
"Hah ... Ap-apa, El?"
Luna yang kaget mendadak gugup.
"Kamu kenapa, Lun? Bukankah memang benar apa yang diucapkan El? Cucu Ellard cucu kami juga," ucap Christina meluruskan pemahaman Elea.
"Ohh ... I-iya, Tante. Aku hanya tidak fokus saja." Luna menghapus keringat yang mendadak keluar di pelipisnya. Ia berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan buru-buru menghabiskan es krimnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=
"Pa."
Ellard hanya menoleh untuk menjawab panggilan anak lelakinya.
Pagi ini, Aglen memang sengaja berangkat lebih dulu ke kantor. Ia bertugas memeriksa segala masalah yang ada di ketiga perusahaan milik ayah dan adiknya itu.
Sedangkan Ellard, lelaki itu begitu berangkat langsung menuju kantor dimana ia menjadi komisaris utama. Yaitu perusahaan dimana sang menantu menjabat sebagai Direktur disana.
"Adam ada di ruangannya," ucap Adam memberitahu.
Ellard mendadak berhenti. Lelaki paruh baya itu terlihat diam sejenak.
"Bukankah ini baru hari kedua?" tanya Ellard pada putranya itu. Dan dijawab anggukan oleh Aglen.
Ya, hari ini adalah hari kedua setelah kepergian Lilyana. Dan Adam sudah kembali ke kantor untuk bekerja.
Biasanya, perusahaan memberikan cuti minimal tiga hari dan paling lama 7 hari untuk berduka. Apalagi selain Direktur, Adam juga merupakan suami dari pemilik perusahaan. Tentu saja cuti itu secara otomatis bisa ia gunakan tanpa harus meminta izin kepada Ellard ataupun Luna.
"Apa yang dikerjakannya?"
"Aku tidak tahu. Aku belum menyapanya sama sekali pagi ini. Kupikir Papa yang harus melakukannya." Aglen tersenyum miring. Ellard membaca maksud anak lelakinya itu.
"Dimana Jonas?"
"Ada di ruangannya, Pa." jawab Aglen. Lelaki berkuncir itu ditinggalkan begitu saja oleh sang ayah yang menuju ruangan Jonas.
Sesampainya disana, Ellard langsung masuk setelah mengetuk pintunya.
"Tuan?"
Jonas kaget, meski begitu pemuda itu segera berdiri menyambut atasannya.
"Duduklah. Langsung saja, berkas bukti yang kuminta kau simpan dengan rapi?"
Ellard duduk setelah pemuda bernama Jonas itu kembali duduk di kursinya.
"Iya, Tuan. Nyawa saya penjamin nya. Hanya saya yang tahu tempatnya," jawab Jonas yang memberitahu dimana ia menyembunyikan bukti-bukti kejahatan Adam.
"Bagus. Apa ia sudah menemuimu hari ini?" tanya Ellard serius.
"Belum, Tuan. Tapi beliau menghubungi saya beberapa kali pagi ini. Saya belum sempat membalasnya, karena saya masih memeriksa beberapa laporan yang dikerjakan anak buah saya," jawab Jonas membuka ponselnya dan memperlihatkannya pada Ellard.
"Balas saja saat kau sudah selesai nanti."
"Baik, Tuan."
Jonas berdiri dan membungkuk saat Ellard akan pergi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Akhirnya Ellard gerah juga. Ini sudah hampir memasuki jam istirahat siang, dan sang menantu masih anteng di ruangannya. Lelaki sama sekali tidak berniat menyapa ayah mertuanya meski hanya untuk berbasa-basi. Entah apa yang dilakukan Adam didalam sana.
"Sir."
Nina segera mendekat saat melihat Ellard keluar dari ruangannya.
"Apa yang dilakukan atasanmu di dalam?" tanya Ellard pada Nina yang terlihat membawa beberapa lembar kertas di tangannya.
"Ini, Tuan."
Nina menyerahkannya pada Ellard. Sekilas membaca kop surat yang tertera di paling atas lembaran itu, Ellard membaca beberapa nama yang tidak asing karena telah lama bekerja sama dengan perusahaannya.
Tidak diketahui apa sebabnya, namun barang-barang itu rusak pada pemakaian pertama di pembeli, juga saat disimpan di gudang.
Mereka juga komplain tentang lamanya barang datang yang dijanjikan untuk mengganti barang-barang yang rusak dalam perjalanan.
"Sedang apa dia didalam!?" ketus Ellard mempertanyakan Adam.
Nina mengkerut. Gadis itu mengerjap cepat. "Emm ... Sama, Tuan. Dari pagi, Tuan Adam sibuk membalas komplain dari klien-klien kita," jawab Nina menunduk. Ia tidak ingin menatap mata Ellard yang sedang murka.
"Sial!"
Ellard benar-benar tidak dapat menahan diri lagi. Lelaki paruh baya itu memaksa masuk tanpa permisi ke dalam ruangan sang menantu.
Saat Ellard sampai di dalam, yang terlihat disana sungguh diluar dugaan. Kertas-kertas berserakan diatas meja dan Adam terlihat begitu stress dan menyedihkan. Bahkan lelaki itu tidak menyadari kedatangan ayah mertuanya.
"Apa-apaan ini? Kantorku bukan tempat sampah, Dam." Ellard berucap keras meski ia bisa menahan diri untuk tidak meneriaki menantunya itu.
"Pap-pa." Lelaki berambut pirang itu sontak berdiri dan menata rambutnya yang dia acak-acak sendiri. "Emm...."
Brak.
Kertas yang ada di tangan Ellard dibanting oleh lelaki paruh baya itu tepat di depan Adam. Hingga kertas-kertas yang lain berserakan jatuh ke bawah.
"Aku bisa jelaskan ini, Pa. Tolong jangan katakan pada Luna. Aku yakin bisa mengatasinya."
Adam yang bingung mencoba cepat menggerakkan tangannya untuk menata kertas-kertas itu. Namun karena berkas itu sangat banyak hingga beberapa kali ada saja yang terlepas dari tangannya.
"Apa yang mau kau atasi? Kau menimbulkan masalah baru. Karena pada kenyataannya kau menghabiskan uang perusahaan untuk memproduksi ulang barang-barang yang rusak itu," bentak Ellard yang geram.
"Maafkan aku, Pa. Aku tidak bisa fokus karena Mama sakit."
"Itu hanya alasan! Mamamu sakit karena jatuh dan kau membiarkannya."
Ellard tidak lagi menutupi apa yang ia ketahui tentang menantunya itu.
Napas berat dan cepat Adam semakin terdengar keras. Lelaki itu tentu bingung menjawab setiap ucapan ayah mertuanya.
"Kylie membawa lari sebagian uang proyek itu, Pa. Aku bingung bagaimana mengatakannya pada Papa dan Luna."
"Siapa yang menerima adikmu disini?" tanya Ellard memancing.
"Luna, Pa. Atas rekomendasiku." Adam menunduk dalam. Ia tidak mampu lagi menatap mata Ellard yang seperti mau keluar.
"Dari awal kau tahu Kylie tidak mampu bekerja dengan baik bukan? Tapi kau mempertahankannya. Dan kau tahu kenapa dia mudah sekali kabur dari negara satu ke negara lain?"
Adam menggeleng. Ia memang tidak tahu menahu sama sekali tentang adiknya itu. Sepertinya Kylie mengenal seseorang berpengaruh yang membantunya.
"Alfonso."
Ellard mengetahuinya dari Alex, bodyguard nya. Lelaki yang ikut Ellard paling lama itu pernah menjadi anak buah Alfonso. Dan Alex selalu bisa membaca pergerakannya meski tidak menjadi anak buahnya lagi.
"Apa? Mafia itu?"
Adam tidak mempercayai pendengarannya sendiri. Alfonso adalah Mafia sadis yang berkebangsaan Spanyol. Besar di Italia dan memiliki jaringan narkoba terbesar di Amerika dan Eropa.
"Kau terlalu menganggap enteng adikmu, Dam. Dia bahkan sekarang sudah masuk daftar pencarian orang karena di duga ia menjadi kurir narkoba internasional."
"Tidak mungkin, Pa. Kylie gadis manja yang tidak mengenal sindikat-sindikat seperti itu," tolak Adam. Lelaki itu jatuh terduduk di kursinya.
Ellard mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah pesan dari seseorang yang bernama Chief Robert. Lelaki paruh baya itu menyodorkan ponselnya ke depan Adam.
Dan disana Adam tertegun tidak percaya. Nama Kylie Walton berjajar dengan nama para kurir milik Alfonso dan masuk daftar pencarian orang di Kanada dan Eropa.
"Hasss ... Gadis brengsek!
.......
😍