La Luna (Bias Asa)

La Luna (Bias Asa)
Bab 10



Apa ini karma? Ataukah akhir dari petualangannya. Dimana ia yang tidak pernah jatuh cinta dengan teman tidurnya. Malah tidak bisa melupakan malam saat ia menghabiskan waktu meniduri sepupunya itu.


Perasaan takut kehilangan ini malah menggores hatinya kian dalam. Dan malah sempat protes jika ia ketakutan kehilangan Luna.


Apa ia jatuh cinta? Dengan adik sepupunya sendiri yang bahkan tidak begitu menarik perhatiannya pada awalnya.


Oh Tuhan! Stefan pusing memikirkannya. Lelaki itu nampak beberapa kali memukul kemudinya, membuat satpam di rumah pamannya itu mendekat.


"Maaf, Tuan baik-baik saja?" tanya lelaki berseragam keamanan itu setelah Stefan membuka kaca mobilnya.


"Iya, aku tidak apa-apa. Kembalilah bekerja."


"Baiklah Tuan, maaf." Satpam itu menangkupkan kedua telapak tangannya di depan Stefan.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Sir, ada yang ingin bertemu."


Ami, sektetaris di perusahaan Stefan menghubungi sang bos lewat sambungan interkom. Hanya sesaat setelah lelaki itu menduduki kursinya.


Lelaki yang tidak bisa berpikir jernih itu, memutuskan untuk kembali ke perusahaannya dahulu untuk menenangkan diri sekembalinya dari rumah sang paman.


"Siapa?"


"Dia menyebut namanya, Pauline. Ya, Nona Pauline, Sir."


Sungguh waktu yang tidak tepat. Stefan masih mengutuk dirinya sendiri yang termakan omongan Pauline tentang pribadi Luna.


"Untuk apa dia kesini?" Stefan menggumam kesal.


"Katakan aku tidak ada!"


"Maaf Sir, itu tidak mungkin. Nona itu datang beberapa menit dibelakang anda." Amy menggigit bibirnya sendiri.


Gadis ini bingung apa yang akan ia katakan pada gadis yang menunggu di depan ruangan Stefan ini, jika sang bos menolaknya.


Sial!


Dalam hati Stefan mengumpat dengan sumpah serapahnya. Pauline menjadi penguntitnya sekarang. Gadis itu benar-benar nekat.


"Biarkan dia masuk. Tapi sepuluh menit kemudian kau juga harus masuk dan mengatakan kalau aku ada meeting yang tidak bisa ditunda."


"Baik, Sir."


Beberapa menit kemudian pintu ruangannya terdengar di ketuk. Dan setelah pintu terbuka, nampaklah Ami mengantar masuk tamu yang dimaksud.


"Hai, Kak. Susah sekali bertemu denganmu." Pauline, gadis tinggi langsing yang juga berprofesi model ini memiliki model rambut Demi Moore saat muda.


Kecantikannya semakin dipuja karena ia memiliki warna rambut keemasan yang selalu menjadi idola di negara itu.


Apalagi balutan pakaian seksi yang melekat di tubuhnya saat ini, pasti membuat para lelaki memicingkan mata melihat cara berjalannya yang bagaikan melenggang di cat walk.


Namun beda dengan Stefan. Lelaki itu malah nampak tidak tertarik sama sekali.


Bahkan sejak awal pertemuan mereka di Universitas dimana Pauline dan Luna kuliah disana, lelaki tampan ini tidak sekalipun melirik Pauline.


Stefan adalah alumni di Universitas yang sama. Dan ia seringkali mengisi acara seminar tentang dunia bisnis yang menjadi keahliannya.


"Ada perlu apa kau kesini?"


"Aku? Maafkan aku tidak sopan, Kak. Tapi kukira jika diluar kampus, bukankah kita bisa lebih dekat daripada di tempat membosankan itu?" Pauline menyusuri sudut demi sudut meja mendekati lelaki pujaannya itu.


"Stop! Kau memang tidak sopan. Diruanganku berlaku aturanku. Duduk di tempat yang disediakan untuk tamu!"


"Aku bukan datang untuk duduk, Kak. Aku menagih ucapan terima kasihmu padaku. Bukankah aku sudah mengatakan banyak hal yang kutahu tentang sepupumu itu."


Pauline menyeringai, sejenak ia merasa menang dari Stefan yang menyambutnya dengan tidak ramah sejak awal.


"Apa aku pernah menjanjikannya?"


Pauline merasa tertipu. Stefan memang tidak pernah mengucap apapun saat itu. Dirinyalah yang menawarkan diri untuk bercerita tentang masa lalu Luna yang sebenarnya.


Pauline dengan berani membungkuk didepan Stefan yang menatapnya kesal.


"Terimakasih untuk apa?"


"Tentu saja informasi berharga tentang adik sepupumu itu. Benar kan kataku, itupun jika kau sudah_"


"Keluar dari sini. Aku tidak perlu berterima kasih padamu karena kau teman yang buruk bagi Luna. Bahkan kau menusuknya dari belakang dengan mempengaruhiku!" teriak Stefan yang langsung bangkit dari kursinya.


Bahaya jika Pauline sampai tahu kejadian malam itu. Cerita ini pasti akan semakin melebar dengan bumbu- bumbu yang sengaja ditambahkan demi tetap terasa pedas dilidah.


"Apa orang yang terlahir terhormat seperti kita pantas berteman dengannya? Seorang gadis yang tidak jelas statusnya di keluarga Efrain. Bahkan ia lahir di tempat pe-la-cu-ran." Pauline sengaja mengejanya lambat untuk mengobarkan kebencian Stefan pada Luna.


Gadis itu menyukai permainan ini. Tidak salah profesi sang ayah yang dapat mengetahui rahasia hitam hampir setiap keluarga tersohor di negara kelahirannya ini.


"Tutup mulutmu! Keluar sekarang atau kau ingin satpam yang melempar tubuhmu ke jalan!" ancam Stefan tanpa mengeraskan suaranya. Lelaki itu hanya menggeram, karena masih menghargai bahwa yang ia hadapi adalah seorang perempuan.


Pauline berdecak sebal. "Aku punya bukti percakapan kita, Kak. Dan kau tidak mungkin tidak kenal dengan ayahku bukan?" Gadis yang merupakan teman dekat Luna itu kembali mencondongkan tubuhnya mendekati Stefan, meski saat ini mereka terhalang oleh meja.


"Keluar sekarang juga!"


"Semakin kau menolakku, semakin aku penasaran padamu." Senyum Pauline menyeringai. Gadis itu menabuh genderang perang pada lelaki didepannya itu.


Pauline menegakkan tubuhnya. Kemudian pergi begitu saja meninggalkan Stefan yang masih diliputi kemarahan.


Brak!


Stefan menggebrak mejanya melampiaskan kekesalannya.


"Sir," Ami yang masuk setelah Pauline keluar, tercekat. Suara keras yang menghantam meja sang Bos bersamaan dengan dirinya yang menutup pintu.


"Tangan anda?" Ami panik melihat buku-buku jemari Stefan kemerahan karena memar.


"Aku kan menyuruhmu segera masuk! Kenapa kamu lama?"


"Maaf Sir. Anda tadi mengatakan saya harus kembali sepuluh menit lagi. Saya_"


"Jangan sampai kamu biarkan gadis bernama Pauline itu memasuki perusahaan kita lagi. Ingat-ingat wajahnya!"


"Iya, Sir."


Ami sampai gemetar melihat kemarahan Stefan. Bosnya itu memang mengerikan jika marah, tapi baru kali ini gadis itu melihatnya.


"Kembali ke tempatmu."


Ami segera bergegas keluar ruangan meninggalkan Stefan seorang diri.


Memuakkan!


Stefan begitu marah dengan Pauline. Berani-beraninya gadis itu mengancamnya. Sepertinya Edward lupa menceritakan pada anak gadisnya itu sepak terjang William Efrain di masa lalu.


Ayah Pauline memang bukan orang sembarangan. Edward Osbert, adalah seorang kepala Polisi bagian kriminal di negara ini.


Dan gadis itu selalu menggunakan nama besar sang ayah untuk setiap tingkah buruknya.


Perduli apa!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"Nona! Nona baik-baik saja?" Bibi Ofelia langsung datang ketika diberitahu oleh pelayan yang mengantarkan Stefan pada majikannya itu.


"Nona."


Luna menangis sejadi-jadinya. Gadis itu berjongkok sambil memeluk lututnya di bawah meja taman. Bahkan wajah cantik itu terbenam dalam kedua lutut yang bergetar hebat.


"Nona, jangan membuat saya takut." Bibi Ofelia segera melepas cardigannya dan memakaikan pada Luna.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


💗Terima kasih sudah membaca, like, komen dan vote 🙏