La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 107



"Silahkan, Nyonya."


Leo mempersilahkan Luna dan membantunya masuk ke dalam mobil.


"Kau? Kenapa kau berpakaian seperti ini?"


Luna menatap berulang kali sosok Leo yang kali ini hanya berpakaian kemeja rapi tanpa earphone dan duduk di kemudi.


"Hari ini saya merangkap sopir anda, Nyonya."


Leo tersenyum melihat keponakan majikannya yang bingung dengan penampilannya.


"Paman ada-ada saja," gumam lirih Luna. Padahal tadi pagi ia meminta pada sang paman agar Leo hanya mengawasinya dari jauh. Tapi hari ini, lelaki yang merupakan pengawal William itu malah merangkap sopir untuknya.


"Bersikaplah seperti biasa, Nyonya. Anda akan membongkar penyamaran saya jika menatap saya seperti itu. Akan ada misi khusus hari ini. Karena kemungkinan orang yang mencelakai anda juga akan hadir disana," ucap Leo memberitahu.


Lelaki itu berpikir sangat perlu untuk menyampaikannya, agar Luna juga waspada nanti.


"Benarkah? Apa paman juga mengetahuinya?"


Leo mengangguk tegas. "Tentu saja. Begitu Nyonya mengatakan ingin pergi, Tuan William langsung memberi perintah pada kami untuk bergerak. Semua sudah diatur oleh Tuan William, kita hanya perlu bekerjasama dengan baik."


"Baiklah."


Luna mengangguk sendiri. Berani tidak berani, ia sudah tidak bisa mundur lagi.


Dalam perjalanan, Leo menceritakan segalanya. Apa saja yang harus mereka lakukan disana nanti.


Luna memang harus dilibatkan. Karena penjahat itu sudah pasti akan mengulangi perbuatannya, sebab aksinya gagal terakhir kali.


Meski Luna belum bisa mandiri dan terbiasa dengan kursi rodanya. Ia akan membantu semampu yang ia bisa.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tidak terlihat seperti sebuah perayaan besar. Karena memang reuni kali ini hanya satu alumni saja. Dan mengambil tempat di gedung pertemuan sekolah.


Namun anehnya, sekolah nampak sepi. Padahal seharusnya hari ini masih aktif sekolah. Dihalaman pun hanya nampak beberapa mobil yang terparkir.


Sekolah setara SMA ini memang hanya dienyam Luna kurang lebih dua tahun. Karena ia adalah siswa pindahan dari sekolah lamanya saat tinggal bersama mama Keiko.


Mengingatnya membuat Luna menjadi rindu dengan wanita yang mengurusnya dari kecil itu. Sayang sekali, wanita paruh baya yang ia panggil mama itu tidak mau dihubungi jika bukan dia yang menghubungi lebih dulu.


Menurutnya, ia ingin menjaga Luna dari pandangan buruk semua orang. Padahal mungkin, semua orang yang mengenal Luna dan Keiko dulunya pasti juga sudah tahu dimana wanita itu dibesarkan.


Sudah tidak menjadi masalah lagi bagi Luna dipandang sebelah mata oleh orang-orang. Yang terpenting, hubungannya dengan keluarga baik-baik saja. Apalagi Aglen pun sekarang sudah berubah.


Leo mengemudikan mobilnya pelan, terutama saat melewati pos keamanan. Ada seorang satpam yang menghampiri begitu mobil mereka berhenti.


Setelah mengucapkan salam, satpam menyampaikan jika sekolah memang sedang libur. Dan saat Luna menanyakan tentang sertifikat itu, satpam menjawabnya tidak tahu menahu.


Menurut petugas keamanan itu, mungkin saja sertifikat yang dimaksud oleh Luna dititipkan pada teman-temannya.


Namun petugas keamanan itu mengiyakan saat Luna menanyakan ada yang mengadakan reuni disana.


Wanita itu lega. Berarti ada banyak orang disana. Meskipun hatinya dag dig dug khawatir dengan apa yang akan dihadapinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Tidak banyak yang hadir di gedung sekolah yang sengaja disulap begitu indah itu meski hanya ditempat sederhana.


Entah karena memang undangannya untuk kalangan terbatas atau mereka memang tidak bisa hadir, Luna tidak tahu.


Tapi melihat gelagat dari mereka yang hadir, sepertinya banyak sekali kelompok-kelompok sosial yang berbeda-beda diantara mereka. Dan sayangnya, Luna memang tidak banyak mengenal mereka.


Ia hanya dekat dengan Bhara, Selly, alda dan terakhir Pauline. Ada rasa pahit yang tercekat di tenggorokannya saat ia menyebutkan nama yang terakhir itu.


Sumber masalah, sumber segala kesedihan dan entahlah apa namanya. Meski mereka sempat dekat sebentar dan ia tahu Pauline memang tidak tulus.


Luna meminta Leo berhenti. Pengawal pamannya itu terus saja mendorongnya mengelilingi gedung yang tidak begitu luas ini. Mungkin karena belum ada satu orangpun yang menyapa keponakan majikannya itu.


"Nyonya mengenali mereka?"


"Tentu saja, tapi aku tidak dekat dengan mereka. Entahlah, tapi tidak mungkin Selly belum datang karena ia mengatakan jika ia bagian dari kepanitiaan," jawab Luna yang matanya masih memindai kesana kemari mencari sosok-sosok yang mungkin dikenalnya dekat.


"Hai ... Luna!"


Seorang wanita dewasa menghampirinya dan Luna hampir saja tidak mengenalinya.


"Hai, kamu?" Luna mengerjap, wanita di depannya ini seperti Selly. Tapi ini lebih cantik dan ada yang berbeda dari wajahnya.


Wanita itu membungkuk dan memeluk Luna kemudian membisikkan sesuatu. "Aku Selly, kau jahat sekali melupakanku," bisik wanita itu lirih.


Selly cengengesan di hadapan Leo yang hanya biasa saja menatapnya.


"Tapi ada yang hmm_" Mendadak Selly membungkam Luna dan membuat Leo marah. Untung saja Selly segera melepaskan tangannya dari mulut Luna.


"Aku ... Hanya sedikit koreksi pada kelopak mataku. Kau tahu kan semua ini gara-gara kacamata itu. Ah sudahlah, yang penting sekarang aku cantik. Apa kabarmu Luna? Lama sekali kita tidak bertemu."


Selly hampir saja menceritakannya, namun urung.


"Oh, pantas saja. Iya, kamu tambah cantik sekarang," ucap Luna berbohong. Luna lebih menyukai wajah Selly yang dulu, polos dan asli.


"Aku... Aku baru beberapa hari disini dan ada kecelakaan kecil yang membuat kakiku harus mendapat bantuan seperti ini." Luna menunjukkan kakinya yang masih di lingkari oleh kain kasa putih.


"Oh ... ya ampun." Selly menunduk dan mengusap lembut kaki Luna. "Semoga cepat sembuh. Ngomong-ngomong, aku senang sekali kau datang," ucap gadis itu yang sedari dulu memang paling perhatian pada sahabatnya daripada yang lain.


"Apa kau sudah bertemu Alda?" tanya Luna.


"Sepertinya dia tidak datang. Ia mengikuti suaminya yang bekerja di Norwegia dan jarang pulang," jawab Selly yang sepertinya mengetahui banyak hal tentang Alda. "Sudah bertemu bhara?"


"Bhara?"


Luna mengerjap. Pemuda itu yang paling dekat dengannya dulu. Sebelum Luna menghindarinya dan pergi ke Kanada dengan tiba-tiba.


"Ya. Sekarang dia menjelma menjadi lelaki yang tampan dan mapan. Kau tahu kan dari dulu aku mengidolakannya. Dan sekarang tambah menjadi-jadi." ucap Selly yang nampak bahagia ketika menceritakan lelaki itu. Selly sama sekali tidak malu ketika dia yang lebih agresif daripada laki-laki.


Padahal dulu, Bhara pernah mengungkap cinta pada Luna, dan Luna tidak begitu memperdulikan nya. Luna hanya menganggapnya sahabat meski mereka sangat dekat.


Dan sekarang, sang sahabat Selly malah mengaku mencintai lelaki itu.


"Apa kau sudah pernah bertemu dengannya?" tanya Luna.


"Beberapa kali saat ia pulang disini. Oh ya ni, bukankah kau selama ini tinggal di Kanada?" Selly menebak dengan benar.


"Ya, berilah kabar kalau kau sedang berlibur disana," jawab Luna berbasa basi.


"Aku beberapa kali kesana, namun bukan liburan. Memang kau tidak pernah bertemu Bhara? Dia juga bekerja di Kanada."


apa yang diucapkan selly membuat Luna kaget. Bhara di Kanada?


"Baru-baru ini?"


"Sudah empat tahun ini. Di kota Ontario. Kami sering bertemu, namun dia sangat sulit ditaklukan," bisik Selly dengan wajah sedih.


Luna terdiam. Empat tahun bukan waktu yang sebentar.


"Kau tahu Pauline, kan? Dia juga akan datang kesini. Kabarnya dia juga sudah sukses sekarang. Model dan pengusaha."


Luna mendengkus berat. Mendengar namanya saja, membuatnya sesak.


"Itu dia, akhirnya datang juga," tunjuk Selly pada seseorang.


Deg!