La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 76



Ciiiiitttttt.


Brakk!


Kap mobil depan Aglen mengeluarkan asap tebal. Beberapa orang nampak berlari menuju depan mobil sedan hitam itu.


Kemudian ada beberapa orang yang mengetuk kaca jendela mobil sebelah Aglen. Memastikan keadaan orang yang ada didalamnya.


Aglen mengangguk sambil mengucapkan terima kasih setelah membuka kaca jendelanya.


"Kau tidak apa-apa?" Aglen merasa bersalah karena menginjak pedal rem mendadak.


Lelaki itu terlalu asyik mendebat Luna hingga fokusnya terpecah. Saat ia sadar, sudah ada sebuah motor di depannya yang nampaknya hendak menyeberang. Hingga ia yang panik dengan cepat membanting setir ke kiri, dan mobilnya pun naik ke trotoar kemudian menabrak pohon.


"Tidak, Kak. I am okay." Luna mengatakan tidak apa-apa tapi tangannya mengusap dahinya yang terasa nyeri dan sepertinya berdarah meski hanya sedikit.


"Maaf."


Selepas mengatakannya, Aglen segera keluar dari mobilnya. Dan diluar sudah banyak orang mengerubunginya. Untung saja tidak ada korban.


Bahkan pengendara motor yang hampir di tabrak olehnya sampai turun dan ikut dalam kerumunan orang-orang itu.


"Maaf, Pak. Saya yang salah." Aglen menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya. Kemudian lelaki itu menembus orang-orang yang berdiri disana dan memeriksa kondisi mesin mobilnya.


Setelah memastikan tidak ada kerusakan berarti, lelaki itu kembali masuk ke mobilnya.


"Bagaimana mobilnya? Kakak tidak menabrak orang, kan?" tanya Luna yang sesekali masih meringis sambil mengusap dahinya.


"Tidak apa-apa." jawab Aglen singkat.


Lelaki itu membuka kotak kecil yang ada di dashboard, dan mengeluarkan sebuah plester. Kemudian jemarinya dengan cepat merobek bungkusnya.


Tubuh Aglen mendekat pada Luna, ternyata kakak laki-lakinya itu menempelkan plester pada dahi adiknya itu.


Luna membeku ditempatnya. Matanya masih lekat menatap sang kakak yang tanpa mengucap apapun menginjak pedal gas dan meneruskan perjalanan mereka.


"Tidak perlu ke rumah sakit, kan?" tanya Aglen kemudian.


Luna hanya menggeleng. Ia tidak perduli Aglen melihatnya atau tidak. Karena lidah Luna mendadak kaku mendapat perhatian sang kakak. Sesuatu yang sekian lama dirindukannya.


Ya, meskipun lelaki berkuncir itu masih plin plan. Sebentar baik, sebentar ketus, dan lebih banyak berbicara keras pada Luna. Tapi mereka tetap saudara.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Matahari berada di ufuk barat saat Luna keluar dari kamarnya. Wanita itu menuju sebuah ruangan yang berhubungan langsung dengan taman. Disana ada kolam ikan dengan beberapa bantal malas yang akhir-akhir ini sering ia kunjungi saat sendirian.


Luna duduk ditepian kolam itu. Menyandar pada salah satu bantal, menatap pergerakan ikan sambil sesekali melempar makanan pada mereka.


Sebelah tangannya membuka ponsel yang sempat ia dengar jeritannya saat ia mulai memejamkan mata siang tadi. Namun ia memilih abai karena ia sangat lelah.


Aglen menurunkannya di depan gerbang. Kakak laki-lakinya itu hanya mengatakan jika ia ada urusan lain diluar.


"Jonas" gumam Luna.


Ia ingat jika kemarin ia menyuruh lelaki itu untuk mengurus perpindahan mertuanya dari rumah sakit di Rusia ke Kanada.


Wanita itu segera menekan nomor kontak Jonas untuk dihubungi, dan tidak lama kemudian terdengar jawaban dari seberang.


"Bagaimana, Jo?" tanya Luna.


Wanita itu masih melemparkan sejumlah makanan pada ikan-ikan disana.


"Maaf, Bu. Nyonya Lilyana kemungkinan beberapa hari kedepan baru diizinkan untuk dibawa ke Kanada. Keadaannya belum stabil, takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan di jalan. Disini beliau masih benar-benar membutuhkan pengawasan intensif."


Jonas mendesah pelan, ia merasa bersalah karena pekerjaanya belum tuntas. Meski itu diluar kuasanya karena memang kondisi Lilyana buruk.


"Ada orang kantor yang kau tinggalkan disana?" tanya Luna. Ia terdiam beberapa menit sebelumnya. Wanita itu kecewa karena itu berarti, ia semakin lama mengetahui tentang kabar Adam.


"Ada, Bu. Saya meninggalkan orang disana untuk menemani Tuan Sebastian dan juga melaporkan perkembangan Nyonya Lilyana pada pihak kita."


Jonas melakukan segalanya sebaik mungkin. Sang bos baru saja melewati satu masalahnya dengan Angeline Peterson. Namun kini masalah lainnya sudah menunggunya.


"Papa disana rupanya," gumam Luna lirih. "Apa kau bertemu Adam?"


"Tidak, Nyonya. Kata Tuan Sebastian, Tuan Adam ada urusan yang harus diselesaikan. Jadi hanya beliau yang akan menemani Nyonya Lilyana."


Helaan napas berat Luna terdengar. Wanita itu mungkin butuh waktu untuk mencerna apa yang disampaikan Jonas tentang Adam dari ayah mertuanya.


"Lalu, apa kata Dokter?"


"Nyonya Lilyana koma karena komplikasi yang tidak dirawat dengan benar dan juga benturan dari belakang kepalanya, Bu. Keadaannya sangat memprihatinkan."


Ingin sekali Jonas bercerita jika ibu mertua dari sang Bos jatuh saat di Rusia. Namun pemuda itu mengurungkanya. Ia tidak ingin mencampuri urusan pribadi sang Bos.


"Baiklah, terima kasih."


Luna meletakkan ponselnya. dan ia kembali memberi makan ikan-ikannya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Keesokan harinya, Luna datang ke kantor sendirian. Semuanya telah selesai dan nama perusahaannya beserta nama baiknya telah pulih.


Pada akhirnya Luna menerapkan peraturan baru baik untuk karyawannya, juga pengguna jasanya. Menghindari kejadian yang sama terulang kembali.


Beberapa orang yang ketahuan terlibat ataupun hanya menerima uang suap telah dikeluarkan secara tidak hormat. Mereka diberhentikan hari ini juga beserta bukti-bukti akurat yang ditunjukkan, sehingga mereka tidak ada yang bisa menyangkalnya.


Dan sayangnya, ternyata Emma cukup banyak memiliki anak buah di dalam perusahaan. Hingga Luna harus mencari banyak pengganti untuk mengisi kekosongan itu.


Hanya Emma yang pagi itu tidak nampak batang hidungnya. Sekretaris Luna yang sudah menjadi tersangka itu mungkin sudah ditangkap polisi untuk bertanggung jawab atas perbuatannya.


Luna tidak lagi perduli. Rasanya sakit mendapati orang terdekat yang sangat kita percayai ternyata jahat kepada kita. Bagaikan menusuk tubuh sendiri.


"Siapa?"


"Nona Emma. Beliau menunggu dibawah untuk izinnya."


Luna melirik kesal. Untuk apa gadis itu datang ke perusahaan ini lagi setelah apa yang diperbuatnya.


"Suruh tunggu!" titah Luna akhirnya.


Namun wanita itu sebenarnya tidak berniat menemui mantan sekretarisnya. Dia memanggil seorang office boy untuk mengemasi barang-barang Emma yang tertinggal. Kemudian dikembalikan pada pemiliknya.


"Bu, kata satpam Nona Emma memaksa masuk," lapor sekretarisnya lagi.


"Barang-barangnya sudah kau berikan?" tanya Luna yang berpikir jika Emma kembali untuk barang-barangnya yang masih ada disini.


"Sudah, Bu. Katanya Emma ingin meminta maaf secara langsung."


Luna menghembuskan napas dengan kasar. "Biarkan saja dia masuk," titah Luna pada akhirnya.


Wanita itu beberapa kali nampak mengatur napas dan emosinya. Ia tidak boleh terlalu meledak-ledak didepan Emma nanti.


Bagaimanapun, mereka sudah sangat lama bekerja bersama. Perasaannya campur aduk, namun yang paling Luna takutkan adalah hatinya yang lemah karena kasihan.


Emma memuju lantai atas diantarkan oleh salah seorang satpam.


Gadis itu terdiam sejenak di depan pintu ruangan Luna. Ia melarang satpam yang mengantarnya untuk mengetuk pintu lebih dahulu.


Hingga akhirnya setelah ia cukup tenang, Emma sendiri yang mengetuk pintu itu meski tangannya terus bergetar saat melakukannya.


Gadis itu segera membuka pintu setelah dua kali mengetuknya. Kebiasaan lama yang ia lakukan selama ini. Dan sepertinya hanya akan menjadi kenangan setelah ini.


Luna menatap dalam pada gadis yang menjadi sekretarisnya selama empat tahun itu, saat masuk kedalam ruangannnya. Tatapan itu membuat Emma sama sekali tidak berani mengangkat wajahnya. Tatapan gadis itu luruh ke lantai.


Bukan sebuah pertemanan yang sebentar, tentunya juga ikatan yang terjalin diantara mereka. Dan semua harus hancur hanya karena kesenangan sesaat. Apalagi jika bukan uang.


Emma duduk di depan Luna meski tanpa dipersilahkan. Dan saat keduanya saling menatap satu sama lain, suasana terasa sangat asing. Hingga hanya ada hening beberapa menit kemudian.


"Bu, maaf...."


Emma kembali menunduk dalam. Seharusnya, ia memang sudah tidak berani menampakkan wajahnya di kantor ini. Namun sepertinya penyesalan yang sudah tidak bisa diperbaiki membuat hati Emma tidak tenang.


"Untuk?"


Luna sama sekali tidak mengalihkan tatapannya yang kian lama kian tajam. Suaranya tegas dan terdengar tanpa ampun sama sekali.


"Se-muanya ... Saya tersesat akan keinginan pribadi saya sendiri." Bulir bening mulai menetes di tangan Emma yang terikat satu sama lain. Jemari itu terus bergerak gelisah di sela tangisannya yang tanpa suara.


"Aku sungguh tidak menyangka itu kamu, Em. Di hari pertama aku mengetahui dengan mata kepalaku sendiri, hatiku terasa sakit dan aku terus menolaknya. Namun ... Aku benar-benar bodoh."


Luna mulai tersulut emosi. Ia benar-benar kecewa dengan Emma.


"Maaf, Bu. Saya yang salah. Saya yang tidak bisa menjaga amanah Ibu. Iman saya lemah."


Emma terus melimpahkan kesalahan pada dirinya sendiri.


Sedangkan Luna, wanita itu berusaha mengeraskan hatinya. Pengakuan khilaf dari Emma sama sekali tidak mempengaruhinya.


"Saya ... Saya tidak bisa berpikir jernih saat itu."


Emma terisak. Ia tahu sudah sangat merugikan perusahaan tempatnya mengais rezeki itu. Juga citra Luna sebagai pemilik yang sempat diragukan oleh banyak orang terutama semua pelanggannya.


"Apakah saya ... diberhentikan dari perusahaan ini?" tanya Emma yang membuat Luna semakin kesal.


Setelah sekian banyak peristiwa dan perbuatan jahat yang dilakukan gadis itu. Ia masih berani datang kesini hanya untuk bertanya hal yang seharusnya sudah bisa ia tebak akan keputusan Luna.


"Menurutmu? Apa yang harus aku lakukan pada orang dengan kesalahan fatal seperti kamu?"


Luna membalikkan pertanyaan pada Emma. Mungkin pikiran Emma sedang benar-benar buntu karena kejadian yang menimpanya itu.


"Maafkan saya, Bu. Saya takut tidak memiliki pekerjaan setelah ini. Karena saya pasti masuk daftar hitam semua perusahaan."


Emma mengungkap kekhawatiranya. Nasi telah menjadi bubur. Kepercayaan yang dulu tumbuh subur diantara keduanya kini bukan hanya memudar, namun hancur. Ibarat kaca yang sudah pecah, pasti berbekas meskipun bisa menyatu kembali.


"Itu urusanmu. Bukankah seharusnya kau berpikir seperti itu sebelum melakukannya?"


Luna berlagak tidak perduli. Meski hati kecilnya tidak tega. Seperti Angeline, Emma juga harus menpertanggungjawabkan perbuatannya.


"Tolong saya, Bu. Saya tidak tahu harus kemana setelah keluar dari penjara nanti. Saya_"


Tiba-tiba seorang satpam masuk dengan membawa beberapa polisi. Karena sibuk berdebat dengan Emma, Luna sampai tidak mendengar suara ketukan dari pegawainya itu.


"Maaf, Bu. Bapak polisi ini hendak menjemput Nona Emma. Waktunya sudah habis," lapor seorang satpam di perusahaan Luna.


"Bu, tolong saya. Saya tidak tahu harus kemana setelah keluar nanti. Beri saya pekerjaan,Bu."


Emma berlari menghampiri Luna yang hendak bangkit dari duduknya. Gadis itu bersimpuh dan memegangi kaki Luna.


"Nona Emma, waktu anda sudah habis. Mari ikut kami." Seorang polisi bergerak maju menghampiri Emma. Tangan polisi itu mencekal pergelangan tangan Emma dan membawanya berdiri.


"Bu ... Saya mohon."


Tangis Emma pecah. Gadis itu meraung meminta waktu sebentar lagi pada polisi. Namun para aparat penegak hukum itu tidak memberikannya. Karena waktu yang mereka berikan sebelumnya sudah lebih dari cukup.


Akhirnya dengan terpaksa mereka menyeret Emma dan mengangkatnya. Gadis itu masih terus memohon saat dibawa keluar dari ruangan Luna. Hingga makin lama suaranya makin menjauh dan tidak terdengar lagi.


"Maafkan aku Em, kepercayaanku telah kau rusak. Semuanya tidak akan bisa sama lagi," ucap Luna lirih.


Wanita itu sampai mendongak agar airmatanya tidak ikut jatuh menangisi kebodohannya sendiri.


😍kamsa hamnida🙏