La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 141



"Besok kita akan presentasi kemasan produk pada perwakilan dari Anderson Grup. Selama ini, hanya Anderson Grup yang memiliki kriteria tinggi soal peluncuran iklan dan kemasan produk. Jika besok kita bisa memenangkan tender itu, sudah pasti akan ada komisi besar menanti kita." Lolly sebagai kepala divisi pemasaran berbicara panjang lebar di ruang rapat.


Tentu tidak ketinggalan iming-iming komisi yang pastinya luar biasa. Karena Tuan Anderson sebagai pimpinan tidak pernah setengah-setengah dalam setiap peluncuran produknya.


"Anderson terkenal teliti, dan juga detail. Siapa kira-kira yang siap mewakili?" tanya Lolly yang menatap semua anak buahnya.


Dan semuanya hanya saling menatap. Mereka semua sudah pernah mewakili perusahaan untuk presentasi di depan wakil dari Anderson Grup. Namun mereka selalu kuwalahan dengan berbagai permintaan dan pertanyaan dari wakil yang mereka kirimkan. Belum lagi syarat-syarat yang diajukan yang selalu saja lebih dari satu.


"Mereka ribet. Dan yang mewakili selalu saja keponakan Tuan Anderson yang itu." Seseorang melontarkan kekhawatirannya. Mereka berbisik satu sama lain.


"Nona Amelia memang detail, bahkan sangat detail. Tapi untuk perusahaan besar seperti mereka, saya rasa itu hal yang wajar," ucap Lolly menyebut nama keponakan Anderson yang dibicarakan oleh anak buahnya.


"Bukan detail, terkesan mencari kekurangan dan kelemahan, Bu," sahut salah satu dari mereka.


"Kita harus lebih tangguh, teman-teman. Dunia marketing memang sekeras itu. Dan mereka berhak melakukannya, karena mereka menginginkan yang terbaik untuk produknya."


Luna menambahi. Sebagai orang yang berpengalaman menjadi CEO, tentu wanita itu mengetahui tentang segala hal mengenai seluk beluk sebuah bperusahaan.


"Baiklah. Sebagai orang baru dan sekalian perkenalan. Saya mengajukan diri untuk mewakili. Tapi saya tetap membutuhkan teman untuk membimbing saya."


"Serius Luna?" tanya Lolly kaget. Namun ia senang karena tidak harus kesulitan menunjuk anak buahnya yang lain.


"Iya, Bu Luna saja. Siapa tahu Amelia segan dengan Bu Luna," sahut yang lainnya. Mereka tentu tahu latar belakang Luna yang bukan dari keluarga biasa saja.


"Kalau begitu saya yang menemani. Karena membimbing orang baru adalah tugas saya," putus Lolly.


Wanita yang menjabat sebagai Kepala divisi marketing itu tertawa melihat anak buahnya yang mendadak mengkerut mendengar nama Anderson Grup.


"Terima kasih sudah mengajukan diri, disaat semua enggan mewakili," bisik Lolly pada Luna.


"Saya masih butuh bimbingan, Bu," ucap Luna mengerling.


"Sipp."


\=\=≠\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=


"Bhara?"


Lelaki itu bersandar di depan mobilnya. dengan tangan bersilang di dada dan senyum tipisnya.


"Kamu menungguku?" tanya Luna lagi. Wanita itu menoleh kesana kemari dan memang sudah tidak ada satupun karyawan yang keluar selain dirinya.


"Sepertinya tidak ada orang lain lagi," seloroh Bhara yang langsung menegakkan tubuhnya. "Ayo!"


Luna mengikuti Bhara untuk masuk ke dalam mobil lelaki itu.


"Mau mampir makan?" tanya Bhara melirik wanita di sampingnya itu.


"Pulang saja. Elea pasti menungguku, Bhar." Luna hanya beralasan. Kekhawatirannya membumbung mengetahui maksud Bhara selama ini. Luna lebih mawas terhadap dirinya sendiri.


"Tapi kemarin kita tidak jadi makan, Luna. Kau belum menraktirku." Tatapan Bhara memohon. Berharap wanita di depannya itu melunak.


"Baiklah, sebentar saja ya. Aku memberitahu bibi lebih dulu," ucap Luna. Wanita itu bergegas mengambil ponselnya dan terlihat menghubungi Christina untuk pamit.


"Mau makan apa?"


"Apa saja Bhar, aku ikut kamu kamu."


"Oke!"


Bhara memacu mobilnya lebih cepat. Hari beranjak gelap dan Luna tidak ingin berlama-lama berada di luar. Jadi bhara memanfaatkan waktu sebaik mungkin.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Bibi,"


Christina menoleh saat mendengar suara familiar dibelakangnya.


"Kau sudah kesini lagi? Amerika -Kanada bagaikan pergi ke depan rumah saja," canda Christina.


Aglen langsung memeluk sang bibi yang sudah ia anggap ibunya itu.


"Jangan cerewet! Bibi pasti rindu padaku, kan?"


Christina menyipitkan matanya melihat ada gadis cantik yang mengikuti Aglen dan hanya mematung tanpa diperkenalkan.


"Dia sekretaris Luna dulu. Dimana Luna? Bukankah seharusnya dia sudah pulang? Atau paman memberinya lembur?" Aglen memberondong pertanyaan pada sang bibi.


"Adikmu masih mampir makan dengan Bhara. Kau tidak ingin memperkenalkannya pada bibi?" Christina mengejar pengakuan Aglen. Karena sedari tadi keponakannya itu terkesan mengalihkan perhatiannya.


"Namaya Evelyn. Dulu sekretaris Luna, dan sekarang sekretarisku," ucap Aglen cepat. Lelaki berkuncir itu seperti salah tingkah.


"Nyonya."


Evelyn mengangguk hormat, kemudian mendekat dan menjabat tangan Christina.


"Dia bibiku. Bibi Christina," ucap Aglen menambahi.


"Apa Luna yang me_"


"Bibi, kami baru saja datang. Bahkan koper kami masih di depan. Biarkan kami membersihkan diri terlebih dulu," sela Aglen yang langsung memberi kode pada Evelyn untuk mengikutinya.


Aglen takut sang bibi bertanya macam-macam tentang Evelyn.


"Gadis itu pasti lebih dari sekedar sekretaris. Aglen tidak pandai berbohong," gumam Christina yang melihat tingkah Aglen yang berbeda.


\=\=\=≠\=≠\=\=\=\=\=\=\=


"Mampir, Bhar?" tawar Luna.


Mereka sudah sampai dihalaman depan rumah William.


"Lain kali saja, ini sudah malam. Sampaikan salamku pada mereka berdua dan juga putri cantikmu itu," ucap Bhara setelah melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


Jarum jam baru menunjuk diangka 7. Namun Bhara sudah bersama Luna sejak pukul 5 sore tadi. Wanita itu sudah pasti kelelahan karena ini hari pertamanya bekerja.


"Baiklah. Terima kasih sudah mengantarku hari ini."


Luna melambaikan tangannya karena Bhara sudah bersiap pergi.


"Besok lagi juga tidak apa-apa. Aku sedang pengangguran, jadi bisa mengantarmu kemanapun," canda Bhara yang nampak bahagia.


Luna hanya tersenyum menanggapinya.


Sayangnya ini beban bagiku, Bhar.


Luna masuk kedalam rumah dan disambut oleh Christina.


"Mana Bhara?"


"Dia hanya titip salam untuk paman dan bibi. Katanya sudah malam, makanya tidak mau mampir."


Luna menuju lemari es dan mengambil satu botol bening disana.


"Ini belum malam. O iya, Aglen tadi datang bersama sekretarisnya. Siapa namanya bibi lupa," beritahu Christina yang mencoba mengingat.


Luna kaget dan mengerjap. "Sekretaris? Sekretaris kakak? Evelyn?" tanya wanita itu.


"Iya benar itu namanya. Kata Aglen dulu sekretarismu dan sekarang menjadi sekretarisnya," jawab Christina sambil menata meja makan dibantu oleh pelayan.


"Sudah kuduga," gumam Luna. "Ada hajat apa mereka kesini, Bi?" tanya Luna.


"Bukan kau yang meminta?" Luna menggeleng. "Aglen aneh sekali. Apa mereka ada...." Christina memberi kode pada Luna yang artinya Aglen dan sekretarisnya itu pacaran.


"Aku tidak tahu, Bi. Kakak tidak bercerita apa-apa?"


"Baru saja bibi ingin bertanya dan ia menyela dengan mengantar Evelyn ke kamarnya."


Luna dan Christina mendadak saling menatap. Kedua wanita itu berkelana dengan pikiran masing-masing. Namun sepertinya hal yang sama.


Aglen menyukai Evelyn.


"Sebentar lagi mereka pasti turun. Kamu interogasi saja kakakmu itu. Kasihan dia sudah tua, jika memang dia menyukai Evelyn kita langsung lamar saja," bisik Christina bersemangat.


"Ha ... ha ... ha. Bibi jahat sekali mengatai kakak sudah tua. Kalau dia mendengarnya, dia pasti akan marah, Bi." Luna terbahak dengan ulah Christina.


"Siapa yang bilang aku sudah tua?"


🧡🧡🧡🧡🧡🧡