La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 70



"Oma ... Paman Stefan pergi ke surga?" tanya Elea pada Christina.


Gadis kecil itu berlari mengambil setangkai bunga esther yang tumbuh di taman belakang rumah William. Kemudian kembali menghampiri Christina, dan menancapkannya diatas gundukan yang masih basah itu.


Pagi ini setelah bangun tidur dan membersihkan diri, Christina menyempatkan diri menengok makam Stefan. Bahkan wanita paruh baya itu tidak mengindahkan ajakan suaminya untuk sarapan.


Ia hanya ingin menengok Stefan, yang belum ada 24 jam berada di dalam sana.


Dan Elea, gadis kecil itu mengikutinya sampai di depan nisan Stefan.


"Iya, Sayang. Doakan paman Stefan bahagia disana ya." Tatapan teduh Christina jatuh pada gadis kecil disebelahnya ini.


Tangan Christina mengelus tanah yang masih basah dan penuh dengan bunga mawar putih itu. Kemudian juga mengusap nisan yang bertuliskan nama sang putra kesayangan.


"Paman Stefan sangat baik pada Elea. Apa paman Stefan akan mengingat Elea meskipun ia jauh disana?"


Pertanyaan itu ditujukan pada Christina, namun Elea malah mendongak menatap langit. Seakan-akan ia bisa menemukan sosok Stefan disana.


Christina membawa Elea dalam pangkuannya. Kemudian memeluk gadis kecil itu dan menangis. Wanita paruh baya itu ingat masa kecil Stefan.


"Dia pasti akan mengingatmu Sayang. Dia akan ingat kita semua. Jika paman Stefan tidak ingat, kita akan ingatkan dia."


Christina memeluk kembali tubuh Elea. Pertanyaan gadis kecil itu bagai sembilu di dadanya.


Bagaimana jika Stefan tidak mengingatnya? Sedangkan mereka memiliki kenangan yang tidak akan terhapus sampai kapanpun.


Andai saja Tuhan memberi kesempatan pada Christina untuk memilih. Ia akan memilih Stefan amnesia dan mungkin tidak mengenalnya daripada harus ditinggalkan selamanya seperti ini.


"Oma ... Jangan sedih." Tangan Elea terulur untuk menghapus air mata Christina.


Gadis kecil itu sampai mengambil anak rambut sang oma yang beterbangan menutup mata hingga wajahnya. Kemudian dengan telaten menyelipkannya di belakang telinga.


"Kata kakek, semua yang ada di surga itu pasti bahagia. Paman Stefan juga pasti bahagia. Tangan Elea mengalung di leher Christina.


"Iya, Sayang."


Christina mengecup lengan Elea, kemudian kembali memeluk gadis kecil itu dan menangis tergugu.


Elea yang belum begitu mengerti tentang seseorang yang meninggal, berusaha menenangkan sang oma dengan menepuk-nepuk punggung rapuh itu.


Jauh disana, terlihat William mengawasi kebersamaan mereka berdua. Ditemani rintik hujan yang tiba-tiba turun, setelah langit cerah berganti mendung dengan cepat.


Christina tidak ingin pergi dari sana, begitupun Elea. Dan William pun tidak ingin mengganggu.


"Kak."


Sebuah tangan mendarat tepat di bahu William, hingga lelaki itu terkejut.


"Maafkan aku."


Ellard berucap sangat lirih. Dialah orang yang paling menyesal atas kehilangan ini. Apalagi dia ada di tempat kejadian itu dan tidak bisa mencegahnya.


"Aku tidak percaya anak bandel itu pergi secepat ini," ungkap William.


Mata lelaki itu nampak merah, tapi William sama sekali tidak menangis. "Ini tidak mungkin, El. Aku tidak percaya itu dia!"


William menggebrak dinding disebelahnya dengan kepalan tangannya.


"Kak, sabar. Aku juga tidak mempercayainya sampai Aglen sendiri yang membawa kabar itu." Ellard membenarkan apa yang diucapkan sang kakak.


William memang kecewa dengan Ellard yang tidak bisa menjaga keluarganya sendiri sampai ini terjadi. Namun dibalik semua itu, ia kecewa pada dirinya sendiri atas peristiwa yang terjadi pada mereka berdua sebelumnya.


Ia merasa menjadi ayah yang egois selama ini. Ia sudah membuat Stefan mengikuti keinginannya. Dan William sama sekali tidak mengindahkan keinginan pribadi anaknya itu.


"Apa Stefan tengah dekat dengan seseorang di Kanada?" tanya William menelisik.


Lelaki paruh baya itu sama sekali tidak berkomunikasi dengan anaknya. Itu terjadi sejak peristiwa perdebatan mereka tentang perjodohan yang tidak disetujui oleh Stefan. Pun dia yang biasanya mencari tahu tentang sang anak meskipun hubungan mereka menjadi dingin, hal itu tidak juga dilakukannya.


"Aku tidak pernah melihatnya. Dia juga tidak menceritakan apapun. Bahkan perselisihan kalian baru saja aku ketahui karena Christina menghubungiku untuk menanyakan kabarnya."


Ellard mengajak William duduk. Memberikannya segelas minuman untuk meredam emosinya.


"Akhir-akhir ini, ia malah sibuk membantuku dan Luna juga menjaga Elea."


Ellard mengingat kebaikan keponakannya itu. Bahkan hanya Stefan yang bisa diandalkan di mana-mana sulit bagi Luna.


"Kembalilah segera ke Kanada. Kasihan Luna disana. Biar Christina aku yang urus. Dia akan semakin tertekan jika kalian masih disini." Ini bagaikan sindiran bagi adiknya itu.


"Kau mengusirku?" Ellard mengernyit masam.


"Terserah apa katamu. Kau tahu sendiri bagaimana Christina. Semakin banyak orang yang berhubungan dengan Stefan ada disini, semakin panjang kenangan yang akan ia ingat. Kami sangat menyayangi Stefan, terlepas dari apapun. Aku hanya kecewa dengan diriku sendiri, El."


William menunduk. Ia memang sedih, namun William memang selalu pandai menutupinya.


"Baiklah,besok kami akan kembali. Aglen tetap ada disini untuk membantumu. dia bisa kau andalkan."


"Hemm ....." William menjawab sekenanya.


Ellard menepuk punggung sang kakak dan meninju lengan berbalut kemeja panjang itu.


"Semangatlah!"


Wlliam hanya mengulas senyumnya dingin.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Luna menarik napas panjangnya perlahan. Jemari lentiknya mencengkeram sebuah saputangan biru muda milik Stefan.


Benda itu pernah diberikan Stefan sebelumnya. Saat ia butuh kekuatan. dan benda kusam yang tertinggal dalam tasnya dan tidak pernah dicuci itu kenyataannya malah menyelamatkannya dari kecemasan sekarang.


Luna memasukkan kembali kain persegi itu kedalam tasnya. Saat ini, ia sudah siap menghadapi persidang.


Begitu masuk sebuah ruangan, suasana mendadak dingin. tatapan beberapa pencari berita yang dilewatinya saat masuk sedikit mengintimidasinya. Namun tidak mematahkan semangatnya.


Luna menunggu dengan gelisah. Ia menghadapi sidang pertamanya tanpa didampingi orang-orang yang disayanginya. Tidak ada sang ayah, suami dan juga Stefan.


Dan waktu seperti lambat berjalan. Detik demi detik sangat terasa bagi Luna. Ingin rasanya ia menghilang dari tempat itu menuju tempat lain yang tidak diketahui oleh siapapun. Namun itu tidak mungkin. Ia harus menghadapinya, agar semuanya cepat selesai.


Waktu itu akhirnya tiba. Luna dipanggil untuk sidang pertamanya. Ia menjalani sidang selama 3 jam. Semua saksi dan bukti dihadirkan dan dari pihak Angeline terus melawan dengan opini dan alibi yang tidak masuk akal.


Mereka juga menghadirkan saksi palsu yang melawan semua pernyataan Luna. Namun semua bisa dipatahkan karena Luna memang memiliki bukti yang kuat.


Rekaman seseorang yang terlibat atas pencurian kalung berlian. dimana dia menjabat jabatan penting di perusahaan Luna belum dimunculkan oleh Andrew.


Lelaki yang merupakan teman Stefan itu masih mengulik kaki tangan Angeline yang sengaja dimasukkan ke dalam perusahaan Luna untuk mengacau.


Ia harus memberantas sampai akar-akarnya. Supaya mereka berpikir ulang jika ingin membelot dari Luna lagi. Dan tentunya membawa pelajaran berharga untuk orang yang tidak setia dan dapat dibeli dengan uang.


Itulah pesan terakhir Stefan pada Andrew. Dan lelaki yang berprofesi pengacara itu akan mewujudkannya.


Hari ini, sidang belum selesai. Akan diagendakan kembali beberapa hari lagi karena pihak Angeline benar-benar melakukan segala hal di depan hakim.


Apalagi tentang penculikan itu. Angeline dengan keras menyangkalnya. Bukti yang diberikan Stefan memang tidak begitu jelas. Namun untuk orang-orang terdekat Angeline, sudah pasti bisa mengenali rekaman suara yang diberikan oleh andrew itu sekalipun tidak melihat orangnya.


Sayangnya tidak ada satupun keluarga Peterson yang hadir. Padahal mereka sendiri yang meminta sidang dibuka untuk publik. Mereka hanya mengirimkan wakil satu orang untuk merekam jalannya sidang hingga usai.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Luna terpekur sendiri di sebuah rumah makan yang nampak lengang.


Wanita itu sengaja memilih tempat duduk yang tersembunyi karena ingin menikmati kesendiriannya.


Ia mencoba menenangkan diri dari hiruk pikuk banyak orang. Sidang pertamanya yang masih ditunda lagi menyisakan kekecewaan dalam hatinya.


Ia pikir, semua bukti sudah lengkap. namun kenyataannya malah berlarut-larut.


Sama saja


😍😍