
"Kemajuanmu cukup pesat, Luna."
William melihat keponakannya yang setiap hari tidak lelah berlatih demi lancar berjalan.
"Aku ingin saat sidang nanti, tidak membawa alat ini, Paman," tunjuk Luna pada tongkat kruknya.
"Ya, itu akan membawamu lebih percaya diri menghadapi sahabat lamamu itu," dukung William pada keponakannya.
"Dia dibutakan oleh dendam, Paman. Dan yang lebih parah, ayahnya menuruti apa maunya," jelas Luna.
"Paman dengar dia juga ikut andil dalam penculikanmu dan Elea bersama Adam?"
"Sayang sekali iya, Paman. Itulah yang membuatku sangat kecewa daripada perbuatan curang lainnya yang Adam lakukan padaku."
Luna tertunduk. Ia hanya menghapus air mata yang sesekali masih keluar jika mengingat nasibnya. Untuk menangis, rasanya sudah tidak sanggup ia lakukan.
"Sabarlah Sayang, suatu hari nanti pasti akan ada orang yang sangat mencintaimu dan menjagamu dengan nyawanya." William menepuk singkat punggung Luna yang membungkuk.
Luna hanya menatap kepergian William yang begitu saja setelah memberikan penggalan kata indah itu.
Mengapa rasanya aku merindukan Stefan? Dia yang selalu bertengkar denganku karena rasa benciku yang muncul tiba-tiba akibat masa lalu yang pernah terjadi pada kami.
Bagaimanapun, Stefan menjaga Elea dengan baik. Meski lelaki itu tidak pernah tahu jika Elea adalah putrinya.
Luna masih memikirkan hal yang ia lupakan pada saat kejadian itu. Ini berlangsung beberapa bulan yang lalu, dan ia tidak habis pikir, mengapa ingatan itu belum juga kembali?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Papa!" teriak Luna yang baru saja bangun.
Wanita itu berlari dan menghambur memeluk sang ayah yang tiba-tiba ada di depannya. Sepagi ini dan Ellard bahkan nampak sudah rapi.
"Kapan Papa datang?"
"Semalam, tapi kau sudah masuk ke kamarmu. Papa tidak tega untuk mengganggumu," ucap Ellard mengusap lembut puncak kepala putri kesayangannya itu. "Kau pasti butuh ekstra istirahat semalam."
Luna tersenyum kecut. Hari ini adalah hari yang ia nantikan. Hari persidangan antara dirinya melawan Pauline.
"Papa sendiri?" Luna celingukan kesana kemari mencari sosok sang kakak.
"Dengan kakakmu, tapi kami berpisah di jalan semalam. Ia berkata ada hal penting yang harus ia selesaikan." Ellard menjawab kebingungan Luna.
"Kenapa akhir-akhir ini kakak banyak sekali urusan diluar yang tidak kita ketahui. Aneh sekali, Pa," celoteh Luna mengomentari Aglen.
"Kau saja yang baru tahu sayang, karena kedekatan kalian baru saja terjalin. Kakakmu sejak dulu seperti itu. Tapi sudahlah, ia bisa menjaga dirinya sendiri. Papa percaya padanya," jawab Ellard yang mengambil duduk di sebelah luna.
"Lekaslah bersiap. Kau mendapat jadwal paling awal. Bahkan paman dan bibimu sudah berangkat beberapa menit yang lalu," titah Ellard.
"Elea...."
"Biarkan ia di rumah saja. Itu lebih aman. Lagipula disana semuanya orang dewasa. Tidak akan baik untuk mentalnya," nasihat sang ayah yang banyak benarnya.
Luna mengangguk dan segera naik ke kamarnya.
Kakinya sudah bisa berjalan normal dan berlari kecil. Usahanya luar biasa dan tidak sia-sia untuk membuktikan jika dirinya baik-baik saja. Ya, meski kakinya harus di masuki lempengan besi untuk menyambungnya.
\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=
"Aku siap, kita berangkat, Pa." Luna menghampiri sang ayah yang menunggunya di bawah.
"Kau sudah siap?"
Pertanyaan ambigu. Jika ditanya seperti itu, pasti Luna menjawab siap. Tapi dalam hatinya, wanita itu sebenarnya tidak ingin menemui peristiwa seperti ini.
"Ya, aku siap, Pa."
"Andrew dan Bhara juga sudah menunggu disana," beritahu Ellard tentang dua orang pengacara hebat yang bahkan tidak perlu susah mereka dapatkan.
"Mereka semangat sekali," gumam Luna lirih.
"Hmmm ... Bukannya memang harus semangat supaya menang?"
"Sebentar, ada yang menghubungi ponsel Papa." Ellard merogoh sakunya, mengambil benda pipih kotak dan mendekatkannya pada telinga.
"Hmmm, iya ... Iya. Jadi, papa harus kesana? Sebentar kan? Ini sudah hampir berangkat." Ellard menutup panggilan itu.
"Ada masalah di perusahaan kakakmu. Papa akan kesan sebentar. Berangkatlah lebih dulu nanti Papa menyusulmu. Tidak apa-apa kan sayang?"
Akhirnya Ellard memutuskan berpisah dengan Luna. Karena ia masih harus ke perusahaan Aglen.
Luna berangkat berdua bersama sopir William. Sementara Ellard membawa mobil dengan Alex sebagai pengemudinya.
Dalam perjalanan, Luna dihadang kemacetan yang lumayan panjangnya.
"Bisakah kita melewati jalan lain? Aku takut terlambat," pinta Luna pada sopirnya.
"Sebentar nyonya, saya akan melihat peta lebih dahulu," jawab sopir yang kemudian menyalakan ponselnya dan meletakkannya pada sebuah alat yang menempel diatas dashboard.
Dug!
Dug!
Ada seseorang yang mendorong kaca jendela mobil Luna dari arah luar.
Dari dalam terlihat dua orang wanita dan laki-laki diluar. Yang wanita terlihat kesulitan bernapas dan terbatuk-batuk. Ia mengetuk jendela dengan kencang.
Luna ikut panik. Dia berada di kemacetan dan ada yang meminta tolong. Sungguh kasihan wanita yang dilihatnya itu.
"Buka pintunya!" titah Luna pada sopir yang tengah fokus dengan ponselnya.
Sopir William hanya mengikuti kata Luna dengan membuka semua kunci jendela mobil tanpa memperhatikan apa yang akan dilakukan majikannya itu.
"Kasihan, kita akan menolongnya lebih dahulu," beritahu Luna.
Wanita itu segera membuka pintu mobilnya dan mengajak dua orang itu masuk.
"Angkat tangan dan jangan bersuara!" Rupanya wanita yang terlihat kesulitan bernapas tadi menyembunyikan senjata dibalik syalnya. Mereka komplotan penjahat.
Wanita dengan model rambut seperti laki-laki itu merangsek masuk, memaksa Luna bergeser hingga ke ujung. Sedangkan yang laki-laki masuk melalui depan dan juga menodongkan senjata pada sopir William.
"Ikuti perintah ku! Cari jalan terdekat untuk keluar dari kemacetan ini. Sekarang!' titah wanita dengan model rambut seperti laki-laki 👉.
" Kalian siapa?" tanya Luna yang masih berusaha tenang dan stabil. Ia tidak boleh terlihat takut atau ciut nyali menghadapi kejahatan seperti ini.
"Tidak perlu tahu siapa kami! Ikuti saja perintah kami!" jawab laki-laki yang mengenakan maskernya sedari awal itu.
Setelah beberapa saat mengemudi mencari jalan keluar dari kemacetan, akhirnya mereka bisa bernapas lega karena menemukan jalan alternatif yang cukup sepi.
Namun tetap saja Luna dan sopir William tidak bisa bernapas lega. Bagaimana mungkin bisa bernapas lega jika mereka berada dibawah ancaman.
"Berhenti disana!" titah lelaki yang mengenakan maskernya itu. Dia menunjuk sebuah tempat agar sopir menepi.
"Keluar!"
Luna mengikuti perintah kedua orang itu begitu juga sang sopir yang nampak sedikit takut.
"Ini peringatan untukmu! Kau cabut tuntutanmu atau...."
Krek!
lelaki itu mempraktekan tangannya yang menggorok lehernya sendiri.
"Kau mengerti bukan!?"
Yang wanita ikut -ikutan bersuara. Mengancam dan memarahi.
Luna hanya diam. Ia tidak mengangguk ataupun menolak. Sungguh atas alasan apapun ia tidak akan mau mencabut laporan atas Pauline.
Rupanya Luna dan sopirnya disandra selama satu jam disana. Tujuannya hanya satu, menghambat jalannya sidang hari ini hingga Luna tidak bisa hadir. Ponsel Luna juga di lempar ke dalam mobil oleh wanita yang seperti laki-laki itu.
💜💜💜💜💜