
Hati Luna mendadak lemah. Ia benar-benar butuh sang ibu saat ini. Dan sosok wanita di depannya ini benar-benar mirip dengan dirinya dan juga foto yang disimpan oleh mama Keiko.
"Mama...."
Luna berlari menghampiri sosok. itu. Dan anehnya, ia merasa langkahnya seringan kapas.
Tunggu!
Bukankah kakinya sakit. Bahkan Luna tidak menyadari itu. Ya, kakinya bukan lagi sakit tapi patah, dan ia sedang menjalani proses terapi untuk belajar berjalan.
Tapi,
Luna mendadak berhenti. Ia menjatuhkan tatapannya ke lantai, dimana kakinya berdiri tegak tanpa kesakitan.
"Mama? Kakiku?"
"Kakimu baik-baik saja. Kemarilah, Mama juga merindukanmu," ucap sosok itu tersenyum dan mengangguk.
Luna yang bahagia karena kakinya sembuh segera meneruskan langkahnya. Ia berlari menghambur dan memeluk sang ibu.
"Mama...." Tangisan Luna pecah. Sungguh pelukan ibu sangat hangat, mengalahkan apapun di dunia ini.
"Sayangku ... Kau sudah sedewasa ini sekarang." Luna merasakan sang ibu menepuk-nepuk lembut punggungnya. "Keiko dan Ellard menjagamu dengan sangat baik."
"Mengapa Mama tidak pernah muncul di mimpiku? Bahkan sampai aku dewasa," protes Luna setelah melerai pelukannya. Ia mirip Elea yang manja dengan dirinya.
Hannah hanya tersenyum. "Bersyukurlah untuk hari ini, Sayang. Untuk apa yang terjadi denganmu dan suamimu. Serta pertemuan kita."
"Mama tidak boleh pergi lagi. Luna sendirian disini," rengek Luna yang terus menggenggam tangan sang ibu.
"Ada Papa, Kakak dan juga orang-orang yang menyayangimu, Sayang. Tidak perlu takut, mereka semua tulus menjagamu. Apa kau tahu ada yang diam-diam melangitkan doa, dan meletakkan dirimu di sudut hatinya yang paling dalam. Dia seseorang dari masa lalumu."
"Siapa, Ma?"
"Tetaplah kuat, Sayang. Mama sangat mencintaimu." Hannah mengecup kedua tangan Luna.
"Siapa yang Mama maksud?" tanya Luna penasaran.
Hannah melepaskan tangannya. Dan tiba-tiba dia terbang serta menghilang cepat dengan senyum yang tertinggal di hati Luna.
"Mama ... Mama ... Tunggu ... Mama...."
"Luna! Luna! Bangun Sayang, Luna!"
Teriakan keras sang ayah menyadarkan Luna yang seketika bangun dan kebingungan.
"Papa, kenapa ada disini?" tanya Luna melihat kepanikan di wajah sang ayah.
"Papa yang seharusnya bertanya. kamu tidak keluar kamar dari tadi sore. Papa pikir kamu memang butuh ketenangan dan istirahat. Namun menjelang makan malam, papa panggil kembali dan kamarmu rupanya terkunci."
"Aku ... Aku hanya berlatih berjalan tadi disini, Pa. Jam berapa ini?"
"Ini sudah malam, Sayang. Delapan jam kau tidak keluar dari kamar. Dan begitu Papa masuk, Papa menemukanmu disini tengah tertidur. Papa panik karena sangat sulit membangunkanmu?" jelas Ellard. Ia bahkan menyuruh Alex untuk mendobrak pintu kamar Luna tadi.
"Delapan jam? Pa, mana Mama?"
"Mama siapa Luna? Kau sendirian disini!" Jawaban Ellard meninggi karena anehnya pertanyaan Luna.
"Em ... Maksudku, apa mama sangat mirip denganku?"
"Kenapa kau tiba- tiba bertanya seperti itu? Kau merindukannya, Sayang?" Ellard berlutut di depan Luna. Lelaki itu berkali-kali mengusap lembut punggung tangan anak perempuannya itu.
Luna pasti baik-baik saja. Ia sekuat hannah. Ia pasti hanya lelah dengan semua yang menimpanya.
"Aku tadi bertemu Mama," ucap Luna lirih.
Deg!
"Kau pasti hanya bermimpi. Mimpi itu bunga tidur, Sayang. Kau terlalu memikirkan mamamu," ucap Ellard menenangkan Luna. Padahal sebenarnya yang butuh ditenangkan adalah dirinya sendiri.
"Sungguh, Pa. Aku bertemu mama Hannah. Dia cantik, seperti difoto. Rambutnya panjang hitam tergerai dan ada tanda lahir di lengan mama." Luna tahu karena tadi terlihat saat kain yang menutup lengan Hannah tersingkap oleh angin.
Deg!
Ellard tidak mampu berkata-kata. Jika belum bertemu langsung dengan Hannah, semua orang tidak akan tahu tanda lahir itu. Tapi Luna, tidak mungkin anak perempuannya itu tahu karena Hannah meninggalkannya sejak ia baru saja lahir kedunia ini.
Ellard menarik bahu Luna dan memeluknya. Lelaki itu tidak mampu menjelaskan lebih jauh apa yang ditanyakan oleh Luna. Karena semua itu benar, Hannah memang memilikinya.
"Papa sangat mencintaimu Sayang. Bersihkan dirimu sebentar, Papa menunggumu dibawah."
Setelahnya Ellard melangkah meninggalkan Luna. Lelaki itu berjalan gontai sambil menghapus airmatanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Suruh dia langsung kesini saja," titah Ellard yang hampir menghabiskan makan malamnya.
Tidak berapa lama, masuklah lelaki klimis yang selalu rapi itu.
"Selamat malam, Tuan." Andrew menyapa elEllard kemudian tersenyum dan mengangguk pada Luna.
"Duduklah. Ayo ikut makan malam."
"Saya sudah makan. Terima kasih tawarannya, Sir. Saya menunggu di depan saja," jawab Andrew menolak tawaran Ellard.
"Duduklah, aku sudah selesai. Kalian bicara disini saja sambil makan. Aku masih urusan lain," lirik Ellard memberi kode Andrew jika tawarannya untuk makan malam pantang ditolak.
Sebenarnya Ellard sudah tidak ada pekerjaan lagi. Namun ia ingin memberi waktu Luna dan Andrew untuk berbicara.
"Silahkan, Tuan."
Andrew mengambil duduk di seberang Luna. Meski kenyang, akhirnya ia menyendok juga makanan didepannya.
"Kau sudah baikan?" tanya Andrew membuka percakapan.
Luna tersenyum tipis. "Butuh banyak waktu untuk melepaskan rasa sakit itu, And."
"Ya, lima tahun bukan waktu yang sebentar. Lalu apa rencanamu setelah ini?"
Luna meletakkan sendoknya. "Aku ingin pulang ke Amerika." Kemudian wanita itu menyendokkan kembali makanan kedalam mulutnya.
"Masalahmu dengan Pauline belum selesai Luna."
"Dimanapun aku, Pauline akan selalu menemukanku. Di Amerika lebih mudah menangkapnya. Kedua orang tuanya juga disana. Dan paman William juga sudah menyewa pengacara untukku disana."
"Lalu Adam?"
"Hemmm....?" Luna menoleh. "Aku tidak bisa bertahan dengannya lagi, And. Jika aku sudah memantapkan diri akan keputusan hubungan kami, aku akan secepatnya memberi kabar padamu."
"Baiklah. Jagalah dirimu baik-baik disana, Luna." Andrew mengerjap pelan. Menatap sekilas wanita yang membuat temannya berubah.
Stefan sangat mencintaimu....
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kau sendirian?"
"Alex yang akan mengantar. Apa kakak mau mengantarku?" jawab Luna memancing. Karena ia tahu sang kakak tidak akan mau mengantarnya.
"Kenapa tidak bicara dari kemarin-kemarin? Aku banyak pekerjaan hari ini," sahut Aglen ketus. Kakaknya itu memang sulit diajak melakukan sesuatu yang mendadak.
"Bilang saja Kakak enggan meninggalkan Kanada karena gadis itu." Luna mendekatkan tubuhnya untuk berbisik. Ia ingin menggoda kakak lelakinya itu.
"Luna!"
"Kalian bicara apa? Kenapa saling berbisik?" tegur sang ayah.
Ellard pening pagi-pagi sudah disuguhi perdebatan kedua anaknya.
"Tidak ada, Pa."
"Em ... itu Pa, kakak katanya eng_" Aglen seketika berdiri dan membekap mulut Luna. "Emmmppp...." Wanita itu melawan meski tidak bisa.
"Kalian ini, seperti bocah saja!"
"Selesaikan makanmu! Jangan banyak bicara kalau kau tidak ingin tersedak," bentak Aglen sambil menggigit bibir bawahnya. Supaya suaranya tidak terlampau keras.
"Kakak tidak ingin berpisah dengan Evelyn, Pa."
Yes! Luna sukses mengungkapnya. Dan Aglen, lelaki itu terbelalak sambil melirik untuk menggertak sang adik.
"Apa?"
"Tidak, Pa. Maksud Luna, hari ini Evelyn menemaniku untuk menemui klien. Aku berangkat dulu," pamit Aglen yang segera membersihkan mulutnya kemudian terburu-buru pergi.
"Ada yang ingin kau sampaikan Sayang?" tanya Ellard pada anak perempuanya yang mendadak jadi pendiam.
"Tidak, Pa. Aku hanya bercanda," ucap Luna bohong. Bagaimanapun ia tidak ingin mendahului sang kakak mengungkap perasaannya.
Lagipula mereka juga belum resmi berpacaran. Namun Luna mencium aroma saling menaruh hati antara keduanya. Dan sayangnya sang kakak masih dengan rasa gengsinya yang tinggi.
Mia 💕