
"Tuan Adam sudah kembali." Alex berbisik pada Ellard.
Lelaki paruh baya itu hanya mengangguk kecil. Kemudian ia menyuruh Alex untuk keluar.
"Nina, masuklah," titah Ellard melalui interkomnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Sir?" Nina masuk setelah mengetuk pintu. Gadis itu mengangguk hormat pada Ellard.
"Apa Adam sudah kembali?" tanya Ellard pada sekretaris menantunya itu.
"Benar, Sir. Baru saja pagi ini."
"Ada urusan apa dia di Turki?" Ellard menginterogasi gadis itu.
"Ada komplain untuk eksport ke beberapa negara di Eropa, Sir. Salah satunya di Turki." Nina berani mengatakannya karena Adam sudah pulang.
"Komplain? Bukan perjalanan kerjasama? Kalian bahkan tidak melaporkannya padaku?" Ellard murka. Untuk hal sepelik itu, apalagi menyangkut nama baik perusahaan, tapi tidak ada yang memberitahu padanya.
"Maaf, Sir. Tuan Adam meminta kami menyimpannya. Beliau mengatakan jika beliau bisa mengatasinya sendiri." Nina yang merasa bersalah hanya menundukkan wajahnya, gadis itu menunjukkan penyesalannya.
"Nina! Kau pernah menjadi sekretarisku ataupun Luna. Kau tahu benar seperti apa aku ataupun Luna. Kami tidak mentolerir kebohongan dalam bentuk apapun di dalam perusahaan ini. Siapapun itu!" ucap Ellard tegas.
Sebagai pemilik awal, meski sekarang kepemilikan sudah di tangan Luna, Ellard menjadi geram dengan menantunya itu. Dia bagaikan orang lain hingga menutupi masalah sebesar ini.
"Maafkan saya, Sir. Sungguh." Nina menangkupkan kedua tangannya. "Saya hanya diminta menyimpan masalah ini sampai Tuan Adam tiba. Karena beliau berpesan jika beliau sudah kembali itu berarti masalah teratasi." Nina nampak berkaca. Ia menyadari keteledorannya sendiri. Lupa bahwa ia bekerja pada Luna bukan Adam.
"Kembali ke mejamu! Kita bicarakan lagi setelah Luna kembali." Ellard marah bukan main. Berkali-kali tangannya yang mengepal menggebrak meja kerjanya.
Rupanya menantu pilihannya itu sudah mulai berani main-main dengannya.
\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=
"Bagaimana?"
"Syukurlah, Stef. Penahanan Ibu Luna bisa ditangguhkan. Dengan syarat beliau dilarang pergi keluar negeri," ucap Andrew, pengacara yang ditunjuk Stefan untuk Luna.
"Terima kasih, And. Kau selalu bisa kuandalkan." Stefan tersenyum lega. Lelaki itu menepuk sahabat lamanya saat kuliah di Amerika dulu.
Andrew melenggang pergi diantar oleh Stefan. Setelahnya lelaki itu menghampiri Luna yang masih menggamit lengan Adam.
"Aku juga berterima kasih padamu, Stef. Untung saja ada kamu. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang terjadi pada Luna," ucap Adam pada sepupu istrinya itu.
"Santai saja." Stefan menepuk lengan Adam. "Baiklah, aku akan pulang lebih dulu. Penyelidikan tetap berlanjut. Ingat apa yang kita sudah bahas, Lun," ucap Stefan melirik wanita cantik disamping Adam itu.
Sebenarnya, sejak pagi ia ingin menyapa wanita itu. Namun Stefan tidak memiliki kesempatan dan juga alasan yang tepat. Sejak Adam datang, mereka seakan tidak terpisahkan.
Luna hanya mengangguk. Wanita itu tidak banyak bicara akibat kelelahan.
Stefan pamit, dan pergi lebih dahulu dengan mobilnya.
"Kita pulang sekarang, Sayang?" ajak Adam pada istrinya.
"Iya, langsung kerumah saja. Atau kita ke rumah Papa, sekalian menjemput El."
"El ada disana?"
"Semuanya. Bibi Ofelia dan juga Paman Alex. Ah, aku melupakan sesuatu. Tasku ada bersama Stefan, Sayang." Luna merutuki kecerobohannya. Bagaimana ia bisa melupakan keberadaan tasnya.
"Nanti biar ku hubungi dia. Kamu ke mobil dulu, aku bersama sopir perusahaan tadi. Aku ke toilet sebentar, ya," pamit Adam pada istrinya.
Luna dan Adam berpisah di persimpangan. Wanita itu hendak melangkah menuju mobilnya.
Langkahnya terhenti saat tiba-tiba terdengar suara seseorang bertepuk tangan dibelakangnya. Namun Luna kembali berjalan karena merasa tidak ada hubungan dengan apa yang didengarnya.
"Anda hebat Nyonya Adam Walton," ucap seseorang yang terdengar sangat dekat.
Disana, tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada seorang wanita cantik bak sosialita dengan tatapannya yang mengejek.
"Kau sangat beruntung hari ini. Tapi tentu tidak untuk esok. Tunggu saja, kau akan dijemput kembali ke sini atau bahkan ke balik jeruji pen-jara!" Wanita itu melangkah mendekati, dengan langkah pelan dan tangan yang bersilang didada. Wajah culasnya nampak bahagia. "Dan aku harap, membusuk disana!"
"Maaf saya tidak mengenal Anda," ucap Luna santai. Dia memang sama sekali tidak mengenal wanita di depannya ini. Dan Luna enggan menanggapi hinaan yang dilontarkan padanya. "Mungkin anda salah orang."
Luna hampir saja berbalik. Namun wanita di depannya itu dengan cepat mengedik, pada lelaki berpenampilan rapi yang ada dibelakangnya. Kemudian lelaki itu ikut melangkah maju mendekati Luna.
"Beliau klien saya, sekaligus customer Anda Nyonya Walton. Nona Angeline Peterson, pemilik kalung berlian itu."
Luna kaget, namun ia tidak menunjukkannya. Ia hanya tidak menyangka saja, jika wanita didepannya ini adalah Angeline. Salah satu pewaris keluarga Peterson. Dan lelaki yang memberi penjelasan adalah pengacaranya.
Luna diam sejenak. Berpikir singkat untuk memberikan balasan yang tepat pada nona kaya itu.
Angeline bahkan sama sekali tidak memperlihatkan tingkah laku yang elegan layaknya orang kaya kebanyakan.
Pandangannya pada Angelina Peterson berubah sejak ia tahu jika wanita ini mengenal Stefan. Bisa jadi ia seperti Pauline yang belakangan ia tahu jika mantan temannya itu menyukai Stefan. Itulah sebabnya gadis itu jahat sekali padanya.
Semua gara-gara Stefan!
"Oh ... Jadi Anda Nona Angeline Peterson. Pemilik kalung berlian yang sengaja dicuri untuk menjatuhkan perusahaan saya. Dan sepertinya pencurinya juga tidak jauh dari ... Anda!" Luna dengan berani mengulik sedikit kenyataan yang tentu sudah diketahuinya.
Namun yang salah tingkah malah pengacaranya. Lelaki itu menengok kesana kemari merasa dicurigai.
"Sengaja? Apa kau gila? Ternyata putri keluarga Efrain yang terkenal itu sungguh sangat diluar dugaan. Kukira kau seperti gadis lain yang terlihat mewah dan berkelas. Kenyataannya ... jauh," ejek Angeline.
Wanita itu mengibaskan tangannya untuk mendukung ucapannya.
Nona kaya raya ini tentu tahu siapa Luna Efrain. Keputusannya untuk menerima tawaran kerjasama dari sepupunya tidak salah sasaran rupanya.
Awalnya dia hanya penasaran. Luna memang tidak tersentuh oleh media tentang kehidupan pribadinya, selain dari kiprahnya sebagai pengusaha dan istri dari Adam Walton.
Hampir semua orang kaya dinegara itu selalu memamerkan kehidupan pribadinya yang sempurna. Berbeda dengan Luna yang lebih memilih menolak semua tawaran wawancara ataupun sebagai tamu dalam setiap acara jika topik yang dibicarakan adalah masalah keluarga dan pribadinya.
Luna tidak seperti mereka. Kehidupannya di masa lalu masih mendominasi, hingga ia lebih menyukai kedekatan dan kehangatan keluarganya sendiri daripada hanya pamer di media.
Ditambah lagi, sejak Angeline tahu jika orang yang dijodohkan dengannya menyukai wanita itu.
Ya. Angeline adalah gadis yang dikenalkan pada Stefan saat di Italia. Orang tua dari mereka telah sepakat menjodohkan keduanya. Dan tanpa diduga Stefan yang biasanya penurut malah menolak.
Tantangan tersendiri bagi Angeline. Gadis itu bahkan tidak pernah ditolak lelaki kaya manapun. Baru kali ini dia ditolak Stefan sehingga dia dendam tidak akan membiarkan lelaki itu menjadi milik siapapun.
"Tidak perlu menjadi mewah dan berkelas untuk dihargai orang. Karena sekaya apapun dirimu, tidak akan membuat orang-orang benar-benar menghargaimu jika sikapmu seperti itu, Nona. Mereka hanya akan menghargai uangmu, bukan begitu bapak pengacara yang terhormat." Luna melirik lelaki yang berdiri di sebelah Angeline.
"Emm ... Iya Nyonya, itu benar. Ahh... maksud saya_"
"Sudah! Kau harusnya mendukungku bukan malah mengiyakan ucapannya," teriak Angeline memarahi pengacaranya.
Lelaki itu sampai menunduk dan menyembunyikan wajahnya karena malu. Mereka berada di tempat umum, di kantor polisi. Meski jauh dari dari gedung kantor itu sendiri, tapi lalu lalang orang yang hendak menuju ke toilet sempat menatap Angeline.
Luna menggeleng sambil tersenyum mengejek. "Nona, bahkan anda baru membuktikan bahwa apa yang saya ucapkan itu benar."
"Kau wanita murahan yang dipungut Adam bukan? Aku tahu bahkan kau besar di rumah bordil. Apa yang bisa diandalkan dari wanita seperti itu?" Angeline merasa menang dengan apa yang diketahuinya atas Luna.
Luna menahan diri. Dadanya bergemuruh menahan amarah dan juga pedih. Selalu saja orang mencemooh atas kehidupan masa kecilnya.
"Terima kasih, Nona. Tapi aku bersyukur meski masa laluku seperti itu, suamiku mencintaiku dan menerimaku apa adanya. Sedangkan kau? Kudengar kalau... sepupuku menolak dijodohkan denganmu. Itu lebih pahit, padahal kau tak kekurangan apapun," ucapan Luna menggantung.
"Kau!!!"
❤❤ Terima kasih readers