La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 59



"Berhenti disana! " teriak seorang lelaki yang membawa senjata laras panjang hendak menghampiri Stefan. Namun lelaki itu menghentikan langkahnya di jarak 5 meter.


"Angkat tanganmu!" Lelaki itu mengangkat senjatanya dimana ujung senapan laras panjang itu tepat menuju ke arah kepala Stefan dan ia menurut. Stefan memang sengaja menyerahkan diri, karena seperti itu perjanjian awalnya.


Dua orang anak buah musuh muncul dari samping kiri dan kanan Stefan. Salah satu dari mereka juga mengacungkan senjata tepat di kepala Stefan sedangkan yang lainnya menggeledah pakaian hingga sepatu lelaki tampan itu.


"Clear!" teriak lelaki yang selesai memeriksa Stefan. Tidak ditemukan apapun saat penggeledahan. Dan berikutnya, mereka menggiring masuk lelaki tampan itu kedalam gedung.


Begitu sampai di dalam, yang nampak di mata Stefan hanya ruangan kosong yang besar tanpa perabot apapun. Hanya beberapa anak buah yang nampak berdiri di beberapa sudut untuk berjaga.


Plok... Plok... Plok!


Terdengar suara tepuk tangan seseorang, dan setelahnya muncullah seorang wanita yang menutup sebagian wajahnya dengan dua pengawal dibelakangnya. Mereka masing-masing memegang senjata.


"Cinta memang buta. Kau bahkan rela menggantikan dia disini." Terdengar tawa sinis dan mengejek wanita yang menyilangkan kedua tangannya didada itu.


Stefan yang mendengarkannya dengan serius merasa mengenali suara itu. Seseorang yang tidak begitu dikenalnya namun gaya bicaranya sama persis, dan Stefan yakin kalau wanita yang berdiri di tangga dan tidak jauh darinya itu adalah orang yang sama.


"Angel?" gumam Stefan pelan. Lelaki tampan itu masih sangsi dengan pendengarannya sendiri. Mungkinkah memang gadis itu otak di balik semua penyekapan pada Elea dan Luna?


Perlahan, wanita dibalik penutup wajah itu membuka diri. Dan benar saja, dia adalah Angeline Peterson.


Gadis yang sama yang telah membuat masalah di perusahaan Luna dan juga gadis yang telah ia tolak saat perjodohan juga karena cintanya pada sepupunya itu. Tapi seingat Stefan, lelaki itu tidak mengatakan apapun tentang posisi Luna dihatinya. Darimana Angeline tahu?


"Kamu memang jeli Stefan. Padahal kita hanya beberapa kali bertemu. Dan hanya dengan mendengar suaraku kamu masih mengingatku. Tapi mengapa kamu tidak bisa menerimaku? Karena wanita itu bukan?"


Dagu Angeline mengedik pada sebuah layar datar yang tiba-tiba muncul dari sebuah dinding yang menghadap mereka. Disana nampak Luna yang disekap di sebuah gudang, dengan tangan dan kaki yang terikat.


"Cepat lakukan pertukaran ini! Aku yang kau inginkan bukan? Jadi lepaskan Luna dan biarkan dia pergi."


Stefan dengan wajah tegangnya mencoba tetap fokus dengan perjanjian mereka. Meski setengah mati ia menahan amarah melihat keadaan Luna yang membuatnya khawatir.


"Kau pikir akan semudah itu? Pelan- pelan saja Stefan. Hah...." Angeline menahan tawanya. "Yang kau hadapi bukan anak kecil, Tuan. Ini wilayahku, maka berlaku aturan ku!"


Stefan menggeram. Lelaki itu diam sambil mencoba membaca gambar yang ditampilkan anak buah Angeline. Kira-kira dimana letak ruangan itu. Ia sempat menggunakan kamera tembus pandang tadi, dan mendapati seseorang tengah duduk di kursi sendirian di dalam sebuah ruangan.


Dimana jika dilihat dari posisinya, ruangan itu ada di lantai bawah di belakang tangga. Di dalam layar Luna nampak berteriak namun mereka sengaja mematikan suaranya jadi tidak terdengar apapun ditempat ini, selain suara mereka. Apa mungkin di ruangan itu dipasang peredam suara?


Mata Stefan sibuk memindai sekeliling, ia memerlukan sesuatu untuk meyakinkan dirinya jika Luna benar ada disana selain apa yang ia lihat di kamera miliknya sebelum ini.


"Bawa wanita itu kesini!" perintah Angeline pada anak buahnya.


Tanpa diduga, Angeline lebih cepat mengeluarkan Luna. Mengingkari sendiri apa yang telah ia katakan.


Stefan pikir ia akan butuh perjuangan keras hanya untuk melihat kondisi wanita yang dicintainya itu. Rupanya tidak.


Dan benar saja dugaan Stefan. Para anak buah Angeline menuju ruangan di belakang tangga. Dan tidak lama kemudian membawa Luna keluar.


"Stefan?" Luna kaget begitu melihat sepupunya itu. Mengapa bukan sang ayah atau suaminya yang datang kke tempat ini. Dan lebih kaget lagi ketika ia melihat Angeline mendekati Stefan serta bergelayut manja dibahu sepupunya itu.


Tatapan Stefan datar. Bahkan cenderung tidak perduli pada gadis yang berada disampingnya itu.


"Jadi kau yang merencanakan semua ini?" Luna menatap nanar Angeline kemudian pada Stefan. Melihat gelagat Angeline, wanita itu ragu, apakah Stefan akan menyelamatkannya atau lelaki itulah yang bersekongkol bersekongkol dengan gadis itu.


"Ya. Bersiaplah menerima kehancuranmu Luna! Aku tidak yakin kau bisa keluar dengan selamat dari sini!" Angeline berdiri tegak di samping Stefan.


"Ternyata kau tidak bisa menepati janji. Jahat tetap saja jahat. Dan aku telah melakukan hal yang benar tanpa sedikitpun menyesal telah menolak perjodohan itu." Stefan menoleh, sengaja memancing kemarahan Angeline.


"Itu semua karena sepupumu!" Angeline yang berbicara dengan emosi mengedik ke arah Luna. "Mengapa kau malah mencintainya? Padahal dia tidak ada seujung kuku pun dari aku. Segalanya aku punya. Kurang apa diriku?"


"Stefan?" Luna tercekat. Menatap Stefan dengan tanda tanya besar. Ia pikir hal-hal yang dilakukan Stefan dengan mendekatinya selama ini hanya karena beban rasa bersalah di hati lelaki itu. Namun rupanya ada hal lain yang lebih pelik.


Stefan menunduk, pantaskah perasaannya dihargai oleh Luna? Sementara dulu, ia terkesan main aman dan membiarkan Luna pergi begitu saja menghindarinya. Bahkan saat ia di Italia pun, ia hanya berfokus menyelesaikan tugasnya. Dan baru di akhir ia mencari tahu tentang sepupunya itu. Yang ternyata telah memiliki Elea, buah perbuatannya.


"Jangan banyak bicara! Lepaskan luna, dan jangan usik dia atas dendammu. Seharusnya aku yang menjadi pelampiasan kemarahanmu bukan dia," ucap Stefan tegas. Ia tidak ingin berlama lagi membahas tentang apapun dengan Angeline.


"Bawa kembali dia kedalam! Lepaskan tikus-tikus yang lapar itu dan kunci pintunya," titah Angeline yang langsung dijawab anggukan oleh anak buahnya.


"Lepaskan Angeline! Apa yang kamu lakukan?" Luna memberontak. Wanita itu mengibaskan tangan anak buah Angeline yang mencengkeram lengannya dengan kuat. "Aku tidak mau kesana lagi!"


"Angeline!" Stefan merangsek maju dan mendorong Angeline yang berada di depannya hingga gadis itu terjengkang.


"Hentikan lelaki itu!" titah Angeline yang terduduk di lantai. Punggungnya terasa nyeri akibat doorngan kuat tangan Stefan.


Anak buah Angeline berhamburan menghalangi dan menangkap Stefan yang mengejar Luna.


"Stefan! Aku tidak mau kesana! Lepaskan aku!" Luna menendang-nendang orang-orang yang membawanya hingga para anak buah itu semakin kuat mencengkeram Luna.


Hingga akhirnya mereka mengangkat tubuh Luna untuk dipaksa masuk ke dalam ruangan kotor penuh kain-kain usangusang itu.


"Awas!" teriak Angeline yang sayangnya terlambat.


Bug!


Bug!


Stefan melawan meski dengan tangan kosong. Lelaki itu memukul telak para anak buah Angeline hingga tidak sempat menggunakan senjatanya untuk melawan. Satu persatu mereka tumbang.


"Bodoh, cepat lawan dia!" teriak Angeline begitu melihat anak buahnya yang lain masuk.


Nona kaya itu panik saat menyadari Stefan berlari menuju ruangan tempat Luna dibawa.


Mendengar suara tembakan, anak buah Angeline yang ada di ruangan lainpun ikut masuk dan menggunakan senjata seadanya untuk mengalahkan Stefan.


Dor!


Dor!


Dua tembakan terlepas dari pihak musuh hingga membuat Stefan beberapa kali menghindar. Untung saja lelaki dari keluarga Efrain itu tidak hanya tampan tapi juga cakap dalam hal pertempuran. Sehingga tembakan-tembakan yang melayang dan ditujukan padanya tidak memgenainya.


Lelaki itu bersembunyi di balik sebuah lemari besi. Ia sudah mengalahkan pengawal yang membawa masuk Luna dan merampas senjata mereka. Dan tentu sekarang perlawanannya impas. Karena sama-sama bersenjata.


"Kemarilah! Berlindung disini," teriak Stefan pada Luna. Wanita yang ditinggalkan orang-orang yang membawanya itu segera berlari dan ikut berlindung bersama Stefan.


"Jangan kemana-mana! Disini lebih aman. Aku akan mengambil senjataku dulu," pesan Stefan.


Baru beberapa langkah kedepan, lelaki itu kembali lagi. Ia memberikan sepucuk pistol pada Luna.


"Gunakan ini, jika kau benar-benar terjepit dan aku belum kembali. Paman pernah mengajarimu kan?"


Luna mengangguk.


Sungguh ia tak mampu menolak permintaan lelaki itu. Pun tak bisa mengatakan jika ia sama sekali belum pernah mempraktekannya. Karena ternyata, Ellard baru mengajarinya tentang teori saja.


Lelaki itu bergerak maju sambil menembaki anak buah Angeline. Stefan meninggalkan Luna sendirian.


Luna hanya mengangguk, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Jantungnya berdentam cepat mendengar suara tembakan demi tembakan dilepaskan. Belum lagi ketika peluru panas itu bersarang di lemari besi tempatnya berlindung. Kerasnya suara gesekan besi dan besi membuatnya ingin menangis.


Dadanya berdesir, seumur hidup meski ia berulang kali dihadapkan oleh preman ataupun lelaki yang ingin mengganggunya. Namun tidak sekalipun ia berada di medan yang penuh dengan kontak senjata seperti ini.


Tangannya terasa kaku, memegang pistol yang tidak dingin sama sekali namun membuatnya membeku.


Luna sekuat hati menahan ketakutannya. Ia tidak boleh lemah. Tidak ada yang akan menyelamatkannya sekarang kecuali dirinya sendiri dan mungkin juga, Stefan.


Ya, semoga lelaki itu benar-benar kembali.


Dan tentu dengan sepucuk senjata yang ada ditangannya kini.


❤amici.... saya tidak lolos bulan ini, sudah dua kali dan entahlah. jadi sudah bisa dipastikan saya tidak mendapat apa-apa untuk tulisan saya 😁 semangat saya hanya kalian. Regulasi NT terlalu rumit dan berat untuk saya yang hanya sambilan menulisnya🙏