La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 143



"Baiklah, aku menyukainya!"


Deg!


Saat ini, Evelyn berada di belakang keduanya. Gadis itu terpaksa keluar kembali dari kamarnya karena kehausan. Ia mendadak berhenti ketika mendengar pengakuan Aglen karena telinganya juga menangkap namanya disebut.


Selama ini, Evelyn memang memiliki hati untuk sang bos. Lelaki yang ketus dan terkesan terus mencari gara-gara dengannya di kantor.


Entah mengapa sejak kepemimpinan Luna diganti oleh sang kakak, selalu saja ada yang salah dengan pekerjaan Evelyn. Padahal sebelumnya Luna tidak pernah mengeluh meski Evelyn tergolong karyawan baru.


Namun dibalik itu, ada rasa kagum yang luar biasa dari gadis itu pada sosok Aglen.


"Emmm ... Ma-af saya lupa belum minum tadi."


Evelyn yang canggung mengulurkan tangannya untuk menunjuk pada gelas yang masih penuh, karena memang belum di sentuh sama sekali oleh gadis itu.


Sedangkan kedua orang kakak adik itu menatapnya dengan kaget ketika orang yang mereka bicarakan tiba- tiba muncul dan berjalan begitu saja melewati mereka.


Gadis itu segera mengambil gelas miliknya dan menghabiskan isinya hingga tandas.


"Sa ... Sa-ya tidak mendengar apapun tadi. Sung-guh saya hanya ingin minum, Sir," ucap Evelyn ketika melewati kembali keduanya untuk kembali ke kamarnya.


Evelyn mendadak gugup setelah mengetahui perasaan Aglen padanya.


Kedua kakak adik itu terus menatap gerak- gerik Evelyn hingga gadis itu menghilang dari penglihatan mereka.


"Ini semua gara-gara kamu!" Aglen mendesis dan memijat pelipisnya yang di basahi keringat.


"Seharusnya Kakak berterima kasih padaku. Sekarang dia sudah mengetahui perasaan Kakak. Tinggal mengambil langkah selanjutnya," ucap Luna yang mendadak seperti bisikan di kalimat terakhirnya.


Tentu saja Luna hanya menenangkan Aglen. Berikutnya Aglen lah yang harus menghadapi Evelyn sendirian. Semuanya pasti tidak akan sama lagi setelah perasaannya terungkap.


Sungguh Aglen seperti dihadapkan pada mertua galak saja. Padahal ia hanya ketahuan menyimpan perasaan pada sekretaris barunya itu.


"Aku belum siap, Luna!" pekik Aglen lirih. Lelaki itu menumpukan kedua lengannya pada meja di depannya.


"Apa yang kakak tunggu? Evelyn akhirnya menikah dengan orang lain dan kakak akan membiarkannya?" hardik Luna yang tidak ingin kakaknya mundur atau jalan ditempat lagi. Karena menurut wanita itu, apa yang Aglen lakukan saat ini adalah sebuah langkah besar dalam kehidupan percintaan kakaknya itu.


"Ssstttt ... No! Kau membuatku pusing saja." Lelaki itu memutar tubuhnya. Ia menyandarkan bokongnya di meja kini. Tangannya menyilang di dada dengan napas kembang kempis seperti tengah menghadapi masalah yang rumit. Bahkan ini lebih rumit daripada menghadapi masalah paling rumit di perusahaannya.


"Ayolah, Kak. Aku lihat Evelyn juga menyukaimu. Dia gadis yang cantik dan baik. Apalagi kriteria yang kau cari?" tanya Luna memperkuat posisi Evelyn. Bahwa menyukainya bukanlah hal yang salah dan harus segera direalisasikan.


Luna berdiri kemudian melangkah mendekati sang kakak. Ia melakukan hal yang sama dengan Aglen. Bersandar pada meja sejajajar dengan lelaki itu.


"Hei!" Luna menyenggol lengan sang kakak dengan lengannya. "Jangan terlalu lama memikirkannya. Biar Elea segera memiliki teman bermain, Kak," bujuk Luna.


"Kenapa bukan kamu saja yang menikah lagi? Kalau memang kamu menginginkan adik untuk El."


"Aku masih istri Adam, Kak." Suara Luna terdengar lirih. Rasanya sesak, padahal hanya mengatakannya saja.


"Aku tidak setuju kau kembali dengannya! Lekaslah urus perpisahan kalian dan menikahlah dengan Bhara atau_"


"Kami hanya teman. Kakak jahat sekali mendoakanku menjadi janda." Luna tidak mengiba untuk tidak dipisahkan dengan Adam. Tapi menjadi janda rasanya sangat berat.


"Aku tidak ingin hubunganmu dengan Adam lebih lama lagi. Apa yang kau harapkan dari lelaki itu? Jangan-jangan kau masih mengasihinya," ketus Aglen pada adiknya.


"Tidak, Kak. Aku ... Aku hanya belum siap menyandang status itu."


"Janda tidak melulu tentang sesuatu hal yang buruk, Luna. Kau harus memutuskan masa depanmu sendiri. Jangan goyah hanya karena rasa kasihan. Apalagi dia juga menyakiti Elea, padahal itu anaknya sendiri bukan? Aku tidak habis pikir apa yang ada di otak lelaki itu."


"Itu...." Luna tidak bisa meneruskannya. Tidak mungkin ia menceritakan jika Elea bukanlah anak Adam. "Kenapa jadi membahas tentang aku? Aku ingin kakak menentukan masa depan kakak, jangan selalu memikirkan aku."


Luna mengembalikan pembahasan pada topik awalnya. Ia tidak ingin obrolan ini berlarut-larut pada masalahnya.


Aglen mengangkat tangannya, dan tiba-tiba lengan itu mendarat di bahu Luna.


Panggilan adikku dari Aglen sangatlah dalam artinya untuk Luna. Karena sebutan itu hanya muncul di saat-saat tertentu saja.


"Jangan membuatku menangis! Kita sudah berdamai sejak lama, kenapa mengatakannya lagi?"


Luna memutar tubuhnya membelakangi sang kakak. Padahal ia hanya ingin menghapus air matanya yang tiba-tiba saja meluncur deras. Juga tentu hatinya yang mendadak tidak baik-baik saja.


"Aku hanya mengingatkanmu,mungkin saja kau lupa. Kau punya aku selain papa untuk bercerita. Untuk mengadukan tentang kesedihanmu. Jangan semuanya kau pendam sendiri, Luna."


Aglen dengan lugasnya mengucapkan pesannya sebagai seorang kakak. Lelaki itu tidak tahu jika apa yang dilakukannya membuat sang adik bermandi air mata.


"Sudah! Aku tidak ada masalah apa-apa. Kakak dan papa juga mengetahuinya tanpa aku cerita." Luna dengan cepat menyeka kembali air matanya serta menepuk-nepuk pipinya untuk menetralkan diri. Wanita itu segera kembali ke posisi semula.


"Apa kau pernah mencintai seseorang tapi tidak pernah mengungkapkannya?" tanya Aglen tiba-tiba.


"Maksud kakak? Jangan berbicara yang aneh-aneh. Selama hidupku menjadi adikmu, aku hanya mengenal lima lelaki yang menyayangiku."


"Lima? Banyak sekali? Siapa saja mereka?"


"Papa, paman Will, kakak, Stefan dan Bhara." Luna mengucap dengan cepat saat ia menyebut nama stefan. Meski begitu, Aglen sangat-sangat menyadarinya.


"Syukurlah tidak ada nama suamimu disana," sindir Aglen yang membuat bibir Luna mengerucut.


"Mungkin dia hanya ditakdirkan sekejap dalam kehidupanku, Kak. Agar aku lebih dewasa," jawab Luna bijak.


"Dan memahami arti sebuah cinta sebenarnya," tegas Aglen. "Mengapa Stefan di depan Bhara?"


"Tentu saja karena ... Karena kita keluarga, Kak," jawab Luna yang sempat berpikir sejenak sebelum mengucapkannya.


"Dan kenapa Bhara ada diantara kami? Menyayangi yang bukan keluarga itu berarti mencintai lawan jenis. Apa kau memiliki perasaan spesial padanya? Hingga membuatnya sejajar dengan kami?" tanya Aglen menelisik.


"Tidak, Kak. Pertanyaan macam apa itu? slSama sekali tidak!" Luna hanya terus menggeleng tanpa bisa memberikan alasannya.


"Dengar baik-baik, adikku. Aku hanya akan menikah jika sudah ada orang yang bisa kupercaya untuk benar-benar menjagamu dengan nyawanya. Itu keputusan mutlak!" tegas Aglen pada adiknya.


"Tidak boleh begitu, Kak. Itu ... Mungkin akan lama. Selepas dari Adam ... Mungkin aku akan sendiri saja, Kak. Rasanya aku sudah tidak bisa memulai sebuah hubungan kembali. Biarkan aku membesarkan Elea saja." Luna menunduk. Hanya alasan itu satu-satunya yang melintas di otaknya.


Namun semua itu memang benar. Sekalipun Bhara mulai memberi kode jika lelaki itu menyukai Luna. Namun rupanya hal itu tidak sedikitpun menyentuh perasaannya.


Rasa-rasanya, Luna hanya bisa bersikap baik saja pada lelaki yang membantunya itu.


"Itu berarti aku tidak akan pernah menikah."


"Kakak bicara apa! Mana boleh seperti itu. Kakak tetap harus menikah. Aku tidak ingin kakak seperti itu." Luna berdiri dan tangannya menarik kerah sang kakak dengan mata berkaca. Isakannya terdengar begitu memilukan di telinga Aglen.


"Kau ini kenapa menangis? Aku hanya mengatakan tentang tanggung jawabku. Dan itu adalah hakku, Luna."


Suara tangis Luna semakin kencang. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya dipelukan sang kakak.


Menangislah.


Keluarkan semua kesedihanmu. Aku merasa kau menyimpan sesuatu yang tidak bisa kau ungkapkan. Semoga dengan menangis bisa mengurangi sedikit bebanmu.


"Boleh aku bertanya sesuatu, kak?" tanya Luna disela isak tangisnya.


"Katakan."


"Apa benar ... Stefan pernah dijodohkan dengan seseorang?"


"Kenapa kau bertanya tentang itu?" jawab Aglen yang merasa penasaran dengan pertanyaan Luna.


"Hanya ingin tahu," jawab singkat Luna.


"Memastikan?"