
Luna terbangun di tempat yang begitu asing. Namun tentu tidak dengan suasananya. Matanya mengerjap pelan. Jejak-jejak cairan bening bahkan masih terasa di pipinya. Rasanya asin saat menyentuh ujung bibir.
Wanita itu terdiam. Dadanya terasa sesak, sangat. Kejadian yang baru saja dialaminya, seperti pukulan telak dalam sejarah perjalanan hidupnya. Setelah kehilangan sang ibu yang tidak pernah bisa dirasakannya.
Di depan matanya, bangunan dimana ada Stefan didalamnya meledak dengan keras dan seketika roboh dan hancur. Masihkah bisa selamat orang yang berada didalamnya?
Luna tidak ingin memikirkannya. Tapi otak dan hatinya menginginkan hal yang berbeda. Wanita itu sampai meremas pelindung samping ranjangnya. Berharap rasa sakit yang menyusup dan kehilangan akan seseorang yang berkorban untuknya itu segera pergi.
"Apa kau ingin sesuatu?"
Rupanya, sedari awal Aglen ada di dalam kamar Luna. Namun lelaki itu hanya duduk di sofa dan diam menatap reaksi sang adik yang baru saja bangun.
Luna melirik kemudian menatap nanar sang kakak. Kenapa harus lelaki itu yang menemaninya disini, bukan bibi Ofelia atau yang lainnya.
Wanita itu juga merindukan Elea. Stefan mengatakan jika ia sudah menyelamatkan gadis kecil itu, dan sekarang ia berada di tempat yang aman. Tapi mengapa lelaki itu tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.
Luna menutup matanya. Rasanya ia tidak kuat menanggung beban ini.
Ia ingin sekali memeluk Elea. Putri kecilnya, yang juga darah daging Stefan. Bahkan belum melihat gadis kecil itu saja, air mata Luna jatuh kembali. Bagaimana nanti jika Elea bertanya ini itu tentang lelaki yang dipanggilnya paman itu?
Mengapa bukan Elea saja yang duduk di sofa itu? Saat ini hanya gadis kecil itu yang ingin ia temui.
Tapi tentu tidak diperbolehkan. Ini di rumah sakit, dan keadaan mental Luna belum stabil. Kasihan Elea yang belum mengerti apapun.
"Tidak, Kak. Papa_"
"Papa baik. Ia hanya terluka di kakinya."
"Alex?"
"Alex juga. Bukankah dia yang menyelamatkanmu. Dia yang menggendongmu saat kau pingsan."
Ya. Setelah bangunan itu meledak, Luna menangis dan jatuh terduduk. Di otaknya hanya terpikirkan satu hal, Stefan. Bagaimana keadaan lelaki itu? Bahkan sekedar meneriakkan namanya pun, Luna tidak sanggup. Yang keluar dari bibirnya hanya raungan memilukan.
Keadaan ini sangat berat untuknya. Meski entahlah, rasa yang tumbuh ataupun ada diantara mereka tidak ada yang tahu.
Yang jelas semua terasa seperti sebuah batu besar yang menghantam kepalanya. Memaksanya menerima jika Stefan orang yang pernah menorehkan luka pada masa lalunya adalah penyelamat hidupnya dan juga Elea.
Dan, pernyataan cinta itu. Mungkin lelaki itu sudah gila. Luna masih memiliki suami dan dengan beraninya Stefan mengaku cinta padanya.
"Bolehkah aku bertemu Papa?" Luna melihat Aglen dengan tatapan memohon.
"Mereka sudah ada di rumah. Keadaanmu harus stabil dulu baru kau boleh bertemu mereka."
"Jadi mereka tidak dirawat disini?"
Luna kaget sekaligus lega karena sang ayah baik-baik saja.
"Dirawat, tapi sudah pulang. Kau tidak sadarkan diri selama 24 jam. Istirahatlah," ucapan Aglen layaknya kakak yang perhatian pada adiknya. Namun lelaki itu mengatakannya dengan intonasi yang sangat kaku.
Aglen berdiri, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bersiap untuk keluar kamar Luna.
"Sebentar, Kak. Apa yang Kakak katakan tadi?" Luna pasti salah mendengarnya. Dia tidak merasakan sakit pada tubuhnya. Bagaimana mungkin ia baru terbangun satu hari berikutnya.
"Kamu pingsan sehari semalam. Itulah mengapa mereka bisa pulang lebih dulu," jelas Aglen singkat.
"Kak?"
"Apalagi? Kenapa tidak menyelesaikan pertanyaanmu saat aku duduk tadi. Aku hanya bertugas menemanimu sampai bangun saja." Tatapan jengah ditunjukkan Aglen pada adiknya.
"Stefan?" Luna menggumam lirih, namun rupanya Aglen mendengarnya.
Lenguhan napas berat Aglen terdengar. Terlihat ada sesuatu membebaninya.
"Kita bicara lagi nanti. Juga soal Angeline Peterson dan Adam. Sekarang, pulihkan dulu kondisimu dan juga mentalmu. Papa dan El menunggumu di rumah."
Aglen pergi begitu saja setelahnya. Luna merasa tidak puas akan jawaban yang diberikan sang kakak. Itu seperti hanya menenangkan saja.
Wanita itu turun dari ranjangnya. Membuka lemari dan nakas yang ada disana mencari barang pribadinya. Namun nihil. Hanya ada beberapa lembar baju ganti. Tidak ada ponsel, ataupun tasnya.
Tidak kehabisan akal, Luna bergegas mencari remote TV. Kamar seluas ini dan satu persatu ia membuka laci atau apapun yang bisa digunakan untuk menyimpan benda kecil panjang itu.
Meski ia harus repot membawa botol infusnya, namun ia tidak menyerah.
Beberapa menit kemudian, tampaknya wanita itu harus benar-benar menyerah. Ia tidak menemukan benda yang dicarinya dimanapun di dalam ruangan ini.
Luna bersandar pada ranjang rumah sakit, dan menatap setiap tempat yang sudah ia hampiri. Dan detik itu juga ia tersadar, tidak ada layar TV di kamar ini.
Wanita itu tertunduk lesu. Semua ini seperti sudah diatur. Sang ayah pasti ikut andil didalamnya.
Padahal ia ingin mencari berita tentang ledakan itu. Pasti beritanya sudah muncul di media.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Brakk!
Brakk!
Adam mengamuk begitu masuk berada di depan sebuah apartemen mewah yang ada di Rusia. Tempat itu diduga menjadi tempat tinggal Kylie di sana.
Lelaki itu mendapatkan alamat apartemen ini dari detektif yang di sewanya.
"Sayang, sabarlah. Mungkin Kylie sedang diluar." Liliana menenangkan anak lelakinya yang sedang emosi.
Beberapa kali wanita paruh baya itu mengusap punggung Adam. Namun Adam yang sudah seperti orang kesetanan tidak begitu perduli dengan perlakuan sang ibu.
"Aku sudah berkali-kali sabar, Ma! Bahkan ketika Mama meminta tolong untuk membeli ijazahnya. Sekarang aku tidak akan membantunya lagi! Anak itu tidak bisa diberi hati!" kesal Adam yang seakan ingin menumpahkannya pada sang ibu yang selalu membela dan meminta untuk dimaklumi setiap tingkah laku sang adik.
Brak!
Brak!
Adam masih terus
menendang pintu apartemen adiknya itu. Namun malah menarik perhatian beberapa penjaga keamanan, hingga akhirnya mereka datang menghampirinya.
"Maaf, Sir. Apa yang Anda lakukan mengganggu kenyamanan penghuni lain disini. Dan tentunya juga merugikan pihak owner dari apartemen ini. Anda bisa dituntut untuk itu."
Seorang lelaki bertubuh tinggi besar dengan pakaian khas penjaga keamanan mengingatkan Adam akan apa yang dilakukannya.
Adam menghentikan aksinya. Kemudian lelaki itu berdiri tegak dan mengatur napasnya.
"Dimana penghuninya? Aku ada urusan dengannya!"
Lelaki berambut pirang itu membenahi pakaian dan gestur nya.
"Siapa yang Anda cari, Tuan? Barangkali kami bisa membantu."
"Kylie Walton. Bukankah dia yang tinggal disini?"
"Sebentar, Tuan." Lelaki yang bertugas menjaga gedung apartemen itu nampak mengecek sesuatu di ponselnya.
"Anda benar, Tuan. Nona Kylie Walton berkebangsaan Kanada. Tapi beliau baru saja meninggalkan apartemen kira-kira setengah jam yang lalu. Dan juga membawa semua barang-barangnya. Sepertinya beliau tidak akan kembali. Karena saya ikut membantu mengangkat kopernya kedalam mobil."
"Apa? Dasar gadis brengsek! Ia pasti akan kabur lagi," umpat Adam yang emosinya sudah sampai diubun- ubun.
Bagaimana mungkin Kylie bisa mengetahui kedatangannya. Pasti orang yang bersamanya memiliki kekuatan seperti yang detektif itu sampaikan.
Adam pergi setelah berterima kasih pada para penjaga itu. Lelaki itu melenggang tanpa memperdulikan sang ibu yang kesulitan berjalan karena lelah.
"Adam, tunggu Mama...."
"Kita akan kehilangan jejaknya jika terlalu lama disini, Ma." Lelaki tu berucap sambil terus berjalan.
Brukk!
Suara gedebum yang terdengar keras dibelakang Adam, memantik perhatiannya.
"Oh God! Tidak Mama, jangan sekarang!"
Adam berlari menghampiri Liliana yang jatuh pingsan. Perempuan paruh baya dengan berat diatas rata-rata itu terlentang di atas aspal dekat mobil yang disewa Adam.
"Pak! Tolong ibu saya." panggilnya pada keamanan apartemen yang tadi menegurnya. Ia memberikan sejumlah uang pada lelaki bertubuh gempal itu untuk membawa sang ibu ke rumah sakit. Sementara dirinya akan mengejar Kylie ke bandara.
"Aku tidak boleh kehilangan jejakmu Kei, atau aku akan hancur!" gumam lirih Adam yang gegas mengemudikan mobilnya bagai pembalap profesional.
Bahkan ia tidak memperdulikan kejaran mobil polisi dibelakangnya.
Baginya yang terpenting bisa menemukan Kylie lebih dulu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Hah.. Hahh😁Atur napasnya dulu ya teman-teman. Jangan sampai gara-gara baca cerita ini kamu jadi sesak napas dan melupakan makan. Love u💜