
"Jangan salah, aku yang lebih dulu jatuh cinta padanya. Ia yang istimewa," ungkap Christina membanggakan sang suami.
Dan berlanjut dengan Christina yang bercerita panjang lebar tentang kisah cintanya dengan sang paman.
"Bi, boleh aku bertanya satu hal?" tanya Luna di sela-sela Christina bercerita.
"Apa Sayang, katakan saja?" sahut Christina.
"Apakah ada seseorang yang menyusup ke rumah ini dan menemui Elea?" tanya Luna pelan. Ia tidak ingin menyinggung sang bibi.
Seperti yang Elea ceritakan sebelumnya, jika Christina meminta buket bunga yang diberikan oleh penyusup itu dan menyimpannya.
"Ya. Maafkan aku dan pamanmu yang tidak becus memiliki pengawal. Bahkan penyusup itu bisa mengecoh kamera pengintai milik kami," jawab Christina pelan.
Wanita itu merasa bersalah. Mereka sudah berjanji menjaga Elea, tapi malah kecolongan.
"Benarkah? Bagaimana bisa? Paman memiliki pengawal yang profesional. Leo saja sangat handal dan cepat membaca situasi meski ia lengah saat aku pergi ke toilet. Tapi itu salahku juga, Bi. Aku yang menolak ditemani."
"Lain kali jangan kau ulangi Sayang. Mereka dibayar untuk menjagamu kemanapun kamu pergi. Mereka kan bisa menunggu di luar sampai kamu selesai." Nasihat sang bibi pada keponakannya itu.
Luna mengangguk, ia pasti tidak akan mengulanginya, karena rupanya para penjahat itu sungguh nekat. Didepan keramaian mereka berani beraksi.
"Bibi belum bercerita bagaimana mereka bisa masuk?"
"Itulah yang menjadi misteri hingga saat ini. Kami sudah kecolongan tentang letak kamera pengintai yang bisa dibaca oleh pihak musuh sampai penyusup itu bisa memutar arah tangkapnya. Tapi tenang saja, semua kamera pengintai sudah diperbarui letaknya, Sayang. Maaf membuatmu khawatir," ucap Christina menenangkan.
"Kata Elea, penyusup itu menanyakan aku padanya dan menitipkan bunga. Apa benar, Bi?"
"Ya, bunganya Bibi minta karena khawatir orang itu meletakkan sesuatu didalam sana. Leo sudah memeriksanya, syukurlah tidak ada apapun yang membahayakan," jelas Christina.
"Bolehkah aku melihatnya?"
"Tentu saja, Sayang. Tunggulah disini, bibi akan mengambilnya."
Padahal sedianya Christina hendak membuangnya saja. Karena ia takut akan menambah pikiran buruk Luna dengan kondisinya yang sekarang. Namun keponakannya itu justru memintanya.
Tidak berapa lama, Christina kembali membawa buket cantik bunga mawar putih dengan sebuah kartu yang tergantung di sebuah tangkainya.
"Bibi tinggal dulu ya. Buang saja jika kau sudah selesai. Bibi akan melihat pamanmu dulu," pamit Christina yang menyusul William ke kamarnya.
Bagaimanapun, ia harus berterima kasih karena William sudah begitu baik memberikan apa yang wanita itu inginkan. Bukan semata-mata karena takut, tapi karena dalamnya cinta William untuknya.
Luna mengmbil buket mawar yang Christina letakkan di atas meja itu.
"Semoga cepat sembuh," gumam Luna yang membaca kartu kecil berbentuk hati yang menempel disana. Kemudian tanpa sengaja, matanya menangkap ada sebuah huruf kecil yang tertera di bawahnya. Samar dan tidak begitu kelihatan
" SB ... Sabhara?
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sir, laporan kita sudah ditindaklanjuti. Larangan untuk Pauline Osbert bepergian dari negara ini sudah terbit. Dan ada polisi yang mengawasinya juga sepanjang hari mulai hari ini hingga seminggu ke depan," lapor Andrew pada William.
"Semudah itu?" lirik William tidak percaya.
Seperti diketahui jika ayah dari Pauline adalah petinggi kepolisian di negara itu. Hal yang menyebabkan William tidak begitu saja percaya.
"Menurutmu apa mereka memiliki strategi kotor? Sebuah drama yang dilakonkan oleh seorang Edward. Dia terkenal sangat licin."
William mengungkap praduganya akan lelaki berpengaruh di kepolisian itu. Lelaki paruh baya itu memang belum pernah secara langsung berhadapan dengan Edward Osbert. Namun bukan berarti ia tidak tahu sepak terjang petinggi kelolisian dengan julukan belut listrik itu.
"Entahlah, Tuan. Tapi saya juga menebaknya demikian. Kita harus berhati-hati dan tidak boleh sampai salah langkah," ucap Andrew mengingatkan.
William terlihat manggut- manggut. William juga bukan seorang pengusaha biasa dulu. Ia pernah malang melintang di dunia mafia sampai akhirnya bertemu Christina.
"Siap, Tuan," angguk Leo.
"Oh iya, Sir. Apa yang kita lakukan jika Tuan Edward ikut campur hal ini?" tanya Andrew.
"Dia pasti ikut campur. Gadis itu adalah putri satu-satunya yang ia miliki."
"Apa kita akan menjeratnya juga? Sepertinya ia memiliki banyak relasi selain di kepolisian, Sir. Saya mendapat beberapa nama pengusaha kaya yang telah dibantu olehnya," Andrew memberikan informasi yang ia dapat dari anak buahnya.
"Tidak termasuk aku, kan?" lirik. William pada pengacara muda itu.
"Maaf, Sir."
Andrew menyesal kelepasan bicara. Ia lupa jika William juga seorang pengusaha yang tidak bisa dipandang sebelah mata di negara ini.
"Bersiaplah, And. Satu minggu ini adalah hari terakhir kita untuk santai. Karena mulai minggu depan kita sudah harus berkutat dalam sidang. Dan satu hal, aku tidak mau menerima kekalahan. Kau tahu siapa yang bersalah disini, kita harus bisa membuat mereka dihukum seberat-beratnya," ucap William seraya berdiri menatap gedung-gedung tinggi di seberang gedung perusahaannya.
Jika William harus kembali seperti dulu, ia akan melakukannya dengan senang hati. Karena baginya, menantang anggota keluarganya adalah menantang dirinya dan nama besar Efrain.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Paket? Anda nona Evelyn?"
"Paket? Aku tidak sedang memesan apapun," cicit Evelyn yang melirik tajam kurir di depannya itu.
Paket apa? Tidak ada paket disana. Kurir itu membawa paper bag warna peach dan melatakkannya di atas meja Evelyn.
Lagipula lelaki itu berseragam rapi seperti seorang dari sebuah store mahal. Tidak seperti kurir kebanyakan yang berpakaian kasual.
"Silahkan ditanda tangani," ucap lelaki di depannya itu membuat Evelyn kaget.
"Ini apa?"
"Pesanan sepatu anda, Nona. Saya hanya bertugas mengantarkan saja." Lelaki itu terus berbicara dan meminta tanda tangan Evelyn sebagai penerima.
"Tapi saya tidak memesannya," tolak Evelyn yang melihat tas itu saja sudah tahu jika barang yang tersimpan di dalamnya bukanlah barang murahan.
"Saya tidak punya_"
"Cukup ditandatangani saja, Nona. Sepatu ini sudah dibayar. Tolong bekerjasamalah agar tugas saya lekas selesai." Lelaki itu memaksa meminta tanda tangan Evelyn.
Hingga akhirnya Evelyn pasrah dan menandatanganinya.
Selepas kurir itu pergi, Evelyn membukanya. Dan betapa terkejutnya dia mendapati sepatu baru dengan model sangat cantik ada di dalamnya.
Gadis itu melirik sejenak nomor sepatu yang ada disana. Evelyn terbelalak ketika nomor sepatu itu sama persis dengan ukuran kakinya.
Kemudian tanpa sadar tangannya bergerak memasangnya pada kaki miliknya yang tidak beralas sejak ia datang tadi pagi. Hingga akhirnya ia meminjam sandal milik office boy yang ada di perusahaan ini.
"Ini tidak mungkin, siapa yang memberikannya cuma-cuma? Uang sebanyak ini hanya untuk membeli sepatu, sayang sekali...." gumam Evelyn, ia meringis membayangkannya.
Tapi ... Bukankah yang tahu kejadian ini hanya sang bos saja, jadi tidak mungkin ada orang lain lagi yang tahu.
Atau....
Ini ulah lelaki itu? Evelyn segera membolak balik sepasang sepatu itu untuk mengamankan dirinya. Akhir-akhir ini Aglen penuh kejutan, terkadang baik meski dengan membentak. Terkadang iseng yang berlebihan.
"Apa yang kau lihat?"
💜💜