
Ciiitttttt....
Bhara menginjak pedal rem mendadak dan langsung menepikan mobilnya.
"Luna!"
Luna ambruk dalam pelukan Bhara. Wanita itu tidak sadarkan diri.
Bhara panik, ia segera menggeser tubuh Luna ke kursi belakang. Kemudian Bhara melepas jas yang dikenakannya untuk menutupi bagian kaki Luna yang terlihat.
Bhara segera memacu mobilnya menuju rumah sakit. Lelaki itu kalut. Selama ini tidak sekalipun Luna menunjukkan jika wanita itu sedang menderita sakit.
Namun hari ini, Luna sukses membuatnya sangat khawatir. Detik ini, tiba-tiba muncul rasa takut kehilangan yang seperti menggerogoti. Entah kapan rasa cintanya tumbuh dan seakan membunuh. Bhara benar-benar takut kehilangan.
Sampai di rumah sakit, beberapa tenaga medis yang mengetahui ada pasien urgent segera mengambil bed untuk menyambut.
Namun sepertinya itu tidak ada gunanya bagi Bhara. Karena lelaki itu dengan sigap menggendong Luna dan membawanya ke unit gawat darurat dengan tangannya sendiri.
"Lakukan yang terbaik, Dok!" ucap Bhara melepas tubuh Luna di bed yang ada di ruangan itu.
Sebenarnya, Bhara ingin berada di samping wanita yang dicintainya itu. Namun apa daya, tenaga medis pasti tidak memperbolehkan karena akan mengganggu jalannya penanganan.
Dengan langkah gontai lelaki itu keluar. Ia tidak menjauh dari ruangan itu, hanya sekedar menyandarkan tubuhnya di dinding dekat ruang dimana Luna berada. Bahkan rasanya dia tidak ingin duduk, mengingat apa yang terjadi pada Luna tadi. Wanita itu tiba-tiba meremas kepalanya dan pingsan.
"Keluarga Nyonya Luna?" panggil seorang perawat dengan menampakkan sebagian tubuhnya dibalik pintu.
"Ya."
Sambil menjawab, Bhara mendekat untuk menemui perawat itu.
"Dokter ingin berbicara dengan anda, Tuan."
Setelahnya, perawat itu mempersilahkan Bhara masuk dan mengantarkannya menemui dokter.
"Anda suaminya?" tanya dokter dengan gestur mempersilahkan Bhara untuk duduk.
"Saya temannya, Dok," jawab Bhara yang menarik kursi di depan meja dokter.
"Oh ... Tidak apa-apa. Anda sudah membawa Nyonya Luna ke tempat yang benar, Sir. Saya yang merawat nyonya Luna saat kecelakaan dua bulan yang lalu. Jadi, ini sebenarnya reaksi biasa dari otak beliau. Namun memang terasa menyakitkan."
Dokter memberikan penjelasan dengan pelan dan senyum ramahnya. Meski Bhara tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Luna, namun lelaki itu sedikit lega melihat reaksi dokter.
"Iya, Dok. Apa ada hal lain yang terjadi dengan Luna selain patah kaki?" tanya Bhara.
Lelaki itu sama sekali tidak mengetahui jika Luna mengalami amnesia traumatic setelah kecelakaan itu.
"Nyonya Luna mengalami amnesia pada bagian-bagian tertentu ingatannya. Hal-hal yang menyebabkan beliau trauma mendalam. Kemungkinan yang terjadi saat ini adalah benturan akan ingatannya yang hilang dengan peristiwa baru yang berhubungan."
Penjelasan Dokter dapat ditangkap oleh Bhara. Hanya saja lelaki itu tidak tahu hal apa saja yang hilang dari ingatan Luna.
"Tapi, kondisinya baik-baik saja kan, Dok?" tanya Bhara meyakinkan dirinya.
"Tentu saja, Sir. Beliau baik-baik saja. Biarkan beliau istirahat dulu untuk saat ini. Sebentar lagi, pasien akan kami pindahlan ke ruang inap supaya lebih tenang. Dan anda bisa menemaninya nanti."
"Terima kasih, Dok."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=
"Kamu harus selamat!"
"Kita Stefan! Kita semua harus selamat!"
"Terimakasih mau mengandungnya dan melahirkannya." Mata Stefan basah, namun ia terus berjibaku melawan orang-orang itu.
Luna tertegun. Mungkinkah Stefan tahu? Ia sempat menghentikan langkahnya, namun Stefan terus menariknya karena tidak mungkin selamat jika mereka berhenti begitu saja.
"Terima kasih juga sangat menyayanginya, maafkan aku. Maaf atas segala yang kulakukan padamu."
Stefan masih bersuara meski tatapan matanya tidak pada Luna.
Luna terisak. Mengapa lelaki itu meminta maaf disaat seperti ini.
"Kau sengaja agar kumaafkan!?" Luna berucap ketus agar Stefan emosi. "Kau tidak memberiku pilihan untuk tidak memaafkan!"
Airmata Luna terus mengalir. Entahlah apa yang terjadi dengan hatinya kali ini.
"Tidak Luna. Aku hanya takut kalau ini ... Adalah hari terakhir untukku."
"Apa yang kau katakan!?"
"Tidak akan kubiarkan kau mati dengan mudah seperti ini!" ucap Luna keras.
Wanita itu sampai memukuli tangan Stefan yang sakit, kemudian berusaha melepaskan diri, namun tidak berhasil. Stefan menggenggam tangannya dengan erat.
"Lex, aku butuh perlindungan!" teriak Stefan saat jarak mereka semakin dekat. Dan hampir mencapai pintu keluar.
"Siap, Tuan!"
Alex beserta beberapa anak buahnya membuat lingkaran terbuka untuk melindungi majikannya.
Mereka sudah masuk ke dalam lingkaran. Dan Stefan melepaskan tautan tangannya dengan Luna.
"Pastikan mereka selamat, Lex!"
"Siap, Tuan!"
Alex mengiyakan meski tidak tahu apa yang dimaksud oleh keponakan majikannya itu? Mereka? Sementara disini hanya ada Luna yang akan diselamatkan.
Stefan tiba- tiba memeluk Luna. Wanita itu kaget namun tidak menolak. Kemudian Stefan mencium puncak kepala Luna layaknya seorang kekasih yang akan mengucap salam perpisahan.
Stefan pun membisikkan sesuatu.
"I love you. Hiduplah dengan baik. Aku sangat mencintai kalian berdua."
Stefan melerai pelukannya dan ia segera beranjak pergi.
"Stefan!?"
"Tuan?" Alex pun tidak mengerti dengan tindakan Stefan.
"Harus ada yang menghabisi mereka. Aku membawanya. Cepat pergi dari sini!" Stefan menunjukkan bom dengan daya ledak besar ditangannya.
Stefan melesat ke dalam bangunan dan menutup pintunya. Alex baru menyadari apa maksud Stefan.
Dhuar!
Ledakan terdengar berkali-kali, meluluhlantahkan bangunan megah di hadapan mereka.
"Tidak! Tidak! Stef-an!"
Luna berteriak sekuat tenaga memanggil nama Stefan. Berharap lelaku itu memiliki sedikit kewarasan untuk mengurungkan niatnya.
Namun bukankah percuma! Bahkan bangunan itu sudah hancur dan Stefan ada didalamnya.
"Luna... Luna! Bangun Luna!"
Bhara menggoyang tubuh Luna agar wanita itu sadar. Luna masih berada pada keadaan tidak sadarnya saat ia berteriak dengan lantang dan menyebut nama Stefan.
"Luna! Sadarlah, kumohon Luna! Apa yang terjadi?"
Luna membuka matanya perlahan. Keringat dingin membasahi tubuhnya. Napasnya twrengah seperti tengah dikejar oleh sesuatu.
"Bhara...."
Luna menangis, dan Bhara yang ada di dekatnya dengan cepat menangkap tubuhnya yang rapuh.
Lelaki itu memeluk Luna dengan lembut. Tangannya mengusap punggung yang basah oleh keringat.
"Ada apa? Kenapa kau histeris dan menangis?" tanya Bhara setelah Luna terlihat lebih tenang.
"Tidak, Stefan ... Stefan. Aku mimpi Stefan rasanya seperti nyata."
"Mungkin kau lama tidak mengunjungi makamnya" hibur Bhara yang sama sekali tidak mengetahui kejadian apa yang terjadi saat itu.
Luna hanya terdiam setelahnya. Karena sekarang ia menyadari, jika itu semua memang bukan mimpi. Itulah puzzle yang hilang dari ingatannya. Yang selama ini membuatnya penasaran, mengapa ia lupa bagian dimana saat Stefan meninggal dalam ledakan itu.
I love you?
Hiduplah dengan baik.
Aku mencintai kalian berdua.
Dan Luna menangis kembali. Kali ini lebih kencang disertai isakan yang tidak kalah memilukan.
"Menangislah jika itu membuatmu tenang. Aku akan ada disini menjagamu," ucap Bhara.
🥰🥰🥰🥰🥰