La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 22



Senyum tipis Stefan terulas saat dibacanya bait demi bait tulisan dari secarik kertas yang berada di tangannya.


"Elea, kau cantik seperti ibumu. Dan Aglen memang jeli. Wajahmu adalah milikku." Stefan sampai membuang napasnya berkali-kali. Antara bahagia dan tidak percaya, jika gadis kecil yang memanggilnya paman tampan itu adalah darah dagingnya.


Siang ini, selepas dari perusahaan Luna, Stefan mampir ke laboratorium untuk mengambil hasil tes DNA sampel dirinya dan Elea.


Dan meski lelaki ini sudah menduga sebelumnya, namun tetap saja ia sangat bahagia mendapatkan kabar yang seratus persen dijamin keasliannya ini.


Toretto memang pantas diberi hadiah. Jika bukan karena infonya, Stefan tidak akan mungkin curiga dan melangkah sejauh ini.


Suara teriakan anak-anak pulang sekolah membuyarkan lamunan lelaki itu.


Dengan sigap Stefan keluar dari mobilnya, kemudian menuju depan pintu gerbang, menunggu sosok gadis kecil itu muncul.


Elea keluar diantar ibu pengasuhnya, gadis kecil itu celingukan mencari sosok yang akan menjemputnya.


"Siapa yang menjemput Elea?" tanya ibu pengasuh.


"Mungkin belum datang, Bu." Gadis itu masih tidak menyerah.


Namun sejenak kemudian senyum cantiknya mengulas melihat sosok yang dikenalnya.


"Paman Tampan," gumamnya. "Paman...." Elea berteriak dan melambaikan tangannya pada Stefan yang berdiri mematung menatapnya.


Lelaki itu membalas kemudian berjalan menghampiri keduanya.


"El kenal? Ibu belum pernah melihat paman ini. Apa beliau paman El atau saudara yang mana?" Wanita yang nampak masih muda dan anggun ini bertanya dengan detail. Karena dialah yang bertanggung jawab pada siswa dibawah asuhannya.


"Saya pamannya, Bu." Stefan mengangguk sopan pada wanita itu.


"Iya. Ini Paman Tampan, Ups...." Gadis kecil ini membekap mulutnya sendiri, membuat Stefan yang tak sengaja mendengarnya tersenyum bahagia.


Gadis kecilnya itu memanggilnya paman tampan.


"Paman Stefan maksudnya, Bu." Elea meralat ucapannya.


"Maaf, Sir. Bisakah saya mendapatkan bukti jika Anda memang saudara Elea?"


"Em ... Kita hubungi saja kakek Elea, Tuan Ellard. Kepada beliau tadi saya meminta izin untuk menjemput El."


Stefan segera mengeluarkan ponselnya, berusaha menghubungi Ellard dengan panggilan video.


Tidak lama kemudian, nampaklah wajah Ellard yang berbicara dengan ibu pengasuh Elea. Hingga akhirnya gadis kecil itu diizinkan pulang bersama Stefan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Kita mau jalan-jalan kemana, Paman?" tanya Elea manja. Gadis kecil itu merasa nyaman dengan Stefan meski mereka baru bertemu dua kali ini.


Seakan kebersamaan mereka telah terjadi cukup lama.


"Sayang sekali, Paman hanya boleh menjemputmu dan membawamu pulang ke rumah Kakek."


Elea kecewa, raut wajahnya mendadak berubah. Dan stefan melihatnya.


"Sayang...." Lelaki itu mengulurkan tangannya, mengambil anakan rambut Elea lalu ia selipkan di belakang telinga.


"El kira, Paman Stefan kesini untuk mengajak jalan-jalan seperti Paman Aglen." Suara Elea parau. Gadis kecil itu sepertinya hendak menangis. Membuat Stefan memutuskan untuk menepikan mobilnya.


"Tempo hari, El sudah jalan-jalan dengan Paman bukan? Memang El ingin kemana? Atau kita mampir sebentar ke kedai gelato, baru kita pulang," bisik Stefan membujuk Elea.


"Boleh ... Boleh ... Paman. Aku suka gelato. Let's go," teriak Elea kegirangan. Gadis kecil itu sampai menirukan gerakan superman terbang.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bu. Kita ada masalah," ucap Emma ketika Luna baru saja meletakkan tasnya.


Bahkan Adam yang ikut mengantarnya hingga ke ruangan, masih ada disana.


"Masalah apa? Kenapa kau tidak menghubungiku, Em?"


"Sayang, kau butuh bantuan?" tanya Adam pada istrinya. Baru saja tiba, Luna harus mendengarkan masalah yang terjadi di perusahaannya.


"Tidak Sayang, pergilah. Aku yakin bisa menyelesaikannya." Luna mendorong suaminya untuk pergi.


"Kau yakin tidak butuh bantuan ku, Sayang?" Lelaki itu masih saja bertanya meski sang istri sudah mendorongnya keluar.


"Tentu saja. Seratus persen aku yakin. Papa pasti sudah menunggumu, pergilah Sayang," usir Luna.


"Baiklah, Sayang. Bye...." Adam melambaikan tangannya sebelum pergi dan memberikan ciuman dari jauh yang hanya dibalas senyuman oleh wanita itu.


"Ponsel Bu Luna tidak aktif. Saya berusaha mengatasi semampu saya tadi." Emma berusaha tenang meski sebenarnya tidak bisa.


"Iyakah?" Luna segera mengambil benda pipih yang ada di dalam tasnya itu. "Oh, ya ampun. Baterainya pasti habis. Semalam aku lupa mengisinya," keluh Luna pada dirinya sendiri. "Jangan mengumbar masalah kita sembarangan sekalipun itu suamiku. Kita pasti bisa menyelesaikannya nanti." Luna memperingatkan sekretarisnya itu.


"Maaf, Bu. Saya terlampau panik. Selama ini kita baik-baik saja," keluh Emma yang mungkin sudah berada di zona nyaman karena minimnya komplain dari customer.


Meski perusahaan ini tergolong baru, namun banyak pengakuan dari publik jika keamanan yang menjadi fasilitas utamanya adalah yang terbaik di negara itu.


"Ceritakan Em?" Luna berjalan ke meja kecil di dekat meja kerjanya, untuk mengisi daya ponselnya.


"Ada salah satu customer mengaku kehilangan barang berharga yang dititipkan disini, Bu."


"Apa? Itu tidak mungkin! Sejauh ini, pengamanan kita paling baik terbaik di negara ini, Em." Luna terkejut bukan main.


Ini kasus pertama selama tiga tahun perusahaannya berdiri.


"Saya juga merasa bingung, Bu. Beberapa bulan ini, kita memang banyak customer baru , hingga saya tidak bisa menghapalnya.


Terdaftar atas nama Nona Angeline. Premium customer kita, telah kehilangan kalung berliannya yang bertahtakan batu safir yang katanya hanya ada 5 di dunia. Dan harganya...."


Luna terdiam. Dari mimik wajah Emma saja sudah terbaca, jika kalung itu tidak mungkin hanya berharga ratusan ribu dollar.


"Ada yang sudah kesini?"


"Pagi tadi, wakil dari pihak Nona Angeline, Bu. Dan kejadiannya kemarin. Nona Angeline sendiri yang kesini hendak mengambilnya, namun kalung itu tidak ada ditempatnya."


"Kemarin? Mengapa kamu baru laporan hari ini?" tanya Luna mulai mencurigai sesuatu.


"Saya juga baru mendapatkan laporan hari ini, Bu. Manager yang bertugas kemarin mengatakan, Nona Angeline akan berhubungan sendiri dengan Ibu. Dan beliau melarang mereka melaporkannya," jelas Emma yang menginterogasi sendiri pihak-pihak yang terkait.


"Panggil semua manager sekarang!"


"Baik, Bu."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=โ‰ \=\=


"Mau?" Stefan baru saja dua kali menyendokkan gelato kedalam mulutnya. Namun lirikan Elea menghentikan suapannya yang ketiga.


"Sepertinya gelato milik Paman lebih enak," ucap gadis kecil itu memangku dagunya di meja.


"Paman pesankan lagi, ya? Atau dibungkus saja," tawar Stefan.


Lelaki itu takut terlalu lama berada disana. Karena ia sudah berjanji pada pamannya untuk segera membawa Elea pulang dengan segera.


Elea bahkan sudah menghabiskan satu mangkuk gelato cioccolato fondente. Dan ia malah masih menginginkan gelato milik Stefan.


Namun gadis kecil itu menggeleng, menolak tawaran Stefan. "Itu rasa apa, Paman?" tunjuk Elea ke mangkuk Stefan.


"Ini namanya gelato Bacio, perpaduan coklat dan hazelnut. Paman suka coklat tapi tidak suka manis. Ini enak sekali. Cobalah." Stefan menyendokkan gelatonya kedalam mulut kecil milik Elea.


"Hmmmm ... Benar-benar enak. Harusnya tadi aku pesan yang ini, Paman," celoteh Elea yang membuka mulutnya kembali minta disuapi.


Dan dengan senang hati Stefan melakukannya. Lelaki itu membayangkan, jika ia mengetahui sedari awal Elea ada, pasti ia tidak akan melewatkan masa- masa paling manis seperti ini.


Menyuapi Elea saat makan sambil menggodanya. Dan bahkan ia dengan rela belepotan makanan Elea hanya karena gadis kecil itu memeluknya saat bekas makanan dibibirnya belum di bersihkan.


Bahagianya.


"Paman?"


"Eh ... Iya. Sudah habis ya? El mau lagi?" Stefan berucap spontan melihat mangkuknya yang kosong.


"Dibawa pulang saja. Emm, p


Paman... El boleh minta satu lagi untuk Mama?" Gadis kecil itu mengerjap lucu dengan permohonan ya.


"Tentu saja. Untuk papa juga boleh. El mau berapa?"


"Daddy, Paman. Daddy tidak suka gelato. Tapi Mama menyukainya seperti El dan Paman." Jawaban Elea membuat Stefan tertegun.


"Rasa apa?"


"Sama seperti punya Paman, bacio dua." Elea mengacungkan dua jarinya dan menggerakkannya seperti gunting.


"Siap kapten!" ucap Stefan mengangkat tangannya didekat kepalanya. Bergaya hormat ala militer pada Elea.


Elea yang cantik.


Eleanor Ellard Efrain. Begitulah seharusnya namanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Iya, Ma."


"Sayang, tidak adakah lowongan untuk Kylie di perusahaanmu?"


Suara dari seberang adalah Lilyana Walton, ibu dari Adam.


"Belum, Ma. Kylie di perusahaan papa saja dahulu. Nanti kalau disini ada lowongan, Adam tarik Kylie kesini." Adam menjawab telepon sang ibu sambil fokus ke macbook nya.


"Perusahaan papamu tidak bisa diandalkan. Kylie tidak mau bekerja disana," elak mamanya.


"Hanya mencari pengalaman saja, Ma. Katakan padanya seperti yang kuucapkan ini. Aku janji akan mengusahakan dia bisa bekerja disini. Sudah ya, Ma. Maaf aku banyak pekerjaan," putus Adam.


"Kenapa kau tidak memintanya pada Luna? Dia istrimu, Sayang. Ayahnya saja baik dan pengertian pada keluarga kita," ucap sang mama memancing.


"Ma, Papa Ellard memang sangat baik. Bahkan beliau memberikan semuanya tanpa kita minta. Untuk hal seperti ini, aku sangat menjaga perasaan Luna. Ia merekrut karyawannya dengan profesional, bahkan dengan keluarganya sendiri. Aku tahu Kylie. Dia belum memenuhi standar perusa_"


Dan mendadak panggilan mati. Adam hanya mendengkus menanggapinya. Ibunya selalu begitu jika berselisih pendapat tentang suatu hal.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Em, masukkan segala berkas tentang Angeline ke mobil. Aku mau langsung pulang saja." Luna mendadak pulang lebih awal karena ia tidak fokus memeriksa segala hal di kantornya. Ia benar-benar membutuhkan suasana yang sunyi dan damai.


"Jangan lupa kirimkan rekaman CCTV dari mulai dia datang hingga dia pergi," ingat Luna pada sekretarisnya itu.


"Semuanya, Bu?"


"Ya, sesingkat apapun ia terlihat di kamera CCTV kita. Termasuk kedatangan mereka hari ini."


"Baik bu."


"Tengkukku mendadak tegang." Luna memijit sendiri belakang lehernya untuk mengendurkan otot dan merilekskan otaknya.


"Ibu kurang istirahat pasti." Emma dengan sigap menghampiri dan membantu bosnya itu memijit area belakang kepala yang ia keluhkan.


"Beberapa hari ini aku membantu pekerjaan Adam. Mungkin aku hanya kurang tidur," keluh Luna.


"Ibu bekerja terlalu keras. Bukankah Pak Adam cukup handal selama ini mengelola perusahaan ibu yang di sana. Ibu fokus disini saja." Emma menjadi sangat cerewet pada bosnya.


"Aku kasihan dengan Adam. Tanggung jawabnya terlalu besar. Belum lagi papa memberinya tanggung jawab lain yang juga sama beratnya." Luna sedikit bercerita pada sekretarisnya itu.


"Mungkin Ibu perlu mencarikan asisten pribadi untuk pak Adam. Supaya Ibu tidak lagi kelelahan seperti ini. Yang juga handal tentunya,"


"Boleh juga idemu. Aku akan coba mencarinya. Harus yang handal!" gumam Luna lirih.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Selamat sore Mama."


Wajah ceria Elea selalu membuat hari Luna berwarna. Sepahit dan semendung apapun, anak-anak memang tidak pernah gagal menghibur.


"Hai, Cantik! Anak Mama sudah di rumah? Siapa yang mengantarmu, Sayang?"


"Paman Alex yang menjemput dari rumah kakek. Mama sakit?" Luna terkesiap. Gadis kecilnya sepeka itu dengan dirinya.


"Hanya sedikit...." Senyum tipis terulas agar putri kesayangannya itu tidak terlalu khawatir dengannya.


"Mama nampak pucat dan ... tidak bersemangat. Tapi tenang, El punya obat untuk itu," ucap Elea berbinar.


Gadis kecil itu segera berlari menuju kulkas dan mengeluarkan sesuatu dari sana.


"Untuk Mama." Elea menyodorkan satu kotak gelato yang menggoda.


"Wahhh ... sepertinya enak sekali. Mama pasti langsung sembuh kalau bisa menghabiskannya," ucap Luna menghibur.


Namun memang tidak bisa dipungkiri jika air liurnya hampir menetes, membayangkan gelato lembut nan kental dan dingin itu memenuhi rongga mulutnya.


Elea mengambilkan sendok untuk Luna. "Mama habiskan ya," pesan gadis kecil itu sebelum pergi ke kamarnya.


"Siap, Sayang!" sahut Luna sembari mengangkat satu jempolnya.


Sepeninggal Elea, Luna masuk ke ruang keluarga. Disana wanita itu merebahkan tubuhnya pada single sofa yang empuk menghadap jendela. Tidak lupa ia membawa pemberian putri kecilnya itu.


"Emmm, memang enak sekali. Ini ... coklat bercampur hazelnut. Rasanya otakku sedikit rileks dan...." Luna menggumam sendiri. Menikmati gelato sendok demi sendok.


"Ini premium. Pasti papa yang membelikan. Papa selalu penuh pengertian." Luna terus saja memakannya hingga akhirnya kotak berwarna kuning emas itu kosong.


"Ya ampun, aku tidak pernah serakus ini sebelumnya," sesalnya. Namun sejenak kemudian ia tertawa kecil.


"Mama!"


Langkah kaki kecil terdengar bersamaan dengan suara Elea yang memanggilnya dari luar.


Klek!


Pintu terbuka bersamaan dengan senyum gadis kecil yang lucu itu. "Elea boleh tidur bersama Mama?"


"Tentu saja boleh, Sayang. Biarkan mama membersihkan tubuh m


Mama dulu, ya. El tunggu saja di kamar," jawab Luna mengusap surai hitam Elea yang memeluknya manja.


"Wahhh ... Mama benar-benar menghabiskannya." Elea menganga takjub melihat kotak kosong bekas di depan sang Ibu.


"Hemm ... Dan Mama sudah sembuh, tidak jadi sakit dan lebih bersemangat!" teriak Luna merentangkan kedua lengannya.


"Apa kakek yang membelikan gelato untuk Mama?" tanya Luna memastikan.


Elea menggeleng.


"Paman Aglen? Atau Paman Alex?"


Gadis kecil itu kembali menggeleng.


Elea merangkul leher Luna, kemudian membisikkan sesuatu.


"Paman Tampan yang membelikannya. Dia juga menyukai gelato bacio, sama seperti yang dipilihkan El untuk Mama."


Gluk!


Uhuk... Uhuk....!


"Mama. Mama baik-baik saja?" tanya Elea cemas. Sang ibu nampak mengusap tenggorokannya. Kemudian menghabiskan segelas air putih yang selalu tersedia di meja.


Lelaki itu lagi.


Luna memekik kesal dalam hati.


"Mama tidak apa-apa, Sayang. Kenapa tidak mengatakannya dari awal?" Luna mendengkus marah namun ia tidak bisa menampakkannya. Ia tidak ingin Elea kecewa.


"Mama tidak menyukainya?"


"Mama menyukainya, Sayang." Luna tidak mungkin menjelaskannya. "Apa paman Stefan menjemputmu di sekolah?"


"Iya. Dan El mengajak Paman jalan-jalan tapi Paman tidak mau. Sebagai gantinya, Paman membelikan El, gelato. Itupun makannya buru-buru. Katanya El tidak boleh terlambat pulang."


Penyesalan nampak di raut wajah Elea. Dan Luna tidak menyukai itu.


"Tidak. Tidak apa-apa." Wanita itu menarik tubuh Elea kedalam pelukannya. "Mama hanya khawatir dengan El. Lain kali harus izin dahulu dengan Mama, ya," pesan Luna pada putri kecilnya.


"Siap, Mama!"


"Hufff Papa," pekik luna dalam hati.


๐Ÿ’œ๐Ÿ’œ๐Ÿ’œTerima kasih masih setia, love u