
"Adam Walton."
Seorang sipir memanggilnya dengan keras. Biasanya jika seperti itu, berarti ada seseorang yang mengunjunginya.
"Ya," sahut Adam yang segera berdiri dan mendekat ke jeruji besi tempat ia ditahan saat ini.
"Ada surat untuk anda, dari rumah sakit kepolisian setempat," ucap sipir yang memanggil Adam tadi sambil memberikan sebuah amplop coklat tipis pada lelaki berambut pirang itu.
"Terima kasih," ucapnya.
Adam membawa amplop itu dan kembali duduk diranjangnya. Ia masih membolak-balik amplop coklat yang tertutup dengan rapi dan tertulis namanya itu.
Adam merasa aneh karena tidak pernah berhubungan dengan rumah sakit yang namanya tertera pada amplop itu.
Begitu Adam membuka amplopnya, kertas terlipat yang ada di dalamnya jatuh ke lantai dalam keadaan terbuka. Dan saat ia memungutnya, mata Adam seketika membola ketika sekilas menangkap apa yang tertulis disana.
"Kei...." Mendadak tangannya gemetar mengambil selembar kertas yang jatuh itu. "Ini tidak mungkin! Kylie, ini pasti salah!"
Adam membaca dengan seksama kertas yang kini ada ditangannya itu. Mulai dari awal hingga akhir. Yang berujung dengan diremasnya kertas itu hingga rusak.
"Kylie pasti dibunuh! Lelaki itu pelakunya. Aku akan menuntut balas!" geram Adam yang meremas kuat tepi ranjang yang ia duduki.
Tanpa lelaki itu sadari, bahwa seharusnya ia berpikir jauh tentang dirinya sendiri. Tidak ada yang mau menolong dirinya didalam sana. Apalagi dengan tuntutan hukuman yang tidak sebentar.
Lalu kemana ia akan menuntut balas akan kematian adiknya? Alfonso? Lelaki itu tidak tersentuh oleh siapapun.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Paman, hari ini aku akan ke sekolahku. Ada beberapa sertifikat seminar dulu yang tertinggal disana. Pihak sekolah mengatakan aku harus segera mengambilnya."
Luna meminta izin pada sang paman pagi itu.
"Kampusmu? Tidak bisakah dikirim? Jika hanya sertifikat saja, seharusnya tidak memerlukan kehadiranmu langsung disana, Luna," jawab William memberi alternatif lain.
Ia ragu memberikan izin untuk keponakannya itu, meski kemarin ia mengatakan jika Luna bisa jalan-jalan keluar namun harus ditemani Leo.
"Sekolahku Paman, aku hanya sebentar kuliah disini. Jadi aku bukan alumni. Aku juga ada janji dengan sahabatku. Kami ingin reuni kecil-kecilan. Sudah lama sekali kami tidak bertemu."
Luna menatap sang paman seraya memohon diizinkan.
"Aku tidak sendirian, Paman. Aku akan mengajak Elea untuk menemaniku," ucap Luna berusaha meyakinkan William.
"Jangan ajak Elea. Biarkan dia dirumah dengan bibimu. Kalau kau memaksa, Leo lah yang harus menemanimu. Kau tahu keselamatanmu terancam bukan, Nak?" ucap William penuh penekanan.
Luna mendengkus lirih. Ia lupa jika sang paman sudah mengatakan syarat itu dari kemarin.
"Baiklah, tapi katakan pada Leo untuk mengawasiku dari jauh saja. Aku merasa tidak nyaman, karena sahabatku tidak pernah membawa pengawalnya kemana-mana," ungkap Luna memperkuat alasannya menolak Leo.
"Keadaannya berbeda, Nak. Sudahlah, Paman tidak mau didebat. Pergi dengan Leo atau tidak sama sekali!" ucap William tegas.
Lelaki paruh baya itu segera pergi meninggalkan Luna yang terpekur sendiri.
"Ikuti saja apa kata pamanmu, Sayang. Kami semua mengkhawatirkanmu. Itu kami lakukan demi keselamatanmu," ucap Christina dari belakang seraya membelai puncak kepala Luna.
Rupanya, wanita paruh baya itu sedari tadi mendengar percakapan keduanya. Hanya saja Christina tidak ingin ikut campur. Namun ia membenarkan tindakan yang William ambil untuk keponakannya itu.
"Baiklah Bibi, aku titip Elea. Maukah Bibi membantuku bersiap?"
"Tentu saja," jawab Christina yang mendorong kursi roda Luna meskipun wanita itu menolaknya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Kita harus masuk ke kandang singa, jika ingin mendapatkan sesuatu yang bisa menghancurkannya," ucap William yang saat ini tengah berada di kantornya.
"Betul, Tuan. Meskipun kita seperti mengumpankan Nyonya Luna. Saya sudah mengecek siapa saja yang datang nanti. Dan rupanya dia diam-diam yang merencanakan reunian ini. Pasti dia juga merencankan sesuatu," ungkap Leo yang melaporkan apa yang ia dapatkan pagi ini dari anak buahnya di lapangan.
"Lakukan apapun, Le. Bawa anak buah terbaikmu dan jaga Luna dengan baik," titah William yang dijawab anggukan dan pamit dari Leo.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sahabat Evelyn yang tadi ikut berteriak histeris, kini mendekat padanya setelah sedikit tenang. Ia tidak takut kecoa namun ia geli dan jijik jika harus menyentuhnya.
Sementara itu, wajah Evelyn sudah memerah seperti udang rebus dan terlihat ketakutan. Mendadak gadis itu merasakan jika seluruh tubuhnya gatal-gatal akibat sentuhan kecoa-kecoa yang sudah memiliki sayap itu.
"Buang keluar, Sal! Sekujur tubuhku rasanya merinding dan tebal."
Evelyn yang menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut menggigil jijik. Tangannya terlihat menggaruk beberapa bagian tubuhnya tanpa ia sadari.
"Apa mereka bercanda, memberikan kejutan pada orang sakit? Sungguh keterlaluan!" ucap Sally yang setelah memastikan tidak ada kecoa pada buket bunga itu, ia segera mengambilnya dan memasukkannya kedalam tempat sampah.
"Kau harus menuntut perusahaanmu itu! Membuat orang sehat jadi sakit jantung saja," cerca Sally yang kesal.
"Sudah, tidak usah diperpanjang. Tolong ambilkan obat alergiku di dalam tas, Sal. Aku sudah tidak tahan gatalnya." Evelyn mulai menggaruk tubuhnya.
"Kamu memiliki alergi?"
Evelyn mengangguk, wajahnya bengkak dan merah.
"Alergi apa Eve? Phobia maksudmu? Tapi kenapa gatal-gatal?"
Sally yang merasa heran segera menghampiri Evelyn dan memeriksanya.
"Aku alergi kecoa. Entah mengapa sedari anak-anak jika sampai menyentuh binatang kecil itu pasti sudah langsung gatal-gatal," keluh Evelyn yang berusaha menahannya.
Tanpa bertanya lagi, Sally langsung mengeluarkan isi tas Evelyn dan menemukan botol kecil berisi tablet bulat berwarna kuning.
"Ini?"
Evelyn mengangguk. Sally segera menyerahkannya dan membantu sahabatnya itu untuk meminumya.
"Istirahatlah. Aku akan menghubungi bosmu untuk meminta pertanggungjawaban," ancam Sally lirih yang masih didengar oleh Evelyn.
"Jangan! Tidak perlu Sal!"
"Diam di tempatmu, Eve! Ini urusanku!" bentak Sally yang membawa tas Evelyn beserta isinya keluar kamar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mirko, semua aman?"
Aglen sedang duduk di kursi yang biasa ditempati Stefan sebelumnya. Ia menggantikan tugas Stefan dengan dibantu Mirko, asisten sepupunya itu.
"Aman, Sir. Tuan Stefan mengajari saya banyak hal. Saya sempat merasa jika beliau akan tinggal lama atau menetap di Kanada. Saya sungguh tidak menyangka."
Mirko nampak bangga menjadi asisten Stefan selama ini. Lelaki tampan yang menjadi atasannya itu memang sudah tidak perlu diragukan lagi sepak terjangnya di dunia bisnis.
"Jalan takdir tjdak ada yang tahu. Apa tiketku ke Amerika sudah siap?" tanya Aglen yang hanya sebentar saja singgah di Italia.
Ia memang hanya memeriksa pekerjaan Mirko disana. Karena setiap harinya semua sudah dibawah kendali Mirko.
"Sudah, Sir."
Mirko meletakkan dua tiket ke atas meja.
"Saya tidak melihat pengawal anda, Tuan?" tanya Mirko yang dimintai tolong oleh Aglen menyediakan dua tiket ke Amerika, sementara Aglen hanya terlihat sendiri.
"Ia menunggu di mobil."
"Ohh, iya. Take care sampai tujuan Sir." Mirko membungkuk hormat pada sepupu atasannya itu.
😍😍😍😍😍