La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 129



"Apa yang kau lihat?"


Evelyn tercekat dan memutar tubuhnya, ternyata Aglen sudah berdiri disana dan menatapnya.


"Ini, sepatunya te_"


Belum sempat Evelyn meneruskan ucapannya, Aglen masuk kembali dan berlagak tidak perduli. Lelaki berkuncir itu kembali menutup pintu ruangannya, hingga membuat Evelyn berdecak kesal dibuatnya. Padahal ia hanya mau berterima kasih.


"Bagaimana dia tahu nomor sepatuku?" gumam Evelyn. Ia masih merasa aneh dengan apa yang dilakukan oleh Aglen, meski beberapa saat kemudian, senyum tipisnya mengembang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Luna memutuskan kembali ke kamarnya. Ia meminta bantuan pelayan untuk membawa buket bunga itu ke atas, ke dalam kamarnya.


Sampai di kamarnya, ia mencari vas dan mengambil beberapa tangkai mawar putih itu untuk kemudian ia masukkan kedalamnya.


Sementara sisanya ia tancapkan di tanah kosong balkon kamarnya.


"Ini ... terlalu cepat, Bhara. Tapi ia baik sekali denganku." Luna menunduk dengan tangan yang bersandar pada kruk yang ada di sebelahnya.


"Bahkan rasanya aku tidak ingin menjalin hubungan lagi." Wanita itu mendengkus membayangkan kembali jalan hidupnya yang tidak terduga.


Tiba- tiba, Luna mendengar suara ponsel. Lirih tapi terdengar dekat. Wanita itu bergegas meraih kruk nya kemudian berdiri dan hendak kembali ke dalam kamar.


Namun baru beberapa langkah, ia ingat sesuatu. Itu bukan suara ponselnya, nada smabungnya berbeda. Mana mungkin ponsel yang berada di dalam tas suaranya terdengar hingga keluar kamar.


Sontak mata Luna mencari-cari arah suara itu datang.


Deg!


Ekor mata Luna menangkap sesosok hitam tengah bersandar di bawah sebuah pohon di depan kamarnya. Dan sosok itu mengarahkan ponselnya pada Luna, sepertinya ia tengah mengambil gambar wanita itu beberapa kali.


"Siapa disana!" teriak Luna lantang.


Sosok itu langsung menurunkan ponselnya dan berlari pergi secepat angin. Tanpa jejak dan entah kemana menghilangnya.


Setelah itu, datanglah dua anak buah sang paman dari bawah.


"Ada apa Nyonya?" tanya mereka bersamaan.


"Tidak ada," sahut Luna. Bahkan jejak dari sosok yang ia lihat itu sama sekali tidak ada. "Tolong periksa gerbang itu. Sepertinya aku melihat sekelebat orang disana," tunjuk Luna ragu.


Sosok itu begitu cepat lari dan menghilangnya. Atau jangan-jangan, itu adalah orang yang sama yang menemui Elea.


"Tidak ada siapapun disana Nyonya. Bahkan pintunya masih terkunci dengan rapat," lapor anak buah sang paman setelah kembali dari memeriksa gerbang yang ditunjuk Luna.


"Benarkah? Apa mungkin hanya perasaanku saja. Tapi...." Luna bingung sendiri. Apakah ia sedang berhalusinasi?


\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Paman, adakah tugas untukku?"


Baru saja William turun dari lantai atas dan ia sudah ditodong oleh Luna yang sudah bosan menjadi pengangguran.


"Fokuslah dahulu pada kasusmu. Seminggu lagi sidang dimulai, Luna." William sampai menghentikan langkahnya. Ia tidak habis pikir dengan keponakannya itu yang tidak sabar ingin segera terjun kembali untuk bekerja.


Atau mungkin, bisa jadi yang sebenarnya adalah, Luna hanya mencari pengalihan akan kesedihannya. Karena jika diperhatikan, Luna tidak banyak cerita tentang masalah pribadinya kecuali ditanya. Bahkan ia terlihat baik-baik saja di depan Elea dan keluarga lainnya.


"Tidak apa-apa, Paman. Aku sudah siap menghadapinya. Saat ini aku hanya butuh kesibukan, karena rasanya sangat membosankan hanya di rumah dan tidak ada hal penting yang bisa dilakukan," jawab Luna lirih.


William melanjutkan langkahnya menuruni tangga khusus yang sengaja ia buat untuknya itu. Akses tangga itu hanya menuju ke kamarnya yang berada di lantai atas.


"Paman lebih senang kamu fokus dahulu dengan masalahmu. Jangan khawatir soal pekerjaan, Paman sudah menyiapkan jabatan untukmu," hibur William yang sangat tahu jika Luna sebenarnya juga tertekan dengan masalah yang menimpanya.


"Apa Bhara meminta izin padamu untuk ikut bergabung dengan Andrew untuk menjadi tim pengacara nanti?" tanya William yang siang tadi sebelum pulang sempat bertemu dengan Bhara.


Teman Luna itu sengaja mengunjungi perusahaan William hanya untuk meminta izin pada lelaki paruh baya itu.


"Iya, Paman. Dia juga mengenal Andrew, tidak ada salahnya menambah kekuatan kita. Sepertinya Bhara juga handal, Paman."


"Dia teman sekolahku, Paman. Dan baru bertemu lagi setelah sekian lama. Dia memang pintar sedari dulu," jelas Luna yang juga mengakui kecerdasan Bhara.


"Sayang...." William mengerjap sambil menatap dalam Luna yang sesekali memijit lembut kakinya yang sakit.


"Iya, Paman."


Luna mendongak, kata sayang yang diucapkan sang paman terdengar seperti ... Suara Stefan.


Luna menyadarkan dirinya. Bagaimana mungkin ia memikirkan Stefan di waktu seperti ini.


"Apa temanmu itu, emm ... Memiliki perasaan padamu?"


Deg!


Bahkan sang paman merasakannya. Itu pula yang dirasakan Luna. Bhara begitu perhatian dan lebih berani daripada Bhara yang dulu. Namun wanita itu masih enggan membalasnya.


Ada sedikit trauma untuk memulai hubungan baru, meski Luna sangat mengenal Bhara dulunya. Rasa nyaman itu ada, tapi rasa percaya untuk kembali memulai hanya sepersekian persen saja.


Apalagi rasa cinta, sepertinya itu menguap entah dimana. Luna baru saja mengubur perasaan sayangnya dalam-dalam pada Adam. Dan ia sangat-sangat belum siap untuk memulainya kembali.


Entahlah, saat ini ia hanya ingin membalas kebaikan yang dilakukannya oleh Bhara.


Lelaki itu sangat baik pada Elea dan juga dirinya. Menawarkan bantuan cuma-cuma, juga sering membersamai dirinya saat ini.


"Mengapa Paman bertanya seperti itu? Apa Paman melihatnya?" pancing Luna pada William.


Mungkin saja Bhara mengatakan sesuatu saat bertemu sang paman. Sesuatu hal yang ingin diungkap oleh William, buktinya sedari tadi William hanya bertanya dengan aktif pada Luna.


"Paman merasakannya Luna. Saran Paman, selesaikan dahulu hubunganmu dengan Adam. Lalu setelahnya tentu terserah padamu."


"Baiklah, Paman. Emm ... Bolehkah aku ke makam Stefan?" tanya Luna kembali meminta izin setelah sekian lama ia dilarang untuk kesana.


Luna tidak ingin pembahasan tentang Bhara berlarut-larut. Karena sampai saat ini pun perasaan Luna tidak berubah.


Hanya sekedar sahabat.


"Apa kau yakin akan baik-baik saja?" tanya William yang menatap ragu pada Luna.


"Aku sudah lebih baik, Paman. Saat itu, entahlah sebenarnya aku tidak apa-apa. Namun mendadak kepalaku rasanya seperti mau pecah dan ada banyak kilasan-kilasan peristiwa yang memutar disana. mungkin hal itu kejadian yang hilang dari ingatanku."


"Kalau begitu jangan. Kau akan tersiksa jika sampai itu berulang."


"Tapi aku juga ingin mengingat sesuatu yang hilang itu, Paman. Rasanya sangat aneh ketika aku kehilangan bagian diriku yang seharusnya tetap menjadi kenangan disana." Luna memijat pelipisnya. Bukan karena pusing, namun jika saat seperti ini sekuat tenaga ia mengingat tidak akan terbersit satu kilasanpun yang muncul.


"Ajaklah bibimu, jika kau ingin mendapat izin paman, Luna," William akhirnya mengalah.


Itu memang hak Luna, untuk mengetahui apa yang tidak sengaja ia lupakan. Dan sang paman hanya khawatir jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Baiklah, aku janji akan mengajak bibi. Tapi benar kan, Paman mengizinkan aku kesana?" tanya Luna meyakinkan diri.


"Tentu saja, kau boleh kapanpun kesana asal ditemani bibimu."William mempertegas ucapannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


" Apa yang kau bawa, Sayang?"


"Hanya setangkai bunga untuk Stefan, Bi. Aku mengambilnya satu dari buket bunga itu." Luna tersenyum kecil sambil mengangkat setangakai mawar putih ditangannya.


Christina berjalan sejajar dengan Luna. Wanita paruh baya itu membersamai langkah kaki pelan keponakannya. Meski sering kali tertinggal, namun Christina pun rela berhenti sejenak menunggu Luna.


"Oh iya. Berapa usia Elea sekarang, Nak? Dan kapan tanggal lahirnya? Bibi ingin merayakan ulang tahunnya disini?"


deg!


🔥🔥🔥🔥🔥