La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 146



"Sial! Aku lupa menitipkan kunci mobil Luna," gumam Aglen lirih.


Di dalam pesawat, Aglen sempat memejamkan matanya sebentar. Dan tiba-tiba ia terbangun karena mengingat kunci mobil Luna yang ia kantungi tanpa ia titipkan.


"Si cerewet itu pasti memakiku habis-habisan nanti," keluh Aglen.


"Ada apa, Sir?"


"Aku lupa menitipkan kunci mobil Luna. Kenapa tadi kau tidak mengingatkanku?" kesal Aglen dan Evelyn jadi terbawa karena memang hanya gadis itu yang bersamanya.


Aglen melirik pemandangan di luar pesawat yang cukup cerah. Rupanya mereka sudah melebihi separuh perjalanan dari Amerika ke Kanada. Bahkan hampir sampai di negara tujuan.


"Maaf, saya juga lupa, Sir." Evelyn meringis karena merasa tidak enak. Padahal mereka berdua tadi cukup lama berada di ruang tunggu sebelum keberangkatan.


Dan bagaimana bisa keduanya benar-benar melupakannya.


"Ingatkan aku untuk menghubunginya, jika kita sudah mendarat nanti," pinta Aglen pada sekretarisnya itu.


"Baik, Sir."


\=\=≠\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Luna memberhentikan sebuah taxi di depan perusahaan sang paman.


Ia pulang lebih sore kali ini karena Lolly mengajaknya lembur.


"Kemana tujuan kita Nyonya?" Suara bariton sang sopir taxi mengusik pendengarannya yang tidak begitu fokus memperhatikan sekitarnya.


"Bandara. Cepat ya Pak! Ini sudah hampir malam." Luna menjawab sambil membungkuk untuk melihat pemilik suara itu. Namun tentu saja tidak bisa ia kenali.


Sopir itu mengenakan kacamata hitam lengkap dengan masker. Sejenak, pemandangan seperti itu membuat Luna merasa ngeri. Ia mengingat orang- orang yang berbuat jahat padanya dulu.


Meskipun terlihat rapi, tapi celana jeans biru dan jaket kulit itu membuat otak Luna seketika berpikir negatif.


Luna memasukan tangannya kedalam tas. Memeriksa pisau lipat yang akhir-akhir ini selalu menemaninya kemanapun.


Sejak banyak kejadian jahat menimpanya, Luna lebih tenang membawanya daripada dengan tangan kosong. Meski wanita itu hanya menguasai jurus kepepet, tapi modal berani dan pisau itu sudah lebih dari cukup baginya.


Wanita itu bernapas lega setelah tangannya menyentuh benda yang ia cari di dalam tasnya itu.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya, Tuan?" tanya Luna absurd.


Seingatnya, dinegara ini ia terkahir menaiki transportasi umum saat sebelum kejadian buruk dimasa lalu yang menimpanya itu. Dan setelahnya, ia selalu dengan pengawal dan sopir pribadi kemanapun.


Namun sungguh, ia merasa seperti mengenal suara itu.


"Sepertinya tidak. Saya baru melihat anda kali ini," jawab sopir taxi itu yang tetap fokus pada kemudinya.


"Anda orang Amerika asli?" tanya Luna lagi. Ia merasa kenal namun ia lupa siapa.


"Ya."


Jawaban singkat tidak mematahkan Luna untuk terus memenuhi keingintahuannya.


Sebenarnya untuk memastikan adalah dengan meminta sopir itu membuka maskernya. Tapi itu sesuatu hal yang tidak mungkin.


"Anda sudah lama menjadi_"


"Nyonya, anda sudah sampai," sela sopir itu.


Dan ternyata benar, mereka sudah sampai di lobi depan bandara.


"Kenapa cepat sekali? Perasaan baru saja masuk," gumam Luna tidak percaya. Biasanya ia akan sampai di bandara dalam 30 menit.


"Terima kasih," ucap Luna setelah membayar jasa taxi.


Wanita itu segera mencari seseorang yang dikenalnya sebagai teman dari William sang paman.


"Apa? Tidak ada yang menitip apapun disini. Memang kau janjian dengan siapa?" tanya lelaki tambun bernama Albert.


"Dengan kak Aglen, Paman. Bibi Christina sudah mengatakan padanya untuk menitipkan kuncinya pada paman," jawab Luna mulai kesal.


"Penerbangan kemana, Luna?"


"Kanada, paman."


"Dia pasti lupa. Penerbangan ke Kanada hampir sampai sebentar lagi." Albert melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.


Luna terdiam lemas. Setelah bertemu Bhara hari ini, Lolly langsung mengajaknya mengerjakan proyek itu. Lolly tidak ingin mendapat predikat lambat. Ia ingin menghilangkan stigma negatif yang muncul karena penilaian Amelia. Padahal Bhara sudah mengatakan jika Bhara tidak seperti Amelia.


Entahlah, Lolly begitu bersemangat. Wanita itu mengatakan jika sangat mendambakan kerjasama ini dari lama. Karena sebab itulah ia benar-benar tidak ingin membuang-buang waktu percuma.


"Kakak ada-ada saja," keluh Luna. "Baiklah paman, terima kasih," pamit Luna pada akhirnya.


Ponsel Luna bergetar saat ia baru beberapa langkah meninggalkan Albert.


Dengan malas ia menjawab telepon sang kakak.


"Adikku, maaf." Terdengar dari seberang suara lembut yang tidak pernah didengarnya selama ini.


"Kakak manis sekali jika melakukan kesalahan. Padahal biasanya ketus dan memusuhi. Aku lelah sekali Kak, jika tahu seperti ini lebih baik aku langsung pulang saja," maki Luna dengan emosi.


Tawa kecil Aglen terdengar. "Iya maaf. Cepatlah pulang, hati-hati ya."


Klik.


"Isshhhh ... Belum di maki kedua kalinya sudah ditutup!" maki Luna pada ponselnya.


Setelah memasukkan ponsel kedalam tas. Luna segera melangkah menuju pintu keluar.


Dia masih harus berjalan beberapa meter kedepan untuk mendapatkan taxi.


Tin!


Terdengar suara klakson dan sebuah taxi yang berhenti di depannya.


Luna membungkuk, dan mengintip. Rupanya taxi yang tadi ia naiki masih berada disini menunggunya.


"Masuklah!"


Luna hanya menurut. Kali ini ia tidak naik dibelakang tapi di sebelah sang sopir.


"Anda menunggu saya?" tanya Luna sambil mengenakan safety belt nya. Lelaki itu tidak menjawab. Ia fokus untuk keluar dari halaman bandara.


"Kebetulan saja."


Luna menoleh, tidak menyangka jika lelaki itu ternyata mendengarnya.


"Ada yang aneh?" tanya lelaki itu tanpa melihat Luna.


"Bukankah saya tidak lama di dalam. Lalu mana mungkin kamu sudah mendapat penumpang lain dan tidak dengan sengaja menunggu saya?"


"Ada perlu apa ke bandara?" Bukannya menjawab pertanyaan Luna, malah bertanya hal lainnya.


"Mengambil mobil yang dipakai kakakku. Tapi ia malah lupa menitipkan kuncinya." Luna yang masih kesal mengerucutkan bibirnya meski wanita itu berusaha menyembunyikannya dengan membuang tatapan ke luar jendela.


Lelah sekali rasanya.


"Dimana alamatmu?"


"Kukira kau juga tahu alamat rumahku selain menungguku tadi," sahut Luna yang masih penasaran. Ia tidak pernah berbicara panjang lebar seperti ini dengan orang asing.


Namun kali ini, ada rasa nyaman dan terutama aman.


Luna mengulurkan kartu nama sang paman ke depan sopir itu.


"Bukankah itu perumahan para pengusaha kaya di kota ini?" tanya sopir itu.


"Sepertinya begitu. Aku ... Aku hanya dititipkan di keluarga itu oleh kakakku. Hanya membantu di perusahaan dan sesekali di-rumah." Luna yang masih dalam mode waspada meski sopir itu terdengar baik, terpaksa berbohong.


"Aku dengar Tuan William memiliki anak lelaki. Tapi lama sekali tidak muncul di media."


Deg!


"Emm ... itu, kau tidak boleh bertanya hal pribadi pada orang lain," jawab Luna cepat.


Terdengar tawa lirih lelaki itu. "Sudah sampai, cepat turun!"


Kedua kalinya Luna dibuat tidak menyadari jika ia sudah sampai di tujuan.


Namun benar, taxi itu sudah berhenti di depan gerbang rumah sang paman.


"Tidak usah. Yang ini gratis saja, kau tidak berniat naik bukan?" tolak sopir itu saat Luna merogoh tasnya untuk mengambil uang.


"Tapi_"


"Terima kasih sudah mau naik. Aku tadi hanya rindu dengan seseorang. Berbicara denganmu membuat rinduku terobati."


Luna terhenyak. Pernyataan macam apa itu. Rupanya ia berhadapan dengan orang yang sedang galau.


Taxi itu melesat meninggalkan Luna. Pantas saja ia cepat sampai, taxi itu tidak seperti taxi biasa.


Dan kemudian Luna mengingat sesuatu.


"Stefan? Itu seperti suara Stefan. Tapi mana mungkin?"


💕💕💕💕💕💕💕