
"Bukan salahmu, Bhar. Berapa anakmu sekarang?" tanya Luna yang ingin mencairkan suasana.
"Anak? Em ... Em ... Belum."
Bhara kembali mengusap belakang kepalanya. Ia terlihat gugup dan bimbang menjawab pertanyaan Luna.
"Kau harus sabar, terkadang kenyataan memang tidak sesuai harapan bukan?"
Luna yang lebih makan banyak asam garam kehidupan berusaha menasehati.
Anak adalah rezeki. Dan kita tidak bisa memintanya hadir begitu saja. Jika Tuhan berkehendak, maka besok pun pasti terjadi. Bukankah begitu?
"Bukan itu," sahut Bhara lirih. Membuat Luna mengernyit karena tidak tahu maksud Bhara. "Aku belum menikah, jadi mana mungkin bisa memiliki anak."
"Oh." Luna menutup mulutnya sambil menahan tawa. Karena rupanya wanita itu salah menebak. "Berarti ajang reunian ini bagus untukmu. siapa tahu kau bertemu teman lama dan kalian saling cocok."
"Ya, tapi sayang dia sudah menikah."
Bhara terlihat seperti pemuda yang patah hati sekarang. Itu menggelikan untuk Luna.
"Kalau itu namanya bukan jodoh, Bhar. Bukankah terkadang kita mengharapkan dan mencintai seseorang dengan sangat tapi ternyata dia bukan jodoh kita? Lalu, kita bisa apa."
Bhara mengangguk. "Kau benar. Tapi sepertinya, aku belum bisa berpaling," ucapnya putus asa.
"Pelan-pelan saja, terkadang kau juga tidak menyadari tengah menyukai seseorang yang tidak kamu harapkan," ucap Luna sambil menelan ludahnya sendiri.
Seperti dirinya yang awalnya sangat membenci Stefan yang jelas-jelas sepupunya tapi telah menodainya. Namun sekarang disaat Stefan pergi selamanya karena menyelamatkannya, Luna malah mengharapkan lelaki itu masih hidup. Karena ingatan kematiannya seperti dihapus dari otak Luna oleh Tuhan.
"Tapi aku tidak sedang menyukai siapapun, Luna. Aku masih mengharapkan wanita itu," ungkap Bhara jujur.
Bhara berharap wanita yang berbaring di depannya ini merasa, jika dari dulu hingga sekarang perasaan Bhara pada Luna masih sama.
Tidak berkurang sedikitpun.
"Tidak boleh mengharapkan milik orang lain, Bhar. Apa yang sudah menjadi milik orang lain berarti memang tidak ditakdirkan untukmu."
Luna hendak meraih minum diatas nakas karena tenggorokannya kering sejak tadi, dan seketika Bhara berdiri membantunya.
"Terima kasih," ucap Luna menggenggam gelas yang diberikan Bhara.
"Salahkah aku melawan takdir?" tanya Bhara tiba-tiba.
Luna sempat berpikir jika Bhara seperti curhat saja, padahal mereka baru saja bertemu.
"Tentu saja, Bhar. Setiap episode dari hidup kita telah ditentukan, kita hanya tinggal menjalani."
"Aku tahu. Bagaimana dengan dirimu? Dari tadi kita hanya membahas tentang aku."
Senyum Bhara mengulas. Lelaki itu tentu ingin mendengar cerita Luna dari sumbernya langsung. Meski ia sudah tahu jika wanita yang dicintainya itu sudah menikah.
"Tidak ada yang menarik dariku. Aku hanya seperti wanita kebanyakan, Bhar. Menikah dan punya satu putri. Elea namanya. Oh iya, kata Selly kamu juga di Kanada sekarang?" cerita Luna tentu membuat Bhara bertambah yakin jika wanita itu memang sudah menikah.
Dan diam-diam, Bhara juga mencari tahu tentang sosok suami Luna. Jadi lelaki itu sangat tahu apa yang menimpa Adam kini. Hanya sebatas kecurangan Adam di perusahaan, bukan hal lain. Namun Bhara tidak ingin banyak membahasnya.
"Ya, aku di Ontario. Memimpin perusahaan ayahku. Kau kesini sendiri?" tanya Bhara berusaha mengulik kehidupan Luna.
Bhara terlihat mendengarkan dengan seksama. "Dan....?"
"Menengok pamanku. Apa kau sengaja pulang karena reuni ini?" tanya Luna mengalihkan pembicaraan.
Bhara terdiam sejenak. "Ya, juga karena aku rindu dengan negara ini. Aku besar di kota ini, Lun."
Bhara tersenyum tipis. Tidak mungkin ia mengungkap jika ia ke Amerika memang karena reuni itu.
Dan alasan yang lebih utama adalah karena Selly mengatakan jika Luna akan hadir. Tentu saja hal itu membuat Bhara sampai cuti mendadak dan meningggalkan pekerjaannya hanya untuk kembali ke. negara ini.
"Kita besar disini. Aku juga sering rindu dengan Amerika. Namun tidak mungkin aku pulang begitu saja tanpa alasan, karena papaku juga tinggal bersamaku di Kanada. Bahkan kakakku lebih sering di Kanada daripada disini."
Luna mencoba duduk namun belum kuat hingga ia menambahkan bantal di belakang punggungnya. Dan Bhara dengan sigap membantu, membuat Luna menjadi canggung kembali.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Bagaimana?"
"Ada CCTV sekolah yang merekam beberapa orang tengah berkumpul di sebuah ruangan Sir. Meski jaraknya jauh, tapi terlihat jika mereka bukan teman-teman nyonya Luna," ucap anak buah Leo.
Aglen meninggalkan Luna di rumah sakit bersama Bhara. Meski tidak mengenalnya dekat, namun Aglen pernah menyelidiki latar belakang sahabat adiknya itu dulu. Sehingga lelaki berkuncir itu merasa tenang saat meninggalkan sang adik bersama lelaki itu.
Aglen kembali ke sekolah, saat sebagian teman-teman Luna sudah pulang. Hanya tinggal beberapa orang yang sepertinya terlibat dalam kepanitiaan. Karena tempat ini pun sudah bersih. Bekas panggung dan acara tadi sudah tidak bersisa. Sepertinya pihak event organizer bertindak cepat mengemasi barangnya.
"Aku juga merekamnya di ponselku. Semua pembicaraan mereka. Ada yang lain?" tanya Aglen menatap satu persatu anak buah Leo.
"Tidak ada, Sir. Bersih. Mereka benar-benar bergerak cepat menyingkirkannya," jawab salah seorang anak buah itu.
"Kak, Kak Aglen kan?" Selly mendatangi Aglen dan anak buahnya yang tengah berbincang di sudut tempat parkir.
"Kamu?" Aglen ingat gadis ini pernah bersama Luna dulu. "Teman Luna?"
"Iya, Kak. Aku Selly." Gadis cantik yang dulunya berkacamata tebal seperti kutu buku itu mengulurkan tangannya.
Ia tidak mengira meski wajahnya sudah tidak sepolos dulu, kakak dari sahabatnya itu masih mengingatnya.
Dan sialnya, Aglen hanya mematung tanpa membalasnya. Lelaki berkuncir itu memberi kode pada Leo hingga pengawal pamannya itu yang akhirnya membalas jabat tangan Selly.
"Aku ikut kepanitiaan, Kak. Dan bodohnya kami tidak tahu apa-apa tentang peristiwa yang menimpa Luna. Itu semua ... Karena dikerjakan oleh event organizer dari Pauline," sesal Selly.
Sejak teman-temannya mengatakan jika mereka tidak turun tangan sama sekali dalam acara kali ini, sebenarnya selly juga sudah curiga.
Tersangka utama mengerucut pada sosok Pauline. Namun Selly juga serba salah karena dialah yang meminta bantuan Pauline. Dan diluar dugaan, Pauline malah mengerjakan semuanya hingga panitia hanya berpangku tangan dan terima beres.
"Bukankah seharusnya kalian cek ulang pekerjaan mereka?" tanya Aglen dingin.
"Iya, Kak. Kami minta maaf." Selly menunduk menunjukkan penyesalannya.
"Maafmu sudah tidak ada gunanya! Jika tidak ada yang menangkapnya saat itu, sudah kupastikan kalian semua yang ada disini ku lempar ke penjara untuk bertanggung jawab atas kejadian ini," ucap Aglen yang meninggalkan tempat itu diikuti oleh anak buah pamannya.
Selly membeku. Rasanya ingin menangis saja. Tapi benar kata Aglen, semua itu tidak ada gunanya. Semua sudah terlanjur terjadi akibat kelalaian panitia.
😘😘😘😘