
"Dia...? "
"Ya, Paman. Dia yang membuat masalah dengan Luna." Stefan memperjelas dugaan Ellard.
"Bagaimana William bisa mengenal Ronald Peterson?Setahuku dia tidak memiliki perusahaan di Amerika."
"Mereka memiliki banyak cabang di Italia, Paman. Dan juga salah satu investor di perusahaan yang kubesarkan di Italia."
"Jadi, William hanya mengenal wajah Ronald Peterson yang sekarang?"
"Memang ada apa dengan wajahnya Paman?"
Stefan melirik Ellard, lelaki paruh baya itu nampak menghela napasnya panjang.
"Tidak ada."
Ellard mengingat masalah Luna yang belum selesai dengan pewaris keluarga Peterson itu. Untuk mengalahkan mereka, pihak Luna tidak cukup hanya membawa bukti dan uang namun juga nyali yang berkali lipat.
"Berarti kita harus kerja keras Stefan. Dia tidak akan melepaskan kasus luna begitu saja. Meskipun sebenarnya itu hanya kasus sepele yang terlalu dilebihkan."
Stefan mengangguk. Menyetujui analisa sang paman yang selalu bisa dibuktikan prediksinya. Karena jika tidak dilebihkan, kasus hilangnya kalung berlian milik Angeline seharusnya bisa selesai dengan jalan damai.
"Boleh aku tahu mengapa kau menolaknya? Kulihat gadis itu cantik dan juga sepadan dengan kita. Ayahmu jeli juga melihat peluang."
Senyum Ellard mengejek. Pernikahan dinasti memang masih menjadi favorit keluarga kaya disana. Namun itu tidak berlaku bagi Ellard. Lelaki yang memang hidupnya lebih keras dari sang kakak itu cenderung lebih luas pemikirannya.
"Aku menyukai orang lain, Paman."
Ellard tertegun. Ia sudah bisa membayangkan seperti apa perselisihan yang terjadi antara ayah dan anak itu. Apalagi keduanya adalah orang yang keras kepala.
Ya, baru terjadi dalam sejarah keluarga Efrain. Dimana Stefan menaruh hati pada sepupunya sendiri. Ia menyukai Luna. Jika Luna masih sendiri, pasti sudah dari lama ia meminta Luna pda pamannya itu.
"Oh, ya? Bagus itu, jangan seperti Aglen yang kekasih saja tidak ada. Bahkan untuk sekedar berpura-pura memilikinya di depan paman saja dia tidak bisa melakukannya." Ellard tersenyum kecut. Entah di usia berapa Aglen akan mengakhiri masa lajangnya.
Ellard sama sekali tidak berniat menjodohkannya, karena ia menjaga perasaan anak lelakinya itu. Ia tidak ingin anak-anaknya seperti dirinya. Kehilangan cinta sejati hanya karena perjodohan. Namun tentu berbeda yang dilakukannya pada Luna. Ellard merasa sangat perlu melindungi anak perempuannya itu, karena kejadian kelam di masa lalu.
"Siapa dia? Apa paman mengenalnya? Siapa tahu paman bisa membantumu untuk melunakkan hati ayahmu itu," tawar Ellard.
Stefan tercekat. Lidahnya seakan membeku mendengar ucapan sang paman. Tawaran yang menggiurkan jika wanita yang ia cintai bukanlah Luna. Karena bantuan yang ditawarkan tidak bisa dipandang sebelah mata.
"Emmmm...." Stefan berulang kali menggaruk dan mengusap belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.
"Siapa!?"
Saat Stefan sibuk berpikir, Ellard malah menodongnya.
"Paman kenal. Tapi, sudahlah. Biar aku berjuang sendiri lebih dulu. Suatu saat nanti, jika aku butuh bantuan Paman, aku akan mengatakannya. Dan Paman sama sekali tidak boleh menolaknya."
"Aku janji. Akan kubantu semampuku, Stef."
Stefan tersenyum getir, antara bahagia dan berduka. Saat semua nanti terbuka tentang siapa yang dicintainya, dan juga ayah biologis Elea, pasti Stefan sudah babak belur oleh lelaki didepannya ini.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Nyonya mau kemana?"
"Aku harus pergi ke kantor, Bi. Sudah terlalu lama meninggalkannya. Kemana Papa? Ia sama sekali tidak menjawab teleponku."
Luna geram sendiri karena sedari pagi, ponsel Ellard sama sekali tidak bisa dihubungi. Wanita itu ingin menanyakan perkembangan pencarian elea pada ayahnya itu.
"Mungkin Tuan sibuk, atau ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, Nyonya," hibur wanita yang selalu mengenakan kacamatanya itu.
Bertahun-tahun mengikuti Ellard, wanita paruh baya itu tentu mengetahui sedikit banyak sepak terjang sang majikan. Namun ternyata apa yang diucapkannya tidak sama dengan apa yang ada dipikirkan Luna.
"Sibuk dan ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan. Itu tidak ada bedanya, Bi. Pekerjaan apa yang membuat Papa sampai lupa memberi kabar. Stefan juga sama."
Beberapa kali Luna menekan nomor sepupunya itu, dan selalu masuk kedalam pesan suara.
"Kalau Tuan Stefan tadi pagi menghubungi Bibi. Beliau menanyakan kabar Nyonya," ucap bibi Ofelia mengingat Stefan yang menghubunginya di pagi buta dengan suara serak dan pelan.
"Nomornya tidak bisa dihubungi, Bi. Kalau begitu aku meminta nomor yang menghubungi Bibi saja."
"Masih tersimpan disana, Nyonya. Sebentar saya tuliskan."
Bibi Ofelia hanya pergi sebentar, dan kembali dengan membawa secarik kertas.
"Silahkan, Nyonya."
Luna menerimanya. Namun dahinya berkerut melihat angka-angka yang ditulis oleh kepala pelayannya itu. Nomor yang sama yang tersimpan di ponselnya.
Luna langsung kehilangan semangatnya. Bahunya melorot dengan ponsel masih bertengger di tangannya.
"Mereka masih belum bisa menemukannya. Bagaimana keadaan, El?" gumam Luna lirih namun masih terdengar oleh kepala pelayan yang berdiri tidak jauh darinya itu.
"Nona Elea pasti baik-baika saja, Nyonya. Dia anak yang kuat," hibur bibi Ofelia mendengar keluh kesah sang majikan.
Padahal Luna berharap banyak pada sang ayah dan sepupunya itu, jika mereka akan menemukan posisi Elea. Sehingga ia tidak lagi khawatir meski berada dibawah ancaman para penculik itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Luna baru saja tiba di kantornya. Ia sudah disambut kembali oleh banyaknya pekerjaan yang menumpuk.
"Saya senang Ibu sudah sehat kembali," ucap Emma yang berdiri disebelahnya.
"Terima kasih, Em. Aku baik-baik saja. Bagaimana keadaan perusahaan?"
Mata Luna menatap kertas-kertas di depan mejanya. Sesekali wanita itu membubuhkan tanda tangan pada berkas-berkas itu.
"Mr. Stefan menanganinya dengan baik, Bu. Hari ini beliau juga menghubungi kami," lapor Emma.
"Benarkah? Apa kau menyimpan nomor Stefan? Boleh aku memintanya?"
Dua kali Luna mendapat laporan jika Stefan menghubungi. Namun mengapa nomor ponselnya masih juga belum aktif.
"Beliau menghubungi nomor kantor, Bu. Dan sepertinya nomor yang digunakan juga bukan nomor telepon seluler," jawab Emma.
"Baiklah, kau boleh keluar. Jangan lupa kirimkan nomor itu padaku. Nanti jika aku membutuhkan bantuan, kau kupanggil kembali."
Emma mengangguk. Kemudian gadis itu beranjak meninggalkan Luna.
"Papa ... Stefan ... Kalian dimana?" Berkali kali Luna menekan nomor mereka berdua namun jawaban yang sama masih saja ia peroleh.
Dalam gubdahnya, wanita itu mengetikkan sesuatu pada kotak pesannya kemudian mengirimkannya pada sang ayah dan juga sepupunya itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Stefan tersenyum, saat ia membuka pesan dalam ponselnya yang ia aktifkan beberapa menit yang lalu.
Diantara banyak pesan yang masuk dalam satu kali 24 jam ponsel itu mati, ada satu pesan yang membuatnya bibirnya mengembang.
"STEFAN! KATAKAN KAU DIMANA? KENAPA KALIAN MENGHILANG DAN TIDAK MEMBERI KABAR??"
Semua pesan itu tertulis dengan huruf besar. Mengindikasikan kemarahan dan rasa jengkel yang luar biasa dari pengirimnya.
Stefan berkali-kali mengusap wajahnya. Jika saja bahunya tidak terluka, ia tentu akan langsung meluncur menemui wanita pengirim pesan itu. Meskipun disana nanti dia tidak akan mendapatkan sambutan yang hangat.
"Baby ...." gumam Stefan lirih.
"Paman memanggil siapa?" Suara centil Elea mengagetkan Stefan yang tengah bahagia dengan lamunanya.
"Kamu sudah bangun, Sayang?"
Gadis kecil itu mengangguk, kemudian berjalan memutar dan berdiri didepan Stefan yang tengah duduk disofa.
"Terima kasih, Paman sudah menyelamatkanku. Kata Kakek, Paman sampai terluka saat membawaku." Mata sebening kaca milik Elea sudah menggantung karena bulir bening yang memenuhinya hampir jatuh.
Stefan menuntun Elea dan membawanya duduk di pangkuannya. Kemudian mendekap erat gadis kecil pelita hati dan separuh nyawanya itu.
"Kakek berbohong. Paman memang sudah terluka jauh sebelum menyelamatkanmu. Ini sudah tidak apa-apa. Lihat saja." Stefan menepuk pelan bahunya yang sakit. Sekedar ingin membuktikan pada Elea jika ia baik-baik saja.
Padahal dibalik sikapnya itu, ia menahan nyeri. Luka yang dideritanya itu cukup dalam, dan bahunya sedikit membengkak. Jadi hanya dengan tepukan pelan sekalipun, akan terasa sakitnya. Terasa seperti sesuatu yang yang menjalar dengan cepat.
"Paman?"
Elea memperhatikan wajah Stefan yang menurutnya aneh.
Lelaki yang ia panggil paman itu tersenyum dengan mata menyipit namun mendesis seperti menahan sesuatu.
"Paman tidak apa-apa, Sayang. Apa El benar-benar sudah sehat?"
"Sudah,Paman. El kangen sekali dengan Mama. Kita pulang ya, Paman," rengek gadis kecil itu pada Stefan.
"El sudah bertemu kakek bukan?"
Gadis kecil itu mengangguk. "Kata Kakek, El harus disini lebih dulu. Mama sedang keluar kota, jadi El dengan kakek. Tapi ini kan bukan rumah kakek, Paman," protes Elea.
"Ini rumah kakek, Sayang. Sudah ya, El jangan sedih. Ayo kita main di taman," ajak Stefan mengalihkan perhatian Elea.
"Tapi Paman sedang sakit."
"Paman masih punya satu bahu lagi dan juga dua kaki. Apa itu kurang cukup?" tanya Stefan menggoda gadis kecil itu.
"Cukup, Paman. Sangat cukup."
Elea menarik tangan Stefan untuk mengajaknya bermain.
❤❤❤❤