La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 96



"Apa saya bisa menghubungi seseorang?" tanya Adam yang tengah berada di kantor polisi menunggu interogasi.


"Silahkan."


lLelaki berambut pirang itu mengeluarkan ponselnya. Menggeser layarnya dan mencari kontak Luna, kemudian menekan tombol hijau.


Gagal!


Nomor itu tidak bisa dihubungi. Sejenak kemudian Adam baru ingat jika Luna memang tidak bisa ia hubungi sejak kepulangannya dulu.


Lalu lelaki itu mencari nomor sang ayah. Saat ini, mungkin haya lelaki itu yang ia miliki untuk menolongnya. Semua sudah menolaknya akibat perbuatannya.


"Pa...."


"Ada apa?" Suara lelaki yang ia panggil ayah itu sama sekali tidak ramah. Dulu, mereka memang tidak terlalu dekat. Tapi akibat Adam yang lebih mementingkan kepentingan pribadinya diatas kepentingan sang ibu membuat Sebastian bersikap dingin pada anak lelakinya itu.


"Bisakah Papa mencarikan aku pengacara? Atau mungkin Papa bisa meminjamkan paman Scott padaku?"


Scott adalah pengacara sekaligus teman dekat sang ayah.


"Untuk apa?"


Ucapan Sebastian masih terdengar tidak bersahabat sama sekali? Padahal sudah bisa ditebak jika Adam butuh pengacara, berarti ia sedang dalam masalah.


"Untukku. Aku berada di kantor polisi sekarang, Pa." Lelaki berambut pirang itu menjawabnya dengan lemas.


"Kau bisa menggunakan Scott_"


"Terima kasih, Pa!" teriak Adam lega. Ia tidak menyangka sang ayah masih perduli padanya.


"Tapi kau bayar sendiri jasanya!"


Dan seketika membuat Adam membisu. Sakit di kakinya mendadak menjalar dan membuatnya meringis. namun lebih sakit apa yang ia dengar dari ayahnya itu.


"Pa...."


"Perusahaanku sudah berpindah tangan dua hari yang lalu." Terdengar napas berat Sebastian setelahnya. "Aku terpaksa merelakan satu-satunya yang tersisa dari warisan kakekmu untuk pindah tangan. Karena hutangku terlampau banyak."


"Apa Kylie sama sekali tidak menghubungi?" tanya Adam gusar. Dan mendapat jawaban gelengan kepala dari sang ayah.


Tidak mungkin Kylie sama sekali tidak mendengar kepergian sang ibu. Sementara media lokal Kanada saja memberitakannya. Atau mungkin dari teman-temannya yang masih tinggal disini.


"Aku ingin menghabiskan sisa umurku dengan damai. Tanpa memikirkan hutang, dan apapun yang berikatan batin denganku selama ini. Kalian sudah dewasa, perjuangkan hidup kalian masing-masing. Lelaki tua yang kalian panggil ayah ini tidak bisa memberikan apapun lagi kini," ucap Sebastian sedih.


"Papa jangan bicara seperi itu!" Suara Adam parau. Ia berdiri dan tertatih melangkah menjauhi ruang tunggu yang tidak begitu besar itu.


Selama hidup, ia tidak pernah mendengar sang ayah berucap hal seperti itu. Meski banyak masalah mendera, lelaki tua itu tetap selalu tenang menghadapinya.


"Tidak mengapa kalian tak perduli atau mengingatku lagi. Pada akhirnya aku memang hanya ditakdirkan sendiri sampai ajalku tiba nanti."


"Papa! Papa masih memiliki kami," ucap Adam lirih. Lelaki itu menangis mendengar penuturan sang ayah.


"Hiduplah dengan baik, Nak. Kau tahu, sejatinya orang akan menghargaimu karena sikap dan sifatmu. Bukan uang, kekayaan, atau pangkat yang kau miliki. Itu semua semu."


Adam terdiam mendengar nasihat orang yang selama hidupnya tidak pernah dekat dengannya itu. Namun entah mengapa, sekarang dalam hati lelaki berambut pirang itu mengakui, jika sebastian adalah ayah terbaik untuknya. Meskipun semua itu mungkin sudah terlambat.


"Papa akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Jangan lupa cari adikmu jika kau ada waktu. Selamat tinggal."


Klik.


Sebastian memutuskan sepihak panggilan anak lelakinya.


Dan Adam, lelaki yang tengah menyandarkan dahinya pada lengan yang melekat pada dinding itu tergugu.


Ini sebuah pukulan berat untuknya. Sang ibu telah tiada, Kylie sang adik entah berada dimana. Sedangkan sang ayah sudah pasrah dengan kehidupannya sendiri.


Adam sendirian. Ditengah masalah besar yang mungkin bisa membuatnya menghabiskan sisa hidup di teralis besi, ia tidak memiliki siapapun bahkan hanya untuk sekedar menghibur saja.


Tidak ada.


"Sir, silahkan. Anda sudah ditunggu untuk interogasi."


Seorang lelaki mengenakan seragam polisi menghampirinya.


Adam segera menghapus jejak airmata yang membasahi pipinya. Kemudian lelaki itu melangkahkan kakinya dengan gontai mengikuti lelaki berseragam di depannya.


\=\=\=\=\=\=≠\=\=\=\=\=\=


"Tuan Andrew sudah menunggu diluar."


Christina memberitahu Luna yang baru saja selesai membersihkan diri.


"Sebentar, Bi. Aku mmebenahi pakaianku dulu." Luna mengenakan cardigannya setelah mengenakan pakaian khusus pasien yang telah disiapkan perawat tadi. Kemudian sedikit menyisir rambutnya supaya rapi.


Tidak berapa lama, Andrew masuk bersama dengan Christina.


"Selamat siang, Nyonya." Napas berat Andrew terdengar. Tatapan prihatin lelaki itu terlihat jelas dari gesturnya. "Bagaimana kabar anda hari ini?" Senyum kecil mengiringi pertanyaan Andrew.


"Baik, Tuan," sahut Luna yang tahu maksud dari senyum pengacaranya itu.


"Sudah kubilang untuk memanggilku nama saja." Sebuah pernyataan yang selalu diulang-ulang oleh Andrew. Tapi sepertinya Luna masih enggan dan sering lupa melakukannya.


"Ya, aku hampir lupa. Andrew. Ini berkas yang bisa digunakan sebagai bukti untuk memperkuat laporan kita nanti. Seperti yang kuceritakan ditelepon tadi."


Luna menyerahkan berkas yang ia dapat dari dokter yang merawatnya, sekaligus yang bertanggung jawab mengeluarkan visum itu.


"Oh, iya. Tadi bibi mengambil disk yang berisi rekaman CCTV yang didalamnya ada bukti mobil yang dikendarai pelaku. Pamanmu memintanya, Sayang. Ia mengerahkan anak buahnya untuk menyelidiki dan mencari siapa pemiliknya," ucap Christina.


"Benarkah? Itu langkah yang baik Nyonya. Kita memang harus menemukannya sendiri, agar sang pelaku benar-benar tidak berkutik. Saat kita memberikan buktinya di pengadilan."


Andrew menyahut dan membenarkan langkah yang dilakukan kedua orang tua Stefan itu. Hal itu memang sangat meringankan pekerjaannya sebagai pengacara serba bisa. Karena biasanya ia juga yang mencari detektif untuk membantu mempermudah pekerjaannya.


"Iya, kita berjalan diam-diam saja. Sekarang Tuan Andrew bisa membuat laporan ke polisi. Dan Luna, Bibi sudah mengurus semua administrasinya. Kita bisa pulang setelah ini."


"Nyonya hendak pulang?"


Luna mengangguk. "Aku merasa tidak aman disini, And. Lebih baik aku memulihkan tubuhku di rumah."


"Iya, Nyonya. Saya masih tidak habis pikir dengan orang -orang yang berniat jahat itu. Mereka niat sekali. Kemanapun anda pergi, mereka selalu mengikuti dan mencari setiap celah kecil untuk menyakiti anda."


Luna tersenyum kecil. Jangankan Andrew, Luna sendiri juga tidak menyangka jika mereka selalu mengetahui keberadaannya.


Dan beruntungnya, Tuhan selalu masih melindungi Luna dengan segala cara. Wanita itu selalu merasa beruntung di perjalanan hidupnya yang terjal.


"Kejahatan selalu menemukan cara untuk unjuk gigi. Namun keberuntungan juga tidak pernah kehabisan akal untuk menyelamatkan. Entahlah, tapi aku merasa selalu beruntung, terutama berada dalam keluarga Efrain."


Luna menatap sang bibi yang juga menatapnya. Wanita paruh baya itu menggenggam erat jemari Luna untuk menguatkan. Dalam hatinya berbangga, ketika Luna merasa bahagia menjadi seorang Efrain.


"Baiklah, saya akan membuat laporan sekarang. O, iya. Tuan Ellard sangat mencemaskann anda. Tadi pagi beliau menghubungi saya, menanyakan banyak hal. Untung saja saya tidak keceplosan jika anda sakit."


"Papa?"


Andrew mengangguk. "Beliau juga sedang sakit, Nyonya."


"Kalian ini seperti sejoli saja," ucap Christina sengit.