La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 80



"Dok, jemari istri saya bergerak-gerak," teriak Sebastian.


Dokter datang setelah lelaki tua itu menekan nursing call yang ada di atas ranjang sang istri.


Lelaki berpakaian warna biru laut itu tiba dengan dua orang perawat dan segera melakukan pemeriksaan.


"Bagaimana Dok? Istri saya ada perkembangan, bukan?" tanya Sebastian pada dokter yang ia panggil untuk memeriksa Lilyana.


Beberapa menit yang lalu saat Sebastian menemani sang istri di dalam. Tiba-tiba saja jemari Lilyana bergerak, namun hanya sebentar.


Sebastian yang kaget dan begitu senang seketika menekan tombol darurat yang ada didekatnya.


"Masih sama, Tuan. Kemungkinan hanya reaksi kejut sementara. Sabar, ya." Dokter yang menangani Lilyana menepuk pelan punggung lelaki tua itu.


"Tidak mungkin, Dok. Saya melihat sendiri istri saya menggerakkan jemarinya."


Sebastian tidak terima dengan ucapan dokter yang baru saja keluar bersamanya dari ruang ICU tempat Lilyana dirawat.


"Saya sudah periksa semuanya, Tuan. Dan tidak ada perkembangan yang berarti. Nyonya Lilyana masih tetap pada kondisinya." Dokter sehati-hati mungkin mengatakannya. Sebisa mungkin tidak membuat sakit hati lelaki didepannya itu.


"Bisakah diulangi sekali lagi Dokter?" pinta Sebastian dengan penuh harap.


"Maaf, Tuan. Saya sudah memeriksanya sesuai prosedur di rumah sakit ini." Kembali dokter mengusap pelan punggung Sebastian sebelum pergi, untuk menenangkan.


Selepas dokter berlalu, Sebastian terduduk dikursi tunggu pasien yang ada di depan kamar ICU sang istri. Ia pikir tadi benar-benar sebuah keajaiban, namun rupanya ia harus kecewa.


Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki terburu menuju lorong dimana Sebastian duduk.


Setelahnya terlihat seorang wanita berjalan menuju kamar Lilyana. Ia mengenakan pakaian perawat dengan masker yang menutup sebagian wajahnya.


Wanita itu tidak menghampiri Sebastian lebih dulu. Membuat lelaki tua itu berdiri mengikuti.


"Suster, Anda ingin memeriksa istri saya lagi?" tanya Sebastian pada wanita berpakaian perawat yang sempat mengangguk menjawab pertanyaannya itu.


Lelaki tua itu bernapas lega, akhirnya dokter menyuruh perawat memeriksa ulang Lilyana untuknya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Nyonya. Tadi menjelang meeting, ada telepon dari Lembaga Pemasyarakatan. Petugas ditempat itu mengabarkan jika Nona Angeline Peterson ingin bertemu anda."


Nina yang menjemput Luna begitu turun dari mobilnya, segera menyampaikan berita yang dianggapnya penting itu.


Akhir-akhir ini, Luna memang sering di perusahaan ini karena masalah yang menimpa perusahaan yang ia dirikan bersama sang ayah itu.


Apalagi Adam pergi begitu saja, tanpa melimpahkan tugasnya pada siapapun. Dan sang ayah mengurus perusahaan barunya yang lelaki paruh baya itu dirikan bersama Stefan.


"Lembaga Pemasyarakatan?"


"Iya, Bu. Langsung dari petugas disana," ucap Nina memperjelas apa yang disampaikannya.


"Terima kasih, Nin," ucap Luna sambil masuk ke ruangannya.


"Dengan senang hati, Bu." Nina mengangguk pada wanita pemilik perusahaan itu.


\=\=\=\=≠\=\=\=\=


"Jadi, bagaimana Tuan Andrew? Menurut anda, apa saya harus menemui gadis itu?"


Selepas mendapat berita dari Nina, begitu sampai di ruangannya, Luna segera menghubungi pengacaranya. Ia ingin meminta nasihat tentang apa yang seharusnya ia lakukan.


"Entah apa yang akan disampaikan nona kaya itu, tapi menurut saya lebih baik anda datang. Tentunya ... Jika hati anda sudah lebih baik, Nyonya. Tapi kembali lagi, jangan memaksakan diri."


Andrew terdengar sangat hati-hati menyampaikan pendapatnya. Karena ia takut Luna masih trauma atas perbuatan gadis itu. Apalagi ini terjadi belum lama.


"Iya benar ... Jujur saya masih sangsi dengan diri saya sendiri. Tapi seorang Angeline ingin bertemu denganku, itu pasti bukan hal yang sepele," tebak Luna. Wanita itu mengesah pelan.


"Saya sepemikiran dengan anda. Jadi keputusannya ada ditangan anda sendiri. Jika anda butuh saya temani, hubungi saja. Saya siap mengantar anda kesana," ucap Andrew sebelum Luna memutuskan panggilannya.


Luna gamang sendiri. Namun ia bukan sosok yang lemah. Angeline sudah tidak memiliki kekuatan apapun, karena sang ayah memutuskan segala hal yang menjadi haknya selama ia di penjara.


Itulah yang Ronald sampaikan pada Luna melalui video yang dikirimkan pengusaha kaya itu melalui pengawalnya. Karena Luna tidak juga menghubunginya atas undangan yang sempat diberikan oleh Ronald kemarin.


Beruntungnya Angeline memiliki seorang ayah yang bijak, meski saat ini gadis itu menerima akibat dari perbuatannya di penjara.


Tiba-tiba terdengar suara pesan masuk di ponsel yang masih Luna pegang.


Pesan dari Elea, yang meminta waktu libur wanita itu di hari sabtu untuk menemani gadis kecilnya makan es krim. Sebuah kebiasaan yang Elea lakukan dengan Stefan selama kebersamaan mereka selama ini.


"Nin, kosongkan jadwalku hari sabtu. Dan padatkan saja di hari lain. Aku ingin libur dua hari," pinta Luna melalui interkom.


"Siap, Nyonya! Anda tidak usah khawatir, diam-diam Tuan Ellard ataupun Tuan Aglen selalu kesini tiap Nyonya tidak ada" ucap Nina memberitahu.


"Kakak? Tumben sekali," seloroh Luna tanpa sadar.


"Beliau tidak secuek pembawaannya. Malah sangat care dengan perusahaan." Nina terdengar seperti tersenyum saat mengatakannya


"Baiklah. Mereka memang lelaki andalan keluargaku," ucap Luna yang diam-diam mengucap syukur telah dihadirkan dalam keluarga Efrain.


Jika Ellard sang ayah, lelaki itu memang selalu diam-diam membantunya. Namun Aglen? Itu hal yang sangat luar biasa bagi Luna.


Mengingat Aglen, Luna jadi ingat apa yang dikatakan kakaknya itu. Semua hal yang dilakukan Adam tanpa sepengetahuannya.


Rasanya seperti mimpi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Pa, Luna hari ini absen, ya."


Pamit Luna pada sang ayah yang sedang menyendok sarapan paginya. Ellard sampai menghentikan suapannya mendengar ucapan sang anak.


"Mau kemana?" tanya Ellard heran.


Tidak biasanya sang anak meninggalkan pekerjaannya jika tidak ada hal yang penting. Namun biasanya wanita itu memberitahu lebih dulu sebelumnya. Bukan izin mendadak seperti hari ini.


Luna menarik napasnya pelan. Wanita itu mengambil duduk di tempat biasanya, disamping kiri sang ayah.


"Angeline ingin bertemu aku, Pa. Katanya ada sesuatu yang ingin disampaika."


Luna membalik piringnya, kemudian mengambil sarapan paginya.


"Gadis itu!?" tanya Ellard meyakinkan dirinya atas keputusan anak perempuannya itu. Dan Luna memperjelas nya dengan mengangguk.


"Untuk apa, Sayang? Semua yang berhubungan dengannya bukan hal yang baik. Biarkan saja dia disana menanggung perbuatannya. Jangan lagi iba padanya."


Ellard memgingatkan anak perempuannya atas apa yang diperbuat oleh nona kaya itu pada keluarga mereka. Gadis itu penuh manipulatif. Ellard takut Luna terpengaruh hingga menjadi iba. Karena bagaimanapun, tidak ada yang bisa tahu dalamnya hati seseorang bukan?


"Tenang saja, Pa. Aku tidak seperti itu. Dan ia sudah mendapatkan balasan yang setimpal. Luna hanya penasaran apa yang ingin dikatakannya."


Wanita itu mengurai alasannya sendiri. Membuat sang ayah tidak ada pilihan lain selain mengizinkannya.


"Siapa yang menemanimu?" tanya Ellard gusar. Ia khawatir dengan keselamatan Luna.


"Tidak ada, Pa. Tuan Andrew sempat menawari, tapi aku menolaknya."


"Kenapa tidak kau terima saja?Atau kau mau kakakmu yang menemanimu?" tanya Ellard yang lebih pada sebuah ancaman daripada tawaran. Karena lelaki itu tahu jika kedua anaknya tidak akur.


"Tidak, Pa! Uhuk... Uhuk...." Luna segera mengambil segelas air minum di dekatnya, untuk menetralisir batuknya.


"Pelan-pelan," lerai Ellard. "Bukankah dia banyak berubah akhir-akhir ini?"


Ellard berucap sangat lirih karena Aglen menginap di rumah ini semalam. Meski anak lelakinya itu belum kelihatan batang hidungnya pagi ini.


"Ya, tapi... Belum sepenuhnya, Pa."


Luna mengungkap keengganannya ditemani sang kakak. Karena waktu kemarin menemani ke rumah sakit saja lelaki itu banyak mengeluh.


"Paling tidak, dia sudah mencoba menjadi kakak yang baik, Lun."


"Papa bicara apa?"


😍🧡🧡🧡