
Selama pernikahan keduanya, Ellard melakukan banyak hal agar anaknya selalu bahagia dan mendapatkan banyak cinta dari keluarga suaminya.
Ia tidak segan menggelontorkan dana atau fasilitas untuk keluarga Adam, menantunya itu.
Semoga saja, apa yang dilakukannya adalah hal yang benar dan membawa kebahagiaan untuk putrinya.
"Sama-sama, Pa. Itu sudah kewajibanku," ucap Adam nampak tulus.
Ellard meninggalkan Adam, dengan perasaan lega.
Perusahaan ini adalah murni milik Luna. Sudah berpindah kepemilikan dari sang ayah pada Luna sejak wanita itu menikah. Dan sekarang dikelola oleh Adam, sang suami.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Ok! Pertemuan hari ini saya akhiri sampai disini. Terima kasih untuk kerjasama baiknya selama ini. Selamat malam," ucap Stefan mengakhiri meeting nya dengan klien di salah satu restoran ternama di Milan.
Lelaki itu bergegas pergi menuju mobilnya. Ia tidak pernah menggunakan sopir jika ada pertemuan di luar jam kerja seperti ini. Dan sang asisten, Mirko. Ia suruh pulang lebih dulu karena ia masih ada urusan dengan seseorang malam itu.
Sebuah maseratti grancabrio warna grey alfieri melesat membelah jalanan lengang kota Milan. Siapa lagi pengendaranya jika bukan Stefan. Lelaki yang semakin matang diusianya yang menjelang angka empat itu terlihat semakin berkharisma.
Stefan fokus dengan jalanan yang ia lalui. Entah apa yang ia pikirkan, senyum tipis mendadak menghiasi paras tampannya.
Mobilnya berbelok di sebuah rumah makan kecil. Sepertinya lebih layak disebut kedai pinggir jalan.
Bangunan kedai khas Italia dengan warna cat yang nampak usang namun artistik. Dimana disekitarnya selalu ada taman kecil apik yang ditanami bunga-bunga perdu. Dan setiap kali musim bunga, indahnya sudah tidak diragukan lagi. Sangat memanjakan mata.
Stefan memarkir mobilnya agak jauh dari kedai itu. Dia perlu berjalan beberapa lama untuk mencapai kembali tempat ia membuat janji.
Lelaki itu berdecak, bagaimana mungkin seorang detektif menemuinya di tempat seramai ini. Apa lelaki yang ia sewa itu sedang bercanda dengannya? Sangat tidak cocok dengan karakter detektif yang misterius pada umumnya.
Namun tentu saja tidak salah. Dari kejauhan sudah terlihat lambaian dan senyuman manis seseorang yang dengan sigap bangkit dari duduknya untuk menyambut.
Sungguh, lelaki itu lebih pantas menjadi temannya daripada seseorang yang ia sewa untuk mencari informasi.
Pakaian kasual rapi, rambut klimis dengan kumis tipis dan jambang yang ia cukur rapi sehingga yang terlihat hanya bekas-bekasnya yang berwarna hitam samar. Lelaki yang mengaku detektif pada Stefan itu nampak tampan.
"Buongiorno, Mr. Efrain," sambut lelaki itu seraya membungkukkan tubuhnya.
Stefan hanya berdehem kemudian mengulurkan tangannya untuk menjabat orang suruhannnya itu. "Kukira aku salah tempat," sindirnya.
"Tentu tidak, Tuan. Bagaimana menurut anda? Tempatnya menyenangkan bukan? Makanannya juga enak Tuan, ada Lasagna, Carbonara, Arancini apalagi gelato-nya. Mmmmm...." celoteh lelaki yang kini sudah duduk lebih dulu setelah mempersilahkan Stefan tentunya.
"Kau tahu aku tidak datang untuk makan, Toretto!" ucap Stefan, tatapannya menghujam tanpa senyuman.
Lelaki bernama Toretto itu tersenyum masam. Apa seleranya bercanda seburuk itu, hingga klien barunya dengan status premium itu masih memasang wajah tidak bersahabat padanya.
"Dan keramaian ini. Pasti Tuan merasa heran mengapa saya mengajak janjian disini." Pertanyaan Toretto sangat mengena, itulah yang dirasakan Stefan sejak tadi.
Namun yang lebih membuat Stefan kesal adalah Toretto yang cerewet dan terlalu banyak basa basi sejak awal tadi. Apa kemampuan lelaki itu sesuai dengan rekomendasi temannya?
Jujur sekarang Stefan meragukannya. Karena Toretto tidak pernah mau dihubungi melalui telepon, mereka hanya berkomunikasi lewat email. Itupun membahas seperlunya. Tidak disangka lelaki itu jauh dibawah ekspektasi Stefan tentang sosok seorang detektif.
"Selipkan di ponsel Tuan. Semua yang ingin anda tahu ada disana." Toretto menatap Stefan yang mengangguk kecil.
Jari Stefan menggapai benda kecil yang berada dalam kotak persegi bening itu. Namun rupanya, Toretto tidak melepasnya begitu saja. Meski dengan satu jari telunjuknya, lelaki itu bisa mencengkeram dengan kuat barang yang dianggap penting oleh Stefan.
"Jangan terburu-buru, Tuan. Sudahkan anda transfer hak saya sesuai perjanjian?"
"Cek saja rekeningmu!"
Sebelah tangan Toretto nampak memainkan ponselnya. Senyum menyungging dibibirnya. "Sejauh ini, Tuan klien saya paling loyal meski sedikit sangar," ucap lelaki itu melirik Stefan.
"Lihat saja, apa upah yang kuberi sesuai dengan informasi yang ku dapat. Jika tidak, rekeningmu akan hilang dalam sekejap!"
Memang bisa ya? Apa yang tidak mungkin untuk Stefan, lelaki itu memiliki segala akses terbatas yang dimiliki para pengusaha kaya.
"Jadi?"
"Dana yang kau dapatkan hanya bisa diambil saat aku sudah mengatakan "Ok". Selama aku belum mengatakannya, rekening milikmu akan dibekukan," Stefan menjelaskan teknis pertukaran informasi dengannya.
"Baiklah, Tuan. Saya mengerti. Saya rasa itu pertukaran yang impas, meski tidak pernah ada klien saya seperti ini sebelumnya." Toretto melepaskan chip itu pada Stefan.
"Semoga semua informasi yang saya dapatkan, seperti harapan Tuan selama ini," bisik Toretto saat lelaki itu mendekatkan tubuhnya dengan membungkuk di depan Stefan.
"Terima kasih banyak, saya senang sekali bekerja dengan anda." Lelaki itu pergi setelah mengucapkannya.
"Aku penasaran. Bagaimana kabarmu, Sayang? Aku akan menyusulmu setelah semua ini selesai dan kuserahkan pada papa," gumam Stefan lirih.
Lelaki itu memutar beberapa kali benda kecil yang ada dalam genggamannya itu.
"Apa ada yang mencariku, Em?"
"Tidak, Bu. Syukurlah semua terkendali, Ibu nampak pucat. Mengapa dipaksakan kesini." Emma yang lebih seperti adik untuk Luna terlihat khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lelah. Lagipula aku sudah beristirahat. Kamu tenang saja." Luna meyakinkan Emma dengan memberikan senyumnya seperti biasa. Gadis itu bahkan dengan sigap membantunya masuk ke ruangan.
Luna membuka sebuah usaha untuknya sendiri. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa penitipan barang berharga. Meski perusahaan ini tergolong kecil namun perkembangan usahanya cukup signifikan setiap tahun.
Bu, tadi Tuan Aglen menghubungi. Katanya, beliau yang akan menjemput nona Elea di sekolah."
"Kakakku?" Emma mengangguk. "Mengapa dia tidak menghubungiku di ponsel?" tanya Luna yang hanya dijawab gelengan oleh sang sekretaris.
Luna bergegas mengambil ponsel di tasnya. Kemudian menggeser layar dari benda pipih itu.
Ya Tuhan, ternyata Aglen menghubunginya berkali-kali. Luna tidak mendengarnya karena ia mengatur mode diam pada ponselnya.
Hubungan kakak adik itu tetap sama. Baik Aglen maupun Luna hanya bicara seperlunya. Namun entah mengapa, Aglen sangat sayang dengan keponakannya itu. Bahkan lelaki berambut ikal itu sering ke Kanada tanpa mengabari lebih dahulu hanya dengan alasan rindu dengan Elea.
💜pembaca setia maafkan saya yang banyak meminta maaf atas keterlambatan update ya🙏
Banyak sekali hal yang terjadi, semoga Allah selalu memberikan kekuatan untuk tetap bersemangat, Terima kasih💓