La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 74



"Angeline orang yang labil. Ia bisa sangat mengacaukan tapi juga sangat menguntungkan, karena ia sering bertindak sesuka hatinya," terang Pauline mengkhawatirkan.


"Lalu? Kau berjanji padaku kita akan tetap aman saat bekerjasama dengannya, Pau!"


Adam bereaksi keras. Meski akhirnya semua terkuak, ia tidak ingin satu hal itu diketahui Luna. Karena ia pasti sudah habis oleh ayah mertuanya.


"Awalnya juga begitu. Tapi siapa yang bisa menjamin. Jika ia merasa terancam, mungkin saja ia menyeret kita." ucap pauline. namun wanita itu terlihat tenang tidak seperti Adam yang gusar.


"Sial! Semuanya semakin buruk sekarang!" Adam menghantamkan kepalan tangannya ke dinding.


\=\=\=\=\=\=≠\=\=≠\=\=\=\=\=\=


"selamat pagi, Bu."


Nina langsung berdiri karena kaget. Namun gadis itu langsung tersenyum melihat Luna.


"Panggilkan direktur keuangan, Nin. Langsung suruh masuk ke ruangan saya," titah Luna.


"Iya, Bu. Nina mengangguk kemudian setelah Luna masuk ruangan adam. Gadis itu melenggang pergi menuju ruangan direktur keuangan.


"Pak, anda di_"


"Bu Luna sudah datang. Pemuda yang baru beberapa bulan menjabat direktur keuangan itu langsung membenarkan letak dasinya. Kemudian ia berdiri dan mengenakan jasnya. Didepannya ada macbook dan beberapa berkas yang sudah rapi.


"Bagaimana Bapak tahu?"


"Saya akan segera kesana," ucap pemuda itu tidak menanggapi pertanyaan ina yang penasaran.


Sang direktur sudah tidak hadir beberapa hari ini. Sedangkan komisaris, Ellard juga mengajukan cuti mendadak. Sesekali datang seorang wanita yang dikenalkan oleh Aglen sebagai temannya dan akan menggantikan tugas mengawasi jalannya operasional perusahaan. dan hari ini tiba-tiba saja Luna datang. Semua serba aneh.


"Kembali ke tempatmu Nin. Saya akan segera kesana." Pemuda yang menjabat direktur keuangan itu mengulangi perintahnya.


"I-iya, Pak."


Nina terhenyak. Kemudian gadis itu buru-buru pergi.


Sementara itu, Luna merasa asing begitu memasuki ruangan Adam. Ya, tentu saja ruangan ini sudah berubah seratus delapan puluh derajat dari saat ia tinggalkan lima tahun yang lalu.


Dari mulai warna dinding hingga hiasan yang menempel, serta beberapa furniture yang ada didalamnya. Yang dulunya lebih ke klasik sekarang lebih ke modern. Ya, selera Luna dan Adam memng berbanding cukup jauh.


Luna duduk kemudian melirik pigura yang terdapat satu foto disana. Foto pernikahan mereka. Dan detik itu juga dada Luna memanas hingga sesak. Luna baru menyadari, Adam tidak pernah menganggap Elea ada.


Jika ini bukan suatu kebetulan semata. Karena lelaki itu tidak begitu perduli atau apa. Mengapa sampai bertahun-tahun foto itu tidak diganti? Padahal mereka sudah bertiga kini. Dan seingatnya, ia pernah memintanya pada Adam, dan lelaki itu mengatakan jika ia sudah menggantinya.


Tok ... Tok..


"Selamat pagi, Bu."


"Masuk!"


Pemuda itu masuk kedalam ruangan Luna dan ia mengambil duduk begitu Luna mempersilahkan.


"Kemarin kau yang menghubungiku?" Luna mengembalikan pigura yang ia pegang ke tempatnya.


"Benar, Bu. Saya juga membawa laporan yang Ibu minta." Pemuda itu nampak membawa macbook dan beberapa berkas ditangannya.


"Direktur keuangan yang baru?" Luna melirik pemuda di depannya itu.


"Iya, Bu. Perkenalkan saya Jonas." Lelaki itu berdiri kembali dan mengulurkan tangannya. Namun Luna hanya membalas dengan mengangguk.


"Saya sudah tahu. Duduklah kembali," ucap Luna yang membuat Jonas malu dan pemuda itu kembali duduk.


"Berapa jumlah uang yang dibawa kabur oleh Kylie?" tanya Luna langsung pada permasalahan.


"Seratus juta dolar, Bu. Pak Adam juga sudah menaikkan gajinya sendiri cukup lama, sebelum saya menggantikan direktur keuangan yang lama. Dan...."


Pemuda itu nampak membalik-balik berkas. Kemudian membuka macbook nya seperti mencocokkan sesuatu.


"Kita mengalami kerugian cukup besar karena barang kita yang ekspor beberapa negara Eropa ... Hampir semuanya rusak sebelum sampai tujuan, Bu."


"Apa?" Luna terbelalak. "Ekspor ke negara mana dan kapan itu?" tanya Luna cepat.


Dalam sejarah ia memimpin perusahaan ini sendiri, ia tidak pernah mengalami hal seperti ini.


"Turki, Jerman, Italia, Perancis dan Spanyol. Semuanya rusak saat sampai di kantor cabang pemeriksa kita yang ada di Turki, Bu. Dan keputusan pak Adam, semuanya harus diproduksi ulang. Beberapa bahan dipilih kualitas dibawahnya demi menghemat biaya operasional."


Jonas memperlihatkan biaya pengeluaran untuk pembelian bahan baku dan produksi ulang yang cukup besar. Hanya selisih sedikit dari biaya yang dikeluarkan pertama kalinya.


"Keputusan macam apa itu! Lalu barang-barang kita yang rusak dikemanakan?" Luna gusar, firasatnya sudah tidak baik.


Baru kali ini terjadi barang eksport rusak sebelum sampai di tangan importir. Tapi Luna masih merasa beruntung. Bayangkan jika barang yang dieksportnya terlanjur dilempar ke pasaran dan sampai ditangan konsumen. Pasti akan menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi. Belum lagi suara konsumen yang akan semakin memperburuk citra perusahaannya.


"Saya kurang tahu untuk itu, Bu. Kemungkinan masih ada di Turki atau sudah dimusnahkan." Pemuda itu dengan lancar menjawab. Sangat nampak jika ia model orang yang masih jujur memegang amanah pekerjaannya.


"Hubungi kantor Turki dan minta sedikit contoh barang kita yang rusak. Kita perlu menyelidikinya."


titah Luna.


"Baik, Bu."


"Kau boleh pergi," ucap Luna setelahnya.


Pemuda itu segera berdiri dan mengangguk hormat sebelum meninggalkan Luna.


"Sebentar, Jonas tunggu." panggil Luna yang kemudian bangkit dari kurainya menghampiri direktur keuangannya itu.


"Urus perpindahan ibu mertuaku dari Rusia ke sini. Disana ia dirawat di ICU. Tolong cari rumah sakit dengan fasilitas ICU paling lengkap untuk menjemputnya," titah Luna lirih.


"Baik, Bu."


Jonas masih tidak habis pikir. Dibalik sikap Luna yang tegas ia masih memiliki hati pada mertuanya. Padahal sudah jelas Adam dan Kylie sudah sangat merugikan perusahaannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Beberapa hari kemudian, pagi-pagi benar Luna sudah siap di meja makan. Hari ini adalah sidang keempatnya melawan Angeline Peterson.


Ia bersemangat karena ingin menjebloskan nona kaya itu ke penjara atas perbuatan buruknya ke Elea.


Luna masih sabar saat mengetahui motif sebenarnya Angeline membuat masalah dengannya. Yaitu tidak lain karena kekecewaannya pada Stefan yang menolaknya. Tapi dengan mengikutkan Elea pada permasalahan ini, menyulut kemarahan wanita itu.


"Semangat, Nyonya!" Bibi Jen tersenyum lucu dengan gayanya menyemangi seperti anak muda.


"Terima kasih, Bi. Aku ingin semuanya cepat selesai. Dan hidup normal kembali," ucap Luna lirih dan di amini oleh Bibi Jen.


"Nyonya pasti bisa. Tuan Stefan seperti sudah mengatur semuanya sebelum pergi." Wanita paruh baya itu berbisik disebelah Luna kemudian memberikan sebuah sapu tangan.


"Ini?"


"Saya sudah mencucinya. Semoga benda itu membawa semangat dan hal baik pada apapun yang Nyonya lakukan hari ini."


Doa tulus bibi Jen membuat Luna tersenyum. Ia jadi mengingat mama Keiko yang lama sekali tidak bersua.


Terakhir menghubunginya, saat Luna memutuskan ke Kanada bersama sang ayah. Mama Keiko melarang Luna berinteraksi dengannya lagi, karena Luna bercerita tentang apa yang terjadi dengannya.


Padahal Luna sudah mengatakan ini bukan kesalahan wanita seksi itu. Tapi Keiko bersikeras, bahwa apa yang terjadi pada Luna merupakan kesalahannya karena membesarkan wanita itu di rumah bordilnya hingga orang-orang yang mengetahuinya memandang Luna buruk.


Entah bagaimana keadaan sahabat sang Mama itu. Luna merindukannya.


Benda yang diberikan Bibi Jen adalah sapu tangan Stefan. Ya, itu adalah sapu tangan yang sangat kotor waktu itu. Luna memberikan pada bibi Jen kemarin saat ia membersihkan tasnya selepas sidang pertamanya.


"Terima kasih, Bi. Untuk semuanya." Luna berdiri kemudian memeluk bibi Jen selepas memasukkan kain persegi itu kedalam tasnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Persidangan hari ini berlangsung cukup pagi. Jam 9 tepat semua sudah di mulai.


Dalam beberapa persidangan sebelumnya, status Luna berubah dari tersangka menjadi saksi. Apalagi pihaknya memiliki bukti bahwa ada seseorang yang sengaja meletakkan kalung berlian milik Angeline ke dalam laci di ruangannya.


Dengan begitu, semua itu menjelaskan jika kalung itu hilang bukan karena kesalahan dari pihak jasa penitipan milik Luna. Namun ada seseorang yang sengaja menyabotase atau mereka-reka kejadian palsu untuk menyalahkan perusahaan Luna.


Dalam persidangan kali ini, hadir Ronald Peterson, pengusaha sukses yang merupakan ayah dari Angeline. Ia datang seorang diri. Juga Aglen yang kembali ke Kanada lebih dulu karena diminta oleh sang ayah menemani Luna dipersidangan terakhirnya.


Begitu bukti itu dikeluarkan dari pihak Luna. alAngeline terperangah kaget. Ia tidak menyangka jika kaki tangannya melakukan kecerobohan dengan tidak memeriksa CCTV perusahaan Luna. Tanpa Angeline tahu jika Stefan memasang CCTV baru untuk menangkap pelaku suruhan itu.


Andrew juga menghadirkan bukti penculikan Luna berupa video. Meski tidak begitu jelas, namun diperkuat oleh saksi ahli bahwa suara yang terdengar dalam video tanpa gambar itu dikenali sebagai suara Angeline Peterson. Hingga akhirnya kasus penculikan ini juga menjadikan Angeline tersangka utamanya.


Sepanjang sidang, sang ayah Ronald Peterson nampak beberapa kali menghela napas panjangnya. Lelakali paruh baya itu sama sekali tidak mengeluarkan suaranya. Ia hanya menatap pilu pewaris sekaligus anak sulungnya itu dengan nanar.


Banyak sekali kesalahan yang dilimpahkan pada anak gadisnya itu. Ronald merasa bersalah karena dialah yang menjodohkan Angeline dan Stefan. Tanpa mengetahui sifat dari lelaki pilihannya itu. Yang pada akhirnya malah membuat anak gadisnya terluka dan dendam.


Dan yang paling mengejutkan adalah munculnya tersangka baru yang merupakan kaki tangan Angeline di perusahaan Luna.


Siapakah dia?


😍 semangat!!!!