La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 120



Akhirnya hari ini datang juga. Satu minggu lebih Luna hanya mengisi waktunya selama di Kanada dengan pulang pergi perusahaan-rumahnya. Hal itu ia lakukan hanya untuk menunggu sidang putusan Adam, karena sang ayah melarangnya kembali ke Amerika sebelum masalah di Kanada selesai.


Wanita itu tidak ingin kemana-mana selain dua tujuan diatas. Karena sesungguhnya ia sangat lelah menghadapi semua masalah ini. Dimana pada akhirnya orang-orang terdekatnya lah yang terlibat.


Memang tidak pernah ada dalam benak Luna, jika Adam menjadi salah satu otak dari kemalangan-kemalangan yang menimpanya. Ia pikir semua itu bagian dari perjalanan hidup yang harus ia jalani sebelum mengenyam bahagia sesunggunya dengan lelaki itu.


Jangan bertanya kecewanya. Setiap hari Luna hanya mencoba menata hati, menghibur diri dan menerima kenyataan akan semua ini. Sambil berusaha untuk mengikhlaskan segala sesuatu yang sudah terjadi. Meski itu sulit.


Sangat sulit.


Bahkan ia yang setiap hari terlihat baik-baik saja, tersenyum dan terlihat bahagia didepan semua orang, rupanya semua itu hanya kamuflase yang dilakukan Luna untuk terlihat tegar dan kuat.


Karena pada akhirnya ia tetap hanya sendiri. Bersama Elea dan sang ayah yang sangat menyayanginya.


"Sudah siap, Sayang?"


Kepala Ellard menyembul setelah ia membuka pintu kamar anak perempuannya itu.


Senyum tulus itu mengembang bersamaan dilihatnya Luna yang bahkan sudah rapi dan nampak sudah duduk di kursi rodanya menghadap jendela.


"Iya, Pa," jawab Luna singkat.


Siap tidak siap, bukankah harus tetap siap? Luna tidak bisa menghindar dari hari berakhirnya sidang untuk sang suami. Hal yang menentukan nasib Adam akan berapa lama mendekam di balik jeruji besi.


Ellard melangkahkan kakinya masuk. Dibelainya surai hitam yang hari ini sengaja di kuncir kuda oleh sang pemiliknya demi terlihat segar dan bersemangat itu.


Bahkan hari ini Luna mengenakan pakaian casualnya. Celana jeans panjang biru belel, serta kaos pendek putih yang dipadu dengan blazer pink.


"Kau yakin untuk hadir?" Tatapan mata Ellard penuh haru. "Jika memang tidak ingin tidak apa-apa, Sayang," lanjutnya lirih.


Lelaki paruh baya itu membungkuk di depan kursi roda Luna. Tatapan haru berganti hangat dan teduh.


"Aku baik-baik saja, Pa. Asal Papa tetap bersamaku."


Pertahanan Luna runtuh juga. Demi apa meski ia mencoba sekuat baja di depan orang yang disayanginya itu, rasanya tidak ada gunanya. Karena hanya dengan tatapan matanya, sang ayah selalu tahu apa yang dirasakannya.


"Maafkan Luna, Pa." Luna menangis dan memeluk sang ayah.


"Papa yang tidak bisa memilihkan suami yang baik untukmu, Sayang. Papa yang seharusnya meminta maaf." Suara lirih Ellard terdengar parau. Ia merasa seperti menjerumuskan Luna dalam kesedihan kedua kali.


Padahal, kejadian di Amerika hingga terlahir Elea tentu membuat hati wanita itu patah. Meski tidak ada yang bisa disalahkan atas semua yang terjadi.


"Hapus airmatamu, Sayang. Kita harus segera pergi sekarang," ucap Ellard lirih. Lelaki tua itu menepuk lembut punggung Luna untuk menguatkan. Kemudian ia berdiri dan memgambilkan tissu untuk anak perempuannya itu.


Luna menghapus airmatanya dan sedikit menyapukan kembali bedak ke wajahnya.


"Ayo, Pa."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=


Gedung yang berdiri megah milik pemerintah itu menjadi tujuan Luna dan Ellard.


Memasuki ruangan ini untuk kedua kalinya membuat napas Luna sedikit sesak. Padahal sidang ini belum dimulai. Dan ruangan belum terisi penuh.


Luna dan Wllard mengambil duduk dibarisan kedua dari depan. Jemari Luna menggenggam erat jemari sang ayah yang duduk disebelahnya.


"Tenanglah, Sayang."


Tangan besar Ellard menangkup punggung tangan anak perempuannya itu.


Satu demi satu semua petugas duduk ditempatnya. Dan yang terakhir muncullah Adam diikuti oleh dua orang petugas dibelakangnya.


Sambil terus melangkah, Adam sempat beberapa kali menatap kursi kursi yang berjajar. Sebelum akhirnya ia berhenti karena matanya menemukan sang istri yang duduk tenang tanpa melihatnya sama sekali.


Sidang berlangsung tanpa hambatan dan tetap tertutup untuk umum. Adam dihukum 25 tahun penjara untuk segala percobaan kejahatan dan penculikan yang ia lakukan pada istri dan anaknya.


Airmata lelaki itu jatuh dengan napas berat yang berulang kali terdengar. Ia tidak ingin naik banding karena memang sudah mengakui kesalahannya.


Dan untuk Pauline, belum ada bukti yang cukup untuk menangkapnya meski Adam telah menyerahkan segala bukti yang ia miliki. Kepolisian masih mengevaluasi ulang.


Akhirnya tangis Luna pecah mendengar beratnya hukuman yang akan dijalani Adam. Ia tidak tahu harus bahagia atau sedih. Yang jelas perasaan kecewa masih merajai hatinya.


"Itu masih belum sepadan dengan yang ia lakukan," geram Ellard. Meski ia yang paling tenang diantara semuanya, namun jika semua itu menyangkut cucunya, Ellard memang sangat sensitif.


Jika tidak ada hukum di negara itu, mungkin Ellard akan menggunakan caranya untuk membalas perbuatan menantunya itu.


"Kita pulang ya, Pa," ajak Luna.


Wanita itu merasa benar-benar hancur saat ini. Luna tidak menyangka jika semua berakhir seburuk ini.


"Baiklah, Sayang." Ellard baru saja hendak berdiri saat seorang lelaki yang menjadi pengacara Adam menghampiri mereka.


"Sir, maaf. Tuan Adam memohon untuk bicara. Sebentar saja," ucap pengacara itu sopan sambil menggeser tubuhnya menujuk ke arah Adam.


Ellard melirik Luna, dan rupanya sang anak pun melakukan hal yang sama. Kemudian mereka berdua beralih pada Adam.


Lelaki yang mengenakan seragam khas tahanan itu terlihat menangkupkan kedua tangannya.


"Bagaimana, Sayang?" tanya Ellard. Sebenci apapun Ellard pada menantunya itu, ia tetap menghormati keputusan Luna.


Luna mengangguk.


"Papa tunggu diluar, ya," ucap Ellard karena ingin memberi waktu serta privasi pasangan suami istri itu.


Adam berjalan diantar oleh petugas setelah sang pengacara mengangguk. Ia menghampiri Luna yang duduk dengan jemari bertaut.


Kemudian petugas itu sedikit menjauh setelah sang pengacara memohonkan izin untuk Adam bertemu dengan sang istri sebelum mulai menjalani hukumannya.


Adam mengambil duduk di sebelah Luna dengan tangan diborgol.


"Hai, Sayang. Aku berdoa yang terbaik untukmu dan ... Semoga kau baik-baik saja," sapa Adam lirih dan lembut.


"Apa aku terlihat seperti itu?" Luna akhirnya menoleh dan menatap Adam dengan berani. "Berarti kau tidak cukup kuat menghancurkanku Adam!"


Kata-kata luna terdengar ketus dan tersirat sebuah kebencian yang mendalam. Adam sampai terperangah mendengarnya namun malah pilu pada akhirnya.


Mungkin tanpa Adam sadari jika tempaan hebat yang Adam berikan benar-benar menyakitkan hati wanita yang menjadi istrinya itu.


"Maaf, Luna."


Adam menunduk. Meski ia sadar semuanya sudah terlambat, namun ia akan selalu melakukannya sampai Luna memaafkannya kelak.


"Andaikan maaf bisa mengubah segalanya. Aku sampai tidak habis pikir dengan perbuatanmu ini. Kau bahkan melakukannya padaku dan anak kita, kami keluargamu Adam! Oh ya, aku lupa kau hanya ayah sambung Elea!"


Luna membuang tatapannya ke lain arah. Ia marah tapi ia juga sedih hingga tangisnya meluap bersama kemarahannya pada lelaki yang berstatus suaminya itu.


"Luna ... Aku menyayangimu sama seperti aku menyayangi El. Aku tidak pernah menganggap ia orang lain." Hati Adam perih mendengar Luna berkata demikian.


Meski pada kenyataannya memang itulah yang terjadi. Adam tidak begitu menyayangi Elea karena gadis kecil itu bukan darah dagingnya.


"Apa pernah kau bermain dengannya? Meluangkan waktu untuknya? Aku yang selalu menutupi segala hal tentangmu selama ini. Namun kau malah tega berbuat seperti itu pada kami. Apa kurangnya aku dan papa terhadapmu dan keluargamu, Dam?"


Luna mengeluarkan segala unek-uneknya pada lelaki itu.


"Aku cemburu Luna."


"Apa!?"


Deg!


♥♥♥