
Sesosok lelaki berpakaian hitam tengah mengamati sebuah gedung tua yang lokasinya berada jauh dari pemukiman. Gedung itu dikelilingi oleh kebun tebu yang tingginya melebihi tinggi normal manusia pada umumnya. Sehingga dari kejauhan keberadaannya nampak samar, bahkan tidak terdeteksi.
Saat siang gedung itu nampak tidak berpenghuni. Cenderung sepi dan minim aktifitas. Namun ketika malam terlihat beberapa orang lalu lalang di depannya. Cahaya dari dalam nampak terang meski di luar hanya beberapa lampu dengan penerangan yang temaram.
Di depan hanya ada sedikit tanah lapang yang sepertinya digunakan untuk akses jalan masuk kesana.
Pendar cahaya dari dalam gedung yang nampak sangat terang, kontras dengan sekitarnya yang gelap gulita. Malam ini diluar hanya ada dua orang yang terlihat bercakap-cakap sambil sesekali melempar tatapan pada sekitarnya. Mengawasi jika ada yang mencurigakan.
Bukan Alex namanya jika ia tidak bisa mengintai tanpa diketahui. Lelaki itu terlatih sejak dini, karena Alex menggantikan sang ayah yang juga bodyguard keluarga Efrain pada masa mudanya.
"Berapa orang didalam?" tanya Alex berbisik.
Lelaki itu melempar tatapannya ke segala arah. Ia bertugas mengawasi sekitar, sedangkan satu anak buahnya yang sudah terlatih tengah mengintai.
Mereka menggunakan sebuah kamera canggih keluaran mutakhir yang dapat menembus tembok. Kamera pengintai tembus pandang itu mendeteksi musuh yang ada didalam menggunakan panas tubuh.
"20 orang ada Bos. Aktifitas di dalam sepertinya padat." Anak buah yang masih berdiri di belakang kamera menjawab. "Sepertinya saya juga menemukan dimana tepatnya Nona disekap."
"Bagus! Perlihatkan padaku!" titah Alex pada lelaki yang bersamanya itu.
Alex menggantikan anak buahnya yang memberikan tempat padanya.
"Arah jam enam, kamar tengah. Nona duduk, panas tubuhnya menunjukkan tinggi badan yang berbeda dari yang lain."
"Benar, itu pasti Nona Elea. Sinyal jam tangannya berhenti disini." Senyum Alex mengembang melihatnya. "Aku kuhubungi Tuan Ellard. Kau ganti berjaga," titah Alex yang dijawab anggukan oleh anak buahnya itu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Mana dia?"
"Di kamar tengah, Nona," jawab seorang lelaki berperawakan kurus dan memiliki tatto di lengannya.
Angeline sampai didepan pintu. Dan sekali lagi nona kaya itu menoleh untuk menatap anak buahnya. Meyakinkan diri jika para bawahannya itu benar-benar telah menculik anak dari Luna. Anak kecil berusia 6-7 tahunan yang tentunya akan ketakutan dan rewel berada di tempat asing.
"Kau yakin tidak salah culik?"
"Tidak mungkin, Nona. Dia itu benar-benar anak Luna Efrain. Kami membawanya saat mereka berangkat bersama tadi pagi."
Klek!
Angeline membuka pintu itu perlahan. Kemudian matanya menyipit melihat gadis kecil yang duduk di kursi, tangan dan kakinya terikat oleh tali.
Gadis itu juga menatapnya. Namun tidak ada reaksi takut atau apalah yang menampakkan ketakutannya, baik pada Angeline ataupun anak buahnya yang bertampang preman itu.
"Dia tenang sekali," ucap Angeline lirih hampir seperti berbisik, pada lelaki yang mengikutinya dari awal masuk tadi.
"Iya, Nona. Saya juga heran. Bahkan dia tidak merengek sama sekali sedari awal sampai disini. Hanya berteriak sekali memanggil mamanya dan meminta dilepaskan."
"Hai!" sapa Angeline seraya mendekat. Karena yang dihadapinya adalah anak kecil, sepertinya dia harus menampilkan sedikit drama. Memperlihatkan wajah ramah dan terus tersenyum.
Namun rupanya Angeline merasa kesulitan karena mendapat tatapan datar dari Elea yang malah seperti mengintimidasinya.
"Kamu siapa?" tanya Elea tenang. Bahkan gadis kecil itu dengan berani menatap langsung mata Angeline.
Padahal yang terjadi sebenarnya, Elea tidak setenang kelihatannya. Ia juga takut tapi masih bisa menyembunyikannya.
Elea besar dalam didikan sang kakek. Efrain memiliki ikatan keluarga yang kuat. Itu yang diajarkan Thomas pada anak cucunya. Mereka tidak akan mencelakai saudaranya sendiri. Apapun alasannya.
Itulah mengapa Elea bisa setenang ini. Sang kakek mengajarinya banyak hal bahkan sebelum gadis kecil itu memasuki sekolah pertamanya. Cara mengenal dan membaca pribadi seseorang dari tingkah laku mereka. Ataupun tidak terlalu baik dan percaya pada orang yang tidak dikenalnya. Elea mengingat semuanya.
Dan menghadapi orang-orang seperti mereka ini yang pertama ia lakukan adalah harus tenang. Ketika kita tenang, kita bisa berpikir lebih bijak dan jalan keluar akan lebih mudah ditemukan.
"Kamu? Apa kamu tidak diajari berbicara lebih sopan pada orang yang lebih tua?" Angeline sedikit tersulut dengan jawaban Elea yang malah melempar tanya padanya.
"Maaf, Bibi siapa? Orang baik atau orang jahat?" tanya Elea menjebak. Orang jahat tidak akan mengakui dirinya jahat bukan? Padahal tanpa bertanya sudah bisa ditebak jika semua orang yang ada disana adalah orang jahat, karena telah menculiknya.
Angeline tercekat. Pertanyaan anak kecil ini membuatnya kesal dan malas. Dia mengurungkan niatnya untuk ramah..
"Menurutmu? Apa kau tidak takut dengan mereka semua?" Angeline menunjuk tiga orang anak buahnya yang menemaninya masuk tadi. Mereka memang rata-rata berwajah seram ala preman.
"Takut. Tapi yang itu baik. Tidak seseram wajahnya," jawab Elea, yang membuat anak buah Angeline yang ditunjuk elea kaget dan gugup.
Lelaki itu adalah orang yang mengatakan pada Elea tadi. Dimana jika gadis kecil itu tidak teriak, maka dia tidak akan menempelkan lakban pada mulutnya. Dan lelaki itu menepatinya. Bukankah itu baik? Meski dia tetap saja berbuat jahat sekarang.
"Apa yang kau lakukan!?" Angeline murka.
"Tidak ada, Nona. Saya tidak melakukan apapaun. Saya hanya mengatakan padanya jika dia tidak berteriak, saya tidak akan menutup mulutnya dengan lakban."
"Bodoh! Pantas dia tidak takut." Angeline segera mengambil lakban dan hendak menutup mulut Elea dengan benda itu.
"Bibi, aku kan tidak mengganggumu kenapa mulutku ditutup?" cicit Elea yang tidak terima dengan apa yang akan dilakukan Angeline.
"Diam anak kecil! Kau hanya tawanan disini! Kau tidak berhak memohon atau meminta apapun padaku! Ibumu itu pembuat masalah, dia akan merasakan akibatnya nanti." Angeline terus berbicara menumpahkan kekesalannya pada Luna juga pada Elea yang menurutnya sama menyebalkannya dengan sang ibu.
"Bibi, jangan! Bibi! Empppp ... Emmmm."
Semua anak buah Angeline hanya diam melihat apa yang dilakukan Angeline saat ini. Bagaimanapun beberapa diantara mereka memiliki keluarga dan juga anak. Itulah mengapa mereka tidak banyak bertindak sejak tadi.
"Awas jika kalian sampai lengah lagi! Nyawa kalian taruhannya!" ancam Angeline.
Brakkk!!
Angeline langsung keluar setelah membekap mulut Elea. Dia menutup pintu dengan kasar sambil terus menggerutu.
Elea meneteskan airmata. Ia rindu mamanya juga kakeknya. Padahal ia berada disana belum ada 24 jam. Bagaimana jika berhari-hari?Ia tidak tahu harus meminta tolong pada siapa.
Sejauh ini, Elea sudah mencoba tenang seperti kata sang kakek. Tapi saat benar-benar sendiri dan tidak ada orang-orang yang dicintainya itu, rasanya sangat berbeda.
"Mamma...."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Siapa mereka, Lex?"
"Saya mengenali salah satu dari mereka, Tuan. Dari tattonya, mereka adalah anggota geng Lu Xi, yang kebanyakan orang-orang nya dari Asia. Dan setahu saya, mereka banyak disewa hanya untuk membuat kerusuhan dan juga pengancaman, Tuan."
"Aku tidak pernah memiliki urusan dengan mereka. Itu berarti ... Urusanku dengan orang yang membayar mereka!"
Ellard menggeram. Diusianya yang sudah tidak lagi muda, hal-hal seperti ini masih menimpanya. Padahal ia sudah hampir pensiun dan menarik diri dari dunia seperti ini.
"Saya akan mencarinya, Tuan."
"Temukan segera! Kita akan buat perhitungan dengan mereka. Awasi terus gedung itu, jangan lengah! Keselamatan Elea dipertaruhkan. 30 menit lagi aku sampai disana. Kita bergerak tengah malam agar lebih leluasa."
"Siap, Tuan!"
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Tuan, kami sudah menemukan Nona Elea. Tapi Tuan Ellard meminta Anda untuk menjaga Nyonya Luna. Tuan Ellard akan turun tangan sendiri menyelamatkan Nona."
"Syukurlah. Aku akan segera memberi tahu Luna kabar baik ini, agar dia tenang. Lakukan yang terbaik, Lex. Lindungi mereka berdua. Aku percaya padamu."
"Terima kasih, Tuan."
Stefan mengakhiri panggilan di ponselnya. Lelaki itu sedikit lega mendengar titik terang tentang putri kecilnya.
Dia yang sedari tadi hanya duduk ditaman karena tidak nyaman berada diantara Adam dan Luna, bergegas masuk untuk memberi kabar baik pada wanita itu.
"Bibi, dimana Luna?"
Stefan bertanya pada wanita paruh baya kepercayaan Ellard itu.
"Nyonya dan Tuan naik ke atas, Tuan. Sepertinya Nyonya Luna masih merasa pusing tadi," jawab bibi Ofelia yang sedang membersihkan meja makan.
"Baiklah, aku tunggu disini saja."
Sebenarnya Stefan sudah tidak sabar ingin memberitahu kabar baik ini. Tapi ia tidak enak untuk naik ke lantai atas, ke kamar suami istri itu.
Beberapa menit kemudian, Adam nampak turun. Lelaki itu bahkan sudah mengenakan piyamanya. Membuat Stefan semakin merasa, jika ia harus pergi dari rumah ini.
"Apa Luna sudah tidur?"
"Dia baru saja tertidur setelah minum obatnya. Dia mengeluh pusing, Stef. Ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Adam.
"Emm ... Alex memberitahu jika Paman sudah menemukan posisi Elea. Mereka akan menyelamatkannya. Luna pasti bahagia jika mengetahuinya."
Adam nampak kaget, tapi selanjutnya lelaki itu memberi senyumnya.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Baiklah, aku akan mengatakan padanya saat bangun nanti. Dia pasti senang sekali."
"Karena sudah malam, lebih baik aku pulang. Jangan lupa memberitahunya. Seharian ini ia terus menangis," pesan Stefan yang sebenarnya enggan meninggalkan Luna di sini.
Lelaki itu ingat apa yang Aglen ceritakan tentang Adam. Stefan khawatir akan ada masalah lain yang menambah beban Luna.
"Aku juga mengkhawatirkannya, Stef. Aku ayahnya," tegas Adam yang mengartikan lain ucapan Stefan.
"Bukan begitu maksudku. Luna satu-satunya wanita diantara kami, Dam. Kau tahu itu kan?" Stefan mencoba menahan diri. Berpura-pura tidak mengetahui segalanya.
"Ya, aku paham itu. Terimakasih untuk bantuanmu seharian ini. Ada sedikit masalah di perusahaan, aku terbawa emosi," bela Adam untuk dirinya sendiri.
"Tidak apa-apa. Aku titip Luna." Stefan menepuk bahu Adam, kemudian lelaki itu pamit.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Tuan."
Alex mengangguk hormat menyambut kedatangan Ellard yang bergerak diam-diam mendekati posisinya.
"Bagaimana?"
"Aman, Tuan. Kita sudah menemukan posisi Nona Elea. Dia ada di kamar tengah ini, sendirian," tunjuk Alex pada sketsa dalam gedung yang sengaja ia buat untuk memudahkan mengatur pergerakan mereka.
"Baiklah, sepuluh menit lagi kita meluncur," titah Ellard. "Semua sudah siap?"
"Sudah, Tuan. Hanya tinggal menunggu perintah Anda."
Tiba- tiba saat keadaan hening, terdengar suara mobil tiba. Dan turunlah beberapa orang berpakaian hitam bergerak masuk ke dalam sana.
"Mama...... "
"Elea...?"
❤❤