gadis kecil itu terlihat oleng hingga terjadilah kecelakaan tadi.
Saat ini yang bisa Luna lakukan hanya membuat tenang putri kecilnya itu. Ia membelai sambil mencium kening Elea. Sesekali tangannya mengusap punggung kecil yang terlihat rapuh itu.
"Mama...."
"Ya, Sayang. Elea mau makan gelatonya?" tawar Luna yang sedikit lega karena Elea sudah mau memanggilnya.
"Bukan. Apa ... Orang yang sudah pergi ke surga bisa kembali lagi disini?"
Luna mematung dengan mata yang berhenti mengerjap. Ia mencoba mencerna pertanyaan Elea.
"Siapa yang sudah ke surga, El? Jangan membuat Mama takut." Luna mulai cengeng mendengarnya. Entah apa maksudnya pertanyaan Elea, namun berhasil membuat matanya berkaca.
"Paman Stefan. Kata Oma, paman sudah di surga. Padahal surga itu kan jauh sekali, Ma. Tidak ada kendaraan apapun yang bisa kesana. Apa mungkin paman Stefan bisa kembali lagi dengan cepat?" tanya polos Elea pada sang ibu.
Deg!
Stefan?
"El melihat paman Stefan. Ia berdiri disana," tunjuk Elea pada sebuah dinding kecil di antara kaca. Yang sesaat membuat Luna merinding menatapnya, karena jelas-jelas itu hanya sebuah dinding yang tidak begitu lebar. Jadi jika ada seseorang yang menyandar di baliknya sudah pasti terlihat.
"Apa hal itu yang membuat El berlari keluar tadi?" tanya Luna menebak.
"Iya."
Gadis kecil itu menunduk. "El sudah panggil-panggil paman. Tapi paman pergi begitu saja. Itulah kenapa El mengejarnya." Mata Elea berkaca, ada kecewa di raut wajahnya yang menggemaskan.
Luna menghela napasnya berat. Hal itu persis seperti saat ia yang mengira yang menyelamatkan dirinya waktu terjatuh itu adalah Stefan.
Dan ternyata entah siapa itu, namun yang jelas Luna tetap menolak jika sosok itu adalah Bhara.? Meski hanya Bhara yang terlihat paling mungkin diantara lainnya.
"Mungkin hanya mirip, El," ucap Luna menenangkan. Padahal didalam ucapannya juga tersimpan keraguan.
"Tidak mungkin El salah lihat, Ma. Itu benar-benar paman Stefan. Tapi kenapa paman terburu pergi saat Elea melihatnya."
"Mungkin saja memang mirip. Jika ia paman Stefan, ia pasti akan menghampiri El. Tidak mungkin pergi begitu saja. Bukankah paman Stefan menyayangi El?" jelas Luna yang berharap putrinya mengerti bahwa Stefan bukan sekedar pergi sebentar, tapi selamanya.
"Tapi itu memang paman Stefan, Ma." Elea bersikeras mempertahankan pendapatnya.
"Oh, iya El ingat. Tadi di rumah ada paman berpakaian serba hitam menghampiri Wl di taman. Dia memberikan buket bunga untuk Mama. Dia juga mengirim salam dan doa supaya Mama cepat sembuh. Katanya, Mama dan paman itu saling mengenal. Tapi bunganya di minta oleh Oma."
Cerita Elea yang membuat Luna kaget. Bahkan sang bibi tidak menceritakan apapun tadi di rumah.
"Ada orang asing mebdatangi El dirumah?" Gadis kecil itu mengangguk. "Apa tidak ada pengawal Opa di rumah?"
"Ada, Ma. Banyak," jawab Elea santai. Raut wajah gadis kecil itu biasa saja, seakan-akan Elea yakin jika yang mendatanginya adalah orang yang tidak berniat jahat.
"Lalu bagaimana orang asing itu bisa masuk tanpa diketahui?"
"El tidak tahu, Ma. Tapi paman itu baik. Dia tidak menyakiti El," bela Elea pada orang asing itu.
"El, jangan diulangi lagi ya, Sayang. Jangan berbicara dengan orang asing tanpa ada orang dewasa yang El kenal."
Luna masih trauma penculikan mereka di Kanada akan terulang. Lagipula, Pauline bisa saja bertindak lebih nekat untuk mencelakai mereka.
"Iya, Ma."
Dan ketegangan pun mereda bersamaan dengan datangnya Bhara kembali.
"Kok belum ada yang menyentuh gelatonya. Menunggu Paman?" gurau Bhara yang mencairkan suasana.
"Iya, lebih baik kita menikmatinya bersama Bhar," jawab Luna mengiyakan.
"Sepertinya enak. El mau rasa apa, Sayang? Pesannya banyak sekali, lima rasa," celoteh Bhara yang mengedarkan matanya ke meja yang penuh pesanan Elea.
"Coklat saja, Paman," jawab Elea.
"Baiklah, coklat untuk El, dan vanilla untuk Mama." Bhara asal memberikan rasa untuk luna. "Lalu strawberry untuk Paman."
Mereka menikmati gelato dalam diam. Sesekali Bhara melemparkan candaan, dan hanya Elea yang merespon. Sementara Luna hanya terus mengulas senyum tipisnya tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya.
Tanpa ada yang tahu pikiran Luna berkelana.
Mengapa baik Luna ataupun Elea bertemu sosok mirip Stefan secara misterius? Apakah orang terdekat Stefan lainnya juga seperti itu? Tapi Luna sama sekali tidak mendengarnya dari mereka.
Mirip? Atau benar-benar Stefan. Apakah lelaki itu masih hidup? Tapi mengapa dia harus menghilang jika memang dia selamat?
Berbagai pikiran dan hal-hal yang tidak mungkin berseliweran di otak Luna.
grazie 😍