La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 86



"Mama....!"


Teriakan seseorang yang tidak asing terdengar di telinga Ellard. Lelaki paruh baya itu menoleh. Dan disana nampak sang menantu, Adam. Lelaki itu tengah berdiri menatap nanar kerumunan para pelayat yang satu demi satu mulai pergi setelah menyalami sang ayah.


Lelaki yang merupakan suami Luna itu nampak lemas dengan wajah sayu. Ia bahkan menjatuhkan begitu saja tas yang ada ditangannya.


Dalam perjalanan tadi, pikiran Adam memang sudah gelisah. Karena ia tidak mendapatkan jawaban yang pasti akan kondisi ibunya dari rumah sakit.


Mereka semua seperti menyembunyikannya. Mungkin karena tidak ingin terjadi sesuatu dengan Adam dalam perjalanan, atau mungkin juga karena alasan lain. Entahlah.


Adam berjalan gontai tanpa tenaga. Bahunya melorot dan matanya memerah. Lelaki berambut pirang itu segera memeluk sang ayah dari belakang begitu sampai didekatnya.


"Mama sudah tenang," ucap Sebastian lirih. Ia seperti tengah menguatkan sang anak. Namun yang terjadi sebenarnya, ia ingin menenangkan dirinya sendiri. Ia masih belum percaya Lilyana pergi secepat itu. Bahkan terakhir kali pertemuannya dengan sang istri adalah buruk, karena pertengkaran mereka soal Kylie.


"Mengapa bisa terjadi, Pa? Bukankah Mama mendapatkan perawatan terbaik?" Adam masih melakukan penolakan. Jujur hatinya belum bisa menerima kenyataan meski sudah ada didepan matanya.


"Jangan meragukan istrimu. Ia bahkan masih baik saat kau mencuranginya!" Ucapan Sebastian pelan namun menusuk tepat di dada Adam.


Anak lelakinya itu menanyakan hal yang tidak tepat di suasana berduka atas kehilangan sang mama.


Sebastian tidak habis pikir dengan Adam yang mempertanyakan apa yang dilakukan Luna untuk Lilyana. Sementara anak lelakinya itu sendiri saja tidak mampu mengeluarkan uang sepeserpun untuk ibunya.


"Maaf." Adam menunduk, namun sejenak kemudian ia bertanya kembali.


"Lalu dimana Luna?" Adam celingukan dan malah hanya mendapati Ellard dan Aglen yang berada di barisan terakhir dan paling belakang. Keduanya mengenakan kacamata hitam dan nampak tidak perduli.


"Kau masih berani bertanya?" Meski pelan, namun jawaban Sebastian mengisyaratkan ketidaksukaannya.


Lelaki itu segera berpindah dari dekat sang anak yang malah sibuk dengan urusannya meski hadir di pemakaman sang ibu.


Sebastian menghampiri Ellard. Mengucapkan terima kasih karena telah mengantarkan sang istri hingga ke peristirahatannya yang terakhir. Tentu juga ucapan itu untuk apa yang telah dilakukan Luna untuk istrinya sampai akhir hayat. Dan setelahnya, Ellard pun pamit pulang bersama Aglen.


"Pa, Kak!" panggil Adam pada kedua orang itu.


Mereka sebenarnya enggan bertemu dengan Adam. Tapi Ellard memutuskan berhenti, dan Aglen mengikutinya.


"Terima kasih atas kedatangan kalian," ucap Adam berbasa basi. Lelaki itu mengulurkan tangannya untuk menjabat keduanya.


Namun hanya Ellard yang menangapinya. Sedangkan Aglen, lelaki itu menyembunyikan kedua tangannya di dalam saku. Dan tidak lama kemudian memberi isyarat pada sang ayah. Jika ia ingin menunggu di mobil saja. Bahkan saat pergi pun, Aglen tidak menyapa adik iparnya itu sama sekali.


"Emm ... Pa, aku_"


elEllard menepuk ringan bahu sang menantu. "Aku ikut berduka atas kepergian ibumu. Untuk hal lainnya, kita bahas nanti saja."


Lelaki paruh baya itu pergi meninggalkan Adam yang mematung mendengar ucapan ayah mertuanya.


Sungguh, Adam tidak bisa menempatkan dirinya disana.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"El, mau kemana?"


Luna heran melihat putri kecilnya bahkan sudah rapi sore itu. Ia hanya pergi mandi sebentar dan saat keluar, Elea sudah menunggunya.


"Kata Oma, kita akan mengunjungi Paman Stefan," jawab Elea yang menyunggingkan senyumnya yang semakin lama semakin mirip dengan ayah biologisnya itu.


"Iya, tapi mengapa El membawa es krim juga?" tanya Luna yang merasa aneh.


Putri kecilnya itu membawa box kecil berisi es krim dan ice pack agar es krimnya tidak meleleh.


"Aku akan mengajak Paman Stefan makan es krim, Ma. Seperti dulu, Paman pasti senang," jawab Elea sambil membuka dan menutup kembali box yang ada di pangkuannya.


Sesekali gadis kecil itu tersenyum melihat deretan es krim yang berkali-kali dihitung dan diintipnya.


Setelah selesai, ia menggandeng Elea turun. Rupanya sang paman, William telah pulang dari kantornya.


"Paman...." Luna menghampiri, memeluk ringan lelaki serupa ayahnya itu. Bedanya, postur tubuh William hanya lebih tinggi sedikit dari Ellard.


"Paman tidak menyambut kalian. Halo, Sayang. Apa Opa boleh menggendongmu?" ucap William menyapa Elea yang berada di dekat Luna.


Gadis kecil itu mendekat, kemudian mengangguk dengan senang.


"Hahh ... Ya ampun, bukankah kita baru sebulan tidak bertemu?Kenapa beratmu sudah bertambah banyak? Opa sampai tidak kuat," ucap William yang mengecup pipi Elea dengan sayang.


"Ayo kita kesana sekarang. Angin senja sering berhembus sangat kencang. Nanti Papa sakit jika kita tidak bergegas," ajak Christina yang segera mengulurkan tangannya untuk menggandeng Luna.


Ketiganya berjalan beriringan, dengan William di belakang menggendong Elea.


Rumah-rumahan kecil yang tadi hanya terlihat biasa saja dari kejauhan, rupanya sangat berbeda ketika Luna sampai disana.


Tempat itu disulap menjadi sebuah peristirahatan yang nyaman, baik bagi tubuh Stefan yang tertanam disana ataupun keluarga yang sengaja datang menjenguknya.


"Paman...." Elea memaksa turun ketika pintu gerbang kecil yang digunakan untuk satu-satunya akses masuk ke makam Stefan dibuka oleh Christina.


Gadis kecil itu berlari mendahului yang lain, bahkan rela merunduk diantara sang ibu dan Omanya untuk bisa sampai lebih dulu kesana.


Tak disangka gadis kecil itu hanya ingin meletakkan box es creamnya di dekat nisan Stefan. Dan ia malah kembali berlari menghampiri Luna, kemudian menariknya mendekat ke makam yang masih berupa gundukan yang ditumbuhi rumput hias itu. Meski disekelilingnya telah dilantai marmer oleh sang paman.


Elea dan Luna berada di sebelah kanan nisan Stefan. Keduanya meletakkan mawar putih yang sengaja mereka bawa tadi, keatasnya.


Semoga kau beristirahat dengan damai, Stef. Maafkan aku baru datang.


Luna mengusap nisan Stefan dengan lembut. Tanpa terasa air matanya menetes.


Disebeleh kiri ada Christina yang dibelakangnya ada William tengah merangkulnya. Mereka menyematkan juga menyematkan bunga mawar putih untuk putra mereka.


"Paman, El bawa es krim. Kita makan bersama, ya."


Elea menarik box es krimnya mendekat. Kemudian gadis kecil itu mengambil lima es krim dari dalamnya.


"Ini untuk Opa, Oma, Mama, El dan Paman Stefan."


Gadis kecil itu meletakkan es krim terakhir di dekat bunga mawar yang ia berikan untuk Stefan.


"Ayo... Ayo!"


Elea bersemangat sekali. Tanpa sadar ketiga orang dewasa itu mengikutinya membuka es krim dan memakannya.


"Hemm... enak ya, Ma," ucap gadis kecil itu penuh keceriaan.


"Wahhh... Opa baru kali ini makan es krim lagi. Terakhir kapan ya? Sampai lupa."


Tawa William pecah. Ia merasa kembali menjadi anak kecil begitu merasakan kudapan manis dan lembut itu.


"Oma juga. Kalau El tidak kesini, mana mungkin kami makan es krim lagi," seloroh Christina mengiyakan ucapan sang suami.


"El, harus sering kesini ya. Kami juga keluarga El, kami sayang dengan El," ucap William pada gadis kecil yang berlari ke pangkuannya itu.


"Pasti Opa. Mama! El cucu Opa dan Oma kan?" teriak El pada Luna yang tengah melamun sembari mengulum es krimya.


"Hah... Ap-apa El?"


😍🥰