
"Apa pernah kau bermain dengannya? Meluangkan waktu untuknya? Aku yang selalu menutupi segala hal tentangmu selama ini. Namun kau malah tega berbuat seperti itu pada kami. Apa kurangnya aku dan papa terhadapmu dan keluargamu, Dam?"
Luna mengeluarkan segala unek-uneknya pada lelaki itu.
"Aku cemburu, Luna."
"Apa!?"
Deg!
Cemburu?
"Siapa yang kau cemburui? Kau tahu kemanapun aku pergi. Sementara kau, sering pergi tanpa pamit padaku. Itu alasan yang tidak masuk akal, Adam." Suara Luna menekan. Hatinya tengah emosi sekaligus lemah.
"Stefan, dia menyukaimu bukan?" Tiba-tiba tiba Adam langsung menuduh Luna.
"Dia sepupuku. Kalaupun dia menyukaiku, apa kau pernah melihat aku memberikan harapan padanya?" tanya Luna emosi.
Bahkan Stefan yang membantunya saat Adam sibuk dengan urusannya sendiri. Secara tidak langsung Adam menuduhnya dan tidak mempercayainya.
Adam menggeleng. "Begitulah kata Pauline. Dan saat itu aku semakin percaya karena melihat kalian sering berdua."
Luna berdecak kesal. "Apakah aku bertemu Stefan sembunyi-sembunyi? Tidak bukan, kau pun tahu kemana dan darimana aku dan Stefan pergi. Sementara kau, sama sekali tidak mendampingiku saat aku terkena masalah. Kau picik Adam! Kau bertindak seperti itu karena kaulah yang membuat masalah itu ada."
"Alasanmu tidak bisa diterima nalar. Bahkan kau tidak menyayangi Elea sejak dia lahir. Dan hanya karena cemburu yang tidak terbukti, kau menyodorkan Elea untuk diculik karena hendak mengancamku!"
Luna menoleh pada pengacara Adam. Ia memanggil lelaki itu untuk mendekat.
"Kami sudah selesai, Tuan. Tolong panggilkan papaku," pinta Luna pada pengacara Adam yang menghampirinya.
"Baik, Nyonya,"
"Jangan, Sir! Sebentar Luna, aku belum selesai." Adam terperangah karena ia sama sekali tidak menyadari jika Luna sudah memanggil pengacaranya.
"Andrew! Tolong bawa aku pergi dari sini."
Andrew datang terlambat hari itu. Ia baru saja dari luar kota dan tim kuasa hukumnya yang menggantikan.
"Ada apa, Luna?" Andrew yang tidak mengerti apapun hanya menoleh kesana kemari.
"Aku ingin pergi dari sini. Bawa aku keluar!" pinta Luna dengan sangat.
Wanita itu tidak lagi bisa menutupi kekecewaannya. Hanya atas alasan cemburu, Adam sang suami tega melakukan hal buruk padanya dan juga putrinya.
Lalu kemana perginya rasa sayang itu?
Sebuah rasa yang sebenarnya tidak terlalu hadir namun dipaksakan karena keadaan.
Luna pikir Adam seperti dirinya. Seseorang yang telah selesai mencari cinta dan hanya ingin mencintai orang yang tulus padanya. Karena dulu, Adam sangat baik dan tidak banyak bertingkah.
"Luna! Maafkan aku. Aku mohon jangan pergi dulu," cegah Adam dengan menggunakan tubuhnya untuk menghalangi. Itu karena ia tidak bisa melakukan apapun dengan tangannya.
Luna menghela napasnya berat. Ia tidak ingin bicara apapun lagi dengan suaminya itu. Ia butuh menenangkan diri dan menyemangati dirinya sendiri.
"Biarkan aku pergi" Luna enggan menatap Adam. Ia tidak ingin timbul rasa kasihan dalam dirinya. Karena Luna benar-benar sudah muak.
"Luna...."
Adam sampai bersimpuh. Lelaki itu menangis.
"Maafkan aku. Ampuni aku."
Lelaki itu menunduk pilu karena ia tahu jika Luna sampai membencinya, seumur hidup wanita yang ia cintai itu tidak akan pernah mau menemuinya.
"Jalan, And!" ucap Luna dingin. Meski rasanya ingin menangisi nasibnya namun ia tidak ingin terlihat lemah disana.
Adam pantang menyerah. Lelaki itu menghadang Luna dengan menggeser lututnya mengikuti arah kursi roda Luna.
"Aku mohon, Luna. Aku mohon."
Adam akhirnya bersujud di depan Luna. Ia hampir memegang kaki Luna saat Luna dengan cepat menghindarinya. Dan Andrew yang mengerti kode yang diberikan Luna segera mendorong ke lain arah untuk lolos dari Adam.
Mulai hari ini, Adam akan menjalani hidupnya seorang diri di dalam penjara. Tanpa siapapun yang mengunjunginya. Ia harus bersiap kesepian tanpa orang-orang yang disayanginya.
Membayangkan hal itu, Adam limbung. Ia kehilangan semuanya dalam satu waktu.
"Sir, Sir," panggil pengacara Adam pada kliennya yang ambruk di depannya. "Kita bawa ke rumah sakit! Cepat!"
\=\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=
Luna mendengarnya. Disaat dia sudah berhasil keluar ruangan dan menghindar dari Adam, sang ayah langsung menjemputnya.
Ia mendengar teriakan pengacara Adam pada suaminya itu. Namun luna enggan menoleh dan perduli.
Semua rasa simpati dan empatinya telah terkikis habis. Ia hanya diam ketika sang ayah menggantikan Andrew untuk mendorongnya menuju mobil.
"Kita langsung pulang?" tanya Ellard.
"Iya, Pa. Langsung pulang saja. Dua hari lagi aku ingin langsung ke Amerika," pinta Luna sambil menggenggam erat tangan sang ayah yang berada di belakangnya.
"Jika kau sudah tenang, aku akan menemuimu," ucap Andrew yang berpamitan setelah mengantar Luna hingga mobil.
"Terima kasih, And."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Matahari senja hampir habis. Gelap segera turun sebentar lagi. Luna tengahduduk di balkon kamarnya seorang diri. Sesekali wanita itu memejamkan matanya, menikmati angin dan sapuan lembut pada wajahnya.
Beberapa menit yang lalu. Sepulang dari menghadiri sidang putusan Adam, sang ayah memintanya untuk istirahat. Namun Luna sama sekali tidak bisa tenang apalagi memejamkan matanya.
Wanita itu akhirnya keluar dari kamarnya menuju balkon dan belajar berjalan dengan berpegangan pada pagar pinggir balkon yang tingginya hampir mencapai pinggangnya.
Mengulangnya beberapa kali membuat Luna lelah hingga disinilah ia akhirnya.
Duduk terdiam menatap langit senja yang hampir malam. Dengan segala pikiran yang berkecamuk.
Semua sudah selesai kini, urusannya dengan Adam. Namun tentu belum untuk rumah tangganya.
Jujur, Luna sudah tidak ingin bertahan bersama lelaki itu lagi. Rasa kecewanya terlalu dalam. Bahkan rasanya menangis berkali-kalipun Luna tetap tidak bisa menyembuhkan rasa sakit di hatinya.
Apa aku ditakdirkan untuk tidak bahagia? Dua kali sesuatu yang hebat menimpaku tanpa bisa ku cegah. Mama ... Aku merindukanmu ... Andai kau ada disini, aku tidak akan sendirian menangis disini....
Perlahan senja merapat dan berganti malam. Luna terlihat menyandarkan kepalanya diatas meja.
Ia merasa sangat lelah namun ia masih kuat terjaga.
Entah mengapa berada cukup lama disana hatinya terasa lega. Tubuhnya ringan dan bahagia. Padahal ia merasa tertekan tadi, namun tidak saat ini.
"Hai cantik."
Tiba-tiba Luna mendengar suara lembut dari arah belakang. Tidak ada siapapun di tempat ini kecuali dirinya, jadi yang disapa oleh suara itu pasti dirinya.
Menengok ke belakang, Luna mendapati sesosok wanita cantik seusia Luna. Dia mengenakan pakaian serba putih yang sangat asing. Namun wanita itu bertelanjang kaki. Berjalan berjingkat seperti seorang peri yang baru saja turun dari langit. Langkahnya terlihat ringan berjalan kesana kemari seperti hendak terbang.
Luna menelan salivanya beberapa kali. Wanita yang berada di depannya itu seperti bidadari. Rambutnya tergerai indah dengan dihiasi beberapa kelopak bunga daisy.
"Kamu...?" Suara Luna tertahan. Mengapa ia merasa wanita itu mirip dirinya. Sungguh mirip, meski ada meski ada beberapa bagian wajah yang berbeda.
"Aku ... Mamamu Sayang. Kita hanya bertemu sekali saat kau lahir. Kau pasti sudah lupa, karena saat itu kau masih bayi."
Senyum wanita itu mengembang bersama suaranya yang terdengar merdu.
"Mama?" Luna kembali menelan salivanya. "Bukankah mama sudah...." Mendadak jantung Luna berdentam keras.
Apakah terjadi sesuatu dengan dirinya diatas balkon ini? Tidak... tidak... Dia tidak melakukan hal buruk sebelumnya. Bagaimana mungkin ia bisa bertemu ibunya sekarang.
"Jangan berpikiran buruk, Sayang. Tidak ada hal buruk yang kau lakukan ataupun terjadi padamu. Aku tidak akan membiarkannya. Aku adalah jawaban atas doamu. Bukankah kau ingin bertemu Mama?" ucap sosok itu lembut.
"I-ya, aku ... Aku hanya bisa melihat Mama dalam foto selama inj. Aku ingin memeluk Mama." Tangis Luna pecah, benarkah wanita di depannya ini adalah wanita yang melahirkannya?
Sungguh, sosok itu sangat cantik, secantik dirinya. Tapi bukankah sang mama seharusnya sudah tua, seumuran mama Keiko.
"Apa kau tidak ingin memelukku Sayang? Ini Mama, mamamu Luna. Mama Hannah." Sosok wanita itu menepuk dadanya. Kemudian membuka tangannya agar Luna mendekat.
Hati Luna mendadak lemah. Ia benar-benar butuh sang ibu saat ini. Dan sosok wanita di depannya ini benar-benar mirip dengan dirinya dan juga foto yang disimpan oleh mama Keiko.
"mama...."