
"Hass ... Dasar gadis brengsek!"
Umpat Adam di depan ayah mertuanya. Lelaki itu kecewa sekaligus geram dengan sang adik. Namun ellard sama sekali tidak terpengaruh.
"Itu urusan keluargamu. Yang jelas, semua keributan ini disebabkan olehmu."
Ellard menumpukan kedua tangannya diatas meja. Menatap tajam menantu yang pernah dibanggakannya itu dulu di depan anak perempuannya. Dan Ellard tidak pernah menyangka, jika semua akan menjadi seperti ini.
"Aku bisa menjelaskannya, Pa."
Adam panik melihat sang ayah mertua sudah memegang kartu As kejahatannya.
"Tidak perlu!"
Ellard memutar tubuhnya dan menyilangkan kedua tangannya diatas dada.
"Kuberi kau waktu dua minggu, untuk menyelesaikannya tanpa campur tangan perusahaan."
Ellard memberikan syarat yang sangat sulit dijalankan oleh Adam. Bagaimana mungkin lelaki itu tidak melibatkan perusahaan, sedangkan ini bukan nominal kecil lagi.
Keuangan pribadi Adam pun sedang benar-benar buruk kali ini. Ia tidak memiliki apapun selain jabatannya sebagai Direktur di perusahaan ini. Semua ini imbas dari perbuatannya sendiri.
"Baiklah. Aku akan berusaha menyelesaikannya, Pa. Apa Luna ... Baik-baik saja?"
Adam berusaha mencari tahu kabar istrinya. Meski sepertinya Luna sama sekali tidak ingin dihubungi karena wanita itu mematikan ponselnya.
"Aku tidak akan ikut campur urusan rumah tangga kalian. Aku hanya minta kaun tanggung jawab dengan pwebuatanmu. Jika dalam waktu dua minggu kau tidak dapat menyelesaikannya, aku akan memberikan bukti-bukti itu pada polisi," ancam Ellard pada menantunya itu.
"Jangan, Pa! Aku mohon, maafkan aku." Adam tidak pernah memohon dalam hidupnya. Namun kali ini ia melakukannya. Ia sampai bersimpuh didepan Ellard.
"Aku hanya ingin masalah ini cepat selesai. Memohon sepeti apapun, bagiku tidak ada gunanya."
Ellard melenggang pergi setelahnya. Ia tidak ingin lagi mendengar permohonan maaf menantunya itu. Karena Ellard tidak ingin akhirnya merasa lemah dan kasihan.
"Tuan."
Setelah keluar dari ruangan Adam, Ellard melenggang pergi dari tempat itu. Namun ia langsung berhenti begitu mendengar panggilan Alex dari belakang.
Alex mendekati sang majikan. Kemudian setelah memastikan tidak ada seorangpun disekitar mereka, Alex langsung mendekat dan membisikkan sesuatu.
"Sekutu dari Nona Angeline Peterson adalah ... Mungkin nyonya Luna mengenalnya. Namanya Pauline osbert. Wanita berkebangsaan Amerika yang merupakan anak seorang polisi senior. Saya sudah mengeceknya. Nona Osbert adalah teman sekolah Nyonya Luna."
"Osbert?" Ellard terlihat tengah mengingat-ingat sesuatu.
"Iya, Tuan. Dia adalah putri tunggal perwira polisi Edward Osbert," jelas Alex yang membuat Ellard mengepalkan tangannya.
"Pauline dan Angeline adalah sepupu, Tuan," tambah Alex yang seperti membaca apa yang ada dikepala majikannya.
"Angeline dendam dengan Stefan karena penolakan perjodohan itu, lalu Pauline?"
"Hem ... Saya sudah mencari tahu sampai ke teman-teman kampusnya. Rupanya Nona Pauline pun dulu juga mengincar mantan kakak kelasnya, Tuan Stefan,"
"Jelas sudah!" Otak Ellard seketika bekerja.
"Satu lagi, Tuan."
Alex nampak ragu untuk mengucapkannya.
"Katakan!"
"Saya harap Tuan bisa menahan diri. Tapi...."
"Sudah katakan! Jangan berbelit-belit!" bentak Ellard pada asisten sekaligus bodyguard senior itu.
"Semua masalah yang terjadi pada nyonya Luna kemungkinan ada campur tangan Tuan Adam." Alex seketika menunduk. Ia tidak berani menatap sang majikan yang sudah pasti tengah murka sekarang.
"Apa!?" Ellard menata detak jantungnya yang memacu cepat. "Sedalam apa ia ikut?"
"Sepengetahuan saya, beliau tahu soal penculikan Nona Elea. Tapi kita tidak memiliki buktinya, Tuan."
Brak.
"Angeline, satu-satunya bukti yang bisa kita ancam untuk bicara atau..." Tiba-tiba Ellard ingat saat Luna meminta izin padanya untuk menemui Angeline. Anak perempuannya itu mengatakan jika Nona Peterson itu ingin bertemu.
"Luna pasti sudah tahu tapi ia menyimpannya sendiri."
Ellard terdiam sejenak. "Antar aku ke kantor polisi. Aku tidak mau mengotori tanganku. Apalagi untuk urusan Adam."
"Lalu bagaimana dengan nyonya Luna, Tuan?" tanya Alex yang mengingatkan sang majikan untuk tidak gegabah melaporkan karena ini adalah masalah pribadi Luna.
"Urusan mereka biar mereka yang menyelesaikan. Tapi jika menyangkut perusahaan dan cucuku, aku merasa berhak menjaganya.
Lelaki paruh baya yang masih terlihat gagah itu melangkah pergi diikuti Alex dibelakangnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sayang, kau beli apa saja?"
Luna menunggu Elea di kasir, karena gadis kecilnya itu mengatakan hanya ingin mengambil coklat beberapa batang.
Malam ini, tiba-tiba Elea ingin keluar. Karena tidak mungkin mengajak paman dan bibinya keluar malam, akhirnya Luna memutuskan untuk pergi ke supermarket yang buka 24 jam saja.
Dan yang terjadi sungguh mengejutkan. Beberapa menit kemudian Elea datang dengan membawa satu keranjang penuh snack dan makanan ringan serta beberapa minuman rasa buah.
Bahkan Luna tidak tahu kapan putri kecilnya itu mengambil keranjang.
"Ini cukup untuk kita berdua selama di rumah Opa Wliam, Ma," Senyum kecil gadis itu dan kerjapan mata Elea membuat Luna luluh dan tidak bisa marah.
"El, ini terlalu banyak Sayang," Luna membuka tumpukan snack itu dan mencoba bernegosiasi.
"Di rumah Opa kan ada banyak orang, Ma. Nanti kita bagi satu persatu." Gadis kecil itu beralasan dan segera menyerahkan keranjangnya kepada kasir.
Setelah kasir selesai menghitungnya, secara bersamaan Luna dan Elea sama -sama mengeluarkan kartu kredit.
"El? Itu milik siapa?" Luna terkejut Elea memiliki sebuah kartu kredit. Selama ini putrinya itu tidak pernah bercerita padanya.
"Milik Elea, Ma." Dengan santai gadis kecil itu menjawab.
"Tidak mungkin! Siapa yang memberikannya? El belum boleh menggunakannya. Nanti jika sudah cukup besar."
Luna ingin sekali melihatnya tapi kartu berwarna hitam berlogo sebuah bank itu masih berada di tangan kasir yang melayani mereka.
"Itu milik El, Ma. Dari paman Stefan. Kata Paman boleh digunakan sesuka hati El, tapi untuk hal-hal yang baik saja. Bukankah membeli makanan untuk para pelayan juga adalah hal yang baik?" Gadis kecil itu menatap sang ibu meminta jawaban.
Dia lagi.
"Mama tahu, Sayang." Luna mengesah. Sedekat itu mereka berdua yang bahkan tidak Luna ketahui.
Setelah transaksi selesai, Luna segera mengajak Elea masuk ke dalam mobil. Jarum jam menunjuk di pukul setengah sepuluh malam dan Luna takut kemalaman dijalan.
Jalanan memang masih ramai, namun mereka harus melewati jalanan yang sepi nanti untuk sampai ke rumah Stefan, karena pemberlakuan buka tutup jalan sesuai jam.
"Sayang, kartu milik paman Stefan dikembalikan ke Oma, ya?" pinta Luna pelan-pelan sambil mengemudikan mobilnya.
"Itu kan milik El, Ma. Paman Stefan sudah memberikannya," tolak Elea yang sudah mulai muram mendengar permintaan sang ibu yang diulang terus menerus.
"Mama tahu. Tapi paman Stefan_" Fokus Luna terpecah saat ia yang sering melihat spion diatas dashboard untuk nengintip belakang mobilnya tiba-tiba menemukan sebuah mobil yang berjalan pelan dibelakangnya.
Jika dia tidak salah ingat. Mobil itu tadi terparkir tidak jauh dari mobilnya saat berada di supermarket.
"Kenapa, Ma?" tanya Elea saat melihat sang mama nampak gelisah, dan tidak meneruskan bicaranya.
"Tidak, Sayang." Wanita itu menoleh ke arah gadis kecilnya sembari tersenyum kecil. Seakan menyampaikan jika semua baik-baik saja.
Ah, mungkin hanya perasaannya. Bukankah ini kota yang besar, hingga bisa saja beberapa orang memiliki mobil dengan merk dan warna yang sama.
Belum juga selesai dengan pikirannya sendiri. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras.
Brakk.
🖤🖤💙