La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 101



Bagaimana mungkin ia menceritakan tentang kehilangannya. Sedangkan sampai saat ini saja, Christina masih belum bisa menerima kenyataan tentang kepergian putra satu-satunya itu.


Klek!


Pintu kamar Luna ditutup dari luar, dan Christina merosot sambil memegang dadanya yang sesak.


"Anda baik-baik saja, Nyonya?"


Leo yang telah kembali dari mengantarkan dokter ke mobilnya, menghampiri sang majikan yang dilihatnya terduduk di lantai.


"Bantu aku ke kamarku, Le," pinta Christina pelan.


Lelaki muda yang sedari kecil di biayai hidupnya oleh keluarga William itu dengan sigap membantu sang majikan ke kamarnya.


"Ada yang perlu saya bawakan untuk anda Nyonya?" tanya Leo yang sudah mengetahui apa yang akhir- akhir ini terjadi di rumah besar itu.


Sang Nyonya selalu rapuh jika berhubungan dengan tuan mudanya. Selain itu tidak ada yang sanggup mematahkan hati keibuannya.


"Tinggalkan aku sendiri, Le."


Christina berbaring miring, kemudian Leo menaikkan selimut ke tubuh majikannya itu.


Pengawal itu sudah menganggap Christina seperti ibunya sendiri, yang ia sayangi dengan rasa hormat yang tinggi.


"Panggil saya jika Nyonya membutuhkan sesuatu, apapun itu," pamit Leo yang sebelum menutup pintu masih sempat kembali menoleh, menatap Christina yang tengah larut dalam kesedihannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bi, bolehkah aku bertanya?" Mata Luna mengikuti arah gerak pelayan yang masuk ke kamarnya. Pelayan itu mengantarkan makanan sesuai permintaan Christina.


"Silahkan, Nyonya."


Gestur hormat ditunjukkan pelayan itu setelah meletakkan baki keatas nakas. Kemudian ia berjalan mundur dan berhenti tepat di depan Luna.


"Bagaimana Tuan Stefan meninggal?"


Pelayan yang ditaksir usianya sekitar 40 an itu nampak kaget.


"Saya tidak tahu persisnya, Nyonya." Pelayan yang sebelumnya menatap Luna sekarang menunduk. "Saya takut salah bicara. Kami hanya mendapat kabar jika Tuan Muda meninggal dalam sebuah kecelakaan."


"Kecelakaan apa?" tanya Luna yang dengan cepat merespon jawaban pelayan di rumah William.


"Em... Kabarnya melawan musuh. Hanya itu yang saya tahu, Nyonya. Maaf saya harus melanjutkan pekerjaan saya." Pelayan itu terburu-buru pergi.


Sungguh sangat sulit mencari kepingan peristiwa yang hilang dari ingatannya. Luna tidak sabar jika harus menunggu sang paman pulang.


Ia hanya mengingat ada ledakan. Tapi ledakan apa tidak jelas. Dan setiap mengingat ledakan itu, air matanya pun selalu menetes.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Maaf, Sir. Hari ini nona Evelyn cuti, beliau masuk rumah sakit."


Apa yang diucapkan seorang wanita yang pagi itu ada di meja Evelyn membuat Aglen menghentikan langkahnya.


Ia yang sedianya akan masuk ke dalam ruangan CEO menjadi urung. Padahal ia berangkat sepagi itu karena ingin mengetahui kondisi sekretaris Luna yang cantik itu.


Mengatakan cantik membuat dada Aglen mendadak berdebar. Senyum seringainya tersungging tipis. Sudah lama dada itu tenang ditempatnya dan sekarang hanya karena sekretaris yang tidak tahu cara membuat dan membedakan kopi dan minuman tradisional itu malah membuatnya kembali bereaksi.


"Sakit apa?" tanya Aglen.


Lelaki itu tidak menoleh saat menanyakannya. Membuat karyawati yang menggantikan Evelyn pagi ini menjadi segan.


"Waktu dia menghubungi saya pagi tadi, hanya mengatakan tentang tugas-tugas yang harus saya gantikan hari ini, Sir. Tapi membaca surat sakit yang baru tiba ... Sepertinya Evelyn menderita diare hingga dehidrasi."


Kedua alis Aglen naik tajam. Kemudian senyum tipisnya terulas. Rupanya balas dendam yang ia lakukan tepat sasaran, malah diluar perkiraan. Dia saja bisa bertahan namun tidak dengan Evelyn.


Aglen masuk ke ruangan tanpa bicara lagi. Membuat pengganti Evelyn itu merasa heran. Jika Luna yang berada disana, sudah pasti wanita itu akan meminta karyawan lainnya untuk mengirimkan makanan ataupun sekedar kudapan pada yang sakit.


Namun, hati perempuan dan laki-laki memang berbeda bukan?


Tidak kehabisan akal, Aglen mencari di buku telepon dan menemukan nomor kontak gadis itu disana. Hingga ia memutuskan menggunakan nomor perusahaan untuk menghubungi sekretaris baru Luna itu.


"Selamat pagi," sahut suara lembut dari seberang.


Aglen berdehem sebentar untuk memperkuat posisinya sebagai atasan Evelyn. Dan benar saja apa yang terjadi berikutnya.


Sir, selamat pagi." Evelyn menambahkan panggilan itu ketika mendengar deheman Aglen disana.


"Sakit apa?" tanya alAglen tegas tanpa keramahan.


"Em... diare, Sir. Saya_"


"Kamu butuh berapa hari untuk cuti?" Aglen memotong ucapan Evelyn. Mendengarkan gadis itu bercerita panjang lebar, akan mengurangi kadar dirinya yang dikenal tidak ramah pada bawahan Luna.


"Mungkin 2-3 hari, Sir. Maaf."


Mereka 1-1 sekarang. Namun malah Evelyn yang meminta maaf. Sungguh Aglen berada diatas angin sekarang.


"Dua hari. Cutimu hanya selama itu. Banyak pekerjaan kantor. yang menunggumu," ucap Aglen yang segera memutus panggilannya.


"Em ... Iya Sir. Ta_"


Evelyn mengesah lirih sesudahnya. Padahal ia sudah mengirimkan surat sakit dari dokter yang merawatnya. Dan disana tertera jika izin sakitnya kurang lebih 4 hari. Karena tidak enak dengan kakak bosnya itu, Evelyn hanya mengatakan 2-3 hari. Dan rupanya malah dipangkas lagi menjadi dua hari.


Syukurlah, keadaannya membaik begitu jarum infus masuk kedalam pembuluh venanya.


Sementara ditempat lain, Aglen terbahak setelah memutuskan sepihak panggilannya.


"Dasar gadis manja! Diare saja masuk rumah sakit, padahal ia meninggalkanku pulang kemarin saat aku diare disini. Pembalasan belum selesai! Tunggu kejutan kecilmu disana," gumam Aglen sambil menunjukkan seringainya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Maafkan Paman baru tiba, Bibimu baru saja memberi kabar jika kamu jatuh di_"


William mendadak sadar sebelum mengucapkannya.


"Makam Stefan."


William mengangguk dan tersenyum tipis pada keponakannya itu.


"Paman, apakah ada hal lain yang kulupakan selain kepergian Stefan?"


"Paman tidak tahu. Sejauh ini, baru peristiwa ledakan itu?"


William mengambil kursi dan meletakkannya di dekat ranjang Luna


"Apa aku akan kehilangan semua ingatanku?"


"Tidak Luna. Bukankah dokter sudah menjelaskan jika amnesia yang kau alami hanya disebabkan karena trauma. Jangan berpikir terlalu jauh, Sayang. Paman memberimu pengobatan terbaik disini."


"Kecelakaan apa yang menyebabkan Stefan pergi Paman?"


"Mengapa ingatanku tentang peristiwa itu sampai menghilang?" Luna membuang tatapannya keluar jendela. Jujur, ia sangat penasaran dengan cerita sebenarnya.


Pertanyaan yang sensitif, dan jawaban yang berat untuk William. Sebenarnya ia sama sedihnya dengan sang istri. Namun ia laki-laki, ia bisa mengalihkan semuanya dengan bekerja dan bekerja. Tapi ketika dihadapkan untuk menceritakan kembali kehilangannya, tentu hal ini sangat berat baginya.


Lelaki paruh baya yang lebih tinggi dari Ellard itu berkali-kali terlihat membuang napas beratnya.


Kemudian ia menceritakan semua yang ia tahu tentang kejadian itu. Tentu seperti apa yang diceritakan sang adik padanya. Kejadian kehilangan yang sangat menghancurkan hati dan juga hidupnya.


Luna mendengarkan dengan seksama. Meski airmatanya terus menerus keluar tanpa ia inginkan. Bahkan hingga detik ini ia mengingat semua tentang Stefan.


Apa yang lelaki itu torehkan dimasa lalu hingga berbuah Elea, dan apa yang Stefan lakukan untuk membantunya di setiap masalahnya di Kanada.


Ia juga bisa mengingat saat Stefan dengan setia menjaganya, ketika Adam mulai sibuk dengan dirinya sendiri. Stefan menyelamatkan Elea sendirian saat diculik. Bahkan sepupunya itu memasang GPS di mobilnya hanya untuk melindunginya.


"Jadi aku yang menyebabkan Stefan meninggal, Paman?"