
"Ponsel!" teriak Luna ketika ia berusaha dengan keras untuk mencari cara mengetahui tentang kecelakaan itu.
Iya, sejak pulang dari rumah sakit ia seperti lupa dengan benda pribadinya itu.
Luna membawa kursi rodanya mencari tas yang ia bawa tadi. Dan wanita itu berbinar begitu menemukannya.
Masih lengkap didalam tas itu benda-benda pribadi milik Luna.
Diambilnya benda canggih persegi itu dari tasnya. Kemudian Luna mencari kontak Stefan.
Dalam aplikasi pesan, semua pesan dari lelaki itu masih tersimpan disana. Tidak ada yang menarik perhatiannya.
Sepertinya tidak ada ucapan penting atau apapun yang bisa mengingatkan Luna pada kejadian itu.
Berarti pilihannya hanya dua. Tetap memaksa datang ke makam Stefan meskipun harus sembunyi-sembunyi atau segera pulang ke Kanada walaupun keadaannya belum bisa mandiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=
Seorang gadis cantik tengah duduk bersandar di ranjangnya. Evelyn, hari ini ia masih sedikit lemas meski sudah jauh lebih baik dari kondisi sebelumnya.
Sepulang dari kantor hingga dini hari ia terus saja ke belakang. Padahal ia juga sudah antisipasi dengan memperbanyak asupan cairan, namun rupanya itu tidak sanggup memenuhi kebutuhannya yang terus menerus ia buang.
Hingga dini hari tadi, ia lemas dan menyerah. Akhirnya sang sahabat membawanya ke rumah sakit.
Baru saja satu jam yang lalu ia menyuruh seorang kurir untuk mengantarkan surat sakitnya ke kantor. Tiba-tiba perusahaan tempatnya bekerja itu menghubungi.
Dan yang lebih menjengkelkan, rupanya sang bos sendiri yang menghubunginya. Ia tidak menyangka Aglen akan menghubunginya selepas kesalahan fatal yang ia lakukan kemarin.
Cuti sakit opname yang seharusnya minimal 3-4 hari dipangkas menjadi 2 hari oleh sang bos.
Malangnya nasib Evelyn, sudah sakit masih di dzalimi.
Gadis itu sedang melamun saat ada seseorang membawa buket bunga untuknya.
"Dari mana, Pak?" tanya Evelyn pada kurir yang membawanya.
"La Luna Storage co." sahut sang kurir yang rupanya membaca kertas yang terikat rapi pada pita yang melingkar ditangkainya.
"Terima kasih, Pak," ucap Evelyn.
Sang sahabat yang membantu merawatnya masuk bersamaan dengan keluarnya kurir.
"Bunga? Pacar kamu?" Gadis manis sahabat Evelyn itu senyum-senyum sendiri seraya mendekati Evelyn. Tapi begitu melihat tulisan pengirimnya, ia berganti mengernyitkan keningnya.
"Apa ini dari perusahaan tempatmu bekerja?" tanya gadis manis itu serius.
"Melihat pengirimnya sudah pasti iya."
"Wow ... hebat. Mereka sangat perhatian pada karyawannya. Bahkan di hari pertamamu dirawat, Eve. Padahal kau juga tergolong baru disana."
"Aku juga tidak menyangka."
Senyum tipis Evelyn terulas. Rasanya seperti ada yang membuatnya bangga bekerja disana.
Dan tentu saja ini sangat menghiburnya, selepas ia mendapat telepon dari Aglen tadi.
"Apa ini!?" teriak Evelyn tiba-tiba.
Mata Evelyn mengerjap saat sebuah hewan kecil merayap dari dalam bunga yang ia peluk ke tangannya dan menggigit pula. Segera ia hempaskan bunga itu dari dirinya.
"Kecoa! Hiiiiiii...."
Dan berhamburanlah semuanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠
"Sir, saya sudah mendapatkan identitas wanita itu."
Perawat yang dimintai tolong oleh Sebastian datang dengan berbinar.
Sebastian tidak sabar untuk mengetahuinya. Meski dalam hatinya tidak tenang, namun Sebastian menutupinya dengan baik.
"Sebentar."
Perawat itu mengeluarkan selembar kertas dari dalam tasnya.
Ia bercerita banyak hal bagaimana ia bisa mendapatkan informasi itu. Mulai dari ia membayar detektif yang menyelidikinya, dengan uang yang diberikan Sebastian padanya. Hingga perawat itu akhirnya diperbolehkan melihat di tempat penyimpanan jenazah karena sampai detik ini tidak ada keluarga yang mengambilnya.
"Berikan padaku berkasnya," titah Sebastian tidak sabar.
Meski lelaki tua itu mengakui jika kerja perawat yang ia mintai tolong itu tergolong cepat, walaupun tetap saja menggunakan uang.
Tangan Sebastian gemetar menerima selembar kertas yang ketikan tulisannya sangat jelas meski dilihat dengan mata rentanya itu.
Dan seketika matanya memanas, begitu membaca inisial nama korban yang tercetak tebal disana.
KW, inisial itu sudah menjelaskan dugaannya. Meski sekuat hati Sebastian berusaha tidak mempercayainya.
"Siapa namanya?" Mata tua itu mengerjap. Bulir bening yang memenuhi kelopak matanya menghambur, membasahi selembar kertas yang ada dalam genggamannya.
"Tidak disebutkan disana?"
Perawat itu melirik tanpa menyadari perubahan suasana hati Sebastian. Kemudian ia mengingat siapa nama korban yang sudah diberitahukan oleh detektif yang disewanya itu.
"Kylie Wal ... Oh, Tuhan! Sir, benarkah ini anak perempuan anda?" Perawat itu memekik saat ia hampir mengatakan nama belakang gadis yang tewas itu sama dengan nama Sebastian.
Lelaki tua itu tertegun dan menunduk. Hatinya hancur untuk kedua kalinya. Ia memnag kecewa dengan Kylie, dan semua ulah anak gadisnya itu. Tapi sekali lagi, perpisahan karena kematian adalah hukuman paling pedih bagi sosok ayah seperti Sebastian yang sudah tidak muda lagi.
Perawat itu mendekatkan tubuhnya pada Sebastian kemudian membawa Sebastian dalam pelukannya, seperti seorang anak lelaki dengan ayahnya.
"Anak anda pasti bangga memiliki ayah seperti anda, Sir," hibur perawat itu.
"Anakku tidak pernah bangga denganku. Aku ayah yang tidak berguna!" Tangis Sebastian lirih, namun terdengar memilukan.
"Tidak, Sir. Anda ayah yang sangat baik. Ayah yang tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Bahkan anda menggunakan uang jaminan masa tua anda, harta anda satu-satunya hanya untuk mencari tahu berita ini. Anda adalah ayah yang hebat untuk mereka."
Perawat itu berkali-kali menepuk punggung Sebastian untuk menenangkan. Padahal dirinya juga ikut menangis mengingat kisahnya sendiri.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Aglen menjalani pemeriksaan selama 3 jam. Pertanyaan demi pertanyaan diajukan, mulai dari keterlibatan Adam akan pemalsuan produk dari perusahaan yang dipimpinnya sendiri hingga penculikan Elea dan Luna.
Rupanya sang ayah, Ellard hanya melaporkan tentang keterlibatan menantunya itu akan penculikan cucunya. Namun Aglen menambahkan juga akan kecurangan yang dilakukan adik iparnya itu di perusahaan. Sehingga akhirnya Aglen dijadikan saksi karena ia yang melaporkan dan memiliki buktinya.
Aglen menolak untuk menemui Adam. Sekalipun menurut penyidik, Adam memohon untuk bertemu kakak iparnya itu.
Kekecewaan yang sudah lama dipendam Aglen semakin menumpuk dan tidak disadari oleh Adam.
"Sir, tolong izinkan saya untuk meminta maaf pada kakak dari istri saya," mohon Adam sekali lagi saat ia melihat sosok Adam masih berada di ruangan lain yang tidak jauh dari tempatnya berada sekarang.
"Maaf, Tuan Aglen sudah mengatakan tidak ingin diganggu lagi untuk urusan apapun yang berhubungan dengan anda. Beliau hanya mau menjadi saksi anda di pengadilan."
"Tapi saya adik iparnya. Saya juga berjasa membesarkan perusahaan itu selama ini," celoteh Adam yang merasa gerah.
Lelaki berambut pirang itu merasa dipandang sebelah mata padahal ia ikut berjasa di perusahaan keluarga Efrain yang sudah berpindah kepemilikan atas nama sang istri itu.
Ia tidak memiliki akses sama sekali ke keluarga Efrain. Mulai dari Luna yang berganti nomor, Ellard memblokir kontaknya dan sekarang Aglen menolak bertemu dengannya. Bahkan sang ayah pun sudah angkat tangan.
Satu-satunya yang ada dipikiran Adam tinggal Pauline. Tapi mengingat penolakan yang dilakukan saat terakhir kali mereka bertemu, membuatnya sangsi menghubungi wanita itu.
Sepertinya, ia harus berbuat sesuatu, agar ia tidak sendirian menanggung segala kesalahan yang menurutnya bukan hanya salahnya seorang.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
💚💚💚💚💚💚💚