La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 94



"Luna lupa, jika Stefan telah pergi, Will." Christina duduk di sofa bersama William, berjauhan dengan pasangan ibu dan anak yang sedang menikmati es krim bersama itu.


Tatapan Christina nanar. Luka yang belum sembuh akibat kehilangan anak semata wayangnya itu kini seperti tengah ditoreh kembali.


"Aku sudah menjelaskan padamu bukan? Akan ada beberapa ingatan Luna yang hilang, terutama yang membuatnya trauma. Sabarlah, Sayang."


"Yang membuat trauma?"


Christina menatap lekat sang suami. "Kepergian Stefan masuk dalam traumanya, Will?"


"Stefan yang menyelamatkan Luna, Sayang. Hidup Luna dan juga Elea. Kau ingat Ellard telah menjelaskannya. Tentu saja kehilangan Stefan membuat Luna trauma. Apalagi ia menyaksikannya." William meluruskan kebimbangan sang istri.


"Aku tidak pernah melihat Stefan seperduli itu dengan wanita. Ia selalu mengatakan tidak mempunyai kekasih meskipun aku tahu anak kita seorang player. Bukankah dulu mereka tidak dekat, Will?"


Tarikan napas panjang Christina terdengar oleh William. Lelaki paruh baya yang memiliki wajah hampir mirip dengan Ellard itu merangkul istrinya dan membawa kepala sang istri ke dalam dadanya.


"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" bisik William lirih. "Jangan terlalu berlebihan memikirkan segala sesuatu. Mereka saudara, seperti apapun hubungan mereka sebelumnya."


Christina terdiam. Ia kembali menatap gadis kecil yang sudah ia anggap cucunya sendiri itu. Ada yang berbeda saat Elea tersenyum.


Mata bulat yang menyipit itu, Christina mengenalinya.


"Oma ... Es krimnya kenapa tidak dimakan. keburu meleleh." Elea tiba-tiba menghampiri Christina dan bergelayut manja. Ibu dari Stefan itu sampai kaget karena tidak menyadari kedatangan Elea.


"Oma tidak tahan minuman dingin, Sayang. Oma cicip sedikit, lalu El yang menghabiskan ya," ucap Christina yang meninggalkan bekas gigitan kecil di es krim yang ada di tangan Elea.


"Asyikk ... Dapat es krim lagi." Elea bersorak senang karena sang oma menolak menghabiskan es krim yang dibelinya.


Dalam diam, Christina menatap lekat wajah Elea dari dekat. Mencium cucunya itu dan memeluknya.


"Oma sayang sekali denganmu," ucap Christina lirih.


"El juga sayang sekali dengan oma." Dengan mulut yang belepotan es krim, Elea membalas ciuman Christina hingga akhirnya keduanya saling tertawa karena melihat wajah mereka berdua cemong es krim.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Luna mengerjap pelan. Kemudian matanya menyipit melihat lampu dekat ranjangnya yang temaram.


Ia memang sengaja meminta sang bibi untuk menggantinya sebelum mereka pulang tadi.


Ya, Luna meminta ketiganya pulang. Karena kasihan dengan sang paman dan bibi yang kelihatan sangat lelah.


Kondisinya sudah semakin baik, dan ia telah dipindahkan ke ruang perawatan. Ia berada di ruangan VVIP sehingga memungkinkan dirinya meminta bantuan perawat untuk segala kebutuhannya.


Hanya ruang yang digunakan untuk menerima tamu yang dibiarkan terang sehingga Luna bisa melihat dengan jelas jika ada orang yang datang.


Dia sedang bermimpi tadi. Di dalam mimpi, ada seseorang yang mengejarnya. Pergi kemanapun ia tetap dikejar. Hingga ia terbangun saat hampir menyerah karena lelah berlari. Bahkan Luna masih terengah akibat mimpinya.


Mata Luna menatap jam dinding yang menunjuk di angka 2. Suasana dini hari begitu sepi. Baru tiga jam yang lalu sang paman pamit pulang dan Luna akhirnya tertidur.


Tangan wanita itu hendak meraih air minum di nakas yang ada di sebelah ranjangnya.


Namun tanpa sengaja ia menjatuhkan alas dari botol minum yang meskipun tidak menimbulkan suara namun cukup membuatnya kaget hingga memekik lirih.


Dan anehnya, ia juga mendengar suara yang lain. Suara yang ia kenali, seperti bunyi pintu masuk yang dibuka dengan sangat pelan.


Mungkin saja perawat yang datang dan karena tidak ingin mengganggu. Namun karena sepi, langkah kakinya tidak kedengaran sama sekali.


Aneh bukan!?


Seperti disengaja, melangkah dengan sangat pelan.


Luna mendadak takut. Nyalinya seketika menciut. Ia memang berulang kali berada dalam keadaan bahaya. Namun kali ini, kondisinya tidak memungkinkannya bahkan untuk sekedae bersembunyi. Jarum infus masih melekat di pembuluh venanya. Kaki kirinya patah dan tidak memungkinkan untuk berlari.


Tiba-tiba matanya menangkap sesuatu. Entah siapa yang ada di ruang tamu dengan penerangan penuh itu. Namun samar, terlihat seseorang menggunakan pakaian serba hitam dengan wajah tertutup sepenuhnya. Hanya menyisakan kedua matanya.


Luna sudah tidak bisa berkutik. Ia membeku diranjangnya. Tangannya dengan cepat menarik selimut hingga batas mulutnya.


Luna mencoba untuk terpejam, meski tidak bisa. Tapi bagaimanapun juga, ia tetap harus memejam. Karena Luna harus mengecoh orang yang pasti berniat jahat itu.


Otaknya berpikir keras tentang segala ide untuk menyelamatkan diri. Hingga saat membuka sedikit matanya, seseorang yang berpakaian serba hitam itu sudah berada di dekatnya.


Belum sempat memikirkan apa yang akan dilakukannya. Sebuah bantal kecil membekap kepala Luna. Namun Luna sempat melihat aksi orang asing yang membawa bantal itu. Hingga tangan Luna sudah lebih dulu menyusup di antara kepalanya. Dan terjadilah saling dorong mendorong antara keduanya.


"Hkkkkk ... Mmmmmmm." Luna berteriak sambil menghimpun kekuatan untuk mendorong.


"Mati ! Mati! Mati kamu!" Luna mendengar gumaman lirih dari orang yang membekapnya. Tangan orang asing itu mendorong keras ke wajah Luna.


Luna berhasil mendorong orang itu hingga terpental jatuh.


Wajah Luna pucat dengan napas yang terengah. Ia masih mencoba untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya kedalam paru-parunya.


Untung saja, saat orang yang berniat jahat padanya itu kembali berdiri dan hampir menusukkan pisau ke perut Luna, wanita itu bisa membaca pergerakannya


"Siapa kamu!" teriak Luna sambil menghindar. Ia terpaksa mencabut selang infusnya karena membatasi gerakannya.


Dengan sekuat tenaga, Luna mencekal pergelangan tangan orang itu, kemudian memukul-mukul tangan yang memegang pisau itu agar lepas. Namun tangan yang lain dari orang jahat itu malah mengambil pisau kembali serta menusukkannya ke lengan Luna.


"Ahhhhh...."


Luna tidak sempat menghindar karena gerakannya tiba-tiba. Untung saja luka akibat tusukan itu tidak dalam, hingga Luna masih bisa menahan rasa nyerinya.


"Rasakan!" ucap Luna keras setelahnya. Wanita itu mengambil tiang infus dan memukulkannya ke tubuh orang yang berniat jahat padanya itu.


"Aduh...."


Dari suaranya terdengar jelas jika ia perempuan.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Luna kesal. Namun tentu saja ia tidak mendapat jawaban yang diinginkannya.


Wanita itu segera turun dari ranjangnya dan meraih nurse call.


Dengan satu kaki, Luna berjuang mengejarnya. Ia melompat dengan satu kaki sambil menekuk kakinya yang sakit. Sungguh rasa nyeri yang menjalar sangat luar biasa. Namun tentu Luna tidak akan lagi membiarkan orang yang hampir mencelakainya itu kabur.


"Jangan lari! Kamu tidak akan bisa ke mana-mana! "


Setelah menekan tombol nurse call, Luna yang ditangannya masih ada tiang infus mencoba memukulkannya kembali pada orang itu. Dan tentu saja Luna kalah gesit. Orang itu segera lari begitu menyadarinya.


Tar.


Prang.


Suara pecah vas bunga beserta guci yang ada di lantai terdengar cukup keras. Tiang infus itu mengenainya setelah sebelumnya membentur dinding.


Bruk.


Tubuh orang jahat itu oleng hingga membentur kursi. Namun ia bangkit kembali karena panik dikejar Luna.


Luna mendadak limbung. Fisiknya belum kuat untuk diajak berjalan lama. Apalagi ia melompat tadi. Tentu lebih membutuhkan banyak tenaga daripada berjalan biasa.


Sebelah tangannya yang juga sakit, terpaksa ia gunakan untuk bersandar pada sekat antara kamarnya dan ruang menerima tamu.


Bruk.


Orang yang berniat jahat pada Luna itu kembali menabrak sesuatu.


"Suster! Dia mau mencelakai saya," teriak Luna sambil menunjuk pada orang yang berpakaian hitam itu.


Kejadiannya sangat cepat, orang jahat itu segera bangun dan hendak kabur. Bahkan ia menabrak suster yang mencoba menghalanginya.


"Nyonya disana saja, jangan ke mana-mana. Saya akan melapor pada keamanan," teriak suster itu berlari keluar.


Luna merosot jatuh. Tubuhnya yang belum pulih benar terasa tidak bertenaga. Dan yang paling terasa sakit adalah kaki kanannya yang ia gunakan untuk menahan beban tubuhnya. Belum lagi lengannya yang terkena pisau.


Ketika dalam keadaan diam sepeti ini semua bagian tubuhnya yang sakit semakin terasa sakit.


Ia masih tidak habis pikir. Begitu banyak orang yang ingin mencelakainya. Urusan asmara, urusan bisnis. Entah alasan apa lagi yang membuat orang begitu dendam pada orang lain.


Wanita itu merasa lemas, dan lalu ia menangis sendirian. Ia tidak tahu harus menghubungi siapa. Semua orang yang ia sayangi sangat ia jaga agar tidak sampai mengetahui hingga ikut terbebani dengan masalah-masalahnya.


Mendadak Luna ingat Stefan. Dengan tertatih, Luna bangkit. Ia merayap dengan pelan menyusuri dinding untuk sampai di depan nakas tempat dimana ponselnya berada.


"Untunglah," gumamnya ketika membuka ponsel dan mendapari ada kontak Stefan disana. Dia ingat telah berganti nomor namun lega karena semua kontak masih utuh disana.


Ditekannya tombol memanggil dan segera ia nyalakan pengeras suaranya. Senyum kecilnya sempat terulas. Akhirnya ada juga tempat mengadu.


Namun semakin lama, senyum itu semakin hilang bersamaan dengan panggilan yang terus berbunyi tanpa ada yang menjawab.


Stefan tidak pernah menolak panggilannya, meski mereka tidak dekat.


Lalu, kemana dia?