La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Draft



"Maksud kakak?" Luna mendongak karena kaget dengan pertanyaan Aglen.


"Aku dengar Angeline Peterson cemburu denganmu."


Deg!


Bukankah hal itu hanya diketahui oleh dirinya, Stefan dan pihak lawan yaitu Angeline dan juga Pauline. Darimana Aglen mengetahui hal itu.


"Apa itu benar?" Lelaki itu menatap lekat mata Luna.


"Kenapa harus cemburu denganku? Jika Stefan dekat denganku itu karena ia membantuku bukan? Kakak juga tahu itu."


Itu memang hal yang benar, tapi bukan jawaban itu yang diinginkan Aglen.


"Tapi Stefan mengatakan ia sudah memiliki gadis yang ia cintai. Itu kudengar sendiri dari mulut paman William saat bercerita, kenapa Stefan menolak perjodohan itu."


"Itu urusan Stefan, Kak. Lagipula kami saudara."


Luna mulai terlihat gugup, suaranya terdengar bergetar karena tekanan dari Aglen.


"Kalian hanya sepupu Luna. Setahuku selama tidak sedarah itu sah-sah saja. Apa kau memiliki perasaan pada Stefan?"


Mereka berdua terdiam beberapa lama.


"Kakak bicara apa!? Kami sepupu."


Luna melepaskan diri dari sang kakak. Rasanya pedih mengatakan itu. Tapi ini adalah sebuah hubungan yang rumit untuknya. Akan ada banyak hal terungkap jika sampai satu saja anggota keluarganya tahu.


Aglen menepuk bahu Luna.


"Kau memintaku untuk jujur bukan dengan perasaanku? Aku ingin meminta hal yang sama padamu, adikku."


Bukan hal yang mudah untuk Aglen mengatakannya. Lelaki berkuncir itu terkesan menekan habis-habisan sang adik.


Mengapa?


Karena ada suatu hal yang lelaki itu sembunyikan dari semua orang, tentang sebuah kenyataan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Nyonya Luna, Tuan Bhara sudah menunggu anda di depan."


Seorang pelayan menyampaikannya pada Luna yang tengah makan pagi dengan semua anggota keluarga disana.


Jangan lupakan tatapan Aglen yang tidak lepas dari adiknya. Tatapan aneh yang tidak diketahui apa maksudnya.


"Temui saja dulu. Ajak sarapan kalau mau," titah William melihat kegundahan di mata Luna.


"Emm ... Sebenarnya kami tidak janjian, Paman. Lagipula aku juga sudah berjanji akan mengantar Elea ke sekolah," jawab Luna meluruskan apa yang dipikirkan sang paman.


"Ajak saja kesini. Kasian dia menunggu di luar. Atau ajak saja Bhara sekalian untuk mengantar Elea. Mobilmu biar aku yang bawa. Nanti sepulang kerja kau ambil di bandara," ucap Aglen memberi kesempatan sang adik.


"Kakak jadi pulang hari ini? Padahal aku masih ingin kakak disini."


"Jangan beralasan. Kau mau mengambil sekretarisku bukan? Tunggu aku membahasnya dengan papa," ketus Aglen yang terpancing dengan ucapan Luna. Padahal adiknya itu tulus mengatakan jika ia memang ingin sang kakak masih ada disini.


"Ya sudah pulang sana. Kakak hanya memiliki waktu beberapa hari kedepan sebelum memutuskan," sahut Luna yang kesal.


"Paman. Jangan membuat Mama marah. Paman Stefan tidak pernah melakukannya dan tidak pernah membiarkannya. Kata paman Stefan, paman akan menjaga Mama dan El." Ucapan gadis kecil itu membuat Luna terbelalak.


"Sayang, paman Ag dan mama hanya bercanda. Layaknya dua kakak adik. Padahal sebenarnya kami saling menyayangi." Luna melirik Aglen yang membungkam mulutnya karena menertawakan ucapan sang adik.


"Benarkah?"


Baik Aglen maupun Luna mengangguk bersamaan.


"Kalau begitu Elea ingin punya adik, Ma. Agar Elea seperti mama dan paman," ucap Elea dengan senyumnya yang tidak bisa ditolak.


Luna tercengang. Wanita itu terlihat beberapa kali menelan ludahnya.


"Ma-ma mau menemui paman Bhara dulu. El habiskan makanannya, ya." Luna mengusap lembut puncak kepala Elea dan meninggalkannya.


\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Horee ... Kita sudah sampai di sekolah El," ucap Bhara dengan pekikan lirih dan senyum yang tidak menyusut sedikitpun dari bibirnya.


"Horee...." Elea menaikkan kedua tangannya dan terlihat bahagia.


"Aku turun dulu mengantar Elea," pamit Luna pada Bhara. Lelaki itu hanya mengangguk dan tidak ikut turun.


Tidak lama kemudian, Luna muncul dan segera masuk kedalam mobil untuk melanjutkan perjalanannya ke kantor.


"Pulang seperti biasa kan? Aku jemput ya?" tanya Bhara setelah mereka terdiam cukup lama.


"Tidak usah, Bhara. Mobilku dipakai kak Aglen ke bandara. Jadi nanti aku masih mampir kesana mengambilnya," jawab Luna sedikit lega.


"Baiklah aku antar ke bandara." Bhara tetap gigih meski mendapat rintangan seperti itu.


"Tidak usah Bhara, itu akan sangat merepotkan. Kau harus putar balik jika pulang nanti."


Luna terlihat galau. Bukan karena harus memilih diantar Bhara atau pergi sendiri. Tapi karena ia sudah berusaha menolak berkali-kali dan semangat Bhara sama sekali tidak menciut.


"Baiklah jika aku ditolak hari ini. Tapi besok aku akan berusaha lagi," ucap Bhara lirih.


Berikutnya terdengar suara hembusan napas Luna yang sedikit berat. Entah lega atau pusing memikirkan hari esok untuk kembali membuat alasan.


\=\=\=\=\=≠≠\=\=\=\=\=\=\=


"Kau siap Luna?" tanya Lolly yang terlihat sangat cantik hari ini.


"Siap, Bu. Ngomong- ngomong, anda cantik sekali," ucap Luna memuji atasannya.


"Benar itu, Bu."


"Dan ini adalah kali pertama pengalamanmu presentasi. Aku yakin kita bisa memenangkan tender ini," ucap Lolly percaya diri.


"Baiklah kita berangkat," ucap Luna yang segera membawa berkas dan dibantu Lolly. Mereka berjalan bersama menuju lobby untuk pergi ke gedung pertemuan perusahaan Anderson.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bberdoalah," bisik Lolly sepanjang perjalanan.


"Ibu membuatku gugup saja. Padahal aku sudah tenang tadi," jawab Luna dengan mata mendelik. Napasnya kembali tidak teratur karena ucapan atasannya itu.


"Ha ha ha aku memberikan semangat Luna. Bukan membuatmu down," sahut Lolly yang mengusap pelan punggung Luna.


Akhirnya mereka sampai di depan resepsionis.


"Pak kami utusan Tuan William Efrain," ucap Lolly pada wanita yang berdiri begitu melihat kedatangan Lolly dan Luna.


"Silahkan Nyonya, anda tinggal mengikuti lorong ini kemudian belok ke kanan ya," Resepsionis memberikan arah yang mereka tuju.


"Baiklah, terima kasih." Luna dan Lolly segera menuju ke ruangan itu.


"Bu, apakah wakil dari Tuan Anderson sudah datang?" tanya Luna pada lolly.


Kepala bagian divisi marketing itu menyembulkan setengah tubuhnya untuk mengintip.


"Belum."


"Saya ke kamar mandi sebentar ya," pamit Luna. "Sudah tidak kuat," keluhnya lagi.


"Jangan lama-lama. Ini hampir dimulai," pesan Lolly.


Beberapa menit kemudian Luna telah kembali dari toilet.


"Tuan Anderson muda telah masuk ke dalam. Ayo cepat!" Lolly menggandeng Luna masuk.


Karena tergesa-gesa dan tidak begitu memperhatikan ruangan dan orang- orang disana, Luna yang kebagian jadwal pertama untuk presentasi langsung menyiapkan berkas dan membagikannya.


"Anda karyawan baru?" tanya seorang gadis cantik dan chubby yang mengenakan setelan blazer biru muda yang menerima selembar brosur dari Luna.


"Iya, Bu. Saya baru saja bergabung di perusahaan ini. Nama saya Luna." Luna mengangguk hormat setelah memperkenalkan diri.


"Mohon bimbingannya, Bu." Lolly pun mengangguk hormat pada gadis itu.


"Itu yang namanya Nona Amelia. Keponakan Tuan Anderson," bisik Lolly pada wakilnya itu. Luna hanya mendengarkan.


"Bksakah kita mulai Nona Amelia?"


"Silahkan, lebih cepat lebih baik. Saya juga banyak pekerjaan lain. Sepertinya kakakku akan menyusul saja," ucap Amelia.


Luna maju dan mempresentasikan produknya dengan baik. Meski ia tidak pernah merambah dunia marketing sebelumnya, namun pengalamannya sebagai CEO tentu sedikit bayak memberikan andil dalam presentasinya kali ini.


"Sekian presentasi saya, untuk kurang lebihnya bisa ditanyakan lebih detail lagi nanti," ucap Luna mengakhiri.


Karena waktu yang diberikan cukup singkat jadi Luna hanya membahas poin-poin penting yang memang harus disampaikan.


Berikutnya disambung presentasi dari pihak kompetitor dari perusahaan William.


Mereka juga tidak kalah hebat menawarkan beberapa produk dan fasilitas serta diskon yang menggiurkan.


"Saya menyukai keduanya. Ini pilihan yang sulit. Kita tunggu kakak_"


Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan dari seseorang yang tiba-tiba muncul dari sebuah pintu di belakang Luna.


"Ini kakak saya, perkenalkan Sabhara Anderson," ucap Amelia dengan bangga.


Semuanya sontak berdiri. Namun tidak untuk luna. Wanita itu kaget dan malah betah di kursinya. Lolly sampai mendekat dan mencubit Luna untuk segera berdiri.


Wanita itu tentu saja kaget. Ia tahu nama belakang keluarga Bhara. Tapi ia tidak menyangka jika putra Tuan Anderson adalah Bhara yang ia kenal.


"Ma-af."


Luna segera berdiri dengan tatapan yang tidak beralih dari Bhara karena rasa tidak percaya pada penglihatannya.


"Duduklah semua. Tidak usah sungkan," ucap Bhara yang juga menatap Luna. Lelaki keturunan Indonesia itu hanya tersenyum kecil melihat reaksi teman wanitanya itu.


Ya, disana tidak ada yang tahu jika Luna dan Bhara saling mengenal. Kecuali mereka berdua sendiri tentunya.


"Salam kenal Tuan Sabhara. Saya Lolly kepala bagian divisi marketing perusahaan Efrain dan ini wakil saya Luna." Lolly menjabat Bhara. Dan kemudian Luna pun mengikutinya. Namun Bhara yang melihat reaksi kaget masih menyelimuti wajah Luna malah menjabat lama tangan wanita yang dicintainya itu.


"Ehem...." Suara Lolly membuyarkan Bhara hingga lelaki itu melepaskan tangannya.


"Saya menyukai presentasi dari anda, Nyonya. Detail dan tepat sasaran. Bahkan saya tidak memiliki pertanyaan apapun untuk apa yang sudah dijelaskan. Semua sudah terjawab.


" Kakak ambil yang mana?" tanya Amelia pada Bhara.


"Luna."


Tatapan Bhara membuat Luna canggung dan tidak yakin dengan dirinya sendiri.


Bhara mengambil kerjasama ini atas kresibilitasnya atau karena perasaanya.


"Tapi milik Nona Fatima juga bagus, Kak," ucap Amelia yang protes dengan keputusan Bhara.


"Luna.Titik."


😂😂😂😂😂