La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 147



Mobil yang dikemudikan Alex memasuki area basement perusahaan Luna.


Banyak sekali kenangan disini yang Luna tinggalkan begitu saja. Karena perusahaan ini murni milik Luna hasil dari kerja kerasnya dari nol. Dan disini pula hari-hari Luna yang tertimpa masalah ditemani oleh Stefan.


Awalnya, Luna memang hanya berniat untuk berkunjung saja, namun ia tidak menyangka jika kunjungannya akan ia jadikan alasan untuk sebuah misinya.


"Hebat juga Kak Aglen ya, Pa," ucap Luna yang kagum pada sang kakak, karena kakak laki-lakinya itu banyak melakukan renovasi gedung sehingga perusahaan ini memiliki wajah baru dari yang luar biasa.


"Kakakmu itu memang handal, sayang. Namun jika untuk menyelesaikan masalah yang rumit terkait perusahaan tetap hanya satu orang yang bisa mencari jalan keluarnya. Dalam keluarga kita hanya Stefan yang mumpuni."


Luna menoleh, menatap sang ayah yang mendadak muram. Wanita itu mengusap lembut lengan sang ayah kemudian bergelayut di lengan kokoh itu.


"Maafkan Luna ya, Pa," ucap Luna lirih.


"Papa yang salah, sayang. Kenapa bukan papa yang berkorban untukmu? Dia masih begitu muda."


"Itu pilihan Stefan, Pa." Luna menirukan ucapan sang paman dulu. Meski rasa pahit tertinggal di tenggorokan Luna saat ia menelan saliva bersamaan dengan mengucap kata "pilihan".


Karena sesungguhnya, Stefan bisa untuk memilih tidak melakukannya.


"Bodoh!" umpat Luna dalam hati untuk sepupunya itu. Namun kembali lagi wanita itu memegang dadanya yang berdetak lebih kencang.


"Sudahlah, ayo kita masuk. Kakakmu pasti sudah menunggu," Ellard mengusap lembut punggung tangan Luna.


"Sebentar, Pa."


Luna terlihat mengambil napas panjang, menetralkan detak jantungnya yang akhir-akhir ini tidak baik-baik saja jika membahas tentang Stefan.


"Kau baik-baik saja?"


Luna mengangguk. "Ayo, Pa."


Kemudian secara bergantian, mereka keluar dari mobil untuk kemudian menuju ke ruangan Aglen.


"Sst ... Ssttt...."


Evelyn mendongak dengan masih memegang penanya.


"Ya ampun, Bu Luna!" pekik gadis itu. Evelyn seketika berdiri dan memeluk Luna yang membuka tangannya.


Ia memang sengaja diam-diam tanpa suara mendekati gadis itu. Sementara sang ayah langsung masuk ke ruangan Aglen.


"Apa kau ... Baik-baik saja?" tanya Luna menggoda. Ia tentu tahu tabiat Aglen yang pasti akan selalu mengerjai Evelyn disetiap kesempatan.


"Emm ... Seperti yang Anda lihat, Bu. Saya masih baik-baik saja," jawab Evelyn yang absurd dengan dirinya sendiri. Gadis juga tahu maksud pertanyaan Luna. Tetapi ia bisa berbuat apa? Ia hanya bisa pasrah.


"Baiklah."


"Apa tawaran ibu masih berlaku? Saya sudah izin pada ibu saya. Dan beliau memberikan restunya," Mata Evelyn berbinar saat mengucapkannya.


"Restu apa!?"


Tiba-tiba Aglen sudah ada di belakang Ellard dengan wajah kesal. Lelaki itu hanya mendengar kata restu dan langsung berspekulasi buruk dengan kata-kata itu.


"Restu untuk Evelyn menikah," sahut Luna sembarangan lalu wanita itu menarik tangan Evelyn untuk menjauh dari Aglen.


"Apa yang kau katakan?" Aglen kaget bukan main mendengar ucapan Luna.


"Ada apa ini? Apa papa ketinggalan sesuatu?"


"Tidak ada, Pa. Hanya perdebatan kecil dua saudara. Papa ke ruangan papa saja." Luna mendorong sang ayah untuk menjauh dari mereka.


"Kau mengusir papa?"


"Tidak. Nanti jika sudah waktunya akan kuceritakan. Sekarang papa fokus bekerja saja. Karena sebentar lagi aku akan memaksa papa pensiun," ucap Luna.


"Kamu ini." Ellard menjentikkan jarinya ke dahi Luna.


"I love you, papa!" teriak Luna setelah memaksa Ellard masuk, kemudian menutup pintu ruangan itu dengan segera.


Luna dengan segera kembali bersama Evelyn dan Aglen.


"Baik, Bu," jawab Evelyn yang meninggalkan kedua kakak adik itu.


"Ayo, Kak!"


Luna menggamit lengan sang kakak dan menariknya masuk kedalam ruang CEO.


"Apa-apaan kamu ini! Cepat katakan siapa yang akan menikahi Evelyn, aku akan membuatnya menyesal seumur hidup." Aglen berucap keras setelah ruangan itu ditutup oleh sang adik.


"Memang kakak sudah melamarnya?" Luna menatap tajam Aglen yang sok memiliki sekretarisnya itu.


"Apa?"


"Kapan kakak melamar Evelyn? Sampai saat ini dia masih gadis yang bebas. Dia berhak menentukan dengan siapa saja yang dia mau," jelas Luna yang kini duduk di sofa, bersebelahan dengan Aglen.


"Bukankah kau berpihsk padaku? Kenapa sekarang malah menusukku?" Aglen berdiri dan tidak terima pernyataan Luna.


"Kakak, wanita itu butuh kepastian. Selisih umur kalian cukup jauh. Bukankah seharusnya kakak yang lebih dewasa daripada dia. Kakak sudah harus berpikir hubungan yang serius, bukan sekedar status pacar ataupun cincin melingkar bukti pertunangan. Apa kakak hanya mau main-main dengan sekretarisku?" Luna berkacak pinggang. Seperti tengah memperjuangkan nasib seseorang. Ia dengan gigih memprotes kata-kata yang dilontarkan sang kakak.


"Dia sekretarisku juga, Luna." Aglen menggeram. Lelaki itu merasa seperti dipaksa oleh sang adik.


"Baiklah, akan kuminta Bhara segera melamarmu. Supaya aku juga lekas menikahi Evelyn," ucap Aglen yang berjalan menjauhi Luna dan nampak mencari sesuatu.


"Kenapa harus aku lagi yang menjadi sasaran. Sudah kukatakan pada kakak, aku belum bisa membuka hatiku kembali. Baru saja menyandang status janda, sudah bingung mau menyuruh Bhara menikahiku. Lagipula aku tidak memiliki perasaan padanya. Kami hanya teman, Kak," tolak Luna mentah-mentah.


Pendekatan Bhara pada luna dan keluarganya memang sangat kentara. apalagi lelaki itu selalu siap sedia saat Luna membutuhkan bantuan. Namun Luna memang tidak memiliki perasaan apapun selain hanya teman.


"Kau memiliki perasaan pada stefan?" tanya Aglen tiba-tiba.


"Kakak bicara apa? Sudah berulang kali aku mengatakan alasannya." Luna menjawab dengan lancar. Namun tentu tidak sesuai dengan apa yang dirasakan hatinya.


Jantungnya mendadak berdetak sangat kencang saat ini. Dan wanita itu takut sang kakak menyadarinya. Padahal tidak mungkin bukan Aglen bisa mendengarnya.


"Aku menemui papa dulu, Kak," pamit Luna tiba-tiba. Ia perlu ruang privasi untuk menenangkan dirinya.


Luna melangkah dengan cepat bahkan terlihat seperti berlari.


"Luna! Tunggu. Luna!"


Teriakan Aglen sama sekali tak dihiraukan oleh Luna. Mungkin wanita itu pura-pura tidak dengar lebih tepatnya. Karena Luna ingin segera pergi dari ruangan itu.


Aglen tidak mengejarnya. Lelaki itu hanya menutup kembali pintu ruangannya yang dibiarkan terbuka oleh Luna.


Namun dari kejadian ini, Aglen menjadi tahu, ada rasa untuk sang sepupu dari adiknya itu. Dan entah mengapa Luna terus berkata tidak dan malah sibuk mencari alasan.


Bukankah Aglen sudah mengatakan jika sah saja menyukai sepupu, karena mereka hanya saudara bukan sedarah.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Luna memegang dadanya. Ia berbohong pada Aglen bahwa ingin menemui sang ayah. Tidak mungkin ia menemui sang ayah dengan kondisi seperti ini.


Luna masuk ke ruang rapat dan mengunci pintunya dari dalam. Ia menyandarkan tubuhnya ke pintu kemudian merosot perlahan ke lantai.


Wanita itu menangis. Karena sejak ingatannya kembali, ungkapan cinta Stefan selalu menghantui malam-malam sepinya.


Stefan terdengar tulus dan sangat menyayanginya juga Elea.


"Kenapa dulu harus kamu yang menanam benih Elea padaku? Kenapa? Kenapa Stefan!?" teriak Luna di dalam ruangan kedap suara itu. Suaranya terdengar keras oleh dirinya sendiri.


"Bahkan Tuhan menumbuhkan rasa sayang ini setelah Dia mengambilmu. Permainan apa ini? Apalagi yang harus ku hadapi nanti tanpamu?"


Isakan Luna menggema. Ia bagai memaki seseorang yang ada di depannya.


Luna berhenti saat mendengar suara ponselnya. Dan di layar gelap yang kini menyala itu melintas nama Bhara.


Luna hanya meletakkan kembali ponselnya. Ia enggan menjawab panggilan lelaki itu. Lelaki yang menemaninya beberapa bulan terakhir ini.


💙💙💙💙💙