
"Kei!" teriak Adam begitu melihat sosok sang adik tengah berbicara dengan seseorang yang menutup wajahnya menggunakan masker.
Alih-alih menjawab panggilan sang kakak. Kylie terlihat ketakutan begitu menyadari jika Adam berhasil menemukannya.
Selepas lelaki yang berbicara dengan Kylie itu menyerahkan sesuatu yang entah apa, lelaki itu langsung pergi begitu saja. Dan Kylie memilih berjalan menjauh dari sang kakak.
"Kei, tunggu!" teriak Adam kembali.
Meski suasana di bandara cukup padat, namun teriakan Adam berhasil membuat beberapa calon penumpang yang ada disana melihat kearah mereka.
Kylie kemudian berlari sekuat tenaga. Ia hampir sampai pada petugas pemeriksa terakhir.
"Kylie! Kembali!"
"Maaf, saya tidak mengenalnya," ucap Kylie pada petugas di depannya. Sebisa mungkin ia segera lolos dari pemeriksaan itu dan segera pergi.
Tiba-tiba nampak ada beberapa polisi yang menghentikan Adam.
"Maaf, Sir. Anda berkendara diatas batas kecepatan maximal rata-rata. Dan itu bisa membahayakan pengendara lain. Apalagi Anda kabur saat kami mengejar. Bisa saya melihat surat-surat anda?"
"Saya tidak membawanya, Pak. Semuanya ada di mobil. Saya terburu-buru tadi. Saya hanya wisatawan disini, dan sedang ada perlu dengan adik saya. Tolong kebijaksanaan Anda untuk saya," mohon Adam.
"Anda harus ikut kami ke kantor, beserta dengan mobil anda tentunya," ucap salah satu dari dua orang polisi itu.
"Kylie! Pulanglah!"
Adam kembali memanggil sang adik. Berharap gadis itu memiliki sedikit saja hati untuk menyelesaikan urusannya.
"Saya tidak kenal kamu." Kylie tetap pada pendiriannya. Gadis itu bahkan hanya menoleh sebentar untuk menjawab sang kakak. Selebihnya, ia fokus pada antrian di depannya untuk mengikuti pemeriksaan terakhir.
"Anda harus tetap ikut kami, Sir. Urusan dengan adik anda silahkan dilanjutkan setelah anda selesai dengan kami," ucap polisi itu.
"Tidak bisa, Pak. Urusan saya dengan adik saya jauh lebih penting. Saya janji akan ke kantor polisi setelah selesai dengan adik. saya," tawar Adam.
"Kylie, selesaikan urusanmu denganku!"
Kylie masih mematung tanpa berniat memutar tubuhnya sama sekali.
"Pak, Anda sudah membuat keributan disini. Anda tenang dan akan saya biarkan tetap disini, atau jika memaksa, silahkan keluar dari tempat ini."
Seorang satpam juga ikut menghampiri, karena melihat keributan diantara mereka.
Tiba-tiba saja, Adam mencoba kabur. Lelaki itu berlari menuju tempat Kylie berdiri. Dan dua orang polisi yang menyadari perbuatan Adam, segera mengejar.
Aksi kejar-kejaran terjadi. Membuat riuh beberapa calon penumpang lain yang juga sedang menunggu keberangkatan disana.
"Sir, berhenti!" perintah polisi itu. Namun Adam tidak menggubrisnya.
Tepat pada saat tangan Adam hendak menarik lengan Kylie, kedua polisi itu lebih dulu menangkapnya. Hingga kedua bahu adam kini dicekal oleh polisi itu.
"Lepaskan saya, Pak!" teriak Adam membela diri. Lelaki itu melawan, namun percuma karena ia kalah tenaga dengan kedua lelaki berseragam itu.
Sementara Kylie, gadis itu sempat terbelalak kaget melihat aksi sang kakak. Namun selanjutnya ia bernapas lega saat melihat Adam ditangkap.
"Kei! Mama ada di rumah sakit," ucap Adam pada akhirnya. Lelaki itu berharap Kylie kembali setelah mendengar berita tentang sang ibu.
Kylie hendak melangkah pergi saat mendengarnya. ia sudah berhasil melewati pemeriksaan terakhir. Dan ucapan Adam berhasil meruntuhkan pertahanan dirinya, yang sedari awal mencoba untuk tidak perduli dengan kakaknya itu.
Gadis itu menepi, membiarkan yang lain lewat lebih dulu. Hatinya bimbang antara memilih kembali atau tetap pergi dan tidak memperdulikan sang ibu.
Tapi selama ini, hanya sang ibulah yang selalu memanjakannya. Bahkan disaat keuangan keluarga memburuk sekalipun, segala hal yang diinginkan Kylie tetap bisa tersedia.
Akhirnya Kylie melangkah kembali, namun ia hanya melihat punggung Adam yang beranjak pergi bersama dua orang polisi yang bersamanya.
Entah apa masalah yang dibuat oleh sang kakak, hingga ada dua lelaki berseragam itu menangkapnya.
Lalu bagaimana dengan sang ibu? Siapa yang akan mengurusnya?
Ponsel Kylie bergetar. Menampilkan nomor kontak seseorang yang selama ini membantunya kabur dari negara satu ke negara lainnya.
"Iya...." suara Kylie bergetsr menjawabnya.
"Kenapa kau masih berdiri disana? Kau ingin kembali?" tanya seseorang dari seberang.
Sebelum menjawab, Kylie sempat menoleh kesana kemari. Bahkan orang yang ia panggil paman itu mengetahui sedang apa ia sekarang. Hebat sekali lelaki itu hingga bisa meretas CCTV bandara.
"Ibuku sakit, Paman." Kylie menunduk, tangannya yang bebas terulur menghapus cairan bening yang mengalir dari sudut matanya.
Klik.
Panggilan diputuskan sepihak. Membuat Kylie semakin dilanda kebimbangan.
Pada akhirnya, setelah beberapa saat ia berpikir, gadis itu memilih tetap berangkat.
Ia takut masalah yang akan ia hadapi jika menemui sang ibu. Lagipula masih ada kakaknya yang tidak akan pernah meninggalkan sang ibu apapun keadaannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Adam pasrah saat dua orang polisi yang mengejarnya itu membawanya. Dia pun juga sudah mengatakan pada Kylie jika sang ibu sakit, namun sang adik nampaknya tidak perduli.
Hati Adam perih. Selama ini, apapun yang diberikan sang ibu padanya selalu tidak lebih dari Kylie. Semua untuk Kylie. Tapi saat sang ibu sakit, gadis manja itu malah tidak perduli. Bahkan sekedar menanyakan keadaan sang ibu saja tidak dilakukannya.
Adam memohon kepada polisi. Agar dirinya diperbolehkan untuk menengok keadaaan sang ibu lebih dahulu, sebelum ia dibawa ke kantor polisi.
Meski ia kesal, namun tidak mengurangi rasa sayang lelaki itu pada orang yang telah melahirkannya.
Beruntungnya Adam. Pelanggaran yang dilakukannya tidak terlalu pelik, ia diizinkan dengan syarat seluruh barang-barang termasuk surat-surat seperti passport menjadi jaminannya. Dan lelaki itu hanya diberi waktu dua jam saja.
Adam segera meluncur ke rumah sakit. Ia mendapatkan alamatnya dari penjaga keamanan yang ia mintai tolong tadi. Hatinya begitu khawatir saat lelaki yang ia mintai tolong itu mengatakan padanya, jika ia harus segera menemui sang ibu. Ada hal penting yang ingin Lilyana bicarakan.
Begitu sampai di rumah sakit, Adam kaget saat diberitahu oleh perawat jika sang ibu berada di ruangan ICU.
Benturan di kepalanya sangat keras saat terjatuh tadi, dan juga penyakit komplikasi yang rupanya tanpa sadar menggerogoti raga sang ibu sebagai pemicunya.
Wanita itu tidak pernah mengeluh sakit selama ini. Namun gaya hidupnya memang jauh dari kata sehat. Arisan sana sini, perkumpulan ibu-ibu sosialita yang selalu berakhir di tempat makan, hampir tidak pernah wanita itu absen.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Lilyana sudah sadar saat Adam tiba di ruangannya.
"Ma...."
Lelaki berambut pirang yang mengenakan pakaian khusus untuk pengunjung ruangan khusus itu melangkah terburu.
"Sa-yang...." sambut Lilyana terbata saat melihat anak lelakinya masuk.
Adam menghampiri sang ibu, kemudian menggenggam tangan rapuh itu. Menciun punggung tangannya, dan menatap dalam wajah sendu dan pucat milik Lilyana. Bahkan sinar wajah wanita paruh baya itu sekan hilang.
"Maafkan Adam, tadi_"
Lilyana mencengkeram dengan erat tangan anak lelakinya itu.
"Ma-ma yang sa-lah, ma-af."
Adam terenyuh melihat keadaan sang ibu. Baru sekali ini ia mendengar kata maaf yang benar-benar tulus untuknya.
Wanita paruh baya itu mengenakan alat bantu pernapasan, juga kabel-kabel yang ditempelkan pada tubuhnya. Semua itu pasti terasa sangat tidak nyamannyaman dan menyakitkan.
Adam mengulurkan tangannya. Jemarinya dengan cepat menghapus bulir air mata yang terus menetes dari sudut mata yang tidak terbuka sempurna itu.
"Kei sudah besar, Ma. Dia harus bertanggung jawab atas hidupnya dan perbuatannya. Atau dia tidak akan pernah dewasa."
Adam mencoba memberi pengertian sang ibu pelan-pelan. Tentu karena kondisinya sekarangsekarang. Adam harus berhati-hati jika menyampaikan segala sesuatu pada orang yang telah melahirkannya itu.
"Ka-li-an ber-temu?" Adam mengangguk.
"Ia berjanji kembali setelah menyelesaikan urusannya." Lelaki berambut pirang itu membuang tatapannya ke lain tempat. Ia terpaksa berbohong karena tidak ingin sang ibu banyak pikiran tentang anak kesayangannya itu.
"Be-nar-kah?" kembali Adam mengangguk. Dan kemudian Lilyana menampakkan senyum leganya. "A-pa Kei ta-hu Ma-ma di-sini?" Tatapan Lilyana semakin meredup.
"Ia tahu. Kei pasti akan datang kesini, Ma. Kei sangat menyayangi Mama, seperti Mama juga sangat menyayanginya selama ini." Adam mempererat genggamannya. Lelaki itu merangsek maju dan menciumi puncak kepala sang ibu.
"Mama janji pada Adam. Mama harus kuat, harus sembuh demi Kei, Adam dan juga Papa."
Helaan napas berat Adam terdengar. Lelaki itu merapatkan pipinya ke kepala sang ibu dari arah samping.
Beberapa lama berbicara sendiri Adam baru sadar jika sang ibu tidak menjawabnya dari tadi. Ia hanya mendengar napas sang ibu lewat dengkuran lirih yang teratur.
"Ma! Mama!"
💜💜💜terimakasih masih setia.. love u